Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden apartemen terasa lebih menyengat dari biasanya. Aku, Andini, terbangun dengan perasaan tidak enak yang menggelayut di dada. Di atas meja nakas, pulpen pemberian Charles semalam berkilau tertimpa cahaya, seolah mengingatkanku bahwa hari ini bukan lagi tentang ujian sekolah, melainkan tentang ujian hidup yang sesungguhnya.
Aku melangkah ke ruang tengah dan menemukan Charles sudah berdiri di depan televisi besar yang menyala tanpa suara. Tangannya terkepal di samping tubuh, dan rahangnya mengeras hingga garis-garis otot lehernya terlihat jelas.
"Charles? Ada apa?" tanyaku pelan, mendekatinya dengan langkah ragu.
Tanpa menoleh, ia menunjuk ke arah layar televisi. Di sana, sebuah tajuk berita *breaking news* berjalan di bagian bawah layar: **"Skandal Tersembunyi CEO Utama Group: Siapa Gadis Berseragam di Baliknya?"**
Jantungku serasa berhenti berdetak. Di layar itu, terpampang foto kami di aula sekolah kemarin. Meski wajahku sedikit diburamkan, siapa pun yang mengenalku pasti akan langsung tahu itu adalah aku. Foto itu diambil dari sudut yang sangat strategis, membuat interaksi kami terlihat jauh lebih intim daripada sekadar mengembalikan pulpen.
"Ini... ini kerjaan Vivian?" suaraku bergetar.
"Siapa lagi kalau bukan dia," desis Charles. Suaranya rendah, namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Dia tidak hanya menyerangku, dia menyerang privasimu. Dia tahu menyerangmu adalah cara tercepat untuk membuatku kehilangan kendali."
Ponsel Charles di atas meja terus bergetar tanpa henti. Nama-nama dewan direksi, pengacara perusahaan, hingga Kakek Utama bergantian muncul di layar. Charles mengabaikan semuanya. Ia justru berbalik dan menatapku. Matanya tidak lagi dingin; ada gurat penyesalan yang dalam di sana.
"Maafkan aku, Andini. Seharusnya aku tidak datang ke sekolahmu kemarin. Aku terlalu sombong berpikir bisa mengendalikan segalanya," ucapnya lirih.
Aku menggeleng pelan, meraih tangannya yang terasa dingin. "Kita sudah melewati malam di balkon itu, Charles. Kita sepakat untuk tidak menghadapi ini sendirian, kan?"
Charles menatap tangan kami yang bertautan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa ketenangannya yang terkoyak. "Vivian ingin menghancurkan reputasiku agar dewan direksi mencopot posisiku. Dia pikir aku akan membuangmu demi menyelamatkan kursi CEO-ku."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
Charles menarikku mendekat, memelukku dengan sangat erat seolah-olah jika ia melepaskanku, aku akan hilang ditelan badai di luar sana. "Dia salah menilaiku. Dia pikir perusahaan ini adalah segalanya bagiku. Tapi dia lupa, aku sudah pernah kehilangan segalanya sepuluh tahun lalu. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu apartemen terdengar kasar. Melalui interkom, terlihat Pak Gunawan dengan wajah panik.
"Pak Charles! Para wartawan sudah mengepung lobi bawah! Kita harus segera pindah ke lokasi aman sebelum mereka berhasil naik ke sini!" suara Gunawan terdengar lewat pengeras suara.
Charles melepaskan pelukannya, menatapku dengan tatapan yang sangat teguh. "Ganti seragammu dengan pakaian biasa. Jangan bawa tas sekolah. Pakai topi dan masker. Kita akan keluar lewat jalur evakuasi darurat."
"Tapi sekolahku, Charles? Siska? Guru-guru?"
"Aku sudah meminta Gunawan untuk mengurus izin sakitmu. Untuk saat ini, duniaku dan duniamu tidak bisa dipisahkan lagi, Andini. Kau harus ikut denganku ke kediaman Utama. Kita akan menghadapi Kakek sekarang juga."
Aku berlari ke kamar, mengganti seragam putih abu-abuku—pelindung terakhirku—dengan *sweater* kebesaran dan celana jins. Saat aku melihat seragam itu tergeletak di atas tempat tidur, aku menyadari bahwa masa remajaku yang normal mungkin sudah berakhir di sini.
Saat kami keluar menuju tangga darurat, Charles menggenggam tanganku dengan sangat kencang. Di lorong yang remang-remang itu, ia berhenti sejenak dan menatapku.
"Andini, dengarkan aku. Di luar sana akan sangat berisik. Mereka akan meneriakkan namamu, mereka akan mencoba memotretmu. Tetap tundukkan kepalamu dan terus berjalan. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi. Mengerti?"
Aku mengangguk mantap. "Aku percaya padamu."
Kami menuruni tangga dengan cepat, menghindari lift yang mungkin sudah dijaga. Di dalam hatiku, aku teringat pesan Bapak Sudarman. *Jangan biarkan kemiskinan membuatmu berhenti bermimpi.* Hari ini, aku bermimpi untuk bertahan. Aku bermimpi bahwa cinta yang baru tumbuh di antara aku dan pria dingin ini akan cukup kuat untuk melawan racun yang disebarkan oleh Vivian.
Badai sudah di depan mata, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak takut basah kuyup oleh hujan, asalkan Charles ada di sampingku.