Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : ALINA MENGUSIR KIRANA
...BAB 14...
...ALINA MENGUSIR KIRANA...
“Alina… bicara apa kamu, Nak?” tanya Kirana pelan, suaranya parau.
“JANGAN PERNAH SEBUT AKU NAK! Aku bukan anakmu! Dan semua ini, semua keruntuhan yang Papa alami, SEMUANYA TERJADI KARNAMU!” Alina menunjuk wajah Kirana dengan kasar, air mata kemarahan membanjiri pipinya. “Kalau saja dulu Papa tidak menikahimu! Kalau Papa tidak sia-siakan mengurus kamu dan anakmu yang bodoh itu! Mungkin harta Papa tidak akan habis begini! Kamu itu pembawa sial! Kamu wanita murahan yang membawa nasib buruk ke dalam rumah kami!”
“ALINA! CUKUP!” Aditya bangkit berdiri dengan susah payah, wajahnya merah padam karena marah dan sakit hati mendengar kata-kata kasar putrinya. “JANGAN BERANI KAMU BICARA SEPERTI ITU PADA IBUMU!”
“Dia bukan Ibu aku, Papa! Papa sendiri yang salah! Papa bodoh! Papa bodoh sekali!” Alina berbalik menghadap Papanya, menangis histeris. “Dulu saat Mama masih ada, Papa punya segalanya! Bisnis lancar, harta berlimpah! Tapi sejak Papa menikahi wanita ini, semuanya mulai hancur perlahan-lahan! Dia racun di keluarga kita, Pah! Dia orang miskin yang tidak tahu apa-apa, yang cuma bisa makan harta Papa sampai habis! Sekarang Papa jatuh miskin! Sekarang kita tidak punya rumah lagi! Sekarang aku akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekolahku! SEMUA KARENA SALAH MEREKA BERDUA!”
Kata-kata itu tajam bagaikan pisau yang menghunjam tepat di jantung hati Kirana.
Kirana terdiam kaku. Ia menatap Alina dengan pandangan yang perih. Enam tahun ia berusaha sabar, enam tahun ia diam menahan hinaan, enam tahun ia menganggap Alina darah dagingnya sendiri meski selalu ditolak, tapi hari ini, di saat keadaan sedang paling sulit, gadis itu malah menuduhnya sebagai penyebab semua kesialan.
Aditya hendak maju menampar atau menegur keras putrinya, tapi kakinya lemas, ia kembali jatuh terduduk di sofa tua yang belum diangkut. Ia menangis, menangis seperti anak kecil karena rasa sedih, rasa malu, dan rasa bersalah yang menumpuk jadi satu.
“Benar… Papa yang salah… Papa yang gagal… Papa yang tidak bisa menjaga kalian…” gumam Aditya lemah, air matanya jatuh membasahi pipi.
Suasana menjadi hening yang menyakitkan. Hanya terdengar isak tangis Aditya dan napas Alina yang terengah-engah karena marah.
Kirana perlahan melangkah mendekat. Ia tidak marah. Ia tidak menyalahkan Alina. Ia mengerti, gadis itu sedang ketakutan, sedang panik, sedang melihat dunianya runtuh.
“Alina… Papa kamu tidak salah. Dan ibu juga tidak membawa nasib buruk, Nak...” ucap Kirana pelan namun tegas, suaranya bergetar tapi tetap tenang. “Kebangkrutan ini karena keadaan ekonomi, karena kesalahan keputusan bisnis, bukan karena kehadiran siapa pun. Ibu tidak pernah mengambil sedikit pun harta Papamu. Selama enam tahun ini, uang nafkah yang Papa berikan, uang belanja rumah tangga, semuanya ibu simpan rapi. Ibu tidak pernah pakai untuk diri Ibu, tidak pernah pakai untuk Dimas, tidak pernah.”
Alina tertawa sinis, matanya menatap tajam penuh rasa tidak percaya.
“Hah? Simpan? Omong kosong! Bu Kirana jangan banyak alasan! Mana mungkin uang yang dikasih Papa ke Ibu gak pernah dipake sama sekali? Ibu kan orang miskin, pastinya butuh uang, kan!
“Bukan omong kosong.”
Kirana berjalan cepat ke sudut ruangan, mengambil tas kerjanya bekas mengajar dulu, yang warnanya sudah kusam, tas yang selalu ia bawa ke mana-mana, tas yang selalu diremehkan Alina. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah buku tabungan tebal yang kertasnya menguning, beberapa lembar surat deposito, dan tumpukan uang tunai yang diikat rapi.
Benda-benda itu diletakkannya di atas meja kayu di hadapan Alina dan Aditya.
“Ini semua uang nafkah yang Papamu berikan setiap bulan selama enam tahun ini. Belum tersentuh satu rupiah pun. Jumlahnya lumayan besar, cukup untuk kita berempat menyewa rumah kecil, cukup untuk makan berbulan-bulan lamanya. Selain itu…”
Kirana kembali mengeluarkan kunci cadangan motor tua yang selalu ia pakai, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin tegas namun penuh kepedihan.
