“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Woman in Black
Aula Grand Ballroom di Istana Negara malam itu terasa seperti kotak kaca yang kedap udara. Wangi sandalwood mahal dan aroma kertas dokumen baru berbaur dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Di bawah lampu kristal yang menggantung megah, ratusan elite dunia, mulai dari menteri, taipan minyak, hingga spekulan pasar gelap duduk dengan napas tertahan.
Di atas podium, Kael Arden adalah definisi sempurna dari kekuasaan yang terukur.
Perdana Menteri termuda dalam sejarah negeri itu berdiri dengan postur setegak penggaris. Rambut hitamnya tertata sangat rapi, klimis tanpa sehelai pun yang berani keluar dari tempatnya, memantulkan cahaya lampu ruangan. Setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang yang membalut tubuh atletisnya tampak tidak memiliki kerutan sedikit pun. Wajahnya adalah sebuah pahatan batu pualam; dingin, simetris, dan tanpa ampun.
"Stabilitas adalah komoditas," suara Kael bergema, bariton yang rendah namun memiliki vibrasi yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengar. "Dan pemerintahan saya tidak sedang bernegosiasi. Kami menetapkan aturan."
Jemari Kael yang panjang dan bersih mengetuk meja podium dengan ritme yang lambat. Ia adalah penguasa mutlak di ruangan ini. Hingga detak stilettos itu terdengar.
Clack. Clack. Clack.
Suara itu tajam, memutus orasi Kael seperti pisau yang menyayat sutra. Di ambang pintu ganda yang menjulang tinggi, seorang wanita berdiri.
Aurelia Vane tidak sekadar masuk ke dalam ruangan; ia menjajahnya.
Ia mengenakan gaun tuxedo hitam berbahan sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan presisi yang berbahaya. Belahan dadanya rendah, menantang etiket formal ruangan tersebut, sementara belahan rok di paha kirinya menyingkap kulit seputih porselen di setiap langkah. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, bergelombang seperti asap hitam yang membingkai wajahnya yang sensual namun tajam.
Aurelia berjalan di lorong tengah, mengabaikan tatapan lapar para pria dan tatapan benci para wanita. Matanya yang berwarna gelap terkunci hanya pada satu objek: pria di atas podium.
Kael berhenti bicara. Rahangnya yang tajam mengatup rapat, menciptakan garis keras di wajahnya yang bersih. Ia membenci gangguan. Terlebih lagi, ia membenci bagaimana kehadiran Aurelia tiba-tiba menyedot seluruh oksigen di ruangan itu.
Aurelia berhenti tepat di baris terdepan, hanya beberapa meter dari podium Kael. Ia menyunggingkan senyum tipis, sebuah seringai predator yang mematikan.
"Pidato yang memukau, Tuan Perdana Menteri," suara Aurelia mengalun, serak-serak basah yang terdengar seperti bisikan di atas ranjang daripada interupsi di rapat negara. "Tapi saya tidak tahu sejak kapan pemerintah mulai menjual fiksi sebagai fakta."
Kael mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya menumpu pada podium, menatap Aurelia dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Miss Vane. Saya yakin Anda salah ruangan. Bar atau rumah bordil mungkin lebih cocok untuk ... gaya Anda malam ini."
Tawa kecil lepas dari bibir merah darah Aurelia. "Gaya saya memang provokatif, Kael. Tapi tidak seprovokatif angka-angka yang Anda sembunyikan di balik 'Vane Group Acquisition Act' di halaman empat puluh dokumen Anda."
Aurelia mengangkat sebuah tablet tipis ke udara. "Anda mengklaim pemerintah akan menasionalisasi sektor energi untuk rakyat. Namun, dokumen internal Vane Group yang saya pegang menunjukkan bahwa Anda sudah menandatangani kontrak bawah tangan untuk menjual 60% saham sektor tersebut kepada investor asing yang namanya bahkan tidak terdaftar di bursa mana pun."
Keheningan yang terjadi kemudian begitu mencekam hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman meriam. Para jurnalis mulai berebut mengambil gambar. Kael bisa merasakan keringat dingin di tengkuknya, namun wajahnya tetap datar, tak tergoyahkan.
