Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina membuat perjanjian setelah pernikahan, Jika disekolah menjaga jarak, jika dirumah berperan layaknya pasutri. Tujuan Fina buat janji karena untuk melindungi Fino dari gangguan Choki.
Pada akhirnya perjanjian yang Fina buat seakan masuk ke perangkap nya sendiri. Fina semakin di ganggu oleh Choki, sedangkan Fino semakin dekat dengan Anjani.
Apakah Fina bertahan dengan janji yang sudah ia buat, jika kalau tidak bertahan bagaimana kisah mereka membina sebuah pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Lima menit sebelumnya.
"Choki!, Saya dan Fino tidak punya hubungan apa-apa selain sahabat dari kecil, ngapain kamu nyuruh anak buahmu nyerang rumah Fino!" Tanya Fina dengan lantang, ia menarik nafas untuk menjeda ucapan. "Fino gak salah, seharusnya yang kamu salahkan itu diri kamu sendiri! gak kasihan apa dengan kandungan yang ada di dalam perutnya Eca?!"
Situasi yang sedang hening itu kembali ribut setelah Fina berbicara.
Tentu saja Choki punya alasan kenapa akan menyerang rumah Fino.
Choki tiba-tiba menunjuk lurus ke arah Anjani. "Karena kalau bukan Fino yang memberi tahu nya saat di kantin, Anjani enggak mungkin secara terang-terangan memberi tahu ke semua murid kalau saya sudah menikah."
Anjani maju tak terima. "Emang saya salah bongkar pernikahan kalian? Lagi pula masih sekolah aja sudah nikah-nikahan!" Kecamnya.
Asa Fina merasa tersindir dengan ucapan Anjani. Gadis itu memilih diam saat Anjani sedang membelanya.
"Fina!" Panggil Choki, otomatis Fina reflek mendelik.
"Kenapa?"
"Kalau kamu tidak mau saya ganggu, ayo kita balikan ya" Kata Choki.
Fina langsung tertawa. "Saya enggak doyan sama suami orang" Jawabnya. Lalu ia nunjuk ke arah Eca. "Dia sedang mengandung anak mu.. kalau istrimu sedang ngidam, kasih lah dia perhatian"
"..." Eca sampai tersenyum. Satu permintaan sederhana yang sudah ia minta secara sudah Fina lakukan. Dan itu Fina membuktikan nya tepat di depan Eca.
"Jadi selama ini kamu cuek dengan saya beneran cuma karena mau ngejar cinta pertama kamu mas?, lalu yang katanya kau bilang untuk memastikan rahasia pernikahan biar pihak sekolahnya kamu tidak tahu itu untuk apa ya?" Timpal Eca.
Choki ingin menjawab Eca, tapi Fina lebih dulu menimpal. "Nah bener tuh mbak!, dia ngejar-ngejar terus, buktinya waktu saya lari dari kosan suami mbak, saat itu saya hampir di lecehkan oleh suami mbak" Kata Fina.
"Oh gitu..." Kini Anjani menimpal. "Selain kau merahasiakan pernikahan dari semua pihak di sekolah, kamu juga sudah nyakitin dua perempuan sekaligus?, seganteng apa sih kamu? Najis banget!" Anjani sampai terbawa emosi, sebagai sesama perempuan ia tidak bisa menerimanya begitu saja.
Diserang tiga wanita jelas memalukan untuk Choki. Apalagi disitu Niko dengan separuh anggota geng motor nya terkekeh seraya meledek nya.
Disini Choki memilih menanggapi perkataan Eca. "Sayang dengar mas, emang saya mau memastikan pihak sekolah tidak tahu tentang pernikahan kita, tapi Fino benar-benar membuat saya ketahuan di balik kelakukan wanita ini" Kata Choki nunjuk ke arah Anjani.
"Kau sudah salah, masih saja mau mengelak Nik.?" Kata Anjani. Membuat kedua tangan Choki mengepal dengan erat, sorot matanya sudah menajam, ia ingin menghabisi Anjani saat itu juga.
Tapi, salah satu pengawal Fino lebih cepat satu detik untuk membawa Choki menjauh dari pekarangan rumah Fino.
"Kau juga ikut!" Salah satu pengawal Fino meminta Eca untuk ikut.
Sedangkan seluruh geng motornya diminta oleh om-om berkumis tebal itu untuk menjauh sebelum ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Kondisi rumah Fino kembali kondusif, tepat beberapa saat pertanyaan muncul saat Fina masih bingung ingin mengusir kedua orang yang ada didekatnya dengan cara bagaimana.
"Kau gak pulang Fina?" Tanya Anjani.
"Saya masih mau disini, kalau kalian mau pulang duluan aja" Jawab Fina.
"Kenapa? Kau enggak lagi nungguin Fino kan?"
"Enggak An serius. Soalnya dari saya kecil saya suka banget sama suasana disini. bikin tenang apa lagi banyak pohon-pohon yang buat udara semakin sejuk, apalagi kalau pagi"
"Bukannya ini rumah baru nya Fino ya?" Tanya Anjani lagi.
"Bukan An, kau salah paham. Ini sebetulnya rumah mendiang kakeknya Fino. Ayahnya kemarin memberikan rumah ini untuk Fino"
"Oh gitu, enak banget ya kau dari kecil sudah kenal Fino. Sedangkan saya kenal sama Fino aja sampai mati-matian, Fino orangnya dingin banget waktu pertama kali saya deketin"
"Masa sih?"
"Iya" Anjani duduk di samping Fina, lalu kedua perempuan itu mengobrol tentang Fino.
Sedangkan Niko izin ke minimarket, sekaligus membiarkan Anjani ngobrol dengan Fina.
**
Choki dengan Eca sudah digiring ke gudang perusahaan nya sesuai permintaan dari Fino.
Eca terkejut lantaran ayahnya duduk santai bersama Fino dan papahnya di singgasana tepat di depan gadis itu dijatuhkan oleh pengawal Fino untuk berlutut.
"Tuan, saya sudah bawakan Choki ke sini"
"Makasih banyak ya, nanti saya bakal naikkan gaji kalian" Yang jawab Pak Santo, beliau puas dengan kinerja kelima pengawal setia nya yang ditugaskan untuk membantu Fino.
Kelima pengawal itu langsung pergi setelah di minta oleh Pak Santo.
"Maksud nya apa ini Fino? Kenapa ada ayah nya Eca juga!" Tanya Choki.
Fino tersenyum tipis, ia bangkit dari tempat duduk untuk mendekat ke Choki. "Kau benci kan rahasia pernikahanmu di sekolah sudah terbongkar dengan sendirinya?"
Selanjutnya Fino menghadap ke Eca. "Kau juga benci kan, karena aset berharga mu sudah di tangguhkan oleh ayahmu?"
Fino berdiri, lalu pria itu tertawa jahat sejenak. Sebelum ia berkata "Kalau kalian berdua tidak suka dengan itu, seseorang yang kalian benci itu bukan Fina, tapi SAYA!"
To be continue,