NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: HIDUP MASING-MASING

Bab 8: Hidup Masing-Masing

Lampu jalanan kompleks yang temaram bergoyang pelan ditiup angin malam, memantulkan bayangan siluet yang bergerak semu di atas aspal basah. Revan menghentikan motor matic-nya tepat di depan pagar rumah Miko. Mesin motor sengaja ia matikan sejak dari gang depan agar suara bisingnya tidak mengganggu tetangga sekitar yang mulai terlelap. Kepala cowok itu terasa pening luar biasa. Bukan hanya karena luka lebam di sudut bibir dan pipinya yang kian berdenyut nyeri akibat sisa perkelahian kemarin, melainkan karena atmosfer menyesakkan di rumah sakit sore tadi yang masih membekas jelas di benaknya.

Melihat bagaimana hangatnya Ibu menyuapi Arka, dan bagaimana Ayah menatap si anak emas dengan penuh rasa khawatir di Kamar 404, membuat Revan merasa seperti duri yang tidak diinginkan di dalam keluarganya sendiri.

Revan tersenyum kecut, tatapannya kosong menatap setang motor yang mulai berembun. Ia mengusap sudut matanya yang terasa perih menggunakan punggung tangan dengan kasar. "Gue emang gak pernah dianggap di sana. Mau ada atau gak ada gue, mereka cuma peduli sama satu orang," bisiknya lirih pada kegelapan malam, menyuarakan rasa sakit yang selama bertahun-tahun ini ia kunci rapat di dalam dada.

Miko yang sejak tadi menunggu di teras rumahnya segera berjalan mendekat. Ia membuka pintu pagar besi yang berderit pelan, lalu menyenggol bahu Revan dengan santai, membuyarkan lamunan panjang cowok itu.

"Woi, melamun aja lo! Ayo masuk, bokap-nyokap gue udah tidur dari jam sembilan tadi. Lo bisa tidur di kamar belakang, tempat biasa kita main PS," sahut Miko dengan nada suara yang sengaja dipelankan.

Revan menurunkan standar motornya, lalu menurunkan tas ranselnya yang terasa berat. "Thanks, Mik. Sorry banget gue harus numpang di tempat lo malam ini. Gue bener-bener lagi malas balik ke rumah."

"Santai kali, Van. Kayak sama siapa aja lo. Kita kan udah temenan dari SMP," Miko merangkul pundak Revan, menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Lagian gue tahu suasana rumah lo pasti lagi gak enak setelah kasus di sekolah kemarin. Daripada lo di rumah makin suntuk, mending lo tenangin diri di sini dulu. Di sini gak bakal ada yang banding-bandingin lo sama siapa pun."

Kalimat terakhir Miko terasa seperti penyejuk bagi hati Revan yang sedang panas. Mulai malam itu, Revan memutuskan untuk menarik diri. Ia sengaja mengaktifkan mode jangan ganggu di ponselnya dan mengabaikan panggilan atau pesan apa pun yang mungkin dikirim oleh keluarganya. Revan ingin membuktikan sebuah ego remaja yang terluka: bahwa dia bisa mencari ketenangannya sendiri di luar rumah, tempat di mana dia tidak perlu selalu menjadi nomor dua.

Dua hari berlalu tanpa Revan menginjakkan kaki di kediaman Dirgantara. Di sekolah pun, ia menjelma menjadi sosok yang semakin dingin. Ia menghabiskan waktu jam istirahat dengan tidur di pojok kelas atau membolos di warung belakang sekolah bersama anak-anak lain.

Baru pada hari ketiga, sebuah masalah muncul. Persediaan baju bersih di dalam tas ranselnya benar-benar habis. Bau peluh yang menempel di seragamnya membuat Revan tidak punya pilihan lain. Sepulang sekolah, dengan perasaan enggan yang teramat sangat, ia terpaksa memutar kemudi motornya menuju arah pulang. Rencananya sederhana: masuk ke rumah dengan cepat, mengambil beberapa potong pakaian ganti di kamar, lalu pergi lagi ke rumah Miko sebelum keadaan menjadi canggung.

Suasana lingkungan rumahnya tampak sepi dan lengang saat Revan melangkah masuk melewati pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Bau minyak kayu putih dan aroma obat-obatan yang samar langsung menyergap indra penciumannya begitu ia melangkah di koridor ruang tamu. Revan mendengus perlahan, mengira kakaknya sudah pulang dari rumah sakit dan kembali menguasai rumah.

Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju tangga lantai dua, sebuah gerakan dari arah dapur menghentikan langkah kakinya.

Ibu sedang menuntun Arka berjalan perlahan menuju undakan tangga pertama. Arka rupanya memang baru saja diperbolehkan pulang dari rumah sakit siang tadi. Cowok yang selalu diagung-agungkan itu kini mengenakan celana training longgar berwarna hitam dan kaos putih polos yang tampak sangat kebesaran di tubuhnya.

