Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hujan semalam menyisakan aroma tanah yang basah dan udara pagi yang dingin di sekitar selasar. Alyssa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari biasanya. Sejak penandatanganan adendum perjanjian baru dua hari lalu, atmosfer di dalam rumah ini berangsur-angsur stabil. Alvaro benar-benar menepati janjinya; pria itu memperlakukannya dengan rasa hormat yang penuh batas, tidak lagi ada ledakan amarah maupun sindiran tajam di meja makan.
Namun, ketenangan pagi itu terusik oleh sebuah pemandangan tidak biasa di dalam kamarnya sendiri.
Saat Alyssa melangkah menuju meja rias dekat jendela prancis setelah selesai mandi, matanya menangkap keberadaan sebuah vas kaca kecil yang sebelumnya tidak ada di sana. Di dalam vas itu, terangkai beberapa tangkai bunga baby’s breath putih dan setangkai mawar lila yang tampak masih segar, lengkap dengan butiran embun yang menempel di kelopaknya.
Alyssa mendekat, sifat taktisnya langsung bekerja memeriksa sekeliling vas. Ia membolak-balik dedaunan dan mencari di sela-sela meja.
Tidak ada kartu ucapan. Tidak ada nama pengirim.
"Aneh," gumam Alyssa pelan. Sifat cerdasnya tahu betul bahwa para pelayan di bawah instruksi ketat Bi Marta tidak akan berani meletakkan sesuatu di kamarnya tanpa perintah khusus.
Pikiran pertamanya langsung tertuju pada satu nama: Helena Maheswara. Mengingat wanita elegan itu sangat mencintai tanaman dan merupakan satu-satunya orang yang menyambutnya dengan kehangatan nyata di rumah ini, sangat logis jika bunga unik ini berasal dari taman dalam ruangannya sebagai bentuk perhatian seorang bibi.
Saat makan pagi di ruang makan yang kini hanya dihadiri oleh dirinya karena Alvaro sudah berangkat ke kantor sejak pukul lima subuh Alyssa melihat Helena sedang berjalan perlahan di selasar dekat taman kaca. Alyssa segera menghampirinya.
"Selamat pagi, Bibi Helena," sapa Alyssa manis.
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana tidurmu semalam?" balas Helena dengan senyuman teduhnya yang khas.
"Sangat nyenyak, Bibi. Oh ya..." Alyssa menjeda kalimatnya, memberikan senyuman penuh terima kasih. "Terima kasih atas kiriman bunganya pagi ini. Mawar lilanya sangat indah dan unik."
Helena menghentikan langkahnya, menatap Alyssa dengan sepasang alis yang bertaut heran. "Bunga? Bunga apa, Alyssa? Bibi baru saja bangun dan belum sempat ke taman pagi ini."
Alyssa tertegun selama satu ketukan. "Bukan dari Bibi? Mawar lila dan baby's breath di meja rias kamar saya?"
Helena menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya murni menunjukkan ketidaktahuan. "Bukan, Sayang. Bibi tidak mengirimkan apa pun ke kamarmu hari ini. Mungkin... itu dari Alvaro?"
Mendengar nama itu disebut, Alyssa langsung menyangkalnya di dalam hati. Sifat logisnya menolak mentah-mentah ide tersebut. Pria sekaku Alvaro, yang baru saja menandatangani kontrak tidak lebih dan tidak kurang, mana mungkin melakukan tindakan seromantis dan se-misterius ini? Itu sama sekali di luar kalkulasi karakter seorang Alvaro Regantara Maheswara.
Lalu, jika bukan Helena dan mustahil dari Alvaro, dari siapa bunga itu berasal?
Misteri kecil yang tertinggal di sudut kamarnya itu perlahan mulai membuat Alyssa penasaran. Ada rasa tidak nyaman sekaligus waspada yang merayap di benaknya. Siapa yang bisa masuk ke area privatnya di sayap kanan tanpa terdeteksi oleh sistem keamanan rumah dan pelayan?
Sementara Alyssa berdiri di selasar dengan pikiran yang berkecamuk, dari lantai tiga *mansion* yang sunyi, di balik kisi-kisi jendela kayu yang gelap, sepasang mata tersembunyi sedang bergerak lambat. Seseorang berdiri di sana dalam kegelapan, menatap lurus ke bawah, tepat ke arah Alyssa yang sedang kebingungan. Dengan senyuman samar yang dingin dan tak terbaca, sosok misterius itu diam-diam mulai memperhatikan setiap gerak-gerik sang Nyonya Maheswara yang baru, menunggu saat yang tepat untuk mengambil langkah berikutnya.
...****************...
Alyssa mengalihkan pandangannya dari Helena, mencoba menutupi keterkejutan yang sempat melintas di wajahnya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Ah, mungkin salah satu pelayan baru salah meletakkannya, Bibi. Saya akan menanyakannya pada Bi Marta nanti."
"Tentu, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Helena lembut, lalu melanjutkan langkahnya menuju kebun anggrek.
Namun, begitu berbalik arah menuju kamarnya, jantung Alyssa berdegup dengan ritme yang lebih waspada. Sifat taktisnya langsung menolak teori pelayan yang salah meletakkan. Protokol domestik di bawah kendali Bi Marta sangat ketat; kesalahan amatir seperti itu mustahil terjadi, terutama di sayap kanan yang merupakan wilayah privatnya.
Alyssa kembali ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam, dan berjalan mendekati meja rias. Ia menatap lekat-lekat mawar lila yang berdiri anggun di dalam vas. Warna ungu pucatnya seolah memancarkan misteri yang dingin.
Di dalam dunia bahasa bunga yang pernah ia pelajari, mawar lila melambangkan daya tarik misterius atau cinta pada pandangan pertama. Namun, di dalam labirin Maheswara yang penuh intrik ini, Alyssa tidak melihatnya sebagai pesan romantis. Baginya, bunga ini adalah sebuah pesan tersembunyi sebuah sinyal dari seseorang yang ingin menunjukkan bahwa dinding pertahanan yang ia bangun bersama Alvaro tidaklah seaman yang mereka kira.
Apakah ini ulah Arsen yang mencoba meneror mentalnya? Ataukah sosok misterius dari masa lalu Alvaro yang diceritakan Xavier kini sudah mulai menyusup ke dalam rumah ini?
Rasa penasaran bercampur dengan kecemasan yang samar mulai mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Alyssa mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menatap tajam ke arah kelopak mawar itu. Siapa pun pengirimnya, orang itu telah berhasil menarik perhatiannya.
Sementara itu, jauh di sudut lorong lantai tiga yang jarang dijamah penghuni rumah, sosok yang sejak tadi mengamati Alyssa perlahan mundur ke dalam kegelapan. Langkah kakinya yang sunyi tanpa suara seolah menyatu dengan keheningan. Permainan baru telah dimulai, dan Alyssa Pradipta baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan tak kasat mata yang dipersiapkan dengan sangat rapi.