NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh dari pohon

Seminggu berlalu sejak kunjungan mereka ke kampung.

Seminggu yang terasa seperti sebulan bagi Raka.

Nadira berubah total. Wanita yang tadinya ceria, cerewet, penuh semangat... sekarang berubah menjadi sosok yang murung, pendiam, kosong.

Setiap pagi, Raka membangunkannya dengan lembut. Nadira bangun, tapi tidak tersenyum. Ia mandi, berganti pakaian, lalu duduk di sofa, hanya duduk, menatap kosong ke arah jendela, tidak melakukan apa-apa.

Raka menyiapkan sarapan, kali ini ia pesan dari luar karena tidak mau mengulang kesalahan memasak nasi goreng yang asin. Ia meletakkan makanan di depan Nadira, membujuk wanita itu untuk makan.

"Dira, sarapan dulu ya. Ini nasi uduk. Enak lho," ucap Raka dengan suara lembut.

Nadira menatap makanan itu dengan tatapan datar, lalu mengambil sendok dan makan, makan dengan gerakan yang mekanis, seperti robot. Tidak ada ekspresi. Tidak ada komentar. Hanya makan karena harus makan.

Raka duduk di seberangnya, menatap Nadira dengan tatapan khawatir. Ia mencoba membuka pembicaraan... bertanya bagaimana tidurnya, bertanya apa yang ingin Nadira lakukan hari ini, bahkan mencoba bercanda.

Tapi Nadira hanya diam. Tidak ada respons. Hanya tatapan kosong.

Setiap hari seperti itu.

Raka sudah mencoba segala cara. Ia mengajak Nadira jalan-jalan ke taman, tapi Nadira hanya duduk di bangku taman dengan tatapan kosong. Ia membelikan Nadira permen dan coklat, hal-hal yang dulu membuat Nadira senang, tapi Nadira hanya menatapnya tanpa antusias.

Ia bahkan menyalakan kartun Spongebob yang dulu selalu membuat Nadira tertawa, tapi Nadira hanya menatap layar televisi dengan tatapan datar, tidak ada tawa, tidak ada senyuman.

Nadira seperti kehilangan jiwanya.

Dan Raka tidak tahu bagaimana mengembalikannya.

---

Hari ini, Raka harus pergi keluar kota untuk urusan kantor. Sebuah meeting penting dengan klien di Bandung yang tidak bisa ia tolak, atasannya sudah menugaskan sejak seminggu lalu, dan Raka tidak bisa mengelak lagi.

Pagi itu, Raka bangun lebih awal. Ia menyiapkan tas kecil berisi pakaian ganti dan dokumen-dokumen penting, lalu masuk ke kamar untuk melihat Nadira.

Nadira masih tidur, tubuhnya meringkuk di bawah selimut, wajahnya tenang tapi pucat.

Raka duduk di pinggir ranjang, mengusap rambut Nadira dengan lembut.

"Dira," panggilnya pelan. "Bangun, sayang. Om mau pamit."

Nadira perlahan membuka matanya... mata yang kosong, tidak ada cahaya di sana.

"Om harus pergi ke Bandung hari ini. Untuk kerja. Om akan pulang besok sore," ucap Raka sambil tersenyum, senyuman yang dipaksakan. "Nadira akan Om titip ke Nenek ya. Nenek akan jaga Nadira."

Nadira tidak menjawab. Ia hanya menatap Raka dengan tatapan datar.

Raka merasakan dadanya sesak. Ia ingin membatalkan perjalanan ini. Ingin tetap di sini, di samping Nadira. Tapi ia tidak bisa.

"Nadira, Om janji akan cepat pulang. Dan nanti kalau Om pulang, Om belikan Nadira apapun yang Nadira mau. Oke?" ucap Raka sambil mengusap pipi Nadira dengan lembut.

Nadira hanya mengangguk lemah, anggukan yang tidak berarti apa-apa.

Raka menarik napas dalam, lalu mencium kening Nadira dengan lembut. "Om sayang kamu."

Nadira tidak merespons.