Revan terpaku di tempatnya berdiri, matanya sedikit menyipit. Di bawah temaramnya sisa cahaya matahari sore yang menerobos masuk lewat celah ventilasi, tubuh Arka terlihat jauh lebih kurus dibandingkan beberapa hari yang lalu sebelum ia pingsan. Pipi kakaknya itu tampak sedikit cekung, menyisakan garis rahang yang tajam namun pucat. Warna kulitnya pun tidak sesegar biasanya; ada rona putih kekuningan yang janggal di sana. Langkah kakinya begitu lambat, seolah-olah menopang bobot tubuhnya sendiri adalah sebuah tugas yang teramat berat bagi sepasang kaki kurus itu. Ibu harus memegangi lengan Arka dengan kedua tangannya, memandu setiap langkah dengan tingkat kehati-hatian yang luar biasa.

Mendengar derit sepatu Revan di atas lantai ubin, Ibu seketika mendongak. Wajah Ibu yang dipenuhi gurat kelelahan langsung mengeras saat melihat anak bungsunya yang sudah tiga hari tidak pulang ke rumah kini berdiri di hadapannya.

"Dari mana saja kamu, Revan?!" tanya Ibu. Nada suaranya bergetar hebat, menahan campuran antara rasa amarah dan cemas. "Gak pulang-pulang ke rumah, ditelepon gak pernah aktif! Kamu sengaja mau bikin Ibu tambah pusing setelah ngurusin Abangmu di rumah sakit, hah?!"

Revan memutar bola matanya malas. Rasa iba yang sempat tebersit di hatinya selama beberapa detik saat melihat tubuh kurus Arka langsung menguap begitu saja, digantikan oleh rasa dongkol yang kembali membakar dadanya setelah mendengar omelan Ibu.

"Revan gak ke mana-mana, Bu. Revan tidur di rumah Miko," jawab Revan dengan nada suara datar, membalas tatapan Ibunya tanpa rasa takut. "Lagian di rumah ini kan udah ada Kak Arka yang jagain Ibu. Kenapa Ibu harus repot-repot mikirin Revan? Urus aja anak kesayangan Ibu itu."

"Kamu... kamu benar-benar gak ada kapoknya ya, Revan! Ibu ini khawatir—"

"Bu... udah, Bu. Jangan ribut lagi," potong Arka dengan suara yang sangat parau, lemah, dan nyaris habis. Ia meremas pelan punggung tangan Ibunya yang berada di lengannya, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki.

Arka kemudian mengalihkan pandangannya, menatap ke arah Revan yang berdiri beberapa meter di depannya. Sepasang mata yang biasanya memancarkan kecerdasan itu kini terlihat sangat sayu dan redup. Arka memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat getir di wajah pucatnya. "Lo baru pulang, Van? Udah makan belum? Kalau belum, tadi Ibu ada beliin makanan di meja makan..."

"Gak usah sok peduli sama gue, Bang. Gak perlu pasang muka kasihan di depan gue," potong Revan tajam, memutus kalimat kakaknya dengan ketus.

Sepasang mata Revan menatap sinis ke arah tubuh Arka yang kurus. Di dalam benak Revan yang sudah dipenuhi oleh kabut tebal kesalahpahaman, perubahan fisik Arka yang drastis bukanlah tanda dari sebuah penyakit mematikan. Bagi Revan, itu hanyalah efek dari stres gila kakaknya sendiri.

Pasti dia sengaja lemas dan kurusan begini karena stres berat gak bisa ikut olimpiade kemarin, batin Revan menyimpulkan dengan pikiran yang picik dan dipenuhi dendam. Sengaja pasang muka kasihan begini biar Ibu sama Ayah makin ngerasa bersalah dan makin manjain dia.

"Fisik lo makin lama makin loyo aja, Bang. Makanya kalau ambisius itu diukur sama kemampuan badan, jangan dipaksain," sindir Revan telak, setiap kata yang keluar dari mulutnya sengaja ia tancapkan untuk melukai hati sang kakak. "Gak usah sok kuat begadang tiap malam kejar nilai, kalau ujung-ujungnya cuma bisa lemas di atas kasur dan bikin repot satu rumah. Kasihan Ibu, harus ngurusin lo terus."

Mendengar kalimat kejam yang keluar dari mulut adiknya sendiri, Arka tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di balik kaos putihnya, jari-jemari tangan kanan Arka diam-diam mencengkeram erat bagian perut sebelah kanannya yang mendadak kembali diserang rasa nyeri yang teramat sangat panas—sebuah tanda bahwa organ ginjalnya kini sudah berada di fase yang kian memburuk. Arka menahan napasnya sejenak, menggigit bibir bagian dalam demi menyembunyikan erangan sakitnya agar Revan maupun Ibunya tidak menyadari bahaya yang mengancam nyawanya.

"REVAN! Jaga mulut kamu! Abangmu baru pulang dari rumah sakit, bisa-bisanya kamu bicara sekasar itu!" bentak Ibu, air matanya mulai menggenang karena tidak tahan melihat ketidakpedulian Revan.

"Revan cuma ngomong fakta, Bu," sahut Revan dingin tanpa beban.

Dengan langkah kaki yang dihentakkan keras, Revan melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua, melewati Ibu dan Arka yang berdiri mematung begitu saja tanpa sudi menoleh sedikit pun. Revan dengan cepat masuk ke kamarnya, melempar beberapa pakaian bersih ke dalam ranselnya, lalu kembali turun ke bawah. Ia melangkah keluar dari pintu depan rumah dan menutupnya dengan keras, memilih untuk kembali ke rumah Miko demi menghindari atmosfer rumah yang menurutnya pilih kasih.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!