Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 MUKENA YANG MENDEKAT
Aku yang melihatnya bertolak pinggang, sedikit kulirik ke dua kakinya yang ternyata tak memakai alas kaki. Seketika aku mengetahui kenapa sedari tadi tak terdengar suara langkah kakinya melintas di depan kamarku.
"Kamu bikin aku takut barusan!!" kataku, sambil bertolak pinggang juga akhirnya.
"Sampean sing nggawe aku jantungan!! (Kamu yang bikin aku jantungan!!)" balasnya lagi.
"Aku gak ngerti bahasa jawa!!"
"Kasian!!" balasnya dengan wajah agak ketus memandangku.
Aku jadi sedikit memiringkan bibirku...
😂😂😂😂😂
"Lagian kamu ngapain sih nyinden segala maghrib-maghrib begini?!" tanyaku yang jadi agak kesal padanya.
"Loh, yo sak-sak ku toh!! Lambe yo lambeku!! (Loh, ya terserah aku lah!! Mulut ya mulutku!!)" balasnya.
"Eh, kamu gak denger ya? Aku gak ngerti bahasa jawamu!"
"Haaah?! Kasiaaan!!" dengan ekspresi wajah centilnya meledekku.
Tiba-tiba, muncul ide secepat kilat dalam pikiranku untuk membalasnya dengan bahasa sunda yang sedikit kutahu.
"Oh kitu?! Ya geus atuh!! Awas weee, engke dibales ku abdi!! (Oh gitu?! Ya udah!! Awas ya, ku balas nanti!!)" kataku sambil segera memalingkan badan dan berjalan agak kesal meninggalkannya.
"Eh!! Ngomong apa kamu?! Aku gak ngerti artinya!!" jawabnya.
Aku berhenti, menoleh ke belakang, dan membalasnya dengan telak...
"Hah?! Kasian!! Wleee!!!" sambil memeletkan lidahku ke arahnya.
Segera saja aku turun menuju masjid. Aku tak peduli bagaimana ekspresinya padaku.
😂😂😂😂😂
.....
.....
.....
Singkat waktu, setelah selesai ku laksanakan sholat maghrib, aku lanjutkan tadarus Al-Quran. Masih di dalam masjid.
Aku bersyukur, ketika baru sampai di pondok putri ini tadi pagi, masa haid ku sudah selesai. Sehingga aku bisa kembali beribadah dengan tenang. Dan itu juga berarti bahwa gerbang ghoibku kembali lebih kuat.
Ku buka lembaran demi lembaran kitab Al-Quran itu, ku baca dengan tartil dan berusaha fasih suaraku. Meski bacaan dan suaraku tak seperti para pembaca Al-Quran (Qori) terkenal, tapi cukup merdu menurutku, hehehe...
.
🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🕌🌳🌳
.
Satu jam pun berlalu...
Kini sayup-sayup suara adzan isya berkumandang di segala penjuru...
Di temani dengan suara hewan-hewan malam khas daerah hutan jati di kaki Gunung Kelud ini...
Aku langsung lanjutkan ibadah sholat isya dengan khusyuk. Rokaat demi rokaat kulakukan dengan hati yang tenang. Sujud demi sujud terasa lebih membuat syahdu imanku.
Sampai akhirnya tahiyyat akhir, ku ucap salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, pertanda sholat isyaku telah selesai. Beberapa saat ku panjatkan kembali doa-doa dengan khidmat.
Tiba-tiba... Terdengar suara perempuan cekikikan pelan dari arah belakangku...
"Hihihi..."
Langsung saja aku menebak itu pasti suara Ayu. Yang mungkin sedang mencoba mengerjaiku.
"Hihihi..." terdengar lagi cekikikan itu.
Aku yang kini lebih tenang karena sudah tahu bahwa ada Ayu tadi sore, berkata...
"Aduh... Kamu jangan nakutin aku lagi ya..."
Lantas, aku menoleh ke kanan, lalu ke belakang...
Akan tetapi...
Tak ada siapapun di belakangku...
Tak ada Ayu di belakangku...
"Loh? Gak ada siapa-siapa?" ucapku.
Sejenak aku memperhatikan area beranda masjid, yang sudah dipenuhi sinar lampu-lampu berwarna kuning cerah.
"Gak ada siapa-siapa..." kataku lagi.
Dan, aku kembali menghadap depan. Berpikir sejenak. Suara cekikikan siapa barusan kalau itu bukan Ayu?
"Hihihi..."
Jantungku jadi berdegup lebih cepat saat kembali terdengar cekikikan perempuan itu. Masih dari arah belakangku.
Aku kembali dengan cepat menoleh, kali ini ke kiri, lalu ke belakangku...
Lagi-lagi... Tak ada siapa-siapa...
Namun... Sepersekian detik kemudian...
Ku sadari ada sebuah keanehan...
Di pojok sana, masih di dalam masjid ini, tepat di area mukena di simpan dalam lemari...
Mataku melihat sebuah mukena yang berdiri...
Akan tetapi, bagian wajahnya seperti sengaja tak dibuka, seluruhnya ditutupi mukena...
Napasku berhenti, jantungku berdegup lebih cepat, ke dua mataku terbuka lebih lebar...
.....
.....
.....
Perlahan...
Mukena itu berjalan mendekat, tak nampak ada kaki di bawahnya yang tertutup bawahan mukena itu...
Seketika itu juga, aku merangkak mundur perlahan...
"A-a-apa...?" terbata-bata suaraku.
Langsung kembali terlintas ingatan tentang mimpiku tadi siang. Di mana terdapat ribuan bangsa lelembut yang memakan tubuhku...
Semakin dekat mukena itu padaku...
Dan aku semakin merangkak ke belakang, sambil tubuhku menghadapnya...
Jujur, aku ketakutan lagi sekarang...
"Pe-pergi kau! Jangan mendekat!" ucapku spontan saat mukena itu mendekat lebih cepat...
Tiba-tiba...
Mukena itu berlari ke arahku!!!
"AAAAAAAAAA!!" aku berteriak sekuat tenaga sambil menatap mukena itu!!
Akan tetapi...
.....
.....
.....
Mukena itu berhenti tepat dua langkah di depanku...
Dan...
Perlahan bagian atas mukena itu di tarik ke bawah...
Lalu...
.....
.....
.....
"BAAAAAAAAA.... KIKUUUUK...."
Ternyata Ayu!!!
😂😂😂😂😂
"ASTAGHFIRULLOHALAZHIIIIM... AYUUU!!!" Ucapku.
"Ahahahahaha... Hihihi..." malah tertawa renyah dia berhasil mengerjaiku sekali lagi.
"Ayu, sumpah!! Gak lucu!!" kataku.
"Hihihi... Maaf ya Niiis..."
"Gak!! Gak mau maafin!! Gak lucu!! Gak lucuuu!!"
Ku lepas mukena atasanku, dan memukul kakinya.
"Aduh! Hahahaha..." respon Ayu sambil mencoba menghindar.
"Lagian kamu tuh Nis, gampang banget panik kayaknya ya? Hahaha..." ucapnya.
"Tau ah!! Sebel!!" responku sambil memalingkan badan, dan mulai merapikan mukenaku.
😂😂😂😂😂