NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STRATEGI PERPUSTAKAAN PENUH DRAMA

  Salsa Kirana bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu. Baginya, setiap detik adalah investasi untuk masa depan yang gemilang. Itulah sebabnya, pagi ini dia sudah bangun sejak pukul lima subuh, memastikan semua peralatan sekolahnya lengkap, dan yang paling penting, dia sudah menyiapkan draf awal untuk proyek kolaborasi sains yang sebenarnya baru akan dibahas nanti sore. Salsa duduk di depan meja belajarnya yang tertata sangat rapi, jemarinya lincah mengetik di atas keyboard laptop. Dia sudah membagi struktur laporan menjadi sepuluh bagian utama. Dia juga sudah membuat daftar pustaka sementara.

  Satu hal yang mengganggu pikirannya hanya satu: Arkananta Putra. Membayangkan cowok itu akan menyentuh laporannya saja sudah membuat Salsa merinding ngeri. Bagaimana kalau Arkan salah mengetik rumus? Bagaimana kalau dia menumpahkan kopi di atas kertas kerja mereka? Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana kalau Arkan sama sekali tidak mau membantu dan hanya mengandalkan otak encernya di saat-saat terakhir? Salsa menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan buruk itu. Dia harus punya rencana cadangan. Jika Arkan tidak becus, Salsa akan mengerjakan semuanya sendirian. Nilai adalah segalanya.

  Salsa sampai di sekolah lebih awal dari biasanya. Suasana SMA Garuda masih cukup sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu halaman dan satu atau dua siswa ambisius lainnya yang biasanya langsung menuju perpustakaan. Salsa berjalan melewati koridor dengan langkah tegas. Namun, langkahnya terhenti saat dia melewati lapangan basket. Di sana, di bawah ring, seorang cowok dengan kaus oblong hitam yang dibalut seragam terbuka sedang mendribel bola dengan gerakan yang sangat luwes.

  Arkan. Tentu saja itu dia. Siapa lagi yang punya energi sebesar itu untuk main basket di jam tujuh kurang lima belas menit?

  Salsa berdiri di pinggir lapangan selama beberapa detik, memperhatikan bagaimana Arkan melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dengan gerakan slam dunk yang sempurna. Rambut cowok itu basah oleh keringat, menempel di dahi dan lehernya. Arkan berbalik, menyadari kehadiran Salsa. Dia memberikan senyum miringnya yang khas, lalu dengan sengaja melemparkan bola basket itu ke arah Salsa.

  Salsa dengan sigap menangkap bola itu, meski tangannya sedikit bergetar karena hentakannya cukup keras. "Lo bisa nggak sih nggak usah cari perhatian?" teriak Salsa ketus.

  Arkan berjalan mendekat, menyeka keringat di wajahnya dengan ujung seragamnya. Gerakan itu membuat perut atletisnya sedikit terlihat, dan Salsa langsung membuang muka, pura-pura tertarik pada pohon mangga di kejauhan. "Siapa yang cari perhatian? Gue lagi olahraga pagi biar otak makin encer buat diskusi nanti sore. Lo sendiri ngapain? Pagi-pagi udah pasang muka galak, ntar cepet tua loh, Sa."

  "Gue cuma mau mastiin lo nggak lupa sama janji kita di perpus nanti sore. Dan satu lagi, jangan telat!" Salsa melempar kembali bola itu ke dada Arkan dengan kekuatan penuh.

  Arkan menangkapnya dengan satu tangan sambil tertawa. "Galak amat. Jam empat kan? Gue usahain. Tapi kalau gue telat semenit dua menit, jangan langsung lapor ke Bu Ratna ya."

  Salsa tidak membalas. Dia langsung berbalik dan berjalan menuju kelasnya dengan perasaan yang makin dongkol. Kenapa sih Arkan selalu bisa bersikap santai seolah dunia ini tidak punya beban? Padahal mereka sedang menghadapi proyek yang menentukan empat puluh persen nilai rapor!

  Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Salsa tidak bisa duduk tenang. Matanya sesekali melirik ke arah belakang, tempat Arkan duduk. Cowok itu terlihat sedang asyik menggambar sesuatu di buku tulisnya, bukannya mencatat penjelasan Pak Budi tentang sejarah revolusi industri. Salsa menghela napas panjang. Dia benar-benar harus bersabar menghadapi makhluk satu ini.

