Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pemakaman
"Kau nda pergi ke pemakaman itu, Ga?" tanya Pandu pelan sambil menatap sahabatnya yang duduk termenung di beranda rumah.
Pagi itu udara terasa dingin meski matahari sudah cukup tinggi. Langit tampak pucat tertutup awan tipis yang menggantung di atas desa.
Angin berembus perlahan, menggerakkan daun-daun pisang di halaman dan menerbangkan debu tipis di jalan tanah yang lengang.
Sejak kemarin wajah Gaga terlihat muram. Dia lebih banyak diam dan tidak seperti biasanya.
Matanya tampak sembab seperti seseorang yang semalaman tidak tidur. Rambutnya berantakan dan bajunya bahkan masih sama seperti yang dikenakannya sehari sebelumnya.
Di sampingnya terdapat secangkir kopi yang sudah dingin sejak lama dan tidak pernah disentuh.
Namun ketika mendengar pertanyaan itu, rahangnya langsung mengeras.
"Nda!" jawab Gaga singkat.
Pandu menghela napas panjang.
"Kenapa?"
Gaga menoleh sebentar lalu kembali memandang ke arah jalan yang kosong.
"Untuk apa aku datang ke pemakaman orang yang nda aku kenal?" katanya dingin.
Jawaban itu membuat Pandu terdiam.
Dia tahu sahabatnya sedang berbohong. Bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.
Semua orang di desa tahu bahwa jenazah yang baru dimakamkan itu kemungkinan besar adalah Sekar.
Meski identitas jenazah tersebut belum bisa dipastikan seratus persen karena kondisi tubuhnya yang sudah rusak akibat terlalu lama berada di dalam air, hampir semua petunjuk mengarah kepada gadis itu.
Pakaian yang ditemukan melekat pada tubuh jenazah mirip dengan pakaian yang dikenakan Sekar saat terakhir kali terlihat.
Cincin yang ditemukan di jari jenazah juga merupakan cincin pertunangan yang pernah disematkan Lindu kepada Sekar beberapa bulan lalu.
Selain itu, tinggi badan dan bentuk tubuh jenazah pun sesuai dengan ciri-ciri Sekar.
Bahkan pihak kepolisian mengatakan bahwa kemungkinan besar jenazah tersebut memang Sekar.
Namun tidak dengan Gaga. Sejak awal dia menolak mempercayainya.
"Bagaimana kalau itu benar Sekar, Ga?" tanya Pandu hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Gaga langsung menoleh, tatapannya tajam.
Seolah Pandu baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan.
"Nda!" jawabnya tegas.
"Itu bukan Sekar."
Pandu menelan ludah.
"Ga..."
"Itu bukan Sekar!" potong Gaga dengan suara lebih keras.
"Tapi kemungkinan itu..."
"Sekar nda mungkin mati!" bentak Gaga.
Seekor burung yang tadi berkicau di pohon mangga mendadak terbang menjauh.
Pandu memandang sahabatnya dengan rasa iba. Dia tahu perasaan Gaga kepada Sekar bukan sekadar suka yang biasa.
Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Bermain di sungai yang sama, berlari di jalan desa yang sama, dan berbagi begitu banyak kenangan masa kecil bersama.
Meski Sekar akhirnya memilih Lindu, perasaan Gaga tidak pernah hilang, awalnya, Pandu mengira itu hanya cinta monyet yang akan hilang seiring waktu pendewasaan. Tapi, ternyata itu berubah menjadi cinta yang nyata.
Karena itulah Pandu bisa memahami mengapa Gaga begitu sulit menerima kenyataan.
Namun kenyataan tetaplah kenyataan.
"Ga, dengar dulu." Ucap Pandu pelan.
"Kemungkinan itu sekarang cuma tinggal satu persen."
Gaga mengepalkan kedua tangannya, otot di lehernya terlihat menegang.
"Bukti yang melekat di tubuh jenazah itu waktu ditemukan hampir semuanya menunjukkan kalau itu Sekar."
"Nda!" seru Gaga.
"Sekar masih hidup."
"Polisi juga bilang kemungkinan besar itu dia."
"Nda!"
Pandu mengusap wajahnya yang mulai tegang. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Semua orang di desa sudah menghadiri pemakaman itu.
"Itu bukan Sekar." Kata Gaga lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih pelan.
Pandu bisa melihat mata sahabatnya mulai memerah. Entah karena marah atau karena berusaha mati-matian menahan air mata.
"Ga..."
"Nda!" bentak Gaga lagi.
Dia berdiri dari tempat duduknya.
Wajahnya kini dipenuhi emosi yang selama ini dia tahan.
"Sekali lagi kau bilang itu Sekar, ku pukul kau!"
Pandu langsung terdiam. Dia belum pernah melihat Gaga semarah itu.
Bahkan saat mereka bertengkar dengan pemuda kampung sebelah dulu, Gaga tidak pernah menunjukkan kemarahan seperti sekarang.
Beberapa saat kemudian hanya ada kesunyian di antara mereka. Gaga membuang pandang ke kejauhan.
