NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Awal

Hamparan hijau kebun teh di lereng pegunungan itu masih diselimuti kabut tipis. Udara menjelang siang yang masih dingin berbaur dengan aroma segar dari pucuk-pucuk teh yang tengah dipetik oleh para buruh. Di antara belasan pekerja yang bergerak lincah menaruh hasil petikan ke dalam keranjang bambu di punggung mereka, ada Azizah dan sang nenek, Laksmi.

“Azizah,” panggil Laksmi dengan suara parau.

Wanita yang dipanggil itu menoleh. Sepasang mata jernihnya menatap sang nenek, menyiratkan tanya tanpa perlu sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Sambil memegangi pinggangnya yang tampak kaku, Laksmi tersenyum tipis, “Nenek istirahat sebentar di gubuk, ya? Punggung Nenek rasanya semakin hari semakin pegal.”

Bahu Azizah seketika merosot pelan. Tatapannya berubah sendu dan dipenuhi rasa bersalah. Dadanya sesak setiap kali melihat wanita lansia yang merawatnya sejak kedua orang tuanya tiada itu harus tetap memeras keringat di usia senja. Laksmi adalah pahlawan yang berhasil menyekolahkannya hingga tamat SMA, walau untuk itu, Azizah sudah harus ikut membantu memetik teh sejak masih berseragam sekolah. Sayangnya, sekeras apa pun mereka bekerja, melambungnya harga kebutuhan pokok belakangan ini membuat upah dari kebun teh tidak pernah benar-benar cukup.

“AZIZAH! BIBI LAKSMI!”

Sebuah teriakan nyaring memecah keheningan lereng gunung. Dari gubuk yang berada di ujung perkebunan, tampak seorang wanita melambai-lambai heboh sambil menyandang tas ransel besar.

Azizah menepuk pelan lengan neneknya, lalu jemarinya bergerak lincah membentuk gerakan isyarat.

‘Bibi Dewi pulang?’

Nenek Laksmi ikut mengernyit bingung, “Nenek juga tidak tahu, Zah. Tumben sekali bibimu itu pulang tidak mengabari dulu. Ayo, kita ke sana.”

Azizah mengangguk patuh. Ia melepas topi capingnya, merapikan sedikit hijab sport hitam yang dikenakannya, lalu berjalan beriringan menyelaraskan langkah kakinya dengan langkah ringkih sang nenek.

“Ya ampun, aku sangat merindukan kalian!” seru Dewi riang. Wanita itu langsung menghambur, memeluk erat Laksmi dan Azizah bergantian begitu mereka menginjakkan kaki di gubuk. Dewi adalah anak dari adik Laksmi yang merantau ke kota besar.

“Kapan kau sampai, Dewi?” tanya Laksmi.

“Aku baru saja sampai, Bi. Begitu turun dari bus, aku langsung ke sini.”

“Lho, kenapa kau tidak menemui ayahmu dulu di rumah?” sahut Laksmi lagi.

“Astaga, Bibi, aku sengaja ke sini karena mau menjemput kalian. Biar kita bisa pulang bersama,” jawab Dewi dengan senyum lebar. Pandangannya kemudian beralih pada Azizah, menatapnya dengan binar kagum, “Kau tambah cantik ya, Zah. Berapa tahun kita tidak bertemu, tahu-tahu kau sudah tumbuh sedewasa ini.”

Azizah tersenyum tulus, pipinya merona tipis. Tangannya kembali bergerak lincah membentuk isyarat yang sama.

‘Bagaimana kabar Bibi di kota?’

Dewi sempat tertegun beberapa saat, bola matanya bergerak ke atas. Ia tampak kebingungan karena sudah terlalu lama tidak mempraktikkan bahasa isyarat sejak bekerja di kota.

Melihat keponakannya yang kebingungan, Laksmi terkekeh pelan, “Azizah bertanya bagaimana kabarmu di sana.”

“Ah...” Dewi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak sungkan, “Kabarku baik, Zah. Tapi aku cuma bisa pulang sebentar, mungkin semingguan saja. Setelah itu harus langsung kembali ke rumah majikanku.”

