Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keesokan harinya Dewi sedang membereskan rumah, Randi dan anak anak sudah sejak tadi ke tempat kerja dan sekolah.
Dewi duduk sebentar, ia kembali mengingat bagaimana awal ia menikah dengan Randi, Dewi ingat dari awal ia tidak pernah tanya apakah Randi mencintainya atau tidak.
Ia pun tak pernah menggali masa lalu Randi, ketika Randi menikahinya Dewi hanya melihat bahwa kedepannya ia tidak akan sendirian lagi.
Dewi menarik nafas panjang, terlalu banyak hal yang di pikirkan Dewi bahkan sejak kedatangan Rama, entah kenapa dengan munculnya Rama kembali Dewi merasa tidak nyaman.
Dewi juga teringat dengan ibu mertuanya, dia merasa bersalah telah mengatakan tidak bisa membantu. seperti itulah Dewi, dia memiliki hati yang tidak tega. Apalagi ibu mertuanya adalah adik dari Ayahnya
"Sebaiknya saya antar kan saja uang lima juta ini buat ibu, siapa tau ibu benar-benar butuh " Batin Dewi.
Tanpa menelpon ibu mertuanya atau kakak iparnya Dewi segera menuju ke rumah Rani.
Rumah Rani tampak sepi, mungkin saja ibu mertuanya sedang tidur. Dewi lewat jalan samping rumah Rani , ini sudah biasa dia lakukan apabila datang ke rumah Rani dan melihat pintu rumah tertutup Dewi akan langsung ke arah samping.
Samar samar Dewi mendengar suara orang yang sedang berbicara, Dewi terpaku diam karena dia mendengar namanya juga di sebut.
"Dulu saya kan udah bilang sama ibu, jangan nikah kan Randi sama Dewi. Tunggu Mariam aja. Padahal ibu juga tau kalau anak om Irwan yang di cintai Randi itu Mariam bukan Dewi. Mariam dan Randi itu sudah lama saling suka bu " Omelan panjang Rani terdengar jelas di telinga Dewi
Jantung Dewi mencelos mendengar nama Mariam di sebut sebagai wanita yang di cintai Randi. Rupanya kekasih Randi adalah adik tirinya, Dewi sadar dialah yang merusak hubungan mereka dan pantas saja keluarga Randi sangat menginginkan Mariam jadi menantu mereka. Karena mereka tau Mariam yang di cintai Randi.
Tapi apa yang salah dengan dirinya? Kenapa dia begitu di benci oleh kakak dan adik iparnya. Padahal apa saja yang mereka inginkan tidak pernah Dewi tolak. Apapun yang mereka pinjam Dewi tidak pernah meminta kembali, Dewi berpikir dengan cara itu Dewi bisa menjadi teman bagi mereka. Namun tetap Mariam yang mereka inginkan.
Dewi ingat apa saja yang mereka ambil darinya. Kalung emas Dewi hingga hari ini masih di pakai oleh Rani, Dua gelang emas dengan harga belasan juta juga di pakai oleh Reni. Tapi tetap saja Dewi tidak baik. Bahkan mereka pura pura lupa dengan barang barang Dewi.
"Udah jangan di ungkit ungkit lagi,itu adalah kesalahan ibu. Ibu juga menyesal menikah kan Randi dan Dewi. Udah nggak bisa memberikan anak. Dia pelit lagi. Mariam jauh lebih baik dari Dewi. Apalagi ibu Mariam itu adalah teman baik ibu juga, semua itu karena permintaan ayah Dewi, ibu nggak bisa menolak " Suara ibu mertua Dewi terdengar jelas sekali.
"Ya ibu mau aja karena janji om Irwan bukan?" Reni ikut bicara.
"Jadi rupanya seperti itu,ada janji Ayah pada orang tua kak Randi?" Batin Dewi
Dewi menunduk, ia ingin menampung air matanya. tapi kelopak matanya terlalu lelah menampung luka yang terlalu menumpuk.