“Motor butut tua yang Ibu pakai selama ini, Ibu sudah jual dulu, jauh sebelum rumah ini disita. Hasil penjualannya ada di sini juga. Ibu jual, supaya uangnya bisa dipakai buat kebutuhan mendesak. Ibu tidak punya harta lain selain itu. Ibu tidak punya perhiasan mahal, tidak punya barang mewah, seperti yang kamu selalu caci maki Ibu, Alina. Ibu memang lahir di keluarga miskin, tapi ibu tidak pernah mau hidup menumpang atau memakan hak orang lain. Ibu bekerja keras, sebisanya Ibu ingin belajar hidup hemat, ibu simpan semuanya… karena ibu sudah khawatir kalau suatu hari nanti_ kemewahan ini akan hilang.”
Aditya melongo kaget, matanya menatap tumpukan uang dan buku tabungan itu dengan tak percaya. Ia tahu berapa besar uang yang ia berikan setiap bulan untuk Kirana. Jumlah itu sangat besar, cukup untuk hidup keluarga biasa selama bertahun-tahun. Dan ternyata… wanita itu tidak menyentuhnya sama sekali. Dulu ia hidup hanya bermodalkan gaji kecil sebagai guru honorer di sekolah dasar, lalu melanjutkan usaha menjahit, Aditya yang menyuruhnya untuk resign dan fokus mengurus anak dan rumah tangga.
“Kirana_ kamu_” suara Aditya tercekat, air matanya mengalir deras bukan lagi karena sedih, tapi karena rasa haru dan rasa malu yang luar biasa. Ia merasa begitu rendah di hadapan istrinya.
Alina terdiam kaku. Mulutnya terbuka lebar, tidak bisa berkata sepatah kata pun. Matanya menatap benda-benda di atas meja itu, lalu menatap wajah Kirana yang lelah namun terlihat jujur.
Alina menatap tumpukan uang di meja itu lama. Buku tabungan menguning, surat deposito, kunci motor. Benda-benda itu seakan menampar wajahnya.
Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk runtuh seketika.
"Bohong!" bentaknya, suaranya pecah. Ia mendorong meja itu sekuat tenaga. Buku tabungan jatuh ke lantai. "Ini pasti uang dari Papa yang Ibu curi diam-diam! Ibu pura-pura baik, pura-pura miskin, padahal Ibu serakah! Ibu sengaja menyimpan uang itu supaya nanti kalau Papa bangkrut, Ibu bisa kabur sama anak Ibu, kan!"
Kirana berjongkok, memunguti buku tabungan yang tercecer. Jarinya gemetar, tapi ia tidak menangis di depan Alina.
"Silakan kamu periksa Ibu sendiri, kalau tidak percaya, Alina. Rekening atas nama Ibu. Tanggal setoran jelas setiap tanggal 1. Tidak pernah ada penarikan. Kalau Ibu berbohong, semoga Ibu dilaknat Tuhan," ucap Kirana pelan. Air matanya baru jatuh sekarang, satu butir, lalu cepat ia hapus.
Aditya menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Alina... sudah cukup. Lihat ibumu. Lihatlah pengorbanannya!"
"JANGAN PANGGIL DIA IBU!" Alina berteriak lagi. Dadanya naik turun, wajahnya basah air mata tapi matanya masih penuh kebencian. "Berapa kali aku bilang, dia bukan Ibuku! Aku tidak butuh uangnya! Aku tidak butuh belas kasihan wanita miskin ini! Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus tinggal satu rumah dengannya!"
Alina berbalik, menyeret koper besarnya ke arah pintu. Satu-satunya koper yang belum diangkut karena berisi barang pribadinya.
"Alina, mau ke mana kamu, Nak?" Aditya bangkit, tubuhnya goyah.
"Ke mana saja! Yang penting jauh dari wanita ini!" Alina berhenti di ambang pintu, lalu menoleh. Tatapannya menancap ke Kirana seperti duri. "Bu Karina dengar baik-baik. Aku benci Ibu. Aku akan tetap benci Ibu sampai kapan pun. Kalau Ibu masih punya hati, pergi saja dari hidup kami. Jangan rusak hidup Papa lagi. Aku akan kembali kalau Ibu sudah tidak sama Papa lagi!"
Setelah mengatakan ancaman itu. Alina pergi sendiri dengan mobil miliknya satu-satunya. Pintu dibanting keras. Suaranya menggema di rumah kosong yang dingin.
Aditya ingin mengejar, tapi langkahnya terhenti. Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Ia hanya bisa memandangi punggung putrinya yang menjauh, lalu menoleh ke Kirana yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.
"Kirana... maafkan aku," bisik Aditya, suaranya hancur. "Aku gagal mendidik Alina ..."
Kirana menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Mas. Alina hanya takut. Nanti kalau ia sudah tenang, ia pasti akan mengerti," jawab Kirana.
Suaranya tenang, tapi punggungnya sedikit membungkuk, seolah menahan beban yang lebih berat dari bangkrutnya Aditya.
Bersambung...
Hallo readers semua yang sudah mampir, selamat membaca semoga suka dengan jalan ceritanya. Mohon dukungannya subscribe dan like per episodenya ya.. Sertakan kritik dan saran juga di kolom komentar. Supaya authornya semakin semangat menulis nya. Oke terimakasih banyak 🥰
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