NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Sangat Sadar..

Satu jam berlalu tanpa terasa. Pembahasan demi pembahasan akhirnya sampai pada bagian terakhir. Setelah memastikan seluruh pembagian tugas dan jadwal kegiatan sudah dipahami oleh masing-masing panitia, rapat pun resmi ditutup.

Suasana aula yang sebelumnya dipenuhi suara diskusi perlahan berubah menjadi lebih santai. Beberapa panita mulai menutup laptop, membereskan dokumen yang berserakan di atas meja, sementara yang lain berdiri dan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, melanjutkan obrolan di luar agenda rapat.

Di tengah keramaian itu, Rhea juga mulai memasukkan buku catatan dan alat tulisnya ke dalam tas yang tergeletak di samping kursi. Gerakannya tampak biasa saja, namun pikirannya tak sepenuhnya ada di sana.

Dito yang berdiri tidak jauh darinya sempat melirik sekilas, sebelum akhirnya berjalan mendekat beberapa langkah.

“Rhea,” panggil Dito dengan nada santai, sambil menunduk sedikit ke arah gadis itu.

Rhea mendongak dari tasnya, menatap sekilas. “Ya, Mas?”

“Mau ikut makan siang dulu?” tanyanya sambil menopang tangan ke pinggang, tampak menunggu jawaban.

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Rhea berhenti sejenak. Gadis itu terdiam beberapa detik, tangannya menutup resleting tas secara perlahan.

Tanpa sadar matanya melirik ke arah ponsel yang masih tergeletak di atas meja. Layarnya gelap. Tidak ada pesan baru, tidak ada panggilan masuk. Namun entah kenapa, percakapan singkat lewat pesan dengan Arga beberapa waktu lalu kembali terlintas di benaknya begitu saja.

Rhea segera mengalihkan pandangan, lalu menoleh kembali ke arah Dito dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Maaf, Mas,” jawabnya pelan sambil menggeleng sedikit. “Kayaknya nggak bisa. Aku ada janji sama Lusi.”

Dito mengangguk mengerti, raut wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan kekecewaan. Pria itu hanya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, lalu tersenyum tipis.

“Hmm, ya sudah. Lain kali saja,” ucapnya santai.

“Maaf ya, Mas.” Rhea kembali meminta maaf dengan nada bersalah.

“Tidakk apa-apa,” jawab Dito singkat sambil mengibaskan tangan seolah tak masalah.

Rhea menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berdiri tegak dari kursi dengan gerakan ringan.

“Kalau gitu aku pergi dulu ya,” pamitnya sambil menyiapkan langkah.

“Iya,” jawab Dito sambil mengangguk kecil. “Hati-hati.”

“Iya, Mas.” Rhea hanya bersuara pendek sebagai tanda mengerti, lalu berbalik arah.

Setelah itu ia mulai melangkah keluar dari aula. Pintu ruangan terbuka sesaat, lalu kembali menutup rapat di belakang punggungnya.

Dito tetap berdiri di tempatnya beberapa saat lebih lama, menatap ke arah pintu. Tatapannya mengikuti kepergian gadis itu hingga sosoknya benar-benar menghilang di balik pintu.

Entah kenapa, sejak tadi ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Rhea masih tersenyum. Masih menjawab dan berbicara seperti biasa. Namun sorot matanya, gerak-geriknya, jelas menunjukkan bahwa pikiran gadis itu sedang berada di tempat lain, jauh dari ruangan ini.

Dito mengembuskan napas pelan, menggeleng kecil seolah menepis rasa penasaran sendiri, lalu kembali berjalan bergabung dengan teman-teman panitia lain yang masih sibuk membereskan perlengkapan rapat.

...****************...

Rhea melangkah keluar dari aula sambil menyesuaikan letak totebag di bahunya. Pintu di belakangnya perlahan menutup, meredam suara panitia yang masih sibuk membereskan perlengkapan rapat di dalam ruangan.

Siang itu kampus terlihat lebih tenang dibanding biasanya. Sebagian besar mahasiswa masih berada di kelas masing-masing, sementara beberapa lainnya terlihat berjalan menuju kantin atau duduk berkelompok di area terbuka di bawah pepohonan.

Langkah Rhea membawa dirinya melewati satu koridor ke koridor lainnya tanpa tujuan yang benar-benar ia pikirkan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar di sepanjang lorong, menciptakan semburat terang yang jatuh di lantai keramik. Sesekali angin berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari belakang telinganya.