"Nak.... sebagai istri kamu harus melayani suami kamu dengan baik.. contoh kecilnya seperti sekarang ini. Suami kamu ingin makan, maka kamu harus memisahkan ikan ikan itu dari tulangnya agar suami kamu bisa makan "
Itu adalah kata kata ayah Dewi ketika Dewi baru saja menikah. Dewi dengan patuh melakukan apa yang di katakan ayahnya. Tapi sekarang tidak lagi. Ia mendongak menatap ke atas, matanya basah, tapi kini mulai menyala dengan bara kecil.
Uang lima juta yang ingin dia berikan pada ibu mertuanya tidak jadi di berikan.
Rani Reni..... mungkin sudah waktunya dia berhenti menjaga perasaan mereka. Tangan Dewi mengepal.
Kalau sabar, Dewi sudah sangat sabar dan Dewi terima hinaan apapun itu, bukan karena Dewi lemah. Tapi Dewi ingin mereka tidak menyakiti dan memperlakukan kedua anaknya dengan buruk. Tapi sekarang tidak lagi, dia tidak bisa diam dan pasrah saja.
Dewi berlalu pergi dari rumah Rani, Dewi kembali ke rumahnya.
Randi tidak melihat atau pun mendengar suara Dewi, dia keluar mencari istrinya. Namun tak lama kemudian Randi mendengar bunyi motor Dewi yang masuk ke halaman rumah mereka.
"Kamu dari mana sayang ?" Tanya Randi
"Dari rumah kak Rani, tapi sepertinya mereka udah tidur"
"Ngapain?"
"Mau ketemu ibu,.nggak jadi kak. Rumah kak Rani sepi sekali "
"Oh.. Mungkin ibu udah tidur. Lagian ini udah jam 10"
"Iya kak.... Hum kak, saya pengen tanya sesuatu sama kakak"
Randi diam, ada ketakutan. Dia takut jika Dewi bertanya tentang Mariam.
"Ma..mau ngomong apa sayang ?" Tanya Randi sedikit gugup
"Apa yang di tawarkan ayah ketika ayah meminta kakak menikahi saya ?"
Kening Randi berkerut, dia merasa aneh dengan pertanyaan Dewi.
"Apa maksud kamu sayang?"
"Tawaran apa yang di janjikan ayah agar kakak mau menikah saya ? Siapa tau saja dulu kakak punya pacar atau wanita yang kakak cintai. Tapi kakak meninggalkan kekasih kakak karena permintaan ayah untuk menikahi saya " kata Dewi
Randi yakin Dewi sudah mendengar sesuatu di rumah Rani. Randi melihat Dewi menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nafas dengan berat.
"Apa yang kamu bicarakan sayang, bukankah saya sudah katakan jangan pernah bertanya apapun tentang kita. Saya bukanlah pria asing, kamu mengenal saya. Kita bersaudara. Jadi tidak perlu mencari tau tentang saya. Saya pernah mengatakan itu bukan? Lalu kenapa sekarang kamu tiba tiba saja bertanya seperti ini? "
Terdengar helaan nafas Dewi....
"Kak....setiap kali saya berpura pura kuat, saya selalu kalah dengan air mata saya, sekarang juga saya tau saya sudah kalah "
"Kamu kenapa ngomong kayak gini sayang ? Saya nggak ngerti "
"Nggak apa-apa, saya cuman pengen ngomong aja. Udah lama sekali nggak duduk ngobrol sama kakak "
"Ada apa dek....saya nggak tau apa yang kamu pikirkan kalau kamu nggak ngomong "
"Nggak ada yang saya pikirkan....cuman pengen ngomong seperti itu aja. Ya udah tidur ya kak. Besok harus kerja lagi "
Dewi masuk tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
Randi mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada kakaknya.
"Kak... Tadi Dewi ke rumah ya ?" Tanya Randi lewat pesan.
"Nggak "
"Dia bilang dia ke rumah tapi pintu rumah tertutup,.mau ke ibu "
"Masa sih ? Nggak ada. Saya sama ibu, Reni dan Mariam lagi ngobrol di ruang makan, Dewi nggak datang dek"
"Oh ya udah kak... "
"Eh tunggu, istri kamu ini katanya pengen kamu ke sini " Balas Rani lagi
"Ah... Besok aja kak, saya lagi malas ke sana" Tanpa menunggu balasan, Randi menonaktifkan ponselnya.