"Itu adalah tuduhan tanpa dasar," desis Kael, suaranya sangat rendah, hampir berupa geraman.
"Dasarnya ada di sini," Aurelia maju satu langkah lagi, jaraknya kini sangat dekat hingga aroma parfumnya, campuran black rose dan amber yang memabukkan mulai menyerang indra penciuman Kael. "Atau Anda ingin saya memproyeksikan bukti transfernya di layar besar ini agar seluruh dunia tahu betapa 'bersihnya' Perdana Menteri mereka?"
Pertemuan itu meledak dalam kekacauan. Protokol keamanan segera menggiring Kael keluar, sementara Aurelia hanya berdiri diam di tengah badai, memutar-mutar gelas sampanye yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, matanya tidak pernah lepas dari punggung Kael.
Sepuluh menit kemudian. Koridor belakang istana yang remang-remang.
Langkah kaki Kael yang berat terhenti ketika ia melihat sosok hitam bersandar di dinding marmer, tepat di depan ruang kerja pribadinya. Aurelia menunggunya di sana, tampak sangat kontras dengan dinding putih di belakangnya.
Tanpa peringatan, Kael menerjang maju. Ia mencengkeram kedua lengan Aurelia dan menghempaskannya ke dinding dengan kekuatan yang membuat wanita itu terkesap. Kael menaruh kedua tangannya di sisi kepala Aurelia, mengurungnya dalam ruang sempit yang dipenuhi amarah.
"Kau pikir kau siapa, Aurelia?" Kael mendesis tepat di depan wajahnya. Jarak mereka sangat dekat hingga napas Kael yang beraroma mint menerpa bibir Aurelia.
Aurelia tidak gemetar. Ia justru mendongak, membiarkan leher jenjangnya terpapar. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku adalah masalah yang tidak bisa kau selesaikan dengan hukum, Kael."
Kael menunduk, matanya menelusuri wajah Aurelia dari matanya yang liar, turun ke hidungnya yang bangir, dan berhenti pada bibir merah yang tampak sangat mengundang sekaligus beracun. Amarahnya mulai bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih primitif.
"Aku bisa menghancurkan Vane Group dalam satu malam," ancam Kael, tangannya kini berpindah ke leher Aurelia, tidak mencekik, namun menggenggamnya dengan dominasi yang posesif. Ibu jarinya mengusap garis rahang Aurelia dengan tekanan yang membuat wanita itu bernapas lebih berat.
"Lakukan saja," tantang Aurelia, jemarinya mulai merayap di dada Kael, meraba tekstur jas mahalnya sebelum akhirnya mencengkeram dasi sutra Kael yang rapi dan menariknya hingga wajah pria itu hanya berjarak satu inci darinya. "Hancurkan perusahaanku, dan aku akan menghancurkan citra 'pejabat suci' yang kau bangun dengan sangat susah payah. Kita akan terbakar bersama, Sayang."
Kael merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya. Ia membenci bagaimana wanita ini tahu persis di mana titik lemahnya. Ia membenci bagaimana setiap saraf di tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Aurelia.
"Kau adalah iblis, Aurelia Vane," bisik Kael, suaranya kini terdengar parau.
Aurelia mendekatkan bibirnya ke telinga Kael, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Kael meremang. "Dan kau adalah pendosa yang paling mendambakanku, Tuan Perdana Menteri. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau tidak ingin memenjarakanku ... kau ingin memilikiku di bawah kendalimu."
Aurelia melepaskan dasi Kael, memberikan tepukan ringan di pipi pria itu yang kini mengeras, lalu melangkah pergi dengan gerakan pinggul yang menggoda.
Kael berdiri terpaku di koridor yang dingin itu, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Ia melihat Aurelia menghilang di tikungan koridor, meninggalkan aroma mawar hitam yang kini terasa seperti racun yang sudah terlanjur masuk ke dalam aliran darahnya.
Kael Arden, sang jenius politik yang selalu memegang kendali, baru saja menyadari satu hal: perangnya dengan Aurelia Vane bukan lagi tentang politik atau negara.
Ini adalah tentang siapa yang akan hancur lebih dulu dalam obsesi yang mematikan ini.