  Bel pulang sekolah berbunyi pukul tiga sore. Salsa biasanya langsung pulang untuk les, tapi hari ini dia punya misi lain. Dia menuju ke perpustakaan sekolah yang terletak di lantai dua gedung utama. Perpustakaan SMA Garuda adalah tempat favorit Salsa. Wangi buku lama, deretan rak kayu yang tinggi, dan suasana yang sunyi selalu berhasil menenangkan pikirannya. Dia memilih meja paling pojok, dekat jendela yang menghadap ke taman belakang sekolah.

  Salsa mengeluarkan laptop, buku catatan bersampul biru, tiga buah pulpen warna-warni, dan penggaris. Dia menyusun semuanya dengan presisi milimeter. Dia melihat jam tangannya. Pukul 15.45. Masih ada lima belas menit sebelum waktu yang mereka sepakati. Salsa mulai membaca jurnal ilmiah tentang panel surya berbasis polimer, mencoba mencari celah untuk inovasi proyek mereka.

  Waktu terus berjalan. Pukul 16.00. Arkan belum muncul.

  Pukul 16.10. Kursi di depan Salsa masih kosong.

  Pukul 16.20. Salsa mulai mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja dengan irama yang cepat, tanda dia mulai emosi.

  "Dasar cowok nggak bertanggung jawab!" gumam Salsa pelan. Dia sudah hampir merapikan barang-barangnya dan pergi ketika pintu perpustakaan yang berat itu terbuka dengan suara derit pelan.

  Arkan masuk dengan gaya santai, masih menggunakan seragam yang berantakan dan tas yang hanya dicangklongkan di satu bahu. Dia melihat Salsa, lalu tersenyum tanpa dosa sambil melambaikan tangan. Dia berjalan mendekat, menarik kursi di depan Salsa, dan duduk dengan suara yang agak keras sehingga ditegur oleh petugas perpustakaan dengan isyarat "sstt!".

  "Sorry, Sa. Tadi ada urusan mendadak di parkiran," bisik Arkan sambil nyengir.

  "Urusan mendadak apa? Balapan motor?" semprot Salsa dengan suara tertahan agar tidak diusir dari perpustakaan.

  "Bukan, tadi ada kucing kejepit di pagar, gue bantuin dulu. Kasihan kan kalau nggak ditolongin," jawab Arkan enteng.

  Salsa memutar bola matanya. "Alasan klasik. Sekarang fokus. Gue udah buat drafnya. Lo liat ini." Salsa memutar laptopnya agar menghadap Arkan. "Gue bagi tugas kita jadi dua bagian besar. Gue yang urus bagian teori, analisis data, sama penyusunan laporan akhir. Lo bagian cari alat, eksperimen, sama dokumentasi. Gimana? Adil kan?"

  Arkan memperhatikan layar laptop Salsa selama beberapa saat. Dia mengernyitkan dahi, lalu mulai men-scroll dokumen itu ke bawah. "Wah, gila. Lo udah buat sebanyak ini? Ini sih bukan draf, Sa. Ini namanya udah mau jadi skripsi."

  "Ya biar cepet selesai! Gue nggak mau proyek ini ganggu jadwal belajar gue yang lain," balas Salsa.

  Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sa, lo tahu nggak kenapa nilai lo selalu di bawah gue?"

  Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong bagi Salsa. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Karena lo curang?"

  Arkan tertawa pelan, suara tawa yang tertahan agar tidak mengganggu orang lain. "Bukan. Karena lo terlalu kaku. Lo terpaku sama teks, sama aturan, sama rencana yang lo buat sendiri. Lo lupa kalau sains itu tentang kreativitas, tentang gimana kita memecahkan masalah dengan cara yang nggak biasa."

  "Maksud lo apa? Gue kurang kreatif?" Salsa merasa tersinggung.

  "Dengerin dulu," Arkan memajukan duduknya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari wajah Salsa. "Ide lo tentang panel surya ini bagus, tapi udah basi. Tiap tahun ada aja yang buat ginian. Kalau kita mau dapet nilai maksimal dan menang di tingkat kota, kita harus buat sesuatu yang beda. Sesuatu yang 'wah'."

