Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di sebuah kafe mewah di pusat kota, suasana pagi terasa tenang dengan alunan musik klasik yang mengisi ruangan. Dokter Emeli baru saja keluar dari area restoran sambil tersenyum puas. Di belakangnya, Haikal berjalan santai sambil masih berbincang akrab dengan wanita itu. Tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya baru memasuki kafe bersama asistennya, dia Darto Erlangga
Aura dingin dan berwibawa pria itu langsung menarik perhatian beberapa pegawai kafe. Namun, seperti biasanya, Darto tidak menyukai sorotan berlebihan. Dirinya datang hanya untuk bertemu salah satu klien penting. Namun, langkahnya terhenti sesaat tatapan tajamnya menangkap sosok Haikal.
Pria yang sangat dikenalnya. Pria yang dulu merebut putrinya darinya. Darto memperhatikan tanpa ekspresi saat Haikal membukakan pintu untuk Emeli sambil tersenyum hangat. Keduanya terlihat sangat dekat. Terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja biasa.
Asisten Darto ikut melihat ke arah yang sama.
“Itu suami Nona Annisa, Tuan.”
Darto tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, meski rahangnya sedikit mengeras.
Selama lima tahun terakhir, Darto memang memilih menjauh setelah Annisa meninggalkan keluarganya demi Haikal. Meski begitu, bukan berarti dirinya benar-benar berhenti memperhatikan putrinya diam-diam. Dan pagi ini yang dia lihat justru membuat hatinya dingin.
“Cari tahu,” ucap Darto akhirnya.
Asistennya langsung menunduk hormat. “Tentang wanita itu?”
“Bukan.” Tatapan Darto masih mengarah pada Haikal yang kini tertawa bersama Emeli. “Haikal bekerja di bagian apa di perusahaan kita.”
Sang asisten tampak sedikit terkejut sebelum segera membuka tablet yang dibawanya. Beberapa detik kemudian pria itu menjawab hati-hati.
“Tuan Haikal baru saja naik jabatan menjadi manajer proyek.”
Darto tersenyum tipis.
“Cepat juga naiknya.”
Asisten itu kembali membaca data di tabletnya.
“Menurut laporan, kenaikannya cukup mendadak sejak dua tahun terakhir. Berkat performa kinerjanya lumayan bagus. Laporan yang dia selesaikan semuanya detail,”
Darto terdiam sejenak. Lalu pandangannya kembali jatuh pada Haikal. Pria itu terlihat begitu bangga dengan hidupnya sekarang.
Tanpa tahu, seluruh kenyamanan yang dia nikmati berdiri di atas belas kasih keluarga wanita yang telah dia sakiti. Darto masih memandangi Haikal dan Emeli dari kejauhan. Sorot matanya tenang, sulit ditebak apa yang sebenarnya pria itu pikirkan.
Namun, beberapa detik kemudian, Darto mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju meja reservasi mereka.
“Tidak perlu lakukan apa-apa dulu,” ucapnya datar.
Asistennya sedikit bingung. “Tapi Tuan, pria itu bersama wanita lain—”
“Selama Annisa bahagia, saya tidak peduli.”
Kalimat itu membuat asistennya langsung diam. Darto duduk perlahan sambil merapikan jas mahalnya.
“Kalau Haikal sukses, hidup anak saya juga akan ikut baik.” Nada suaranya melemah sedikit. “Itu sudah cukup.”
Meski jauh di dalam hatinya, Darto masih menyimpan luka karena keputusan Annisa meninggalkan keluarga demi pria itu. Namun, sebagai seorang ayah yang dia inginkan tetaplah kebahagiaan putrinya. Darto menghela napas pelan sebelum kembali berbicara.
“Kirim bingkisan ke rumah keluarga Haikal.”
Asistennya langsung mencatat cepat. “Baik, Tuan. Atas nama perusahaan?”
“Iya, dengan begitu Annisa tidak akan curiga,”
Pria itu menatap keluar jendela kafe sesaat.
“Saya tidak mau Annisa tahu saya ikut campur rumah tangganya.”
Asisten itu mengangguk paham.
Sudah bertahun-tahun Darto diam-diam membantu kehidupan putrinya tanpa sepengetahuan Annisa. Mulai dari memastikan karier Haikal berjalan mulus, sampai menjaga agar keluarga itu tetap hidup nyaman.
Semua dilakukan diam-diam, karena Darto tahu sifat putrinya. Annisa akan marah jika tahu ayahnya masih terus ikut campur setelah dirinya memilih pergi dari keluarga demi cinta.
“Tapi tetap awasi Haikal,” ucap Darto tenang. “Jangan sampai dia menyakiti Annisa.”
“Baik, Tuan.”
Tanpa Darto sadari, saat ini, putri yang begitu ingin dia lindungi justru sedang menangis sendirian di rumah suaminya.
Mobil Haikal berhenti tepat di depan rumah sakit tempat Emeli bekerja. Pria itu mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke arah wanita di sampingnya dengan senyum tipis.
“Sudah sampai.”
Emeli melepas sabuk pengamannya perlahan. “Terima kasih sudah antar.”
Haikal mengangguk santai.
Namun, sebelum turun, Emeli kembali menatap pria itu seolah masih enggan mengakhiri kebersamaan mereka.
“Aku sebenarnya ingin main ke rumahmu kapan-kapan,” katanya pelan. “Tapi nggak enak sama Annisa.”
Mendengar nama istrinya disebut, ekspresi Haikal langsung berubah datar.
Pria itu malah terkekeh kecil.
“Nggak usah terlalu dipikirin.”
Emeli mengangkat alis. “Memangnya Annisa nggak bakal marah?”
Haikal bersandar santai di kursinya.
“Aku juga nggak mungkin terus hidup sama dia.”
Emeli menatap Haikal cukup lama. “Maksud kamu?”
“Aku akan pisah sama Annisa secepatnya,” jawab Haikal tanpa ragu sedikit pun. “Setelah itu aku bakal melamar kamu.”
Jantung Emeli langsung berdegup cepat mendengar ucapan itu.
“Haikal…” wanita itu tersenyum tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Kamu serius?”
“Aku capek hidup sama perempuan yang cuma jadi beban.” Kalimat itu terlontar begitu mudah dari mulut Haikal.
Padahal selama lima tahun, Annisa selalu bertahan di sisinya dalam keadaan apa pun. Emeli menggigit bibir menahan senyum bahagia. Entah sejak kapan hubungan mereka berkembang sejauh ini. Awalnya hanya sebatas teman lama yang kembali bertemu.
Lalu makan siang bersama, saling curhat dan hingga tanpa sadar, keduanya mulai nyaman satu sama lain. Haikal bahkan sudah berniat meninggalkan istrinya sendiri demi dirinya.
“Aku tunggu janji kamu,” ucap Emeli lembut.
Haikal langsung menggenggam tangan wanita itu sekilas. “Tunggu saja.”
Emeli turun dari mobil dengan hati berbunga-bunga. Sementara, Haikal memandang kepergian wanita itu sambil tersenyum kecil. Pria itu merasa telah menemukan wanita yang lebih pantas untuk mendampinginya. Tanpa sadar, dirinya sedang perlahan menghancurkan hidupnya sendiri.
bahwa kehadirannya sungguh berharga