Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
BAB 25
Malam pertama kami tidur terpisah itu akhirnya berlalu. Pagi pun tiba.
Sinar matahari perlahan menyusup masuk melalui celah dinding kayu rumah Kakek Ezra. Aku meregangkan tubuhku di atas tumpukan selimut yang hangat, menguap pelan, lalu beranjak bangun.
Meski rasanya masih ingin bergelung, rutinitasku sekarang sudah jelas: memastikan Paman Boaz mendapatkan putaran pengobatannya.
Aku melangkah melintasi ruang tamu yang sepi, lalu mengetuk pelan pintu sebuah kamar kecil di sebelah kamar utama. Ruangan itu dulunya milik mendiang putri Tante Ruth, namun kini digunakan olehnya untuk tidur sementara agar tidak ikut tertular penyakit suaminya.
"Tante Ruth? Apa Tante sudah bangun?" panggilku pelan.
Pintu terbuka. Tante Ruth yang sedang merapikan rambut ikalnya tersenyum lembut, meski matanya masih tampak sedikit bengkak karena kurang tidur. "Sudah, Nona Qatilah. Ada yang bisa kubantu?"
"Waktunya putaran pengobatan Paman Boaz selanjutnya," ucapku. "Tante bisa bantu aku bersihkan sisa kotorannya semalam? Setelah itu, tolong Tante rebuskan air lagi di dapur ya. Persediaan air matang kita sudah menipis."
"Tentu saja, Nona," jawab wanita itu sigap. Ia mengusap perut hamilnya dengan lembut lalu berjalan melewatiku. "Saya akan ambil tambahan kayu bakar dulu di depan rumah agar apinya cepat membesar."
Aku mengangguk, lalu berbalik menuju dapur untuk menakar madu dan garam. Namun, baru saja tanganku menyentuh mangkuk kayu, sebuah lengkingan teror memecah kesunyian pagi.
"KYAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
Sentakan kaget membuat centong di tanganku terlepas dan jatuh berdebum ke lantai. Jantungku seketika berdegup liar.
Aku langsung berlari keluar dari dapur, menembus ruang tamu, dan mendorong pintu depan hingga terbuka lebar. Langkahku mendadak terpaku di ambang pintu.
Astaghfirullahaladzim...
Kalimat itu meluncur tanpa sadar dari bibirku. Napasku tercekat. Halaman depan rumah Kakek Ezra yang semalam masih tertutup salju putih bersih, kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan.
Belasan mayat pria berpakaian kulit serigala kumal bergelimpangan di berbagai sudut halaman. Darah merah pekat merendam salju, menciptakan pola mengerikan yang membuat perutku mual. Dan yang lebih gila lagi adalah senjata yang menancap di tubuh mereka; bukan pedang atau panah, melainkan berbagai macam perkakas besi, bongkahan logam setengah jadi, bahkan capit tempa raksasa.
"Ya HaShem! Apa yang telah terjadi di sini?!"
Kakek Ezra berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah, berdiri di sampingku dengan wajah sepucat kapas melihat halaman rumahnya berubah menjadi neraka. Di belakangnya, Mila ikut menyusul sambil mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.
Mila menatap sekeliling. Alih-alih menjerit atau ketakutan, gadis berambut emas itu justru memiringkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan yang sangat polos.
"Kak Qatilah..." gumam Mila menunjuk mayat-mayat itu. "Kenapa paman-paman ini tidurnya berantakan sekali? Terus kenapa mereka mainan besi tajam sampai berdarah begitu?"
Aku hanya bisa memijat pelipisku yang mendadak pening. Kadang aku lupa, meski aku sudah ikut merawat dan mendidiknya selama lima tahun, logika absurd yang diwariskan dari ayah raksasanya itu memang sudah mendarah daging. Anak ini tidak punya konsep ketakutan.
Namun, fokusku segera beralih. Mataku menangkap sebuah jejak darah segar yang sangat tebal, terseret menjauh dari halaman depan, mengarah ke area samping rumah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku melangkah menyusuri jejak merah tersebut. Kakek Ezra, Tante Ruth dan Mila ikut mengekor di belakangku dengan tegang. Saat kami melewati sisi samping rumah, barulah aku menyadari darimana asal "senjata-senjata" aneh tadi. Bengkel pandai besi Paman Boaz tampak porak-poranda. Beberapa perkakas berat dan logam yang belum dibentuk hilang dari tempatnya.
Jejak darah itu terus memanjang melewati bengkel, berakhir tepat di pintu bangunan kandang kuda di area belakang.
Pikiranku berkecamuk. Jangan-jangan Goran terluka parah? Dengan tangan gemetar, aku memberanikan diri mengintip ke dalam kandang.
"HROOOOKKKK... PFFFFFFFT... HROOOOKKKK..."
Suara dengkuran itu menggelegar nyaris membuat atap jerami di atasku bergetar.
Di sana, Goran sedang tertidur telentang dengan kaki dan tangan terentang lebar. Raksasa itu mendengkur damai, sama sekali tak terganggu oleh jubah kulitnya yang berlumuran bercak darah kering. Di dekat tangannya yang sebesar batu giling, tergeletak gagang palu tempa yang sudah retak.
Emosiku yang tadinya mendidih karena panik, seketika berubah haluan.
"Itu bukan darah dia..." desisku, menggertakkan gigi.
Aku berjalan menghentak masuk ke dalam kandang. Dengan tangan mungilku, aku memukul lengan besarnya keras-keras.
"Goran!! Bangun, heh!!" teriakku jengkel.
