NovelToon NovelToon
Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ginian

​"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
​Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
​Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya

​Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
​Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
​"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Senyum di bawah Hujan

Keesokan paginya, Jakarta kembali diguyur hujan. Vandiko terbangun bukan karena alarm, tapi karena suara hujan yang jatuh di atas genting seng. Ia keluar ke teras, melihat tetangga-tetangga yang sibuk bersiap berangkat kerja. Ada yang memakai jas hujan plastik murahan, ada yang berlari-lari kecil mencari tumpangan.

Vandiko mengambil payung tua milik ayahnya. Ia ingin pergi ke pasar untuk membelikan pesanan ibunya. Di tengah jalan, ia melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam terjebak di genangan air. Pengemudinya tampak panik, mencoba menyalakan mesin yang mati.

Vandiko mendekat, mengetuk kaca jendela mobil itu. "Perlu bantuan, Pak?"

Seorang pria muda berpakaian rapi keluar dengan wajah kesal. "Sial! Mobil mahal begini bisa mati kena air sedikit saja! Kau bisa bantu dorong ke tempat kering?"

Vandiko tersenyum. Ia mengenali logo di setir mobil itu. Itu adalah salah satu perusahaan yang dulu ia miliki. Dengan tenang, ia membantu pria itu mendorong mobilnya ke pinggir jalan. Tenaga fisiknya yang dulu terlatih di pusat kebugaran elit kini ia gunakan untuk membantu orang asing di pinggir jalan.

"Terima kasih, Mas," ucap pria itu sambil merogoh dompet, hendak memberi uang tip.

Vandiko menggeleng. "Simpan saja uang Anda, Pak. Lain kali, hati-hati kalau lewat genangan. Mobil mewah bukan berarti tahan air."

Pria itu tertegun melihat ketenangan Vandiko. Ia merasa ada sesuatu yang berwibawa dari pria berpakaian sederhana ini, namun ia tidak bisa menebak siapa dia. Vandiko melanjutkan perjalanannya ke pasar.

Di pasar, ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang sibuk mengatur dagangan sayurnya. Gadis itu tampak lelah namun tetap tersenyum pada setiap pembeli. Namanya Sarah, teman masa kecil Vandiko yang dulu sering bermain bersamanya di gang ini.

"Vandiko? Itu kamu?" tanya Sarah tak percaya.

"Lama nggak ketemu, Sarah," jawab Vandiko ramah.

"Kamu ke mana saja? Katanya sukses di luar negeri ya? Wah, sekarang pasti sudah jadi bos besar!"

Vandiko tertawa renyah. "Aku cuma orang biasa yang rindu kampung halaman, Sarah. Sekarang aku mau coba bantu-bantu di sini saja."

Mereka mengobrol cukup lama. Sarah bercerita tentang perjuangannya menghidupi adiknya setelah orang tuanya meninggal. Vandiko mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia belajar lebih banyak tentang kehidupan dari Sarah dalam sepuluh menit daripada yang ia pelajari dari pertemuan bisnis selama sepuluh tahun.

Sore harinya, Vandiko duduk di bangku taman kecil dekat rumahnya. Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah yang segar. Ia merenung. Dulu, ia ingin menghancurkan dunia karena rasa sakitnya. Sekarang, ia ingin menyembuhkan dunianya yang kecil ini dengan kehadirannya.

Ia mengeluarkan ponsel murahnya, melihat daftar kontak yang hanya berisi tiga nama: Ibu, Ayah, dan Gia. Tidak ada lagi nama menteri, CEO, atau mafia internasional. Ia merasa sangat ringan. Ia menyadari bahwa untuk menjadi Billionaire, ia harus kehilangan dirinya sendiri. Namun untuk menjadi Vandiko, ia hanya perlu pulang.

Bab 30: Akhir dari Sebuah Perjalanan (1000 Kata)

Bulan purnama bersinar terang di atas Jakarta. Vandiko Elhaz duduk di atap rumahnya, tempat favoritnya dulu saat masih kecil untuk melihat bintang. Dari sini, ia bisa melihat kerlap-kerlip Menara Wijaya di kejauhan, tapi ia tidak lagi merasa terintimidasi.

