NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sejenak bersama sang putri

Cassia berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu tidak teratur. Kedua tangannya disembunyikan di balik punggung. Rambut cokelat keemasannya tampak kusut berantakan, sementara kedua kaki telanjangnya yang berlumur lumpur hitam menyisakan jejak kotor di atas lantai marmer yang bersih. Gaun tidur putih yang masih dikenakannya tertutup setengah oleh mantel merah kerajaan yang dipakai secara asal-asalan, membuat salah satu sisinya hampir merosot dari bahu sang Putri.

​"Ayah! Kau harus melihatnya," kata Cassia lantang. "Aku baru saja menemukan sesuatu yang sangat lucu!"

​Ia memperlihatkan senyum lebar hingga memamerkan deretan giginya yang rapi. Gadis itu sama sekali tidak memedulikan penampilannya saat ini yang sudah kacau-balau. Sudut matanya sempat melirik ke arah Damian, sebelum akhirnya fokusnya kembali tertuju sepenuhnya pada sang ayah.

​Arthur mengusap wajahnya beberapa kali, menatap putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi tidak habis pikir. Rasa letih yang sejak tadi membayangi wajah sang raja seketika buyar, berganti dengan kerutan dalam di dahi saat melihat jejak lumpur hitam yang mengotori lantai marmer ruang kerjanya.

​"Cassia..." tegurnya dengan nada berat. Suaranya penuh tekanan dari seorang ayah yang sedang berusaha keras menjaga sisa kesabarannya. "Lihat keadaanmu. Kau ini putri Castlewood, bukan putri seorang petani. Bersihkan kakimu dan rapikan penampilanmu sebelum berkeliaran di dalam istana. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka melihatmu seperti ini?"

"Sudah hentikan, ayah jangan mengomel dulu. Ini masih pagi. Tidak baik untuk kesehatan," Gadis itu mengerucutkan bibirnya malas. ​"Lagi pula lupakan soal penampilanku. Ayah harus lihat ini!"

Cassia langsung melangkah lebar-lebar menuju meja kerja milik Arthur sambil terus melipat kedua tangan di belakang punggung. Senyum lebar kembali terukir di wajahnya. Seolah ia baru saja membawa penemuan paling penting di seluruh Castlewood.

"Senyum seperti itu biasanya pertanda buruk, Yang Mulia," celetuk Damian dengan nada mengejek.

Kepala ​Cassia langsung menoleh tajam ke arah sang Kakak. "Aku tidak bercanda kali ini, Damian!" protesnya tidak terima.

​Damian tidak menyahut, pria itu hanya menggeleng pasrah.

Senyum lebar penuh kebanggaan langsung terlukis dari kedua sudut bibir sang Putri ​begitu ia tiba di depan meja kerja ayahnya. Perlahan Cassia menjulurkan sepasang tangannya ke arah Arthur, memperlihatkan sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.

​"Lihatlah... lucu kan?"

Seekor anak kucing hitam muncul di antara kedua telapak tangan gadis itu. Tubuh kecil hewan tersebut basah kuyup oleh sisa hujan, sementara bulunya yang kusut dipenuhi noda lumpur berwarna coklat. Anak kucing bertubuh ringkih itu hanya mengeong pelan sekali sambil mengendus tangan kotor Cassia.

​"Dia hampir mati kedinginan di taman belakang!" Cassia menaruh anak kucing tersebut begitu saja ke atas meja dengan ekspresi serius yang berlebihan. "Tubuhnya kecil sekali! Dan kurasa dia belum makan sejak kemarin!"

Arthur memijat pelipisnya pelan. Baru beberapa menit yang lalu dirinya dan Damian membahas kemungkinan runtuhnya kerajaan, perang saudara, hingga pembantaian mengerikan keluarga Medhias. Tapi sekarang, putri bungsunya meletakkan seekor anak kucing di atas tumpukan dokumen penting dengan raut wajah tanpa dosa.

​"Cassia." Arthur menghela napas berat, menatap putrinya dengan pandangan lelah. "Kau mendobrak pintu dan mengotori dokumen penting ini hanya untuk menunjukkan seekor anak kucing?"

​Kedua alis gadis itu langsung bertaut erat.

​"Ayah, jangan berbicara kasar seperti itu," timpal Cassia dengan nada tidak terima sembari mengerucutkan bibirnya sebal. Ia tampak tersinggung oleh ucapan sang ayah. "Dia ini korban dari dunia yang kejam!"

​Damian menyipitkan bibirnya, menahan tawa yang hampir lolos dari mulutnya. "Lihatlah tingkah anehnya ini, Yang Mulia," gumamnya datar. "Dia benar-benar tidak pernah belajar berpikir sebelum bertindak."

​Pandangan Cassia beralih begitu cepat ke arah Damian, melayangkan delikan penuh permusuhan. "Aku tidak aneh! Aku hanya menyelamatkannya dari bahaya di luar sana!" ketusnya membela diri. Ia kembali menatap Arthur dengan penuh harap. "Dan aku sudah memutuskan... dia akan tinggal di istana."

​Arthur mengalihkan pandangannya dari anak kucing itu pada kaki telanjang putriya yang kotor. "Kali ini aku setuju dengan Damian. Jika kau ingin merawatnya," Arthur menjeda kalimatnya sejenak, "Pastikan kau bisa merawat dirimu sendiri terlebih dahulu."

