NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Perjalanan semalam yang panjang dan melelahkan akhirnya sampai juga. Saat roda bus berhenti berputar di halaman terminal kota kelahirannya, matahari pagi baru saja naik ke ufuk timur, menyebarkan sinar keemasan yang hangat dan lembut. Ani turun perlahan sambil menarik koper beratnya, menghirup udara pagi yang sejuk dan bersih, beraroma tanah basah dan pepohonan—bau yang sangat ia kenal, bau kampung halaman yang selalu menenangkan hati.

Di sini, semuanya terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk kota besar, tidak ada bangunan-bangunan tinggi yang menyesakkan, dan yang paling penting: tidak ada bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Jalanan masih sepi, di pinggir-pinggir jalan terhampar sawah hijau yang luas, dan di kejauhan tampak gugusan bukit yang berdiri kokoh seolah menjaga ketenangan tempat ini.

Ani melangkah keluar dari gerbang terminal, matanya berkeliling mencari kendaraan yang bisa membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Belum sempat ia melambaikan tangan pada sebuah angkot yang lewat, sebuah suara yang sangat akrab dan ia rindukan memecah keheningan pagi itu.

"Ani! Nak, Ani!"

Ani menoleh cepat, dan seketika matanya berkaca-kaca. Di sana, berdiri di pinggir jalan dengan napas terengah-engah, adalah Ayah dan Ibunya. Mereka berdua berdiri di samping sepeda motor tua milik Ayah, wajah mereka tampak cemas namun bersinar lega saat melihat sosok anak perempuan mereka.

"Ibu... Ayah..." bisik Ani, kakinya seketika terasa lemas. Ia berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya, koper di tangannya terasa tak lagi berarti.

Tanpa kata-kata, Ibu langsung merangkul tubuh Ani erat sekali, seolah takut anaknya itu akan hilang lagi. Ayah pun ikut mendekat, menepuk-nepuk punggung putrinya dengan tangan kasar namun penuh kelembutan. Di pelukan itu, pertahanan diri yang sudah dibangun Ani sepanjang perjalanan semalam akhirnya runtuh juga. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala rasa sakit, kelelahan, dan kesedihan yang ia pendam sendirian selama berhari-hari ini.

"Ya Allah... akhirnya kamu sampai juga, Nak. Ibu sudah khawatir setengah mati begitu dapat pesan darimu tadi malam," ucap Ibu dengan suara bergetar, mengusap rambut dan wajah Ani berkali-kali, memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja meski tampak sangat lesu dan pucat. "Sudah, Nak... sudah jangan menangis lagi. Kamu sudah di sini, kamu sudah aman. Ada Ayah sama Ibu di sini."

Ayah mengambil alih koper berat itu, mengangkatnya ke atas jok belakang motor. Wajah tua itu tampak serius dan muram, namun sorot matanya penuh kasih sayang dan perlindungan. Ia tahu, meski Ani belum menceritakan semuanya secara rinci dalam pesan singkatnya tadi malam hanya bilang ia ingin pulang dan butuh tempat istirahat lama namun sebagai orang tua, mereka sudah bisa merasakan bahwa ada hal buruk yang menimpa anak kesayangan mereka.

"Ayo pulang, Nak. Rumah sudah menunggu," kata Ayah pelan, lalu membantu Ani naik ke belakang motor, di belakang Ibu.

Perjalanan menuju rumah orang tuanya terasa singkat bagi Ani. Sepanjang jalan, ia menatap pemandangan yang dulu biasa saja baginya, namun kini terasa begitu indah dan penuh makna. Sawah yang beralun ditiup angin, anak-anak yang berlarian di jalan setapak, hingga suara ayam berkokok di kejauhan. Semuanya terasa damai, terasa seperti pelukan hangat yang menyambutnya pulang.

Sesampainya di rumah, sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi pekarangan luas dan penuh tanaman bunga, Ani merasa seolah masuk ke dalam tempat perlindungan yang paling aman di dunia. Rumah ini adalah tempat ia dibesarkan, tempat ia belajar berjalan, tempat ia menangis saat jatuh, dan tempat ia tertawa bahagia. Dan sekarang, tempat ini pula yang akan menyembuhkan lukanya yang paling dalam.

Ani turun dari motor dan berdiri diam sejenak di beranda rumah. Ia mengusap pelan dinding kayu yang sudah mulai kusam warnanya, namun kokoh berdiri.

"Masuklah, Nak. Istirahatlah sepuasmu. Kamu pasti lelah sekali," ajak Ibu lembut, menuntun tangan Ani masuk ke dalam.

Ruangan di dalam rumah ini masih sama persis seperti terakhir kali ia kunjungi berbulan-bulan yang lalu. Kursi kayu tua, lemari kaca berisi barang-barang peninggalan keluarga, dan aroma masakan khas Ibu yang selalu menggugah selera. Namun kali ini, ada rasa berbeda. Rasa lega yang mendalam menyelimuti hatinya.

Ani dibawa ke kamar tidurnya sendiri, kamar yang sudah kosong sejak ia menikah dan pindah ke kota. Di sana, tempat tidurnya masih tertata rapi dengan seprai bermotif bunga kecil yang sangat ia sukai dulu. Bahkan boneka beruang pemberian Ayah saat ia masih SMA pun masih ada di sudut kamar, bersih dan terawat.