Perlahan-lahan Randi masuk ke dalam kamar, Randi melihat Dewi sudah tidur membelakangi pintu.
Randi tidur di samping Dewi, pandangannya menerawang menatap langit-langit kamar. Saat ini perasaannya terombang-ambing.
Bahkan dia tidak memiliki Mariam sama sekali, ada sesuatu yang dalam hati yang membuatnya tidak nyaman. Entah apa ?
*
Satu bulan kemudian......
Dewi sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Hari ini Dewi berencana ingin mengajak anak-anak ke rumah Amalia. Nora berulang tahun.
Mereka akan merayakan ulang tahun Nora, Kue ulang tahun juga sudah Dewi pesan dari dua hari yang lalu.
Ting.....
Sebuah pesan masuk di ponsel Dewi.. "mungkin kuenya udah bisa di ambil" Batin Dewi
"Ayah sakit kak , Ayah mau di bawa ke kota" pesan dari Maya adik tiri Dewi
Tanpa menunggu lagi,Dewi segera melakukan panggilan. Tapi nomor Maya sudah tidak aktif lagi. Dewi mencoba menelpon dua orang adik tirinya lagi tapi nomor mereka juga tidak aktif.
Dewi berjalan mondar-mandir di depan suami dan anak-anaknya
"Kok malah nggak aktif semua nomor mereka" Dewi menggerutu lirih.
"Ibu... Ibu kenapa ?" Tanya Arumi
Randi juga melihat istrinya gelisah..
"Sayang ada apa? Kenapa kamu panik seperti itu?" Tanya Randi.
"Maya kirim pesan katanya ayah sakit dan sedang ke sini, tapi saya telpon balik nomornya udah nggak aktif kak, nomor Rian sama Yudha juga nggak aktif "
"Serius? Tapi waktu itu kata om Irwan sakitnya udah nggak apa-apa dan udah ada perubahan " Sahut Randi tanpa sadar
"Kakak pernah ketemu Ayah? Apakah kakak ke kampung? " Tanya Dewi panik. Dia tidak berpikir apa-apa lagi.
"Ehm... ee..i..iya sayang, saya pernah ke sana antar ibu"
"Kenapa kakak nggak ngomong sama saya kalau ayah sakit ? Kata Dewi dengan suara tinggi
"Maaf sayang, itu... karena saya melihat ayah deman biasa aja "
"Kapan kakak ke kampung ? ?"
"Umm...ti..tiga bulan lalu sayang?"
"Apa? Itu sudah lama, apa mereka nggak bawa ayah berobat,?"
"Mungkin Ayah sama ibu nggak mau merepotkan kamu sayang, jadi mereka nggak ke dokter lagi "
"Merepotkan gimana kak? Uang bulanan setiap bulan saya kirimkan"
Kening Randi mengkerut....
"Saya baru mengirimkan uang untuk Ayah dua hari yang lalu kak. Kata ibu, ayah mau beli sesuatu. Dan saya nggak tanya apa yang di beli ayah. Kakak.... Apakah ibu membohongi saya ? sengaja nggak kasih tau kalau ayah sakit?"
"Kamu kirim uang ke ibu?" Tanya Randi lagi
"Iya kak... kakak kan tau saya selalu mengirimkan uang bulan ke orang tua kakak dan ayah saya" Jawab Dewi dengan Kening berkerut. Dia merasa aneh dengan pertanyaan Randi.
Randi diam, lalu kenapa ibu mertuanya mengatakan kalau Dewi sudah tidak pernah mengirimkan mereka uang bulanan. Ibunya juga mengatakan kalau Dewi mengurangi jatah bulanan mereka.
Ah....Seharusnya Randi sudah tau kalau mereka memang tidak menyukai Dewi, seharusnya Randi tidak merasa bodoh seperti ini, bukankah dia juga ikut andil memanfaatkan Dewi? Randi memejamkan mata...
"Kak.. pulanglah, ayah menunggu kakak."
.
.
.
.
Bersambung.....
Baru up lagi ya, readers kesayangan ku jangan lupa tinggalkan jejak
sudahlah miskin belagu pulak tuh