Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Pagi - pagi setelah sholah subuh, Maira meminta Mbak Rini untuk berbelanja bahan masakan. Tapi bukan daging, ikan atau yang lain nya, hanya sayuran dan tempe tahu.
Seperti janji Maira tadi malam oada Azam, bahwa dia akan tetap memberi makan orang - orang di rumah ini. Tapi dia sengaja mengganti menu nya, tidak ada menu mewah seperti selama ini.
Mbak Rini di tugas kan untuk membereskan rumah, karena Maira tidak suka melihat rumah nya kotor dan berantakan. Untuk urusan pakaian Mama Wina dan Lara serta Nia, itu bukan tugas Mbak Rini.
"Sarapan nya sudah siap, mbak?" Tanya Maira.
Maira baru saja keluar dari dalam kamar nya, dia sudah rapi dengan setelan kantor nya.
"Sudah Non!" Jawab mbak Rini.
Maira segera duduk di meja makan, tidak lama kemudian Azam pun menyusul. Begitu pula dengan Mama Wina dan Lara, tidak lupa sang ipar kesayangan suami nya, Nia dan anak nya.
"Cuma ini sarapan nya?" Tanya Azam sambil memperhatikan makanan di atas meja.
"Iya, cuma ini. Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Maira datar.
"Apa - apaan kamu Maira? Kamu sengaja ya memberikan kami makanan ini!" Mama Wina marah melihat makanan yang tersaji di atas meja.
"Tidak ada gizi nya sama sekali!" Cibir Nia.
"Kalian benar - benar tidak tahu malu, sudah di siapkan sarapan masih saja mengeluh. Jika kalian tidak suka dan mau makan enak, silahkan kalian belanja dan masak sendiri. Atau kalian bisa pesan makanan dari luar!" Maira berkata dengab geram.
Pagi ini Mbak Rini menyiapkan sarapan berupa nasi goreng polos dan juga tahu goreng, di tambah lagi ikan asin. Maira sengaja tidak memberi nya uang banyak untuk belanja, dia ingin semua orang di sini bisa menghargai apa yang ada.
"Aku sarapan di kantor saja!" Azam berkata sambil berdiri.
"Mama juga males makan makanan kampung ini!" Mama Wina mencemooh makanan yang ada di depan nya.
Semua orang langsung meninggalkan meja makan, tanpa menyentuh sarapan yang sudah di siapkan oleh mbak Rini. Tinggal Maira yang masih ada di sana, Maira langsung memanggil mbak Rini.
"Mbak, sini mbak!" Panggil Maira.
"Iya, ada apa non!" Jawab Mbak Rini yang sudah berdiri di samping Maira.
"Duduk mbak, kita sarapan bareng!" Ajak Maira pada art nya.
"Nanti saja Non, mbak bisa makan di belakang!" Mbak Rini menolak permintaan Maira.
"Tidak, mbak harus sarapan bareng aku sekarang!" Perintah Maira dengan tegas.
"Baik lah Non!" Mbak Rini pun akhir nya mengalah dam ikut sarapan bareng Maira.
"Mbak, tugas Mbak di rumah ini cuma beres - beres dan masak ya. Selain itu, siapa pun memerintahkan lan mbak Rini, tolong jangan di patuh!" Maira mengingat kan Mbak Rini.
"Baik Non!" Jawab Mbak Rini patuh.
"Mbak, saya berangkat dulu ya!" Maira yang sudah selesai sarapan langsung pamit pada mbak Rini.
"Baik lah, hati - hati di jalan Non!" Pesan mbak Rini.
Maira langsung meraih tas nya dan dia berjalan keluar, tapi alangkah terkejut nya dia saat dia tidak menemukan lagi mobil nya di garasi. Rumah juga sudah sepi, tidak ada orang lagi di rumah. Entah kemana pergi nya semua orang.
"Kurang ajar kau mas, kau sengaja pergi membawa mobil ku. Kau sengaja meninggal kan aku!" Guman Maira geram.