Namun sejak keluar dari aula tadi, pikirannya sama sekali tidak berada di sekitar pemandangan itu.

Tanpa sadar ia menghela napas panjang.

Harusnya ia merasa lega karena berhasil menghindari Arga sejak pagi. Harusnya ia bisa pulang begitu saja dan menganggap kejadian semalam selesai sampai di sana. Namun entah kenapa, justru sikap Arga yang terlalu tenang membuatnya semakin kesal.

Kalau pria itu membela diri, mungkin Rhea masih bisa membalas. Kalau pria itu berusaha mencari alasan, mungkin ia masih bisa mempertahankan kemarahannya. Masalahnya, Arga tidak melakukan apa-apa.

Padahal sejak pagi ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan di kepalanya. Ia bahkan sempat membayangkan Arga akan mengirim pesan lagi, memaksanya datang, atau setidaknya memberi penjelasan.

Nyatanya tidak. Pria itu justru membiarkannya begitu saja, dan anehnya hal itu malah membuat pikirannya tidak tenang sampai sekarang.

Rhea kembali mengembuskan napas pelan sembari menggelengkan kepala.

"Dasar dosen aneh..."

Keluhannya hilang bersama langkah yang terus membawanya maju. Hingga beberapa saat kemudian, tanpa benar-benar ia sadari, gedung fakultas tempat ruang kerja para dosen berada sudah berdiri tepat di depan matanya. Rhea sontak menghentikan langkahnya dan menatap bangunan itu beberapa detik.

Lalu ia memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

"Oke, mari kita dengar kenapa dia menyuruhku ke sini," ucapnya pelan, terdengar lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri daripada alasan yang sesungguhnya.

Rhea mengembuskan napas kasar sebelum kembali melangkah masuk. Ia menembus pintu utama gedung, melewati lorong lalu menaiki tangga menuju lantai dua.

Lorong di lantai ini terlihat jauh lebih sepi dan sunyi dibandingkan area kelas mahasiswa di bawah. Hanya terdengar samar suara dengungan pendingin ruangan dan bisik-bisik percakapan yang teredam dari balik pintu-pintu ruangan tertutup.

Langkah kakinya terus berlanjut hingga mencapai koridor paling ujung, tempat ruang kerja Arga berada. Semakin dekat ke tujuan, rasa percaya dirinya justru semakin menyusut, berganti dengan kegelisahan yang tak menentu.

Padahal semalam ia sudah berkali-kali meninju bantal, berkali-kali meyakinkan diri bahwa dirinya marah besar dan siap melabrak pria itu.

Namun sekarang, berdiri tepat di depan pintu kayu itu, yang ia rasakan justru campuran rasa kesal, gugup, dan bingung yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Rhea menghela napas panjang sekali lagi, berusaha mengumpulkan keberanian, sebelum akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pelan.

Tok. Tok.

"Masuk," suara Arga terdengar jelas dari dalam, singkat dan berwibawa.

Rhea mendorong gagang pintu perlahan lalu melangkah masuk. Setelah ia lewati, pintu itu kembali tertutup rapat di belakangnya, membuat ruangan itu seketika menjadi sunyi dan privat.

Di balik meja kerjanya yang luas, Arga yang sejak tadi sibuk menulis sesuatu langsung mengangkat kepala begitu mendengar langkah kaki.

Begitu melihat Rhea benar-benar datang dan berdiri di sana, pria itu tampak tanpa sadar mengembuskan napas panjang yang entah mengapa terdengar lega.Ia meletakkan bolpoin di tangannya di atas tumpukan kertas, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap gadis itu lekat.

"Kenapa Pak Arga menyuruh saya ke sini?" tanya Rhea langsung, tanpa basa-basi maupun sapaan. "Ada tugas?"

"Tidak ada," jawab Arga datar. Jawaban singkat itu membuat alis Rhea langsung berkerut makin dalam. Ia menatap curiga.

"Kalau begitu kenapa menyuruh saya ke sini?"

Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya diam meneliti wajah Rhea beberapa saat, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik raut wajah gadis itu, sebelum akhirnya ia berbicara pelan.

"Kamu kenapa sebenarnya?"

Rhea mengernyitkan dahi, bingung sekaligus kesal. "Maksudnya?"

