Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam itu sebenarnya Austin berencana makan malam bersama kedua orang tuanya. Namun karena ada beberapa urusan pekerjaan yang mendadak muncul, jadwalnya terpaksa mundur.
Barulah beberapa hari kemudian ia memiliki waktu luang untuk memenuhi janji dengan teman-temannya.
Begitu memasuki bar, Austin langsung melihat Jack dan beberapa orang lainnya yang sudah lebih dulu datang.
"Halo, Tuan Austin akhirnya berkenan muncul juga."
Jack langsung menyambutnya dengan nada menggoda.
Austin segera duduk santai di sofa dan membalas, "Kalian datang lebih awal."
"Tentu saja. Tidak semua orang sesibuk dirimu."
Tak lama kemudian, topik pembicaraan beralih kepada Gerson dan hubungan asmaranya yang baru saja terungkap.
Semua orang langsung ramai menggoda, hal itu membuat Gerson mengusap wajahnya dengan pasrah.
"Aku benar-benar menyesal mengenal kalian."
Jack tertawa terbahak-bahak.
"Itu salahmu sendiri. Siapa suruh terlalu banyak bicara? Lingkaran pertemanan kita bahkan sudah hafal berapa lama kau bisa bertahan tanpa membahas pacarmu."
Semua orang tertawa.
Austin hanya duduk sambil mendengarkan, sesekali ia ikut menimpali beberapa kalimat pendek.
Jack yang sedang dalam suasana hati baik bahkan mengeluarkan koleksi anggur mahal yang selama ini disimpannya.
Dia menuangkan segelas untuk Austin.
"Sudah lama kita tidak minum bersama."
Austin menerima gelas itu.
"Terima kasih."
Jack mengangkat gelasnya.
"Ayahmu banyak membantuku saat perusahaan sedang kesulitan beberapa waktu lalu. Kalau bukan karena kontrak yang beliau setujui, mungkin aku sudah pusing setengah mati mengurus masalah keuangan."
Austin tersenyum tipis. "Kau terlalu berlebihan."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi kesehatan paman sekarang?," tanya Jack lagi
"Baik-baik saja," jawab Austin.
Percakapan mereka berlanjut membahas pekerjaan dan bisnis. Namun di tengah obrolan itu, Austin tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke area utama bar.
Dan di sanalah dia melihat Yurika yang sedang duduk bersama teman-teman kakaknya.
Sementara itu, Yurika yang sedang menyeruput minuman ketika secara tidak sengaja melihat Austin di kejauhan, saat itu juga jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat.
'Kenapa Austin ada di sini ya? Kebetulan sekali.. eh.. sepertinya ia datang bersama teman-temannya..'
Untuk sesaat, Yurika ingin mengangkat tangan dan menyapanya. Namun pikirannya langsung melayang kepada Futaka.
Kakaknya selalu menunjukkan reaksi yang tidak biasa setiap kali nama Austin disebut. Entah mengapa, Futaka tampak sangat tidak menyukai pria itu.
Mungkin Austin sendiri bahkan tidak tahu bahwa bar ini milik Futaka. Karena itulah Yurika memilih berpura-pura tidak melihatnya, ia menundukkan kepala dan kembali fokus pada gelas di tangannya.
Waktupun berlalu dan suasana bar juga semakin hidup.
Beberapa teman Futaka mulai bermain dadu sambil berteriak saling menantang minum.
Ada yang membahas pekerjaan, ada yang bercerita tentang hubungan asmara dan ada pula yang sekadar tertawa tanpa henti.
Yurika sesekali ikut mengobrol, namun sebagian besar hanya mendengarkan.
Meski duduk di tengah keramaian, ia merasa cukup aman. Karena tanpa disadari, semua orang di sana diam-diam menjaganya.
Seseorang tiba-tiba mengangkat kotak dadu.
"Yurika, ikut bermain yuk!"
Yurika tertawa dan menjawab, "Aku tidak terlalu pandai."
"Justru itu yang seru," ucap pria yang menawarkannya tadi.
"Benar, sekali saja," bujuk yang lain agar Yurika ikut bermain.
Mereka terus membujuknya.
Tak jauh dari sana, Austin sedikit memiringkan kepala. Sekilas ia tampak tetap fokus pada percakapannya dengan Jack namun sebenarnya dia mendengar nama Yurika disebut.
Lampu-lampu yang redup membuat ekspresinya sulit dibaca.
Jack sama sekali tidak menyadari perubahan kecil itu, ia masih sibuk mengomentari sekelompok wanita cantik yang duduk di meja sebelah.
Sementara itu, jumlah pengunjung terus bertambah karna hati itu merupakan malam spesial untuk acara "Setengah Mabuk".
Banyak pelanggan lama maupun baru berdatangan. Namun semakin ramai suatu tempat, semakin besar pula kemungkinan timbulnya masalah.
Tak lama kemudian terdengar suara keributan dari sisi lain bar.
Futaka yang sedang berdiri di dekat konter langsung menoleh tatkala seorang petugas keamanan mendekat.
"Bos, ada masalah lagi."
Rahang Futaka mengeras.
"Lagi?"
Petugas itu mengangguk.
Mendengar itu, wajah Futaka langsung menjadi gelap karna ini bukan pertama kalinya ada masalah disana. Dalam satu bulan terakhir, insiden serupa sudah terjadi beberapa kali.
Awalnya dia mengira hanya ulah pelanggan mabuk. Namun setelah diselidiki, ternyata para pembuat onar itu memiliki hubungan satu sama lain.
Mereka dikirim secara sengaja, dan dalang di balik semuanya adalah pemilik bar pesaing.
Futaka mendengus dingin.
"Dasar pengecut."
Tanpa membuang waktu lagi, dia segera berjalan menuju lokasi keributan.
Seluruh petugas keamanan langsung bergerak.
Teman-temannya yang melihat situasi itu juga ikut berdiri.
"Ayo lihat."
"Ada masalah lagi."
Mereka semua bergegas menuju sumber keributan.
Tak lama kemudian, hanya Yurika yang tertinggal sendirian di tempat duduknya.
Yurika memandangi kerumunan orang dengan gugup, ia ingin membantu, namun dia tahu dirinya justru akan menjadi beban jika ikut mendekat.
Kalau situasinya semakin kacau, dia bisa terluka. Karena itu dia memilih tetap di tempatnya sambil menghubungi polisi.
Jari-jarinya baru saja menekan layar ponsel ketika sesuatu terjadi.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang.
Yurika membeku, tubuhnya langsung menegang, ia menoleh cepat dan mendapati seorang pria bertubuh besar berdiri di belakangnya.
Bau alkohol yang menyengat langsung menyeruak.
Tatapan pria itu membuat Yurika merasa tidak nyaman.
"Lepaskan!"
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