Raka bangkit dari ranjang dengan hati berat, lalu keluar dari kamar.

---

Setengah jam kemudian, Raka sudah mengantarkan Nadira ke rumah Mama Nita. Nadira duduk di kursi belakang mobil dengan tatapan kosong, tidak bicara sepanjang perjalanan.

Sampai di rumah Mama Nita, Raka membantu Nadira turun dari mobil dan membawanya masuk.

Mama Nita sudah menunggu di pintu dengan senyuman hangat, senyuman yang sedikit memudar saat melihat ekspresi Nadira yang murung.

"Dira, sayang. Ayo masuk," ucap Mama sambil mengulurkan tangannya.

Nadira meraih tangan Mama Nita dengan lemah, lalu masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa.

Raka menatap punggung Nadira yang menjauh, lalu berbisik pada Mamanya.

"Ma, tolong jaga Nadira baik-baik. Dia... dia masih murung. Belum mau bicara banyak," ucap Raka dengan suara khawatir.

Mama mengangguk sambil menepuk bahu Raka. "Tenang, Nak. Mama akan jaga dia. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu. Nadira akan baik-baik saja di sini."

Raka mengangguk, lalu melirik Nadira sekali lagi sebelum keluar dari rumah dan berangkat ke Bandung.

---

Di dalam rumah, Mama Nita duduk di samping Nadira yang duduk di sofa dengan tatapan kosong.

"Dira, kamu mau minum susu? Atau jus? Nenek punya jus jeruk segar," tawar Mama dengan suara lembut.

Nadira menggeleng pelan.

"Kamu mau nonton TV? Nenek nyalain kartun ya," lanjut Mama sambil meraih remote.

Nadira kembali menggeleng.

Mama menatap Nadira dengan tatapan penuh simpati. Ia tahu Nadira sedang sedih, sangat sedih dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghiburnya.

"Baiklah, sayang. Kalau kamu mau apa-apa, bilang Nenek ya," ucap Mama sambil tersenyum, lalu berdiri dan berjalan ke dapur, memberikan Nadira waktu sendiri.

Nadira duduk di sofa dengan tatapan kosong, menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan halaman belakang rumah.

Pikirannya kosong. Hatinya kosong. Semuanya terasa hampa.

Lalu tiba-tiba, pandangannya tertangkap oleh sesuatu.

Sebuah pohon mangga besar di halaman belakang, pohon yang tinggi, dengan daun-daun lebat dan ranting-ranting yang menjulang tinggi.

Dan di pucuk pohon itu, di antara dedaunan ada sebuah mangga. Satu buah mangga yang sudah matang. Kulitnya berwarna kuning kemerahan, terlihat segar dan menggoda.

Nadira menatap mangga itu dengan tatapan yang mulai berubah, tidak lagi kosong, tapi... tertarik.

Ia ingat. Ibu dulu sering membelikan mangga. Ibu bilang mangga itu buah favorit Nadira.

Dan sekarang, ada mangga di sana. Di pucuk pohon. Menunggu untuk dipetik.

Nadira bangkit dari sofa dengan gerakan yang tiba-tiba. Ia berjalan menuju jendela, membukanya, lalu keluar ke halaman belakang.

Mama Nita yang sedang di dapur tidak mendengar, tidak tahu bahwa Nadira sudah keluar.

Nadira berdiri di bawah pohon mangga, menatap buah itu dengan tatapan fokus. Pohonnya tinggi, sangat tinggi. Tapi mangga itu ada di sana. Dan Nadira ingin memakannya.

Tanpa berpikir panjang, Nadira mulai memanjat.

Kakinya menapak pada ranting-ranting bawah yang cukup kuat. Tangannya mencengkeram batang pohon dengan erat. Ia naik perlahan... satu ranting, dua ranting, tiga ranting.

Semakin tinggi. Semakin tinggi lagi.

Di dapur, Mama Nita selesai menyiapkan susu coklat untuk Nadira. Ia menuangkan susu itu ke dalam gelas, lalu berjalan keluar menuju ruang tamu.

"Dira, Nenek buatin susu..."