"Kenapa ketus begitu?."

Rhea langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada, memberi jarak pada dirinya sendiri.

"Kenapa?" balasnya dengan nada menantang. "Saya tidak kenapa-kenapa."

"Kamu marah dengan saya?"

Pertanyaan polos itu membuat Rhea tertawa pendek, suara tawanya sama sekali tidak mengandung rasa humor.

"Memang seharusnya saya kan marah, Pak?"

Hening sejenak. Arga hanya mengangguk pelan, ekspresinya sulit dibaca.

"Hmm."

Rhea sampai melongo tidak percaya mendengar respons itu.

"Hmm???" ulangnya dengan nada tak percaya. "Cuma hmm? Itu saja?"

Tatapannya langsung menajam, matanya menatap tajam ke arah Arga.

"Pak Arga ini tidak merasa bersalah sama sekali ya? Ngomong apa kek, minta maaf kek. Seenaknya banget bertindak terus pura-pura lupa."

Untuk pertama kalinya sejak Rhea masuk, sudut bibir Arga bergerak tipis, nyaris tak terlihat.

"Saya tidak lupa. Dan saya minta maaf, Rhea," ucapnya tenang.

Rhea langsung mendengus kasar, memalingkan wajah sebentar karena tak puas.

"Soal apa?"

"Soal apapun itu yang membuatmu marah."

Bukannya mereda, ekspresi Rhea justru makin terlihat kesal mendengar jawaban mengambang itu.

"Ck, gak niat sama sekali," celetuknya sinis.

"Saya sudah minta maaf, kan?"

"Tapi kayak tidak niat."

"Niat."

"Gak kelihatan sama sekali."

"Saya niat, Rhea."

"Ya sudah lah," Rhea mengibaskan tangannya malas, merasa percuma berdebat soal ini.

"Saya maklumi saja. Saya anggap Pak Arga memang lagi mabuk semalam dan tidak sadar sama apa yang Pak Arga lakukan. Anggap saja tidak terjadi apa-apa."

Kalimat terakhir itu membuat Arga seketika terdiam.

Beberapa detik berlalu. Pria itu justru menundukkan kepalanya, tangan kanannya bergerak mengusap pelan hidungnya sendiri, berusaha mati-matian menahan senyum yang hampir muncul.

Entah kenapa, melihat Rhea terus mengomel, marah, dan protes seperti ini terasa jauh lebih menenangkan dan membuat hatinya lega, dibandingkan sikap dingin dan diam yang gadis itu tunjukkan sejak pagi tadi.

Perlahan Arga bangkit berdiri dari kursinya.

Rhea yang masih sibuk menggerutu sendiri tidak langsung menyadarinya. Baru ketika ia melihat bayangan tubuh Arga makin memanjang mendekat, ekspresi kesalnya berubah menjadi bingung dan waspada.

"A-Apa..?"

Arga tidak menjawab. Ia tetap diam, namun langkah kakinya terus berlanjut mendekat.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Sampai akhirnya jarak di antara mereka nyaris tidak ada lagi. Arga berhenti tepat di hadapan Rhea, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rhea...begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu.

Refleks Rhea mundur tergesa. Namun di belakangnya sudah ada permukaan pintu yang tertutup rapat. Punggungnya menabrak kayu pintu itu dengan bunyi pelan.

Duk!

Jantungnya langsung berdegup jauh lebih cepat, tak beraturan.

"M-Mau apa lagi sekarang?" tanyanya gugup, berusaha tetap berani namun suaranya terdengar lebih tipis.

Arga menatapnya lekat, sorot matanya dalam dan serius, tak lepas sedikit pun dari wajah Rhea.

"Kamu bilang saya mabuk dan tidak sadar semalam?" tanyanya pelan, suaranya rendah bergetar di udara sempit ruangan itu.

"Iya..." jawab Rhea pelan, menelan ludah gugup. "Memang semalam begitu kan? Pak Arga minum, lalu mabuk, dan mulai bertindak konyol..."

Arga masih menatapnya. Lama. Terlalu lama. Sampai Rhea mulai merasa tak sanggup menatap balik dan gugup sendiri.

Lalu pria itu akhirnya membuka suara, nadanya tenang namun penuh penekanan yang membuat dada Rhea makin sesak.

"Tidak."

"Saya sangat sadar."

Deg!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!