"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: RUANG TANPA JENDELA
Aku terpaku di sudut gudang yang kini kembali sunyi. Pintu kayu yang tadi nyaris meledak karena amukan sang Penjaga kini tertutup rapat—dikunci dari luar oleh Rina. Di duniaku, Niskala, pintu itu tampak seperti gerbang besi raksasa yang sudah berkarat selama berabad-abad, mustahil untuk ditembus dengan kekuatan fisikku yang semakin melemah. Aku bisa mendengar suara isak tangis Kinaya yang perlahan menjauh, diikuti oleh suara langkah kaki orang dewasa yang terburu-buru dan seretan koper di atas lantai keramik yang menggema seperti dentuman genderang perang yang menuntut perpisahan.
"Kinaya! Rina! Jangan pergi!" teriakku, suaraku parau hingga tenggorokanku terasa seperti disayat sembilu. Aku memukul-mukul pintu itu hingga tanganku terasa kebas. Namun, di duniaku yang mati ini, tak ada satu pun bunyi yang dihasilkan dari pukulanku. Semuanya terserap oleh keheningan yang rakus. Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energiku untuk "melihat" apa yang terjadi di dunia nyata. Tabir dimensi di depanku perlahan menipis, menjadi semitransparan seperti kaca buram yang kotor.
Aku melihat Rina sedang menggendong Kinaya yang meronta-ronta hebat. Wajah putri kecilku itu sembab, matanya merah karena terlalu banyak menangis hingga suaranya nyaris hilang. Di sisi lain, dokter paruh baya itu membantu membawakan tas kecil berisi pakaian Kinaya, wajahnya tampak datar seolah-olah duka keluarga kami hanyalah rutinitas medis baginya.
"Enggak mau! Ayah masih di gudang! Ayah sendirian di sana, Bu! Lepasin Kinaya!" jeritan Kinaya menembus dadaku, membuatku tersungkur ke lantai.
Rina tidak menjawab. Dia hanya memeluk Kinaya lebih erat, air matanya sendiri menetes membasahi ubun-ubun anaknya. Aku melihat mereka melangkah keluar dari pintu depan rumah. Begitu ambang pintu itu terlewati, sebuah ledakan statis yang menyakitkan telinga menghantamku. BZZZZTTT! Visual itu lenyap seketika, digantikan oleh dinding gudang yang kembali kelabu dan mati. Aku kembali ke duniaku yang hampa. Aku sendirian. Benar-benar sendirian di tempat yang tidak memiliki waktu.
Suara mesin mobil yang menyala di luar terdengar seperti raungan monster yang lapar di telingaku. Aku berlari keluar dari gudang, menembus dinding dapur tanpa mempedulikan rasa mual yang menyerang, dan berdiri di depan jendela ruang tamu. Aku melihat mobil sedan putih milik dokter itu mulai bergerak perlahan menjauh dari halaman rumah kami yang kini tampak sangat kelabu. Di kursi belakang, aku bisa melihat bayangan kecil yang menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela, menatap ke arah rumah dengan pandangan yang menghancurkan hatiku. Itu Kinaya. Dia sedang mencari tanda dariku, namun aku hanya bisa berdiri membeku di balik tabir yang tak kasat mata.
Mobil itu berbelok di persimpangan jalan dan menghilang di balik kabut tebal Niskala. Saat mobil itu benar-benar lenyap dari pandanganku, sesuatu yang mengerikan terjadi pada rumah ini. Dinding-dindingnya mulai retak, bukan karena gempa, melainkan karena "frekuensi" kehidupan yang selama ini menjaga rumah ini tetap stabil telah pergi. Kinaya adalah sumber cahaya, satu-satunya matahari di dimensi ini, dan tanpanya, rumah ini mulai ditelan oleh kegelapan yang lebih pekat. Langit-langit rumah seolah-olah merendah, menekan pundakku dengan berat yang tak tertahankan.
Aku menoleh ke arah boneka beruang yang tergeletak di tengah ruang tamu. Boneka itu adalah satu-satunya benda yang tertinggal. Rina melupakannya dalam kepanikan dan duka yang luar biasa tadi. Aku mendekati boneka itu, namun kali ini, ia tidak lagi mengeluarkan air mata hitam. Ia hanya terdiam, kaku, dan terasa sangat dingin—bahkan lebih dingin dari udara Niskala yang membekukan. Tanpa Kinaya di dekatnya, boneka ini hanyalah bangkai kain yang tak berguna, kehilangan jiwanya bersamaan dengan perginya sang pemilik.
"Aku harus keluar," gumamku pada diri sendiri.
Selama ini, setelah perjuangan beratku berjalan kaki dari rumah sakit tempo hari saat pertama kali terbangun di dunia ini, aku belum pernah lagi menginjakkan kaki keluar dari gerbang rumah. Rumah ini adalah benteng terakhirku, satu-satunya tempat di mana frekuensi Kinaya terasa paling kuat dan paling nyata. Namun sekarang, setelah mereka membawanya pergi, rumah ini berubah menjadi penjara paling sunyi yang pernah ada. Aku harus mengikuti mereka. Aku harus tahu ke mana tangan-tangan medis itu membawa putriku pergi.
Aku berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang goyah. Dulu, saat berjalan pulang dari rumah sakit dalam keadaan linglung, aku hanya fokus untuk sampai ke sini tanpa mempedulikan ngerinya dunia luar Niskala. Tapi sekarang, saat aku benar-benar berniat melakukan perjalanan jauh dengan kesadaran penuh, rasa mual yang luar biasa kembali menghantamku. Setiap kali aku mendekati pagar, sebuah tekanan batin yang hebat—mungkin sisa-sisa instink bertahan hidupku—seolah-olah memerintahku untuk tetap diam dan menunggu di tempat yang "aman".
