Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Dering Tengah Malam dan Bekal Penuh Cinta
Motor sport hitam legam milik Rama membelah jalanan Yogyakerto yang lengang bagaikan hantu yang berpacu dengan waktu. Angin malam yang sedingin es tidak mampu menembus jaket kulitnya, apalagi membekukan sisa-sisa euforia kemenangan yang masih mendidih di dalam dadanya. Jarum jam di panel speedometer menunjukkan pukul 11:48 malam. Ia masih punya waktu dua belas menit sebelum tenggat waktu ancaman Nayla habis.
Sesampainya di kawasan perumahan mewahnya, Rama mematikan mesin motor dari jarak puluhan meter sebelum gerbang rumah. Ia menuntun motor bongsor itu masuk lewat pintu samping yang engselnya sudah ia lumasi agar tidak berderit. Dengan keheningan layaknya seorang ninja, Rama menyelinap masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah yang gelap, dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Rama menyandarkan punggungnya ke pintu kayu kamarnya, membuang napas panjang. Ia selamat. Rumahnya sepi, ayahnya pasti sudah tertidur pulas.
Dengan gerakan cepat, ia melepas jaket kulitnya yang bau asap knalpot dan oli, melemparnya ke keranjang cucian. Ia merogoh saku jaket itu sebelumnya, mengeluarkan boneka rajut ungu kecil yang malam ini telah bekerja sangat keras sebagai pelindung nyawanya. Rama tersenyum menatap boneka itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja belajarnya, tepat di sebelah tumpukan buku tebal fisika dan kimia. Sebuah pemandangan kontras yang mendeskripsikan hidupnya secara sempurna.
Waktu menunjukkan pukul 11:55 malam.
Rama meraih ponsel khususnya dan langsung mencari kontak 'Majikan Rese'. Jari jempolnya menekan tombol panggil.
Panggilan itu bahkan belum sempat masuk ke nada dering kedua ketika langsung diangkat dari seberang sana.
"Rama?!" Suara Nayla terdengar setengah berteriak, sarat akan kepanikan, kecemasan, dan kelegaan yang melebur menjadi satu. Gadis itu jelas sedang menunggu di depan layar ponselnya sedari tadi.
Mendengar suara serak gadis itu, seluruh ketegangan otot di bahu Rama luluh lantak. Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamarnya sambil mengulum senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
"Gue masih napas, kalau lo penasaran," jawab Rama santai, suaranya dibuat serendah dan setenang mungkin. "Masih utuh, tulang gue belum ada yang patah, dan gue nelepon lo lima menit sebelum deadline gila lo itu habis."
Terdengar embusan napas yang sangat panjang dan berat dari ujung telepon, seolah Nayla baru saja menahan napasnya selama dua jam terakhir.
"Bangsat lo, Ram. Gue nyaris jantungan tahu nggak?!" umpat Nayla, suaranya sedikit bergetar. "Gue udah siap-siap mau pesan ojol buat nyusulin lo ke bengkel kalau sampai jam dua belas lo belum ngabarin. Lo menang, kan? Si Tora nggak main kotor, kan?"
"Tora main kotor. Dia nyoba nendang gue ke jurang, dan hampir nabrakin gue ke tebing karang," cerita Rama, menceritakan kengerian balapan tadi seolah ia sedang menceritakan alur film komedi. "Tapi preman aspal dari Wana Asri nggak segampang itu ditumbangin. Gue potong jalurnya, gue paksa dia ngerem sampai nyaris mental. Dia kalah telak. Kobra Besi udah resmi bubar malam ini."
Keheningan melanda sejenak. Rama bisa mendengar suara helaan napas lega dari gadis di seberang sana.
"Syukurlah..." gumam Nayla lirih. "Gue... gue bener-bener takut lo kenapa-napa, Bos."
"Nggak usah baper gitu. Gue kan udah bawa jimat ungu dari majikan gue," Rama menoleh ke arah meja belajarnya, menatap boneka rajut itu. "Kayaknya boneka lo ini ada isinya deh. Tadi pas tikungan maut, rasanya kayak ada yang ngomel di kuping gue nyuruh gue pelan-pelan."
Nayla terkekeh renyah dari seberang telepon. "Itu namanya power of the babu owner. Biar lo ingat kalau nyawa lo itu udah gue kontrak buat ngerjain tugas drama. Awas aja kalau lo bikin jimat gue itu lecet, bau oli, atau ketumpahan kopi. Gue setrap lo hormat bendera siang bolong."
"Iya, iya, Tuan Putri," Rama tertawa lepas, sebuah tawa yang hanya berani ia keluarkan di dalam kamarnya sendiri. Tawa yang terasa begitu membebaskan. "Tugas drama kita gimana? Lo bilang mau potong dialog yang kepanjangan?"