  Salsa terdiam. Meskipun kesal, dia tahu Arkan ada benarnya. Bu Ratna sangat menyukai inovasi. "Terus lo punya ide apa yang lebih bagus?"

  Arkan mengambil pulpen milik Salsa, pulpen warna merah yang paling terang, lalu menarik buku catatan Salsa. Dia mulai menggambar sebuah sketsa kasar. "Gimana kalau kita buat alat pemurni air otomatis yang energinya diambil dari langkah kaki orang yang lewat? Kita pake sensor piezoelektrik di lantai koridor sekolah. Jadi, setiap kali murid-murid jalan di sana, mereka menghasilkan listrik buat pompa air di taman."

  Mata Salsa membulat. Dia memperhatikan sketsa Arkan. Itu ide yang brilian. Sangat modern dan sangat aplikatif untuk lingkungan sekolah. Tapi di saat yang sama, itu juga sangat rumit.

  "Itu... itu susah banget, Arkan. Kita harus hitung tegangan yang dihasilkan tiap langkah, kapasitas baterai, belum lagi sistem filtrasi airnya," ujar Salsa, mencoba mencari kelemahan ide tersebut meski dalam hati dia merasa kagum.

  "Nah, di situlah fungsi lo sebagai manusia paling teliti se-SMA Garuda," Arkan mengedipkan sebelah matanya. "Gue yang urus konsep teknis dan perakitan alatnya, lo yang hitung semua rumusnya dan pastiin datanya valid. Gimana? Lebih seru daripada sekadar tempel-tempel panel surya kan?"

  Salsa menatap sketsa itu, lalu menatap Arkan. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, berpasangan dengan Arkan bukan ide yang sepenuhnya buruk. Cowok ini punya cara berpikir yang sangat liar tapi masuk akal.

  "Oke," kata Salsa akhirnya. "Kita pake ide lo. Tapi dengan satu syarat."

  "Apa tuh?"

  "Lo harus nurut sama jadwal yang gue buat. Nggak boleh telat lagi, nggak boleh ngilang pas lagi kerja kelompok, dan lo harus lapor tiap progress yang lo buat."

  Arkan mengangkat tangannya seperti sedang hormat. "Siap, Komandan Salsa. Tapi ada satu syarat juga dari gue."

  Salsa mengernyit curiga. "Apa?"

  "Jangan terlalu serius. Kalau kita lagi kerja, jangan cuma bahas rumus. Sekali-kali kita sambil ngopi atau dengerin musik. Otak lo butuh istirahat, Sa. Jangan dipaksa kerja rodi terus."

  Salsa baru saja akan mendebat, tapi dia melihat binar kejujuran di mata Arkan. Cowok ini benar-benar tampak peduli, meskipun cara penyampaiannya tetap saja tengil. Akhirnya, Salsa hanya mengangguk pelan.

  Mereka menghabiskan dua jam berikutnya untuk mendiskusikan detail proyek tersebut. Suasana yang awalnya tegang perlahan-lahan mencair. Salsa mulai terbiasa dengan cara Arkan yang suka memberikan komentar-komentar lucu di tengah pembahasan rumus yang rumit. Beberapa kali Salsa tertangkap basah sedang menahan senyum gara-gara candaan Arkan yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat, tapi entah kenapa terasa pas di suasana sore yang tenang itu.

  "Eh, Sa, lo tahu nggak?" Arkan tiba-tiba mengubah topik pembicaraan sambil menutup bukunya.

  "Tahu apa?"

  "Ternyata kalau lo lagi mikir serius gitu, alis lo suka nyambung jadi satu. Lucu deh," goda Arkan.

  Salsa refleks memegang dahinya, wajahnya langsung memerah. "Arkan! Gue bilang kan fokus!"

  "Udah jam enam, Sa. Perpus mau tutup. Tuh, Pak Satpam udah liatin kita terus," Arkan menunjuk ke arah petugas yang mulai mematikan beberapa lampu di sudut ruangan.

  Salsa baru sadar kalau hari sudah mulai gelap. Dia segera merapikan barang-barangnya dengan terburu-buru. Saat dia sedang memasukkan laptop ke dalam tas, tangannya bersentuhan dengan tangan Arkan yang bermaksud membantu menutup ritsleting tasnya. Ada sengatan listrik kecil yang membuat Salsa tersentak. Dia segera menarik tangannya, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya.