Adipati menyusulnya ke atas, membawa dua cangkir kopi hitam yang hangat. "Ayah tahu, kamu bukan sekadar karyawan biasa di luar sana, Van."

Vandiko menoleh terkejut. "Maksud Ayah?"

"Seorang ayah selalu tahu kapan anaknya berbohong. Ayah melihat namamu di berita lama sekali. Tapi Ayah nggak pernah bicara karena Ayah tahu, itu bukan tempatmu yang sebenarnya. Kamu adalah Elhaz, artinya 'Pelindung'. Dan pelindung tidak hidup di dalam gedung kaca, tapi di tengah-tengah orang yang ia cintai."

Vandiko menunduk, menatap kopinya. "Maafkan Vandiko, Yah. Vandiko terlalu ambisius."

"Ambisi itu api, Nak. Kalau nggak dijaga, dia membakar rumahnya sendiri. Tapi syukurlah, kamu pulang sebelum apinya menghanguskan jiwamu."

Keesokan harinya, Vandiko mulai membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya. Sebuah warung kopi sederhana untuk para buruh dan warga sekitar. Ia menggunakan uang sepuluh juta rupiahnya untuk membeli peralatan dan biji kopi berkualitas. Ia ingin orang-orang kecil bisa merasakan kopi terbaik tanpa harus membayar harga yang tak masuk akal.

"Vandiko, ada yang cari kamu di depan," ucap Rahma suatu siang.

Vandiko keluar dan menemukan Gia berdiri di depan warungnya. Gia tidak lagi memakai setelan jas, melainkan gaun santai.

"Tuan... maksud saya, Vandiko," ucap Gia dengan senyum haru. "Semua tugas sudah selesai. Dana beasiswa sudah berjalan, rumah sakit sudah mulai dibangun. Saya juga sudah mengundurkan diri dari perusahaan lama."

"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Vandiko.

"Saya dengar warung kopi ini butuh kasir yang ahli dalam manajemen keuangan," sahut Gia sambil tertawa.

Vandiko ikut tertawa. Ia menyadari bahwa pengikut setianya bukan setia pada uangnya, melainkan pada visinya. Mereka mulai bekerja bersama, bukan untuk membangun imperium, tapi untuk membangun komunitas.

Setiap hari, Vandiko bangun dengan senyuman. Ia memasak untuk ibunya, membantu ayahnya memperbaiki kursi, dan bercengkerama dengan para pelanggan di warungnya. Ia dikenal sebagai "Mas Van", pria ramah yang kopinya sangat enak dan selalu punya nasihat bijak bagi siapa pun yang sedang kesulitan.

Tidak ada yang tahu bahwa pria yang sedang menyeduh kopi itu pernah mengguncang bursa saham dunia. Tidak ada yang tahu bahwa pria yang sedang tertawa bersama buruh itu pernah memiliki saldo triliunan rupiah. Dan Vandiko menyukai itu.

Kekayaan sejatinya kini bukan lagi angka, tapi setiap senyuman ibunya yang sehat, setiap petuah ayahnya yang bijak, dan setiap cangkir kopi yang ia sajikan untuk membantu orang lain memulai hari mereka.

Vandiko Elhaz telah menyelesaikan perjalanannya. Dari kemiskinan menuju puncak dunia, dan kembali lagi ke kesederhanaan. Ia membuktikan bahwa Billionaire sejati bukanlah dia yang memiliki banyak, tapi dia yang merasa cukup.

Di bawah langit Jakarta yang sama dengan saat ia memulai mimpinya, Vandiko Elhaz akhirnya menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

1
Ali
Thor knapa si isabela dibiarin hidup...bego lu thor.skip ah.cerita muter muter kayak gasing.
Ginian
iya terimakasih
Ginian
terimakasih 🙏
D'ken Nicko
ga seru kalau ada sistem lain. jadi hambar
D'ken Nicko
tetap semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!