“Hanya seminggu?” Laksmi menghela napas, menatap Dewi dengan pandangan menyelidik khas orang tua, “Kau ini tidak ada niatan untuk berhenti bekerja di kota dan mulai mencari jodoh untuk menikah?”

Mendengar pertanyaan itu, bahu Dewi seketika layu, “Huh, urusan menikah lagi. Aku harus fokus kerja dulu, Bi. Urusan itu sama sekali belum lewat di pikiranku. Utang bank untuk menutup kebangkrutan usaha Ayah saja sampai sekarang belum lunas. Bagaimana bisa aku memikirkan pernikahan dalam kondisi seperti ini?”

Laksmi mengusap lembut punggung Dewi, memahami betul beban berat yang harus dipikul oleh keponakannya itu, “Kau anak yang berbakti, Dewi. Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah. Tapi tunggu sebentar, ya, Nenek dan Azizah harus menimbang hasil panen teh hari ini dulu ke tempat pengepul di bawah.”

Dewi mengangguk paham. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan, menuruni jalan setapak perkebunan menuju area penimbangan.

Setelah menerima upah harian dari pengepul, mereka bertiga berjalan beriringan menuju desa. Letak pemukiman mereka memang berada tepat di lereng gunung. Meski begitu, akses jalannya cukup lebar untuk dilewati mobil karena sebagian area perkebunan teh ini dikembangkan menjadi tempat wisata, walaupun permukaannya masih berupa tanah merah yang dipenuhi kerikil.

Begitu melangkah masuk ke gerbang desa, kepulangan Dewi langsung menarik perhatian. Ia disapa ramah oleh para penduduk yang sedang beraktivitas di depan rumah. Alhasil, Azizah dan Laksmi harus beberapa kali menghentikan langkah, menunggu sabar karena Dewi sibuk meladeni obrolan dan sapaan para tetangga yang antusias.

Setelah berhasil lepas dari rentetan sapaan itu, mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah pelataran yang dikelilingi pagar bambu. Di dalam pagar itu, berdiri dua bangunan dengan halaman berukuran sedang yang tampak bersih dan terawat.

Satu bangunan di sebelah kiri terlihat lebih luas dengan lantai berbalut keramik hijau berkilap. Itu adalah rumah Dewi, bangunan yang berhasil didirikan saat ayahnya, Arif, masih berjaya dalam usahanya dahulu. Sementara di sisi kanannya, berdiri bangunan yang lebih sederhana. Rumah itu berbentuk memanjang, berbalut cat putih seadanya dengan lantai semen yang diperhalus tanpa keramik. Di sanalah tempat tinggal Azizah dan Laksmi menghabiskan hari-hari mereka.

Laksmi dan Arif adalah saudara kandung, dan sepetak tanah warisan dari orang tua merekalah yang menyatukan kedua rumah itu dalam satu pekarangan yang sama.

“Astaga, Dewi?!”

Arif yang sedang memegang selang untuk menyiram tanaman di halaman seketika mematikan aliran airnya. Pria paruh baya itu tampak terkejut, matanya membelalak menatap anak semata wayangnya yang tiba-tiba berdiri di depannya tanpa ada kabar sama sekali.

“Kau pulang, Nak?” tanya Arif, langsung melempar selang itu ke tanah dan melangkah cepat menghampiri Dewi.

Dewi tertawa lebar melihat ekspresi syok ayahnya. Ia langsung menyalangkan ranselnya ke samping dan menghambur ke pelukan sang ayah.

“Kejutan, Ayah! Aku sengaja tidak bilang-bilang supaya bisa melihat ekspresi kaget Ayah seperti ini.”

Arif memeluk erat putrinya, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam setelah bertahun-tahun terpisah jarak kota dan desa. Setelah pelukan terlepas, pandangan Arif beralih pada kakak kandungnya dan Azizah yang berjalan di belakang Dewi.

