Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawanya Berharga!
Hazel melirik ke arah meja, tempat di mana biasanya ponsel dan tablet kerjanya berada. Kini kosong melompong bahkan kabel pengisi daya pun telah lenyap, Mama Vivian benar-benar memutus aksesnya dari dunia luar.
"Tapi, gimana sama pasienku di rumah sakit, Bi? Hari ini aku ada jadwal kontrol untuk pasien pasca operasi," tanya Hazel.
"Nyonya sudah menelepon pihak rumah sakit, Non. Kalau Non Hazel sedang sakit dan butuh istirahat total selama satu minggu, pihak rumah sakit... tidak ada yang berani membantah Nyonya," jawab Bi Hani lirih sebelum melangkah mundur dan keluar dari kamar, lalu pintu kembali ditutup dan dikunci.
Hazel tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan. Rumah sakit tempatnya bekerja memang merupakan salah satu lini bisnis di bawah naungan yayasan milik keluarga besar Ibunya.
Di rumah sakit itu, posisi Hazel sebagai Dokter hanyalah status formalitas pelengkap pajangan keluarganya yang terpandang. Sumpah Dokter yang ia ucapkan dengan air mata, semuanya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nama besar keluarganya.
.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi siklus siksaan mental yang membosankan dan mencekik bagi Hazel. Tanpa ponsel, tanpa buku medis dan tanpa kanvas, karena semua alat lukisnya telah dibakar habis oleh Ibunya bertahun-tahun lalu saat Hazel masih berada di luar negeri. Hazel terjebak dalam ruang hampa, kamar yang luas dan dipenuhi perabotan mahal itu menjelma menjadi sel isolasi.
Setiap pagi, siang dan malam, makanan akan diantarkan dengan pengawalan ketat. Hazel hanya menghabiskan waktunya dengan duduk di tepi ranjang, menatap dinding kamar yang kosong atau berdiri di dekat jendela dan memandangi gerbang tinggi rumahnya yang dijaga ketat. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, diberi makan dengan baik, dirawat dengan mewah. Tapi, sayapnya dipatahkan secara berkala agar tidak pernah bisa terbang.
Di hari kedua, Hazel mencoba memprotes saat Mama Vivian sengaja membuka pintu kamar hanya untuk memeriksa keadaannya. Namun, protesnya juga percuma, karena suaranya tidak akan di dengar.
"Sampai kapan Mama mau mengurungku seperti ini? Aku udah 31 tahun, Ma! Aku bukan anak kecil yang bisa Mama hukum setiap kali tidak menuruti kemauan Mama!" cecar Hazel dan berdiri menantang Mama Vivian dengan tubuh yang tampak lebih kurus.
Mama Vivian yang tampil anggun dengan gaun rajut mahal dan perhiasan berlian di lehernya hanya menatap Hazel dengan pandangan dingin tanpa riak.
"Sampai kamu sadar posisi kamu, Hazel," jawab Mama Vivian tenang, namun setiap katanya terdengar seperti maklumat yang tak terbantahkan.
"Ma," rengek Hazel.
"Semua yang Mama lakukan ini untuk kebaikan kamu, jika Mama membiarkan kamu memilih sendiri, kamu hanya akan mempermalukan nama keluarga ini. Seperti kemarin, kamu menolak seorang jaksa demi pasien, benar-benar membuang waktu," ucap Mama Vivian.
"Pasien juga manusia, Ma! Nyawanya berharga!" teriak Hazel, air matanya mulai mengalir karena frustrasi.
"Bagi Mama, yang berharga adalah masa depan dan martabat keluarga kita. Ingat itu, Hazel. Kamu itu anak Mama, jadi kamu harus tunduk pada aturan Mama," ucap Mama Vivian ketus sebelum berbalik dan memerintahkan penjaga untuk mengunci pintu.
Ketika malam tiba, kegelapan menjadi satu-satunya teman Hazel. Di saat-saat paling sunyi itulah, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Rasa bosan yang teramat sangat menyiksa batinnya dan memicu rasa hampa yang perlahan menggerogoti kewarasannya, keinginan untuk bebas, untuk sekadar berjalan di bawah rintik hujan tanpa dilarang atau menggenggam kuas dan menumpahkan warna di atas kain putih, terasa begitu jauh dan mustahil.
