NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Keberanian Julian

​Pagar pembatas area VIP setinggi satu meter itu bukan halangan bagi Julian. Adrenalin yang membanjiri darahnya membuatnya merasa ringan. Dia melompat, mendarat dengan mulus di area beton depan panggung, lalu berlari menuju tangga samping.

​"Den Julian! Berhenti, Den!" teriakan panik Pak Wahyu terdengar dari belakang, tapi Julian sudah tuli.

​Dia menaiki tangga panggung dua sekaligus. Jantungnya berdegup seirama dengan beat drum Raka yang menghentak keras.

​Di ujung tangga, Rian berdiri menghadang. Wajah Ketua Pelaksana itu merah padam karena marah dan panik.

​"Turun lo, pengkhianat!" teriak Rian, merentangkan tangan. "Lo udah diskors! Lo nggak berhak injek panggung ini!"

​Julian tidak melambat. Dia menatap Rian dengan tatapan yang selama ini dia sembunyikan—tatapan dingin, tajam, dan penuh otoritas. Tatapan seorang pemimpin sejati.

​"Minggir," kata Julian tenang namun mematikan.

​"Nggak bakal! Satpam! Seret dia—"

​Julian tidak menunggu Rian selesai bicara. Dia menubruk bahu Rian dengan keras, membuat cowok itu terhuyung dan jatuh terjengkang ke tumpukan kabel.

​"Gue bilang minggir," desis Julian tanpa menoleh lagi.

​Dia berlari ke tengah panggung.

​Alea, yang sedang menyanyi sambil memetik gitar rhythm, menoleh kaget saat melihat sosok berkemeja batik itu muncul di sebelahnya. Mata Alea melebar, senyumnya merekah di sela-sela lirik lagu.

​"Telat lo!" teriak Alea tanpa mic, suaranya hampir tenggelam oleh musik.

​"Macet di jalan!" balas Julian, mengulang alasan konyol pertemuan pertama mereka.

​Julian menoleh ke arah sayap panggung. Di sana, Bang Jago sudah siap. Pria bertato itu menyeringai lebar dan melemparkan sebuah gitar Gibson Les Paul hitam ke arah Julian.

​Julian menangkapnya di udara dengan satu tangan. Gerakan yang sangat rockstar, sangat tidak akademis.

​Dengan cekatan, dia mengalungkan gitar itu, mencolokkan kabel jack yang sudah disiapkan Bang Jago di lantai, dan menginjak pedal distorsi.

​NGIIING!

​Suara feedback melengking menyambut kedatangannya.

​Julian tidak memakai masker tengkorak. Dia tidak memakai hoodie hitam. Dia berdiri di sana dengan kemeja batik mahalnya, celana bahan rapi, dan kacamata minus. Dia adalah Julian Pradana. Dan dia adalah Phantom.

​Dia menatap Raka di belakang drum. Raka menyeringai gila.

​"Masuk, Phantom!" teriak Raka.

​Julian menyambar senar gitarnya.

​JREEENG!

​Melodi yang hilang itu akhirnya terisi. Suara gitar Julian masuk dengan agresif, meliuk-liuk di antara bass Dito dan keyboard Beni. Lagu yang tadinya terdengar "kosong", kini menjadi utuh. Padat. Bertenaga.

​Ribuan siswa di lapangan ternganga.

​"Itu... itu Kak Julian?"

"Gila! Ketua OSIS bisa main gitar kayak gitu?"

"Sumpah keren banget!"

​Sorak sorai meledak. Lebih keras dari sebelumnya. Mereka tidak peduli ini penampilan ilegal atau bukan. Mereka hanya tahu bahwa apa yang mereka lihat adalah pertunjukan paling epik dalam sejarah sekolah.

​Julian memejamkan mata, membiarkan musik menguasai tubuhnya. Dia tidak lagi memikirkan ayahnya. Dia tidak memikirkan nilai. Dia hanya merasakan resonansi. Getaran senar di ujung jarinya merambat ke seluruh tubuh, menyatu dengan suara Alea.

​Mereka berdua berdiri berdampingan di bibir panggung. Back-to-back. Punggung Julian menempel pada punggung Alea.

​"Siap buat ledakannya?" tanya Alea di sela napasnya.

​"Ledakkan sekarang," jawab Julian.

​Lagu memasuki bagian Breakdown. Musik berhenti sejenak, menyisakan dentuman bass yang rendah dan mencekam.

​Alea mengangkat tangannya, menunjuk ke layar LED raksasa di belakang panggung yang sejak tadi hanya menampilkan logo sekolah.

​"Sarah! SEKARANG!" teriak Alea ke mic.

​Di ruang kontrol multimedia, Sarah menekan tombol Enter dengan jari gemetar namun mantap.

​Layar LED berubah.

​Bukan animasi visual abstrak. Bukan video klip.

​Muncul tulisan besar berwarna merah darah:

LAPORAN KEUANGAN PENSI: REALITA VS MANIPULASI

​Penonton hening seketika.

​Lalu, slide berganti cepat mengikuti beat drum yang mulai masuk lagi.

​Slide 1: Foto Invoice asli vendor sound system (Rp 45 Juta).

​Slide 2: Foto Invoice palsu dengan tanda tangan Rian (Rp 65 Juta).

​Slide 3: Tangkapan layar chat Rian yang meminta cashback masuk ke rekening pribadi.

​Slide 4: Foto Rian sedang pamer motor baru di Instagram dengan caption: "Hasil kerja keras."

​Gumaman kaget berubah menjadi teriakan marah dari penonton.

​"WOI! KORUPSI!"

"BALIKIN DUIT KITA!"

"TURUNIN RIAN!"

​Di pinggir panggung, wajah Rian pucat pasi. Dia melihat ke layar besar itu dengan horor. Doni dan teman-temannya perlahan mundur, menjauhi Rian, tidak mau ikut terseret.

​Julian membuka matanya. Dia melihat kekacauan itu. Tapi dia tidak berhenti main. Justru, dia menaikkan tempo.

​Lagu masuk ke Coda (bagian akhir).

​Julian maju ke depan panggung, memainkan solo gitar terakhirnya. Solo yang melengking tinggi, menjeritkan kemarahan dan kebenaran. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, teknik shredding yang membuat semua orang terpukau. Keringat bercucuran membasahi kemeja batiknya, kacamatanya melorot, tapi dia tidak peduli.

​Dia menatap lurus ke area VIP.

​Di sana, di kursi nomor 13 yang tadi kosong, kini duduk seseorang.

​Dokter Prasetyo.

​Ayahnya baru saja datang. Dia duduk tegak, tangan bersedekap. Wajahnya tidak bisa dibaca. Dia melihat layar besar berisi bukti korupsi itu, lalu tatapannya beralih ke Julian.

​Julian tidak membuang muka. Sambil terus memetik gitar, dia menatap mata ayahnya.

​Liat aku, Pa, batin Julian berteriak lewat musiknya. Ini aku. Bukan robot. Bukan calon dokter. Ini anakmu yang hidup.

​Lagu berakhir dengan satu hentakan serempak.

​DUG!

​Alea, Raka, Dito, dan Beni mengangkat tangan ke udara. Napas mereka memburu.

​Julian menurunkan gitarnya perlahan. Keringat menetes dari dagunya.

​Hening sedetik.

​Lalu, tepuk tangan membahana. Gemuruh tepuk tangan yang luar biasa dahsyat. Siswa, alumni, bahkan beberapa guru berdiri memberikan standing ovation.

​"JULIAN! ALEA! THE REBELS!"

"JULIAN! ALEA! THE REBELS!"

​Nama mereka dielu-elukan. Bukan sebagai pembuat onar, tapi sebagai pahlawan.

​Alea menoleh ke Julian. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. Dia melompat dan memeluk Julian erat-erat di depan ribuan orang.

​"Kita berhasil, Jul! Kita berhasil!"

​Julian terhuyung sedikit, tapi dia menangkap tubuh Alea. Dia membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya di depan umum, tanpa rasa takut, Julian tersenyum lebar. Sangat lebar.

​"Ya," bisik Julian di telinga Alea. "Kita berhasil."

​Di pinggir panggung, Pak Burhan (Kepala Sekolah) berdiri dengan wajah campur aduk. Marah karena acaranya dibajak, kaget melihat bukti korupsi di layar, tapi juga takjub melihat penampilan murid-muridnya.

​Dia menoleh ke Pak Hadi. "Amankan Rian. Bawa ke ruangan saya. Sekarang."

​Dua satpam langsung menyeret Rian yang mencoba kabur. Sorakan "HUUUU" mengiringi kepergian sang koruptor.

​Julian melepaskan pelukan Alea. Dia berjalan ke depan panggung, mengambil mic.

​Napasnya masih tersengal. Dia membetulkan letak kacamatanya.

​"Terima kasih," kata Julian. Suaranya bergema. "Itu tadi The Rebels. Dan saya Julian Pradana... gitaris mereka."

​Dia menunduk hormat.

​Saat dia menegakkan tubuhnya kembali, dia melihat kursi VIP nomor 13.

​Kosong.

​Ayahnya sudah pergi.

​Senyum Julian sedikit memudar. Kemenangan ini terasa manis, tapi juga menyisakan lubang di hati. Dia tahu apa artinya itu.

​Supir asrama pasti sudah menunggu di gerbang.

​Julian menoleh ke Alea. "Gue harus pergi."

​"Sekarang?" tanya Alea, senyumnya hilang.

​"Iya. Pesawat jam 2. Pak Wahyu udah nunggu."

​Alea menggigit bibirnya, menahan tangis. "Tapi lo baru aja jadi raja panggung, Jul. Lo baru aja bersihin nama lo."

​"Tugas gue selesai," Julian melepaskan gitarnya, menyerahkannya kembali ke Bang Jago. "Pensi udah selamat. Rian udah tamat. Lo bisa lanjutin pestanya."

​Julian berjalan menuruni tangga panggung. Langkahnya berat.

​Alea menatap punggung itu. Punggung yang selalu memikul beban sendirian.

​Tiba-tiba, Alea melepaskan gitarnya sendiri.

​"Bodo amat sama pesta!" teriak Alea.

​Dia melompat turun dari panggung, mengejar Julian.

​"Gue ikut!"

​Julian berhenti, berbalik kaget. "Ikut ke mana? Ke bandara?"

​"Sampe gerbang! Gue mau pastiin lo nggak pergi dengan perasaan sedih!" Alea meraih tangan Julian, menggenggamnya erat. "Ayo lari. Sebelum fans lo ngerubungin lo."

​Julian menatap tangan mereka yang bertautan. Dia tersenyum kecil.

​"Ayo."

​Mereka berdua berlari membelah kerumunan penonton yang masih histeris, meninggalkan panggung kemenangan mereka, menuju takdir yang belum pasti di gerbang sekolah.

...****************...

Bersambung......

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!