“Mbak Laksmi, Azizah, kalian barengan ketemunya?” tanya Arief beralih menyapa mereka.

Laksmi tersenyum sambil mengibas-ngibaskan capingnya untuk mengusir gerah, “Iya, Rif. Anakmu ini tiba-tiba muncul di kebun teh tadi. Membuat kami berdua sama kagetnya denganmu.”

Azizah melangkah mendekat, lalu dengan santun meraih tangan pria yang ia anggap kakek itu untuk mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat. Arif langsung mengusap lembut kepala Azizah, merasa iba atas ketegaran wanita itu.

“Ya sudah, ayo masuk dulu. Di luar panas,” ajak Arif, “Dewi, bawa barang-barangmu masuk. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh dari kota.”

Sementara itu, Laksmi berpamitan untuk langsung kembali ke rumah mereka sendiri, “Rif, aku dan Azizah ke rumahku dulu, ya. Mau bersih-bersih badan, gerah sekali setelah bekerja di kebun.”

Sebelum langkah kaki nenek dan cucu itu menjauh, Dewi tiba-tiba menahan mereka, “Bibi, Azizah, tunggu sebentar!”

Laksmi dan Azizah serentak menoleh.

“Nanti malam jangan masak, ya. Datang ke rumahku,” ujar Dewi dengan senyum sumringah, “Aku mau mengadakan acara makan malam kecil-kecilan. Aku bawa banyak oleh-oleh dan makanan enak dari kota untuk kita makan sama-sama.”

Laksmi tersenyum dan mengangguk setuju, sementara Azizah mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis, mengisyaratkan bahwa ia tentu akan datang.

Setelah kesepakatan kecil itu, mereka pun berpisah. Masing-masing melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu untuk membersihkan diri dan melepas lelah setelah beraktivitas di bawah terik matahari.

Begitu masuk ke dalam rumah, Azizah dan Laksmi segera meletakkan barang-barang keperluan panen ke gudang kecil yang terletak di samping dapur.

Azizah menatap neneknya, jemarinya bergerak lincah menyuarakan isi kepalanya.

‘Nek, jika Bibi Dewi tidak melunasi utang ayahnya, pasti uangnya sekarang sudah terkumpul banyak, ya?’

Laksmi melepas hijab jadulnya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi kayu, “Tentu saja. Tapi bekerja sebagai pembantu di kota besar itu juga tidak mudah, Zah.”

‘Bukannya seorang pembantu sama saja seperti kita di rumah? Memasak, membersihkan rumah, dan tinggal patuh pada majikan?’ tanya Azizah lagi, menatap sang nenek dengan polos.

“Tidak semudah itu. Semua tergantung bagaimana tabiat majikannya,” sahut Laksmi sambil menghela napas pendek.

Azizah terdiam sejenak, lalu tangannya kembali bergerak.

‘Tapi sepertinya majikan Bibi Dewi orang baik. Buktinya Bibi betah bekerja di sana bertahun-tahun, bahkan sekarang hanya mengambil cuti seminggu.’

Laksmi menatap lekat wajah cucunya, mencoba menerka-nerka arah pembicaraan ini, “Jangan-jangan... kau sedang berpikir untuk mengikuti jejak bibimu bekerja di kota?”

Azizah yang merasa isi pikirannya ketahuan seketika tersentak. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, lalu dengan gugup kembali menggerakkan tangannya.

‘Tidak, Nek. Aku hanya bertanya saja. Aku mandi dulu, ya.’

Tanpa menunggu balasan sang nenek, Azizah segera berbalik dan melangkah cepat menuju kamar untuk mengambil handuk.

Sementara itu, Laksmi hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung sang cucu yang menghilang di balik pintu kamar dengan perasaan campur aduk. Dada wanita tua itu mendadak terasa sesak oleh rasa kekhawatiran yang besar.

Malang sekali nasibmu, Nak. Jika suatu saat nenek sudah tidak ada di dunia ini, bagaimana kelak kau akan menjalani hidup sendirian dengan keterbatasanmu? Batin Laksmi pilu, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!