Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ternyata Dita membawa Andara ke mal. Jiwa gadis desanya langsung muncul apalagi kesempatan ini adalah yang pertama. Di sampingnya Dita hanya senyum-senyum, tidak malu atau merendahkan sikap Andara yang sedikit norak.
Tempat makan siang yang dipilih Dita adalah restoran Thailand. Selain ingin mengajak Andara makan sesuatu yang berbeda, suasana restoran sangat nyaman untuk jadi tempat ngobrol.
“Mau pesan apa Ra ?”
“Dokter Dita saja yang pilih makanannya. Saya suka semua kok,” ujar Andara malu-malu.
Meski di buku menu ada foto-foto makanan, Andara bingung memilih yang mana apalagi saat melihat harganya yang tidak sesuai kantongnya.
“Kamu nggak ada alergi makanan kan ? Seafood mungkin atau kacang-kacangan ?”
“Aman Dok, saya bisa makan apa saja.”
Tanpa bertanya lagi, Dita mulai memesan menu-menu yang terdengar asing tapi Andara yakin semua mskanan itu enak.
“Sepertinya aku menemukan cara menghindari mantan suamimu dan keluarga Baskara,” ujar Dita sambil menaik turunkan alisnya.
“Oh ya ? Bagaimana ?”
“Kita bereskan setelah makan siang.”
“Baik dokter.”
“Tolong jangan panggil aku dokter kalau kita aedang berdua lagipula ini bukan rumah sakit.” Wajah Dita cemberut membuat Andara terkekeh.
“Panggil aku kakak atau mbak, terserah kamu.”
Andara menautkan kedua alisnya seperti orang sedang berpikir.
“Sebetulnya agak canggung tapi bagi saya dokter seperti seorang kakak. Boleh saya panggil mbak Dita ?”
Wajah Dita berbinar, kepalanya mengangguk. “Aku juga senang bisa punya adik seperti kamu karena mas Dani terlalu cuek padaku.”
Keduanya sama-sama tersenyum dan melanjutkan pembicaraan sambil menunggu pesanan datang. Perlahan Andara kelihatan mulai tenang dan rileks, tidak tegang seperti sebelumnya.
Kehadiran Dita membuatnya merasa tidak lagi sendirian, punya teman curhat dan seseorang yang bisa memberikan nasehat serta pertimbangan soal apa yang perlu dan tidak Andara lakukan.
Usai makan siang, Dita mengajak Andara ke lantai dasar dan masuk ke salah satu toko yang menjual aneka gadget termasuk handphone.
“Kenapa kita kemari, Mbak ?” bisik Andara yang bingung karena belum menangkap maksud Dita.
“Satu-satunya cara untuk memutus kemungkinan handphone-mu disadap adalah menjualnya lalu mengganti nomor.”
“Memangnya penyadap handphone itu benar-benar ada ?”
“Tentu saja ada. Orang-orang seperti Baskara tidak asing dengan hal-hal semacam itu, buktinya mantan suamimu selalu bisa tahu dimana kamu berada.”
Andara menggedikkan bahu, ngeri membayangkan apa yang dibacanya di medsos sekarang benar-benar terjadi padanya.
“Mana handphonemu ? Mereka terima tukar tambah.”
“Jangan yang mahal-mahal Mbak, sayang uangnya,” bisik Andara dengan sangat pelan supaya tidak terdengar pelayan toko.
“Aku akan membayar selisihnya dan kamu bisa menggantinya dengan cara mencicil setelah dapat kerjaan baru.”
“Saya punya uang kok Mbak.”
“Untuk biaya sekolahmu,” sahut Dita.
Sambil berdiri di samping Dita, Andara hanya memperhatikan dan mempercayakan semuanya pada dokter muda itu. Dalam hatinya ia kagum karena Dita tidak hanya mahir mengobati pasien anak-anak di rumah sakit tapi sangat handal melakukan negosiasi jual beli handphone.
“Foto-foto di galeri bisa dipindahkan kan Mbak ?”
“Aman. Mas-nya bilang butuh waktu 45 menit sampai 1 jam untuk memindahkan data. Sekarang kita cari nomor baru untukmu.”
Andara mengangguk dan mengikuti Dita keluar toko.