Hazel berjalan mendekati meja, satu-satunya benda yang tidak disentuh oleh tangan dingin Mama Vivian adalah lampu tidur berbentuk bola kaca dengan siluet pohon pinus di dalamnya. Ia menyalakan lampu tersebut, cahaya remang-remang berwarna kuning hangat langsung berpendar dan memantulkan bayangan pohon pinus ke langit-langit kamar.
Hazel memeluk bola kaca itu di dadanya, membiarkan kehangatannya menyalur ke tubuhnya yang dingin. Di dalam sangkar emas ini, hanya benda inilah yang menjadi saksi bisu bahwa Hazel pernah memiliki hidup yang begitu berwarna.
Sementara Hazel mengarungi hari-hari penuh kehampaan di dalam kamarnya, di belahan kota yang lain, Mama Vivian sedang berada di puncak kejayaannya. Sebagai wanita bersosialita tinggi yang memegang kendali bisnis besar, menghadiri perjamuan makan malam dan pesta eksklusif adalah bagian dari rutinitas wajibnya untuk memperluas jaringan kekuasaan.
Malam ini, sebuah hotel bintang lima di pusat kota menjadi saksi bisu kemegahan pesta perayaan hari jadi salah satu yayasan veteran dan petinggi militer. Ruangan ballroom dipenuhi oleh kilauan lampu kristal, wewangian parfum mahal, serta para tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi, pengusaha sukses dan perwira militer berpangkat tinggi dengan seragam upacara mereka yang gagah.
Mama Vivian berjalan dengan anggun, memegang segelas minuman sembari melempar senyum formal kepada setiap kolega yang menyapanya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekelompok pria paruh baya berseragam militer dengan deretan tanda jasa di dada mereka sedang berkumpul di sudut ruangan, salah satu di antaranya adalah jenderal jenderal senior yang sangat berpengaruh dalam tatanan militer saat ini.
Melihat kesempatan emas, Mama Vivian segera melangkah mendekat dengan senyuman terbaiknya. "Selamat malam, Jenderal Bayu," sapa Mama Vivian dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar karismatik namun tetap menghormati.
Jenderal Bayu pun menoleh lalu tersenyum lebar mengenali sosok wanita berpengaruh di dunia bisnis tersebut, "Nyonya Vivian, selamat malam. Suatu kehormatan anda bisa hadir di acara kami malam ini," balas Jenderal Bayu.
"Saya yang merasa terhormat karena berada di acara yang luar biasa seperti ini, Jenderal, " jawab Mama Vivian.
Mama Vivian memperhatikan sang Jenderal dan para perwira muda di sekelilingnya, ada aura ketegasan, disiplin dan kekuasaan yang terpancar dari seragam-seragam tersebut, sesuatu yang sangat disukai oleh Mama Vivian.
Seketika, sebuah ide kilat terlintas di benak Mama Vivian. Mengingat kegagalannya menjodohkan Hazel dengan Tommy, ia butuh opsi lain yang jauh lebih kuat untuk mengendalikan Hazel sekaligus menaikkan citra keluarganya.
Di dalam silsilah keluarga besarnya, belum ada satu pun yang berkecimpung di dunia militer atau memiliki menantu seorang tentara. Jika Hazel bisa mendapatkan suami seorang tentara dengan karier cemerlang, maka posisi keluarganya di kalangan elite akan semakin tidak tergoyahkan.
"Jenderal, omong-omong tentang para perwira di sini... saya selalu kagum dengan kedisiplinan mereka. Kebetulan, putri saya seorang Dokter...," pancing Mama Vivian yang memulai taktiknya.
"Oh, ya? Putri anda seorang Dokter? Hebat sekali, di rumah sakit mana putri anda bekerja?" tanya Jenderal Bayu.
"Di rumah sakit Ganendra," jawab Mama Vivian.
"Keren, saya yakin anak Nyonya Vivian pasti akan jadi penerus yang hebat," puji Jenderal Bayu.
"Tapi, saya merasa dia terlalu lama berada di zona nyaman rumah sakit. Saya ingin dia mendapatkan pengalaman yang lebih menantang, sesuatu yang bisa membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh dan berdedikasi tinggi. Kira-kira, apa Jenderal bisa membantu anak saya...," ucap Mama Vivian dan menyembunyikan niat busuknya di balik topeng perhatian seorang Ibu.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak