NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Suasana restoran masih ramai oleh suara percakapan para pengunjung ketika seseorang berhenti di dekat meja mereka.

"Bu Kanaya?"

Kanaya yang sedang menuangkan air minum untuk Anaya langsung menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan senyum ramah di wajahnya.

"Pak Gilang?" Kanaya tampak sedikit terkejut. "Kebetulan sekali."

Pria itu tertawa kecil. "Saya juga tidak menyangka bertemu Bu Kanaya di sini."

Arkana yang duduk di seberang meja diam-diam menaik turunkan pandangannya. Matanya mengamati pria tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Sementara itu, Anaya yang sedang makan es krim menoleh penasaran.."Bunda, itu siapa?"

"Om Gilang," jawab Kanaya lembut. "Beliau sering pesan katering untuk acara keluarga dan perusahaannya."

"Oh ...." Anaya mengangguk paham.

Gilang tersenyum kepada kedua anak itu. "Ini pasti Abinaya dan Ayana."

Anaya langsung tersenyum lebar. "Iya. Aku Aya!"

"Kalau aku Abi, Om," lanjut Abinaya.

Gilang terkekeh melihat tingkah keduanya. "Wah, ternyata benar, ya. Foto kalian memang lucu, tapi aslinya lebih lucu lagi."

Abinaya dan Anaya saling berpandangan bangga.

Arkana yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman melihat keakraban mereka. Pria itu tampak mengenal Kanaya cukup baik. Bahkan mengetahui nama kedua anaknya. Entah kenapa dadanya terasa panas.

"Kanaya Sayang," panggil Arkana tiba-tiba.

Kanaya menoleh dan spontan membalas, "Iya?"

"Boleh tolong ambilkan tisu?" Nada suaranya terdengar sengaja dilembutkan.

Kanaya mengernyit heran. "Tisunya ada di sampingmu."

"Oh, iya."

Anaya langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Ayah lupa."

Abinaya juga terlihat menahan senyum.

Sementara Gilang tampak baru benar-benar memperhatikan Arkana. Wajahnya mendadak berubah.

"Tunggu sebentar ...." Ia menatap Arkana lebih lama. "Pak Arkana?"

Kali ini Arkana yang mengangkat alis. "Ya?"

Mata Gilang langsung membesar. "Wah, saya kenal Bapak."

Arkana tersenyum tipis. "Saya tidak yakin mengenal Anda."

"Wajar. Kita belum pernah bertemu langsung."

Gilang tertawa kecil. "Tapi siapa yang tidak kenal pengusaha muda yang sering masuk majalah bisnis."

Kanaya yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Arkana. Untuk sesaat pikirannya kembali teringat pada banyak hal yang belum pernah ia ketahui tentang pria itu.

Sementara Gilang masih terlihat terkejut. "Jadi Bu Kanaya ini istri Pak Arkana?"

Kali ini yang menjawab justru Arkana. Jawabannya cepat, "Iya."

Seolah takut ada orang lain yang mengakuinya lebih dulu.

Kanaya hanya menghela napas pelan.

Gilang tertawa. "Wah, dunia memang sempit."

Setelah berbincang sebentar, pria itu akhirnya pamit karena harus menemui keluarganya yang sedang menunggu di meja lain.

Begitu Gilang pergi, Anaya langsung menoleh kepada Arkana. "Ayah cemburu, ya?"

Kanaya hampir tersedak air minumnya dan Arkana langsung batuk-batuk.

"Siapa bilang?" Arkana mencoba membantah.

"Aku lihat tadi," balas Anaya dengan menahan tawa.

Abinaya yang biasanya cuek sampai tertawa pelan.

Kanaya menunduk menyembunyikan senyum..Sedangkan Arkana hanya bisa pasrah menghadapi putrinya yang terlalu jujur.

Keesokan paginya suasana rumah jauh berbeda. Biasanya Anaya yang paling sulit bangun tidur. Namun, hari itu justru Abinaya yang masih terbaring di tempat tidur.

Kanaya yang masuk ke kamar langsung menyentuh dahinya. Seketika wajahnya berubah.

"Abi, kamu demam?"

Anak laki-laki itu membuka mata perlahan. "Bunda ...." Suaranya terdengar lemah.

Kanaya segera mengambil termometer. Beberapa saat kemudian angka yang muncul membuat dahinya berkerut. Tiga puluh delapan derajat.

Tidak lama kemudian Arkana masuk ke kamar. "Ada apa?"

"Abi demam." Kanaya menunjukkan termometer itu.

Arkana langsung mendekat. "Tinggi sekali."

Kanaya mengangguk. "Sepertinya kecapekan kemarin."

"Kita bawa ke dokter," kata Arkana.

"Abi paling anti minum obat. Aku akan kompres, dulu. Semoga nanti demamnya turun," balas Kanaya.

Anaya yang baru masuk ke kamar langsung panik. "Abi sakit?"

Abinaya mengangguk lemah. "Aku cuma panas."

Anaya langsung memegang tangan saudaranya. "Jangan sakit lama-lama, ya."

Biasanya Abinaya akan menjawab dengan jahil. Namun, kali ini ia hanya mengangguk pelan.

Menjelang siang, suhu tubuhnya justru semakin tinggi. Wajah Kanaya mulai terlihat cemas. Ia terus mengganti kompres dan memastikan putranya cukup minum.

Arkana juga tidak pergi ke mana-mana. Laptop kerjanya bahkan dipindahkan ke kamar agar tetap bisa membantu menjaga Abinaya.

"Ayah ...." panggil Abinaya lirih.

Arkana yang sedang duduk di samping ranjang langsung menoleh. "Iya?"

"Pusing."

Hati Arkana langsung mencelos. Ia mengambil handuk kecil lalu mengompres dahi putranya dengan hati-hati. "Sebentar lagi turun panasnya."

Kanaya yang hendak masuk kamar, memperhatikan dari balik pintu. Untuk pertama kalinya ia melihat Arkana merawat anak mereka dalam keadaan sakit. Pria itu bahkan terlihat lebih panik daripada dirinya.

Saat sore tiba, karena demamnya tidak turun juga, Kanaya berniat memberikan obat sirup penurun demam. Dan inilah bagian yang paling sulit.

Begitu mencium aroma obat sirup, Abinaya langsung memalingkan wajah. "Enggak mau."

"Biar kamu cepat sembuh," kata Kanaya lembut.

"Enggak mau." Abinaya menutup mulutnya.

Kanaya menghela napas. "Kalau enggak minum obat, demamnya tidak turun."

Abinaya menggeleng kuat-kuat. "Aku mau dikompres aja."

Arkana yang baru kembali dari dapur membawa segelas air ikut membujuk. "Sedikit saja."

"Enggak mau." Abinaya bersikukuh.

Anaya yang berdiri di samping tempat tidur ikut menimpali. "Abi kayak bayi."

"Aku bukan bayi," bantah Abinaya.

"Kalau bukan bayi minum obat."

Kanaya memijat pelipisnya sendiri. Sudah hampir setengah jam mereka membujuk Abinaya. Namun, hasilnya nol.

"Sudah, jangan dipaksa. Nanti malah semakin parah," bisik Arkana. "Aku akan ikut menjaga Abi."

1
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Kanaya berhasil mendidik mereka menjadi anak baik dan santun, meski masih anak",,,
Sugiharti Rusli
tapi di luar itu kehadiran si kembar, khusus nya Anaya yang sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka, itu yang jadi penyemangat kamu,,,
RosMa🌹🌹🌹
Alhamdulillah Abi sudah sembuh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!