Di dalam hatinya, sebenarnya ada ketakutan yang terus menghantuinya.
Bukan karena dia yakin jenazah itu bukan Sekar. Melainkan karena dia mulai takut bahwa semua orang mungkin benar.
Dan jika itu benar-benar Sekar, berarti gadis yang selama ini dia tunggu untuk kembali tidak akan pernah pulang lagi.
Sementara itu, di tempat lain, sebuah keputusan berat telah diambil.
Setelah berdiskusi dengan pihak rumah sakit dan mempertimbangkan kondisi jenazah yang sudah terlalu lama berada di dalam air, akhirnya diputuskan bahwa jenazah tersebut harus segera dimakamkan.
Tidak mungkin menunggu lebih lama lagi. Meski identitasnya belum dapat dipastikan sepenuhnya, kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan untuk disimpan terlalu lama.
Kabar itu menyebar ke seluruh desa. Dan pagi itu, hampir seluruh warga datang untuk mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir.
Langit masih tampak mendung ketika keranda mulai diangkat.
Para warga berjalan perlahan menuju pemakaman desa yang berada di pinggir kebun karet.
Tak banyak percakapan yang terdengar.
Sebagian hanya saling mengangguk saat berpapasan. Sebagian lainnya berjalan sambil menundukkan kepala.
Wajah-wajah mereka tampak muram. Keranda yang membawa jenazah perlahan diangkat menuju liang lahat yang telah disiapkan.
Langkah para pengusung berjalan pelan dan teratur.
Di belakang mereka para pelayat mengikuti dalam diam.
Beberapa ibu terlihat mengusap mata menggunakan ujung kerudung.
Ada pula yang terus berzikir pelan, suasana duka terasa begitu pekat.
Di dekat liang lahat berdiri Pakde Banyu. Matanya cekung karena kurang tidur.
Wajahnya dipenuhi kelelahan dan kesedihan yang berusaha dia sembunyikan.
Sementara itu Bu Ratmini berdiri beberapa langkah dari bibir kubur. Perempuan itu tampak sangat pucat.
Tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding beberapa minggu lalu. Namun sejak tiba di pemakaman, dia tidak mengeluarkan air mata sedikit pun.
Dia hanya berdiri diam dengan tatapannya kosong.
Doa-doa mulai dibacakan.
Suara imam terdengar lirih di antara hembusan angin.
Kemudian peti perlahan diturunkan ke dalam liang lahat menggunakan tali.
Semua mata mengikuti gerakannya. Beberapa warga mulai terisak.
Ada yang menunduk lebih dalam. Ada yang memejamkan mata.
Di atas sebuah batu nisan sederhana yang baru ditancapkan, tidak tertulis nama apa pun.
Kosong.
Hanya batu abu-abu yang berdiri diam di antara makam-makam lainnya.
Belum ada yang berani memastikan siapa sebenarnya penghuni kubur itu.
Namun hampir semua orang memiliki dugaan yang sama.
Segenggam demi segenggam tanah mulai dijatuhkan. Suara tanah yang mengenai peti terdengar pelan.
Suara sederhana itu justru terasa begitu menyakitkan.
Seolah menjadi penanda bahwa harapan yang tersisa sedang perlahan ditimbun bersama liang kubur.
Pakde Banyu menundukkan kepala lebih dalam, bahu pria itu tampak bergetar.
Sesekali dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Matanya memerah. Namun, dia berusaha tetap tegar.
Dia harus kuat, setidaknya di depan adiknya.
Namun Bu Ratmini masih berdiri diam, tidak bergerak sedikit pun.
"Rat..." panggil Pakde Banyu pelan.
Bu Ratmini tidak menjawab, pandangannya masih tertuju ke makam tanpa nama itu.
Sampai para pelayat mulai membacakan doa penutup. Perempuan tua itu tidak menangis sama sekali.
Dia hanya memandangi batu nisan tanpa nama itu lama sekali.
Begitu lama hingga sebagian warga mulai memperhatikannya dengan khawatir.
Kemudian bibirnya bergerak pelan. Hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.
Matanya tetap menatap nisan kosong tersebut.
"Semoga keluargamu menemukan jalan untuk mendoakanmu."
Suara itu begitu lirih. Namun cukup jelas untuk didengar oleh beberapa orang yang berdiri di dekatnya.
Pakde Banyu menoleh, matanya langsung berkaca-kaca.
Sampai detik terakhir, Bu Ratmini masih belum mau mengakui bahwa penghuni makam itu adalah putrinya.
Karena selama belum ada kepastian, selama belum ada bukti yang benar-benar tak terbantahkan, dia akan tetap percaya bahwa Sekar masih hidup di suatu tempat.
Angin berembus pelan melewati pemakaman.
Daun-daun kering berguguran di antara deretan makam tua.
Sementara batu nisan tanpa nama itu berdiri sunyi di bawah langit yang mendung.
Menjadi saksi sebuah kehilangan yang belum sepenuhnya diterima. Dan sebuah harapan yang masih bertahan, meski hanya setipis benang.