Mila ikut berjongkok di sampingku, mengguncang bahu ayahnya. "Ayah! Banguuun!"
Pria itu mengerang pelan. Kelopak matanya terbuka lambat, menatap kami dengan pandangan sayu. "Hoo... ada apa, Anak Bangsawan? Mila juga ada apa? Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Ini kan masih pagi..."
"Apa yang telah kau lakukan?!" semprotku sambil menunjuk ke luar. "Kenapa banyak mayat bergelimpangan di depan sana, hah?!"
"Ooh... soal itu." Goran menguap lebar, lalu melirik ke arah Kakek Ezra yang mematung di ambang pintu. "Maaf ya, Pendeta Tua. Nanti biar kukubur mereka di hutan."
Selesai berkata begitu tanpa dosa, Goran membalikkan badannya, menarik tumpukan jerami untuk dijadikan bantal, dan bersiap kembali tidur.
Mila mengerutkan keningnya. Tanpa aba-aba, gadis kecil itu mengepalkan tangannya dan meninju perut samping Goran dengan tenaga mutlaknya.
BUK!
"BWOEGHK!"
Mata Goran langsung melotot. Raksasa itu terbangun seketika sambil memegangi perutnya yang mulas, meringis kesakitan menerima pukulan cinta dari putrinya sendiri.
"Ugh... iya, iya, aku bangun!" gerutu Goran sambil memaksakan diri duduk bersila.
Sambil mengusap wajahnya yang kotor, Goran mulai bercerita dengan nada malas yang mengentengkan segalanya.
"Semalam, ada kawanan perampok yang mencoba menyerang rumah ini. Salah satu dari mereka melihatku dan berteriak, 'Itu Leshy-nya, Bos! Dia gak cuma bawa kotak harta, tapi dua gadis juga! Ayo kita rebut!' Begitulah kira-kira." Pria itu menghela napas. "Karena mereka mau merebut kalian, ya sudah, kuambil saja besi-besi di bengkel samping itu untuk mencabut nyawa mereka."
Aku membuang napas panjang. "Haaah... ternyata kita benar-benar diikuti dari Hutan Kakek Domb."
"Sepertinya begitu, Nona," sahut Kakek Ezra dengan nada bergetar.
"Apa semuanya mati?" tanyaku.
"Banyak yang langsung kabur juga saat melihat teman-temannya kuhancurkan," jawab Goran santai.
Tante Ruth yang sedari tadi bersembunyi di belakang Kakek Ezra memeluk perutnya erat-erat. "K-kalau begitu, kita sudah tak aman? Bagaimana kalau mereka membalas dendam?"
"Tenang saja, Tante Ruth," ujarku mencoba menenangkan wanita hamil itu. "Goran bilang salah satu dari mereka memanggil 'Bos', berarti pemimpin mereka ada kemungkinan berada di antara tumpukan mayat di depan itu."
"Tapi bagaimana jika ternyata lolos? Dan mereka kembali lagi membawa pasukan?" kejar Kakek Ezra masih cemas.
Goran terkekeh meremehkan. "Asal bukan membawa sekumpulan Witendz, mereka tak lebih berbahaya dari beruang bagiku."
"Tenang saja, Kek," tambahku. "Beruang saja takut sama Goran. Jadi jika mereka kembali, mereka hanya mencari mati."
Mendengar jaminan ganda itu, ketegangan di wajah Kakek Ezra dan Tante Ruth perlahan mengendur. Kakek itu membuang napas sangat panjang.
"Ya HaShem... syukurlah kalau begitu, dari kejadian ini saya juga sadar betapa hebatnya Anda, Tuan Goran," ucap Kakek Ezra mengelus dadanya lega.
"Hahaha! Mana mungkin sekumpulan serangga musim dingin itu bisa menandingiku! Hahaha!" tawa Goran menggelegar, kembali membusungkan dadanya dengan sombong.
Aku langsung memutar bola mata ke atas. "Jangan tertawa! Bangun sana, kubur mayat-mayat itu! Lalu mandilah, nanti jadi penyakit kalau dibiarkan!"
"Cerewet sekali. Ya, iya aku bangun," dengus Goran kesal, bersiap berdiri.
"Kak, aku bantu Ayah aja ya?" tawar Mila tiba-tiba.
Goran menunduk, menatap putrinya dengan wajah terharu. "Wah... sungguh putri kecilku yang baik ini mau bantu Ayah?"
Mila tersenyum sangat lebar. "Iya! Aku pengen lihat mayat!"
Hening menyerang beberapa saat.
Aku, Tante Ruth, dan Kakek Ezra hanya bisa mengedipkan mata kami berkali-kali. Ucapan polos namun mengerikan itu sukses membuat kami tak bisa berkata-kata.
Namun Goran justru tersenyum bangga. "Baiklah, ayo ikut Ayah!"
"Oke!" sahut Mila riang gembira.
Keduanya berjalan keluar kandang kuda dengan langkah ringan.
"Langsung mandi kalau sudah selesai, Mil!!" teriakku memperingatkan.
"Iya, Kaak!" balas Mila dari kejauhan.
Sambil menggelengkan kepala pelan, aku berbalik menatap tuan rumah yang masih terpaku.
"Ya sudah, Kek, Tante... kita masuk ke dalam dulu," ajakku, menepuk lengan Ruth pelan. "Pengobatan Paman Boaz belum selesai, biarkan saja mereka yang membereskan kekacauannya."
Tanpa banyak bicara lagi, kami bertiga pun berbalik berjalan kembali ke rumah, meninggalkan ayah dan anak raksasa itu menyelesaikan kekacauan di tengah salju pagi.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