Mama Nita berhenti. Sofa kosong. Nadira tidak ada.

"Dira?" panggil Mama Nita sambil berjalan ke kamar. "Nadira, kamu di kamar?"

Tidak ada jawaban.

Mama Nita mulai panik. Ia berjalan cepat memeriksa kamar mandi... kosong. Kamar tidur... kosong.

Lalu matanya menangkap jendela yang terbuka.

Mama Nita berlari ke jendela, menatap keluar dan jantungnya langsung berhenti.

Nadira ada di atas pohon mangga. Sangat tinggi. Hampir di pucuk. Tangannya meraih mangga yang tergantung di ujung ranting yang tipis, ranting yang terlihat sangat rapuh.

"NADIRA!" teriak Mama Nita dengan keras, teriakan yang panik, penuh ketakutan.

Nadira tersentak mendengar teriakan itu. Ia menoleh ke bawah dan kehilangan keseimbangan sejenak.

"NADIRA, JANGAN BERGERAK! JANGAN TURUN SENDIRI! NENEK AKAN PANGGIL BANTUAN!" teriak Mama Nita lagi.

Tapi Nadira tidak mendengar. Ia kembali fokus pada mangga itu, tangannya meraih lebih jauh, lebih jauh lagi.

Jari-jarinya menyentuh kulit mangga... hampir...

KRAK!

Suara ranting patah.

Ranting tempat Nadira berpijak retak lalu patah.

"NADIRAAAA!!!"

Mama Nita berteriak histeris, gelas susu di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.

Nadira jatuh.

Tubuhnya melayang di udara, jatuh dari ketinggian hampir lima meter, jatuh dengan cepat, jatuh tanpa bisa ditahan.

BRUK!

Tubuh Nadira menghantam tanah dengan keras, kepala lebih dahulu, lalu bahu, lalu punggung.

Bunyi benturan itu terdengar sangat keras, bunyi yang membuat siapa pun yang mendengar merinding.

Lalu... keheningan.

Nadira tergeletak di tanah... tidak bergerak.

Mama Nita berlari keluar dengan napas tersengal, berteriak histeris.

"NADIRA! NADIRA, BANGUN! KUMOHON!" teriaknya sambil berlutut di samping tubuh Nadira.

Nadira terbaring dengan mata tertutup. Ada darah, darah mengalir dari kepalanya, membasahi tanah di bawahnya.

Mama Nita gemetar hebat, tangannya tidak berani menyentuh Nadira, takut membuat kondisinya lebih buruk.

"TOLONG! TOLONG! ADA ORANG!" teriaknya sekeras yang ia bisa.

Beberapa tetangga mendengar dan berlari mendekat.

"Ibu! Ada apa?"

"PANGGIL AMBULANS! CEPAT!" teriak Mama Nita dengan wajah pucat pasi, air matanya mengalir deras.

Seorang tetangga langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon ambulans.

Mama Nita menatap Nadira dengan tatapan penuh ketakutan... ketakutan yang sangat mendalam.

"Nadira, sayang... bertahanlah... kumohon bertahanlah..." isaknya sambil memegang tangan Nadira yang dingin.

Tapi Nadira tidak bergerak.

Tidak ada respons.

Hanya keheningan yang menakutkan.

Dan darah yang terus mengalir dari kepalanya—mengalir perlahan, membasahi tanah, membasahi rumput.

Mama Nita menangis keras, penuh penyesalan.

"Maafkan Nenek... maafkan Nenek, Dira... Nenek harusnya jaga kamu lebih baik... maafkan Nenek..." isaknya di antara tangisan.

Sirene ambulans terdengar dari kejauhan, semakin dekat, semakin nyaring.

Tapi bagi Mama Nita, semuanya terasa terlalu lambat.

Terlalu lambat untuk menyelamatkan Nadira.

Terlalu lambat untuk mengubah apa yang sudah terjadi.

Dan satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah berdoa dengan sepenuh hati agar Nadira selamat.

Agar Nadira tidak meninggalkan mereka.

Agar Raka tidak kehilangan Nadira... lagi.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!