​"AYAH!"

...********************************************...

Udara pagi yang dingin menyambut langkah ringan Cassia begitu ia melewati gerbang utama istana Castlewood. Sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah yang samar di udara, sementara cahaya matahari perlahan mulai mengeringkan genangan air di sepanjang jalanan.

​Gadis itu melirik ke sisi kiri dan kanan secara bergantian. Sudut bibirnya langsung mencebik turun begitu mendapati sepuluh prajurit bersenjata lengkap tengah berjalan mengiringinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.

​"Kau lihat itu, Merria? Lagi-lagi Ayah berlebihan sekali. Padahal aku hanya ingin membeli perlengkapan kucing, bukan pergi berperang," gerutunya sambil mendecakkan lidah dongkol.

​"Yang Mulia hanya ingin memastikan keselamatan Anda, Putri," sahut Merria lembut sembari menyesuaikan letak kantong kain kosong yang dibawanya untuk menampung barang belanjaan nanti. "Menurut hamba, ini masih jauh lebih baik daripada beliau mengurung Anda seharian penuh di dalam kamar."

​Cassia mengerucutkan bibirnya kesal. "Justru itu masalahnya, Merria. Ayah dan Damian selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak bisa pergi ke mana-mana sendirian. Mereka terlalu meremehkanku."

Gadis itu kemudian menghentikan langkahnya. Ia menyibak sedikit mantel merah yang membungkus tubuh, lalu menyingsingkan sebelah lengan gaun tidurnya dengan wajah penuh percaya diri, berusaha memamerkan otot lengan tipis yang nyaris tidak terlihat.

​"Kau lihat ini... dengan tenagaku ini, jelas aku bisa menjaga diriku sendiri. Lawan-lawan tidak akan ada yang bisa menyentuhku!"

​Merria melipat bibirnya rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga menahan kedutan senyum yang hampir lolos melihat tingkah kekanak-kanakan sang putri. "Bukan itu masalah utamanya, Putri," sahutnya sambil mencoba menurunkan lengan Cassia sebelum para pengawal di sekitar mereka salah paham. "Yang Mulia hanya ingin memastikan Anda selalu aman."

Cassia menurunkan lengannya dengan malas, lalu mengibaskan tangan ke udara. "Kau selalu saja membela Ayah, padahal setiap hari kau itu berada di sampingku!"

Gadis itu berbalik menghadap Merria, maju satu langkah seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Sepasang mata ungunya memicing tajam, menatap penuh rasa curiga.

​"Apa jangan-jangan... kau menyukai Ayah?!"

​Merria langsung tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk kecil beberapa kali, wajahnya memerah padam. Bahkan, dua prajurit di barisan belakang refleks memalingkan wajah sembari pura-pura berdeham, berusaha mati-matian menahan tawa mereka agar tidak keluar.

​"Y-Ya ampun, Putri... jangan mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang." Merria langsung menggelengkan kepalanya dengan raut panik. Wajah wanita paruh baya itu memerah dalam sekejap hingga ke ujung telinga karena merasa wibawanya runtuh.

Mata ​Cassia semakin memencing, menuntut jawaban.

"Jadi benar?!"

​"T-tentu saja tidak!" bantah Merria terburu-buru sampai suaranya sedikit meninggi, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada dirinya. "Hamba hanya khawatir ucapan Anda menjadi rumor di istana. Jika sampai terdengar oleh Yang Mulia, hamba bisa mendapat masalah besar."

​Cassia mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, kali ini tampak setuju dengan ucapan Merria. "Hm.. benar juga." Gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari mengerutkan kening untuk berpikir. "Kalau sampai rumor seperti itu menyebar karena ulahku, Ayah pasti akan langsung mengurungku di istana selama berbulan-bulan."

Merria mengembuskan napas lega seketika. Bahunya yang sempat tegang perlahan turun, mengira topik sensitif tersebut akhirnya selesai sampai di sana.

​"Tapi," lanjut Cassia dengan wajah yang tiba-tiba berubah sangat serius, "kalau kau memang benar-benar menyukai Ayah, aku sebenarnya tidak keberatan punya ibu baru sepertimu."

​"PUTRI!"

Kali ini suara Merria benar-benar meninggi karena panik. Saking malunya, wanita paruh baya itu sampai menutup wajah dengan kedua tangan akibat terus-terusan digoda oleh majikannya itu.

​Beberapa prajurit di belakang bahkan sampai menundukkan kepala dalam-dalam. Bahu mereka sedikit bergetar menahan tawa yang nyaris pecah di tengah jalan. Sementara di sisi lain, Cassia hanya menggelengkan kepala pelan sambil berkacak pinggang, menatap Merria tanpa beban.

​"Baiklah, terserah kau," ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun atas keributan yang baru saja ia buat.

Gadis itu membalikkan badan, kemudian kembali melangkah membelah jalanan. Mantel merah kerajaannya berkibar pelan diterpa angin pagi, membungkus gaun tidurnya dengan aman. Cassia lantas mempercepat langkah kaki telanjangnya dengan sengaja, setengah berlari meninggalkan Merria dan para pengawalnya yang langsung kelabakan.

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!