  "Gue bisa sendiri," ujar Salsa pelan, tidak berani menatap mata Arkan.

  "Yaudah, yuk keluar. Gue anterin lo ke depan," ajak Arkan.

  Mereka berjalan keluar dari gedung sekolah yang sudah mulai sepi. Bayangan mereka memanjang di bawah sinar lampu koridor yang temaram. Salsa merasa suasana tiba-tiba menjadi canggung. Dia yang biasanya selalu punya seribu kata untuk mendebat Arkan, kini malah bungkam seribu bahasa.

  Sesampainya di area parkir, Arkan menuju motor besarnya yang terparkir di bawah pohon mangga, tempat yang tadi pagi dia rebut dari Salsa. Dia mengambil helm, lalu menoleh ke arah Salsa yang sedang menunggu jemputan di depan gerbang.

  "Jemputan lo mana?" tanya Arkan.

  "Lagi di jalan kayaknya. Tadi Papa bilang agak telat karena ada rapat," jawab Salsa sambil melihat layar ponselnya.

  Arkan menyalakan mesin motornya yang menderu keras. "Mau bareng gue aja nggak? Udah malem nih, nggak baik cewek sendirian di depan sekolah yang udah sepi gini."

  Salsa sempat ragu. Pulang bareng Arkan? Itu pasti akan menjadi berita besar kalau ada teman sekolah yang melihat. Tapi di sisi lain, sekolah memang sudah sangat sepi dan suasana di sekitar gerbang agak gelap.

  "Nggak usah, Arkan. Gue tunggu Papa aja," tolak Salsa halus.

  "Yakin? Tadi gue denger di sekitar sini sering ada... ya lo tahu lah, cerita-cerita horor sekolah," Arkan mulai menakut-nakuti dengan nada suara yang dibuat-buat misterius.

  "Arkan! Jangan nakut-nakutin deh!" Salsa mulai merasa tidak nyaman. Dia memang paling takut dengan hal-hal yang berbau mistis.

  Arkan tertawa penuh kemenangan. "Makanya, ayo naik. Gue janji nggak bakal culik lo ke planet lain. Gue cuma mau pastiin partner jenius gue ini selamat sampe rumah biar besok bisa ngerjain tugas lagi."

  Salsa menimbang-nimbang sejenak. Akhirnya, rasa takutnya pada hantu lebih besar daripada gengsinya. "Yaudah, tapi jangan ngebut-ngebut ya!"

  Arkan memberikan helm cadangan yang selalu dia bawa di bagasi motornya. "Siap, Tuan Putri. Pegangan yang erat ya, soalnya motor gue ini tenaganya kayak roket."

  Salsa memakai helm itu, lalu naik ke boncengan motor Arkan dengan gerakan kaku. Dia menjaga jarak agar tidak terlalu menempel pada punggung Arkan. Namun, saat Arkan mulai menjalankan motornya dan sengaja sedikit mengebut di jalanan yang lurus, Salsa refleks memegang erat jaket denim yang dipakai Arkan.

  Angin malam menerpa wajah mereka. Salsa bisa mencium aroma parfum Arkan yang bercampur dengan bau maskulin yang khas. Ternyata, berada di atas motor ini tidak seburuk yang dia bayangkan. Dari balik punggung Arkan yang lebar, Salsa merasa sedikit aman. Dia melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala, menciptakan pemandangan yang cukup indah.

  "Rumah lo di mana, Sa?" teriak Arkan di balik helmnya.

  Salsa memberitahukan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan, Arkan terus mengajak Salsa bicara, meskipun suara mereka seringkali kalah oleh suara angin dan mesin motor. Arkan bercerita tentang hobinya memperbaiki mesin motor dan bagaimana dia sebenarnya sangat suka fisika karena ayahnya adalah seorang insinyur.

  Salsa mendengarkan dengan seksama. Dia baru sadar kalau di balik sikap tengil dan santainya, Arkan punya kedalaman karakter yang tidak pernah dia perlihatkan di sekolah. Arkan bukan sekadar cowok populer yang pintar secara alami, dia punya minat yang nyata pada dunia mekanik.