Ibu duduk di tepi tempat tidur, menarik tangan Ani agar duduk di sampingnya. Ia menatap wajah anaknya lekat-lekat, menatap mata yang dulunya berbinar ceria namun kini tampak sayu dan lelah, serta lingkaran hitam di bawah matanya yang menjadi saksi betapa berat beban yang dipikulnya.

"Ceritalah sama Ibu, Nak... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ibu pelan, suaranya penuh kehati-hatian. "Tadi malam saat kamu kirim pesan cuma bilang mau pulang lama, Ayah sama Ibu sudah punya firasat tidak enak. Dimas... dia ada di belakangmu? Atau..."

Air mata kembali menetes di pipi Ani. Ia mengangguk pelan, lalu mulai menceritakan semuanya. Mulai dari penemuan ponsel itu, isi percakapan yang menghancurkan hatinya, pengakuan jujur Dimas, keinginan suaminya untuk berpisah demi wanita lain, hingga keputusannya yang tegas untuk melepaskan dan pergi meninggalkan segalanya. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, termasuk kedatangan Ibu Siti dan dukungan yang ia dapatkan dari wanita itu.

Sepanjang Ani bercerita, Ibu hanya diam mendengarkan, sesekali mengusap bahu atau punggung tangan anaknya, sementara Ayah yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sambil mendengarkan, tampak menunduk dalam dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang meluap. Wajah tua itu merah padam, terlihat sangat marah mendengar betapa buruknya perlakuan mantan menantunya itu pada anak gadis yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan perlindungan.

"Kurang ajar... tidak tahu diri benar anak itu," geram Ayah pelan, namun terdengar berat. "Sudah dikasih istri yang begitu baik, sabar, dan setia, malah disia-siakan demi wanita lain. Ayah kira dia laki-laki yang bertanggung jawab, ternyata sampah."

"Sudah, Yah... jangan marah dulu," potong Ibu lembut, lalu kembali menatap Ani dengan penuh iba. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, Nak. Di sini tempatmu. Tidak ada siapa-siapa yang boleh menyakitimu lagi di bawah atap ini. Kamu jangan khawatir soal apa pun. Ayah sama Ibu masih kuat bekerja, masih bisa menafkahi kamu. Kamu cukup istirahat, pulihkan hatimu, lupakan semua hal buruk itu. Anggap saja kamu sedang mimpi buruk, dan sekarang kamu sudah bangun."

Ani mengangguk, lalu memeluk ibunya kembali. Terasa begitu tenang mendengar kata-kata itu. Di sini, ia tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu berpura-pura bahagia. Di sini, ia boleh menangis sepuasnya, boleh diam seharian, boleh melupakan segala kewajiban sebagai istri yang dulu membebaninya.

Hari-hari berlalu di rumah orang tuanya, Ani mulai perlahan menemukan kembali dirinya yang dulu. Ia menghabiskan waktunya dengan berkebun di halaman, membantu Ibu memasak di dapur, berjalan-jalan santai menyusuri jalan setapak di pinggir sawah, atau sekadar duduk diam di beranda sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

Setiap pagi, ia bangun bukan lagi dengan rasa cemas memikirkan suami, melainkan dengan rasa syukur karena masih bisa menikmati udara segar dan kasih sayang orang tua. Luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, bayangan Dimas dan rasa sakit itu masih kadang datang menyelinap, namun frekuensinya makin berkurang. Digantikan oleh kesadaran bahwa keputusannya untuk pergi adalah keputusan yang paling benar dan menyelamatkan dirinya.

Suatu sore, saat Ani sedang duduk di bangku kayu di halaman depan sambil memandangi matahari yang mulai terbenam, Ayah datang mendekat membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di samping putrinya, menyodorkan satu cangkir.

"Nak," panggil Ayah pelan. "Ayah bangga padamu."

Ani menoleh bingung. "Bangga kenapa, Yah? Ani cuma pulang membawa kegagalan saja."

Ayah menggeleng tegas. "Tidak. Justru banyak wanita yang kalau ada di posisimu, akan memilih bertahan meski sakit, akan memohon agar tidak ditinggalkan, atau akan merendahkan dirinya demi mempertahankan status. Tapi kamu tidak. Kamu punya harga diri yang tinggi. Kamu tahu kapan harus berhenti berjuang untuk hal yang salah, dan kapan harus menyelamatkan dirimu sendiri. Itu bukan kegagalan, Nak. Itu kemenanganmu."

Kalimat Ayah itu menancap kuat di hati Ani. Ia tersenyum tipis, senyum yang mulai terasa tulus dan bahagia. Ia sadar benar sekarang: pernikahannya mungkin berakhir gagal, namun ia tidak gagal sebagai wanita. Ia masih Ani yang baik, yang tulus, yang berharga, dan yang pantas dicintai.

Di tempat baru ini, di tengah kasih sayang orang tua dan ketenangan alam, Ani mulai menata kembali kepingan-kepingan hatinya yang pecah. Ia tahu, masa depan masih panjang. Ia berencana akan kembali bekerja, mandiri secara finansial, dan membangun hidupnya sendiri yang bahagia.

Dan di ujung senja itu, di rumah yang sederhana namun penuh cinta ini, Ani merasa siap. Siap melangkah lebih jauh, siap menyambut segala hal indah yang masih disiapkan takdir untuknya. Ia telah pulang, bukan hanya ke rumah orang tuanya, tetapi pulang kembali kepada dirinya sendiri.

Bersambung,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!