Mereka akhirnya mengobrol. Bukan tentang geng motor, bukan tentang nilai sekolah, dan bukan tentang harapan ayah Rama. Mereka mengobrol tentang hal-hal sepele. Tentang dialog naskah yang cringe, tentang guru matematika yang suka memberi kuis dadakan, dan tentang guru BK yang kumisnya tebal. Di tengah obrolan itu, tanpa sadar Rama menggulung dirinya di bawah selimut, merasa lebih hangat dari biasanya. Percakapan itu mengalir begitu saja hingga waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
"Udah ah, gue ngantuk," keluh Nayla disela uapan panjang. "Lo juga tidur sana. Besok pagi gue nggak mau lihat ada panda berjaket kulit masuk ke gerbang Taruna Citra. Jangan lupa, lo ngutang bubur ayam porsi kuli buat gue."
"Siap. Tidur yang nyenyak, Nay," ucap Rama pelan. "Dan... makasih."
"Buat apa?"
"Buat jimatnya. Dan buat... semuanya."
Nayla terdiam sejenak, lalu terdengar kekehan kecil. "Sama-sama, Preman. Night."
Panggilan ditutup. Rama meletakkan ponselnya di dada. Ia tersenyum menatap kegelapan kamarnya. Malam ini, ia berhasil menaklukkan dua hal yang paling berbahaya dalam hidupnya: aspal Jurang Merah dan perasaannya sendiri.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah di atas langit Yogyakerto. Suasana SMA Taruna Citra terasa jauh lebih damai. Tidak ada lagi ancaman stiker di loker, tidak ada lagi Raka yang mencari gara-gara, dan yang paling penting, tidak ada lagi mata-mata Kobra Besi yang mengintai dari gerbang belakang.
Rama berjalan santai menyusuri koridor menuju taman belakang. Di tangannya sudah ada dua bungkus bubur ayam lengkap dengan sate usus yang ia beli di depan kompleks sekolah.
Sesampainya di gazebo, ia melihat Nayla sudah duduk manis. Namun kali ini, ada yang berbeda. Di atas meja kayu itu, tidak hanya ada tempat pensil dan novel fiksi, melainkan sebuah kotak bekal Tupperware berwarna hijau cerah.
Rama menaikkan sebelah alisnya, meletakkan bungkusan bubur ayam di atas meja. "Tumben lo bawa bekal? Bukannya lo bilang masakan nyokap lo lagi asin banget minggu ini?"
Nayla tersenyum misterius. Gadis itu menarik bungkusan bubur ayam dari tangan Rama, tapi anehnya, ia justru menyodorkan kotak bekal hijau itu ke arah cowok tersebut.
"Ini bukan masakan nyokap gue. Ini gue yang bikin subuh tadi," ucap Nayla, menyilangkan tangan di depan dada dengan gaya sok angkuh, meski pipinya sedikit merona. "Buka deh."
Rama mengerutkan kening. Ia duduk, membuka tutup kotak bekal itu dengan perasaan sedikit waswas. Jangan-jangan ini racikan aneh berisi sambal level dewa.
Namun, begitu tutupnya terbuka, aroma harum roti panggang dan mentega langsung menguar. Di dalam kotak itu terdapat sandwich lapis tebal yang isiannya sangat rapi: telur mata sapi setengah matang, lembaran keju yang sedikit meleleh, selada segar, irisan tomat, dan daging asap. Semuanya ditata dengan sangat estetis. Tidak ada setitik pun sayur sawi di dalamnya.
Rama menatap bekal itu, lalu menatap Nayla dengan pandangan tak percaya. "Lo... bangun subuh cuma buat bikin ini?"
"Gue kan harus mastiin inventaris babu gue dikasih makan yang bergizi habis bertaruh nyawa semalam," elak Nayla cepat, membuang pandangannya ke arah pohon beringin. "Lagian, bubur ayam tiap hari bosen. Sesekali lo harus makan makanan elit buatan koki bintang lima kayak gue. Dan tenang aja, gue udah inget kalau cowok preman di depan gue ini anti banget sama yang namanya sayur sawi."
Sebuah senyum lebar yang benar-benar tak tertahankan merekah di wajah Rama. Rasa hangat yang semalam menemaninya tidur kini kembali mengalir deras di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada orang yang memperhatikannya sampai ke detail terkecil seperti apa yang ia tidak suka makan.