  Tanpa terasa, mereka sampai di depan rumah Salsa. Rumah minimalis dengan taman depan yang asri. Salsa turun dari motor, lalu melepas helmnya.

  "Makasih ya, Arkan. Udah mau nganterin," ujar Salsa tulus.

  Arkan menerima helm dari Salsa sambil tersenyum. Senyumnya kali ini tidak terlihat mengejek, melainkan terlihat lebih hangat. "Sama-sama, Sa. Jangan lupa istirahat. Jangan begadang cuma buat mikirin rumus kita. Inget kata gue tadi, otak lo butuh santai dikit."

  Salsa hanya mengangguk kecil. "Iya, gue tau. Lo juga, jangan keluyuran terus malem-malem."

  "Ciee, perhatian nih?" goda Arkan lagi, kembali ke mode tengilnya.

  Salsa langsung mendelik. "Apaan sih! Udah sana pulang!"

  Arkan tertawa, lalu memakai helmnya kembali. "Oke, oke. Gue duluan ya. Sampe ketemu besok di sekolah, Partner!"

  Arkan menggeber motornya dan berlalu pergi, meninggalkan Salsa yang masih berdiri di depan pagar rumahnya. Salsa memegang dadanya, merasakan jantungnya yang masih berdetak tidak beraturan. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya karena efek naik motor yang terlalu cepat, bukan karena hal lain.

  Salsa masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk. Dia langsung menuju kamarnya, melempar tasnya ke atas kasur, lalu merebahkan diri. Dia menatap langit-langit kamar, membayangkan kembali sketsa pemurni air yang dibuat Arkan tadi. Dan bayangan itu perlahan berubah menjadi wajah Arkan yang sedang tertawa.

  "Kenapa sih gue jadi mikirin dia?" gumam Salsa sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

  Di sisi lain, di jalanan kota yang mulai padat, Arkan mengendarai motornya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana ekspresi Salsa saat tadi dia goda di perpustakaan. Bagi Arkan, Salsa adalah teka-teki paling menarik yang pernah dia temui. Cewek itu sangat pintar, sangat keras kepala, tapi juga punya sisi rapuh yang menurut Arkan sangat menggemaskan.

  Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang yang selama ini dianggap sebagai musuh bebuyutan itu sama-sama tidak bisa tidur dengan nyenyak. Proyek kolaborasi sains yang awalnya dianggap sebagai beban, perlahan-lahan mulai berubah menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.

  Salsa membuka ponselnya sebelum tidur, melihat kembali pesan dari Arkan yang hanya berupa stiker kucing tadi siang. Dia ragu-ragu, lalu mengetikkan sesuatu.

  Salsa: Ide lo bagus juga. Thanks buat hari ini.

  Dia segera mematikan ponselnya dan memejamkan mata, tidak ingin menunggu balasan. Namun, jauh di dalam hatinya, dia tahu bahwa hari esok akan menjadi awal dari sesuatu yang baru. Sesuatu yang mungkin lebih rumit daripada rumus fisika mana pun yang pernah dia pelajari. Sesuatu yang orang-orang sebut sebagai... benih-benih perasaan yang mulai tumbuh di tengah rivalitas.

  SMA Garuda mungkin akan tetap sama, koridornya akan tetap bising, dan papan pengumumannya akan tetap memajang daftar peringkat. Tapi bagi Salsa dan Arkan, segalanya sudah mulai bergeser. Persaingan mereka tidak lagi hanya tentang siapa yang mendapat nilai 98,5 atau 98,2. Ini mulai menjadi tentang siapa yang lebih dulu menyadari bahwa rasa benci yang selama ini mereka pupuk sebenarnya hanyalah cara untuk menutupi rasa kagum yang sudah lama terpendam.

  Dan di sudut perpustakaan yang sunyi tadi sore, sejarah baru di antara mereka sebenarnya sudah mulai ditulis, satu rumus demi satu rumus, satu candaan demi satu candaan. Strategi Salsa untuk tetap menjaga jarak mungkin sudah gagal total, digantikan oleh rencana baru yang belum pernah dia pelajari di buku teks mana pun. Sebuah rencana tentang bagaimana menghadapi debaran jantung yang tidak mau tenang setiap kali melihat senyum miring cowok paling menyebalkan se-SMA Garuda itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!