🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muak
Nikolai Aleksandrovich Zharvok, satu-satunya saudara tiri yang sebaya dengan Seravina, baru saja kembali dari latihan tandingnya. Ia berjalan sambil mengalungkan handuk di leher.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok tegap yang sangat ia kenal keluar dari area pemandian air panas dengan langkah yang sedikit tidak stabil.
Itu Luka.
"Oi, Luka! Jam segini baru selesai—" Ucapan Nikolai terputus saat matanya menangkap noda merah pekat yang merembes lebar di bagian bahu kemeja hitam Luka yang basah kuyup.
Nikolai mendekat dengan cepat, matanya menyipit penuh selidik. Bau mesiu yang samar masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma uap panas dari dalam ruangan.
"Siapa yang mandi air panas di tengah musim panas yang gerah begini, hah? Apa otakmu sudah mendidih?" Nikolai menatap pintu pemandian yang tertutup rapat, lalu beralih ke bahu Luka yang berlubang. "Dan... itu luka tembak? Siapa yang menembakmu?"
Luka tidak menjawab. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap dingin, hanya ada sisa-sisa napas yang berat. Ia terus berjalan melewati Nikolai seolah pria muda itu hanyalah pajangan dinding.
"Hei! Aku bicara padamu!" Nikolai mencengkeram lengan Luka yang tidak terluka, memaksanya berhenti. "Jangan bilang ini perbuatan Sera lagi. Apa kau melakukan kesalahan fatal?"
Luka menepis tangan Nikolai dengan kasar. "Bukan urusanmu, Tuan Nikolai. Urus saja latihanmu sendiri."
Ia berjalan pergi dari situ.
Nikolai mendengus, tangannya mengepal. Ia selalu merasa kesal setiap kali Seravina bersikap "berlebihan" pada orang-orang di sekitarnya, karena di sisi lain, ia sendiri memiliki keterikatan yang aneh dan posesif pada adik tirinya itu. Ia benci melihat ada laki-laki lain yang berinteraksi terlalu dekat dengan Seravina, meskipun itu berakhir dengan peluru di bahu.
"Dia benar-benar gila," gumam Nikolai sambil menatap pintu pemandian dengan perasaan campur aduk—marah, penasaran, dan kekaguman yang terlarang.
Pintu marmer itu terbuka dengan debuman pelan. Seravina melangkah keluar, jubah mandi sutra putihnya bahkan tidak diikat dengan benar, memperlihatkan belahan dadanya yang masih basah dan kemerahan karena air panas. Ia menggosok rambutnya dengan handuk kecil, gerakannya santai sekali, seolah-olah bau mesiu yang masih tertinggal di lorong itu cuma bau parfum biasa.
Nikolai berdiri di sana, matanya melotot antara kaget dan emosi.
"Sera! Kau gila ya? Luka keluar dari sini sambil megangin bahu yang hancur!" Nikolai berteriak, suaranya menggema di lorong. "Dan apa-apaan mandi air panas tengah hari begini? Di luar itu panasnya minta ampun, otakmu sudah geser?"
Seravina berhenti tepat di depan Nikolai. Ia tidak mundur, malah sengaja maju selangkah sampai aroma tubuhnya yang panas dan wangi mawar menusuk hidung Nikolai.
"Otakku?" Seravina terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan. "Harusnya kau tanya gimana kondisi otak anjing itu."
"Maksudmu?"
Seravina menurunkan handuknya, menatap Nikolai dengan mata yang berkilat nakal sekaligus dingin. "Si tolol itu... dia tiba-tiba lupa kalau dia cuma anjing. Dia meremas payudaraku di dalam air, menciumku seperti orang kelaparan, dan kau tahu apa yang paling lucu?"
Seravina maju lagi, berbisik tepat di telinga Nikolai yang mulai memerah.
"Batangnya keras sekali sampai hampir merobek celananya sendiri. Dia mau 'bermain' denganku di tengah hari bolong begini."
Nikolai ternganga, wajahnya langsung panas. "D-dia... dia menciummu? Brengsek, kenapa kau tidak langsung membunuhnya saja?!"
"Makanya aku beri dia peluru di bahu sebagai pengingat," sahut Seravina enteng sambil kembali mengeringkan rambutnya. "Kalau aku langsung membunuhnya, siapa lagi yang mau mengantar jemputku? Lagipula, ciumannya tadi lumayan."
"Lumayan?!" Nikolai naik darah, tangannya mengepal sampai gemetar. "Kau membiarkan anjing itu menyentuhmu dan kau bilang lumayan? Sera, kau benar-benar sakit!"
"Memang," Seravina tersenyum manis, senyum paling palsu yang pernah dilihat Nikolai. "Tapi setidaknya aku jujur. Daripada kau, yang dari tadi matanya tidak lepas dari dadaku tapi pura-pura marah soal Luka. Iya kan, Niko?"
Seravina menepuk pipi Nikolai pelan, lalu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Nikolai yang berdiri mematung dengan napas tersengal-sengal dan perasaan campur aduk antara marah, dan... sesuatu yang lebih gelap.
......................
Seravina membanting pintu kamarnya dengan tumit kaki, langsung menguncinya rapat. Begitu berada di dalam wilayah kekuasaannya yang serba mewah, luas, dan dipenuhi sentuhan feminin yang elegan, bahunya yang tegang perlahan rileks. Namun, raut wajahnya berubah total.
Senyuman manis palsu yang tadi ia berikan pada Nikolai lenyap, digantikan dengan ekspresi muak yang mendalam.
"Menjijikkan," desisnya rendah.
Ia melempar handuk kecilnya ke sembarang arah. Matanya menatap jijik ke arah tangannya sendiri, seolah-olah bekas sentuhan Luka tadi masih menempel di sana seperti lendir yang susah hilang. Ia segera berjalan menuju meja riasnya yang penuh dengan botol-botol parfum mahal dan kosmetik kelas atas.
Seravina mengambil selembar tisu basah dengan kasar, lalu menggosok bibirnya berkali-kali sampai kulitnya memerah dan perih. Setiap inci kulit yang tadi disentuh atau dipandang dengan penuh nafsu oleh Luka dan Nikolai terasa seperti polusi bagi tubuhnya.
"Laki-laki... semuanya bajingan," gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai emas.
Di cermin itu, ia melihat wanita yang sangat cantik, namun di matanya sendiri, ia melihat sebuah umpan. Ia benci betapa mudahnya membaca mereka. Tatapan Luka yang memuja namun lapar, tatapan Nikolai yang posesif tapi penuh gairah tersembunyi—semuanya identik. Sebuah pola yang membosankan dan menjijikkan.
Baginya, laki-laki tak lebih dari sekadar mesin biologis yang dikendalikan oleh selangkangan mereka. Berikan sedikit kulit, berikan sedikit harapan, dan mereka akan menggonggong seperti anjing kelaparan.
"Tidak ada yang murni. Tidak ada yang tulus. Semuanya cuma tentang lubang," Seravina meraih botol parfumnya, menyemprotkannya ke udara seolah ingin membunuh bau "maskulinitas" yang mungkin terbawa masuk ke kamarnya.