Sekitar satu jam limabelas menit proses ganti handphone dan nomor selesai juga.
“Sementara jangan sembarangan menghubungi orang karena kamu belum tahu siapa yang membayar mantan suamimu datang ke Jakarta.”
“Hhhhmmm….. Terima kasih…. Aauugghht” Andara meringis sambil memegangi dadanya.
Pndangan Dita pun tertuju pada tangan Andara.
“ASI-mu penuh. Kamu tunggu di sini, aku belikn breast pad dulu.”
“Saya mau ke kamar kecil dulu, Mbak.”
“Oke nanti aku nyusul ya.” Andara hanya mengangguk lalu berjalan ke arah berlawanan mencari toilet.
Melihat kemeja Andara basah di bagian dada, petugas yang sedang membersihkan toilet menawarkan ruang khusus untuk ibu dan bayi.
Andara tidak menolak namun sampai di dalam ia bingung bagaimana menghentikan ASI nya yang mulai rembes.
Tidak lama Dita menyusul, membawakan alat pompa lengkap dengan botol dan breast pad.
“Ganti bajumu kalau sudah selesai,” ujar Dita meletakkan kantong lainnya di dekat wastafel.
“Terima kasih Mbak.”
*****
Di rumah Baskara, Deswita yang baru saja tiba tampak kesal. Berita soal kepergian Andara baru diterimanya menjelang sore, saat Lily mulai rewel dan menolak minum ASI milik Andara dengan botol susu.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelum Andara pergi ?” omel Deswita pada Sumi yang menunggunya di teras
“Den Baskara menyita handphone semua pelayan dan sekuriti sebelum Andara pergi,” sahut Sumi dengan kepala menunduk.
Deswita menghela nafas panjang dengan raut wajah kesal bukan main. Keputusan Baskara benar-benar ceroboh dan tidak bertanggungjawab.
Seenaknya dia menyuruh Andara pergi tanpa memikirkan kondisi Lily yang masih bergantung padanya dan tidak mungkin dilepas begitu saja tanpa melewati proses.
“Hubungi Andara dan minta dia balik sekarang juga ! Bilang aku yang akan bertanggungjawab pada Baskara !”
“Maaf Nyonya, nomor handphonenya sudah tidak aktif. Saya dan Lastri sudah berkali-kali mencoba dan pesan yang kami kirim hanya centang satu.”
“Baskara benar-benar konyol ! Bagaimana mau dianggap dewasa kalah kelakuannya masih seperti anak kecil ! Mengambil keputusan hanya dengan emosi belaka.”
Deswita pun menghubungi Rio namun berkali-kali malah mesin otomatis yang menjawab panggilannya.
“Panggil Aji kemari !” perintah Deswita dengan nada semakin tinggi.
Pria paruh baya yang bekerja sebagai sopir tergopoh-gopoh menghampiri Deswita.
“Pergi ke tempat kontrakan Rio sekarang juga dan suruh dia datang kemari !”
“Tapi saya tidak tahu tempat tinggal mas Rio, Nyonya.”
Deswita kembali menghela nafas kesal lalu menekan tombol panggilan di handphonenya ke nomor Galih. Satu-satunya cara mendapatkan informasi tentang Rio adalah suaminya.
Tidak sampai sepuluh menit Galih sudah mengirimkan alamat tempat tinggal Rio.
“Pergi ke alamat ini dan secepatnya bawa Rio kemari !”
“Baik Nyonya.”
Tangis Lily berhenti; sepertinya bayi itu kelelahan dan tertidur sambil digendong Lastri. Emosi Deswita pun mereda dan baru teringat pada Daisy.
“Dimana Daisy ?”
“Di kamarnya.”
Ditemani Sumi, Deswita pergi ke kamar Daisy. Begitu pintu dibuka, lagi-lagi Deswita menghela nafas panjang dan berat karena sarat dengan emosi.
Di dekat nakas, Daisy sedang duduk bersandar dengan kedua kaki ditekuk ke atas untuk sandaran kepalanya. Gerakan bahunya yang naik turun menandakan gadis kecil itu sedang menangis.
“Kamu benar-benar kelewatan Baskara Pradana !” geram Deswita sambil mengepalkan kedua tangannya.