Tapi hari ini, rasa takutku kalah telak oleh rasa rindu yang membakar. Begitu kakiku melewati ambang pagar, pemandangan di depanku membuatku terpana. Jalan raya di depan rumahku tidak sesepi yang kukira sebelumnya. Aspalnya berkilau seperti kaca hitam yang memantulkan cahaya pucat dari langit tanpa bintang. Di kejauhan, aku melihat bayangan orang-orang yang berjalan terburu-buru menembus kabut biru yang menyelimuti kota.
Aku tidak melihat monster di sini. Aku melihat orang-orang yang tampak... normal. Mereka tidak tampak seperti hantu yang menyeramkan; mereka tampak seperti orang-orang yang sedang tersesat di kota yang salah, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada seorang pria berjas yang terus melihat jam tangannya dengan wajah gelisah, ada seorang ibu yang memanggil-manggil nama anaknya di balik gang-gang gelap.
"Permisi, Pak!" teriakku pada pria berjas itu saat dia melintas di trotoar depan rumahku. "Anda tahu jalan ke Rumah Sakit Pusat?"
Pria itu menoleh. Wajahnya jelas, dia memiliki mata yang letih namun tampak sangat hidup. "Rumah sakit? Saya juga sedang mencari jalan keluar dari kota sialan ini, Mas. Katanya kalau kita bisa sampai ke pusat cahaya di tengah kota, kita bisa bangun lagi. Saya harus bangun, istri saya sedang menunggu di ruang operasi," jawabnya dengan suara yang bergetar penuh harap.
Hatiku mencelos mendengar kata 'bangun'. Berarti pria ini juga sama sepertiku. Dia tidak merasa dirinya sudah mati. Dia merasa dirinya hanya sedang 'tertidur' atau terjebak dalam mimpi buruk yang sangat panjang. Harapan besar tiba-tiba meledak di dadaku seperti kembang api. Kalau dia memiliki keyakinan bisa kembali ke dunianya, berarti aku pun bisa! Niskala ini mungkin hanya sebuah ujian, sebuah labirin mental yang harus kutaklukkan agar aku bisa kembali memeluk Kinaya secara nyata, bukan lewat boneka usang atau tulisan spidol lagi.
"Saya akan ke sana, Pak. Saya harus kembali demi anak saya," ucapku mantap, mencoba meyakinkan diriku sendiri lebih dari siapa pun. Pria itu mengangguk lemah lalu kembali berjalan cepat menembus kabut, seolah-olah waktu adalah musuh terbesarnya.
Aku mulai berlari menjauh, menyusuri jalan aspal yang kini terasa lebih padat di bawah kakiku. Setiap langkah yang kuambil kini terasa ringan, dipicu oleh adrenalin harapan yang baru saja kutemukan. Aku melewati deretan toko yang tutup, namun anehnya, di dalamnya aku bisa melihat siluet kehidupan—bayangan orang-orang yang sedang makan dan tertawa, seolah-olah dunia nyata sedang diputar di balik kaca film yang sangat gelap. Semuanya tampak begitu dekat, seolah-olah hanya butuh satu dorongan kuat untuk menembus kaca itu dan kembali ke sana.
Aku terus berlari hingga paru-paruku terasa panas, meskipun aku tak lagi bernapas secara normal. Aku tidak tahu berapa kilometer yang sudah kutempuh di bawah langit biru pucat ini. Di kejauhan, menembus kabut yang kini mulai dihiasi pendar cahaya putih dari arah pusat kota, aku melihat sebuah bangunan raksasa yang tampak seperti benteng beton. Bangunan itu adalah Rumah Sakit Jiwa, tujuan mobil putih tadi.
Namun di Niskala, tempat itu tidak tampak menyeramkan sama sekali. Sebaliknya, dari jendela-jendelanya yang tinggi, memancar cahaya keemasan yang hangat dan menenangkan. Cahaya yang sama dengan warna matahari sore saat aku mengajak Kinaya bermain di taman komplek dulu.
"Itu dia... pintu pulangnya ada di sana," bisikku yakin. Aku melihat gerbang rumah sakit itu terbuka lebar, seolah-olah mengundangku masuk ke dalam pelukannya. Di depannya, tidak ada monster atau bayangan mengerikan yang berjaga, hanya ada kabut tipis yang beraroma harum, seperti aroma bunga sedap malam yang menenangkan. Aku yakin, jika aku bisa masuk ke sana dan menyentuh tangan Kinaya saat dia sedang terlelap, getaran cinta kami akan meruntuhkan tembok dimensi ini dan menarik jiwaku kembali ke ragaku yang asli.
Aku tidak menyadari satu hal yang sangat ganjil. Saat aku berlari dengan penuh optimisme menuju gerbang bercahaya itu, bayanganku di atas aspal kaca tidak lagi berbentuk manusia yang utuh. Bayanganku tampak hancur, remuk dengan sudut-sudut yang tajam, dan tidak beraturan—sama persis dengan kondisi motorku di hari kecelakaan maut itu. Namun aku terlalu buta oleh harapan palsu untuk menyadarinya. Aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin Kinaya berhenti menangis dan memanggilku dalam tidurnya.
Saat tanganku menyentuh jeruji gerbang rumah sakit yang dingin namun terasa sangat nyata, sebuah suara tawa kecil Kinaya terdengar, sangat jernih, seolah dia sedang berdiri tepat di belakangku sambil menarik ujung jaket kulitku.
"Ayah... ayo pulang..."
"Iya, Nak. Ayah pulang. Ayah janji," jawabku penuh haru sambil melangkah mantap masuk ke dalam cahaya putih yang menyilaukan itu, dengan senyum lebar yang menghiasi wajahku untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi. Aku merasa sebentar lagi segalanya akan kembali normal