"Makasih," ucap Rama tulus, suaranya terdengar sedikit serak. Ia mengambil satu lapis sandwich itu dan menggigitnya. "Wah. Enak. Sumpah, lo bisa buka kafe saingan sama Sudut Aksara kalau begini caranya."
"Lebay lo," cibir Nayla, tapi senyum puas tak bisa lepas dari bibirnya. Gadis itu mulai memakan bubur ayam bagiannya dengan lahap.
"Gue serius. Ini sandwich paling enak yang pernah gue makan," Rama terus memuji sambil mengunyah. "Jadi, sebagai kompensasi sarapan mewah ini, majikan mau babunya ngelakuin apa hari ini? Gue bersedia disuruh beliin es krim se-truk kalau perlu."
Nayla meletakkan sendoknya, menatap Rama dengan wajah penuh perhitungan licik yang menggemaskan. "Oh, tenang aja. Kompensasinya udah gue siapin. Nanti sore sepulang sekolah, gue mau lo temenin gue belanja buku sekalian nyari bahan properti buat pementasan drama kita. Gue nggak mau naik angkot, gue mau dibonceng naik motor sport kesayangan lo itu keliling kota."
Rama terkekeh pelan. "Dengan senang hati. Tora udah bubar, Wana Asri aman, jadi nggak bakal ada anjing pelacak yang ngikutin kita lagi."
Mereka berdua larut dalam obrolan pagi yang hangat dan santai. Suara tawa Nayla dan senyum tipis Rama menjadi pemandangan yang aneh namun indah di gazebo belakang sekolah itu.
Namun, di tengah kedamaian tersebut, ponsel di saku celana seragam Rama bergetar pelan. Rama merogohnya, melihat layar yang menampilkan nama pemanggil.
Ayah.
Senyum di wajah Rama perlahan luntur. Ia memandang Nayla sekilas, lalu menekan tombol terima dengan berat hati.
"Halo, Yah?" jawab Rama, suaranya seketika berubah menjadi kaku.
"Rama. Hari ini sepulang sekolah kamu tidak perlu ikut bimbingan atau ekstrakurikuler apa pun. Langsung pulang," suara tegas Pak Hardi terdengar dari seberang sana, mengisyaratkan sebuah perintah mutlak yang tak bisa diganggu gugat. "Ayah ada acara makan malam dengan relasi bisnis, dan Ayah ingin kamu ikut untuk mulai belajar mengenali kolega-kolega perusahaan kita."
Rama mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Udara di sekitarnya mendadak terasa mencekik. "T-tapi Yah, hari ini Rama ada kerja kelompok untuk tugas akhir—"
"Tugas bisa dikerjakan besok. Ini urusan masa depanmu," potong Pak Hardi tanpa belas kasihan. "Ayah sudah menyuruh Pak Maman menjemputmu di gerbang tepat saat bel berbunyi. Jangan sampai terlambat. Mengerti?"
"Baik, Ayah. Mengerti," jawab Rama lirih sebelum sambungan telepon diputus sepihak.
Rama menatap layar ponselnya yang kini gelap. Bayangan hitam ekspektasi keluarganya kembali menyelimuti dirinya, seolah mengingatkan bahwa tidak peduli seberapa jauh ia berlari di aspal jalanan malam, di siang hari, ia masihlah seekor burung yang terkurung di dalam sangkar emas.
Ia menengadah, melihat Nayla yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Kenapa, Ram? Ada masalah sama bokap lo?" tanya gadis itu lembut, menyadari perubahan drastis pada aura cowok di depannya.
Rama mencoba memaksakan sebuah senyum, meski terasa sangat hambar. "Sori, Nay. Kayaknya rencana kita jalan-jalan sore ini harus ditunda. Bokap gue... bokap gue nyuruh gue langsung pulang buat ikut acara makan malam bisnis keluarganya."
Raut kecewa sempat terlintas di wajah Nayla, tapi gadis itu dengan cepat menutupi kekecewaannya dengan senyuman pengertian. Ia menepuk pelan punggung tangan Rama yang berada di atas meja.
"Santai aja kali, Bos. Kita kan bisa jalan-jalan kapan aja," hibur Nayla. "Lagian, lo kan anak teladan. Harus nurut sama orang tua. Semangat cosplay jadi pewaris takhtanya ya."
Rama menatap tangan Nayla yang menyentuhnya. Ia mengangguk pelan. Pertarungan di jalanan Yogyakerto melawan Kobra Besi memang telah ia menangkan dengan gemilang. Namun, pertarungannya untuk merebut kebebasan sejatinya dari tuntutan keluarganya... baru saja akan dimulai. Dan Rama belum tahu, apakah ia bisa memenangkan pertarungan yang satu ini tanpa harus menghancurkan dirinya sendiri.