Maira langsung mengambil ponsel nya, dan dia menghubungi Azam lewat panggilan telepon. Tapi hingga panggilan ke tiga, tetap saja Azam tidak menjawab nya.
"Awas saja kau mas, jangan berfikir kalian bisa menguasai mobil ku. Aku akan membalas nya!" Guman Maira lagi.
Maira lalu langsung memesan taksi online untuk pergi ke kantor, dia tidak ingin terlambat.
Saat ini Azam dan seluruh keluarga nya serta Nia dan Ayu, mereka semua sedang sarapan di luar. Azam sengaja mengajak keluarga nya tapi meninggal kan Maira sendirian, dia ingin membalas dendam pada Maira karena kemarin Maira pergi ke kantor membawa mobil nya.
"Syukurin tuh Maira, biarkan Maira kelimpungan sendiri. Jangan di angkat panggilan nya!" Ujar Mama Wina.
"Benar sekali Zam, biarkan dia pergi naik ojek!" Timpal Nia dengan senyum sinis nya.
Mereka semua menikmati sarapan di sebuah warung yang menjual bubur Ayam, mereka sengaja tidak mengajak Maira. Mereka sengaja melakukan hal tersebut agar Maira kapok dan mau memberikan uang pada mereka.
"Mbak Maira memang harus di giniin, biar dia tahu rasa!" Lara berkata sambil menyuap bubur nya.
"Bagaimana ini Zam, Maira hingga saat ini tidak mau memberikan kita uang lagi. Ibu mau bayar arisan siang ini!" Mama Mia berkata dengan Azam.
"Tunda dulu arisan Ma, aku juga lagi tidak punya uang. Semua uang aku kan udah aku kasih sama Kalian!" Azam berkata pada Mama nya.
"Gak bisa gitu dong Zam, bisa Malu Mama jika arisan nya di tunda!" Omel Mama Wina.
"Habis nya memang Azam tidak punya uang ma, ini aja bahan bakar mobil untung kemarin udah di isi full sama Maira!" Azam berkata sambil menyelesaikan sarapan nya.
Azam langsung membayar bubur mereka setelah mereka selesai makan, dia ingin segera pergi ke kantor.
"Zam, sekalian nitip Ayu ya. Kamu anterin dulu dia ke sekolah, biar Mama pulang sama aku!" Nia berkata pada Azam.
"Iya udah deh, aku langsung jalan ya. Ayo Ayu!" Azam langsung menggandeng tangan keponakan nya.
Azam berangkat ke sekolah nya Ayu sekalian ke kantor nya, sedang kan Mama Wina pulang bersama Nia. Lara langsung pergi ke kampus dengan motor nya.
"Nia, bagai mana ini? Mama mau arisan nangi siang?" Mama Wina langsung bertanya pada menantu nya setelah mereka tiba di rumah.
"Nia juga gak punya uang Ma, uang pemberian Azam udah habis dari kemarin. Mana sampai sekarang Maira gak kirim uang lagi!" Nia sendiri sedang bingung saat ini.
Mertua dan menantu itu sama - sama bingung, mereka tidak punya uang lagi. Maira benar - benar membuat mereka semua kesusahan.
"Ma, kemarin pas aku keluar ada temen aku yang menawarkan investasi. Tapi aku gak punya uang!" Nia berkata pada Mama Wina.
"Oh ya investasi di bidang apa itu?" Tanya Mama Wina.
"Kurang tahu aku Ma, dia bilang boleh lah di mulai dari yang kecil. Tapi hasil nya juga kecil, kalau uang nya gede, hasil nya juga gede!" Ujar Nia lagi.
"Andai saja kita punya uang, Mama tertarik loh. Dengan begitu kita tidak perlu minta - minta lagi sama Maira, tiap bulan uang masuk sendiri!" Mama Wina membayangkan betapa senangnya jika dia bisa berinvestasi.
"Mama punya perhiasan gak? Jual dulu biar bisa untuk investasi?" Nia bertanya pada Mertua nya.
"Mama gak punya perhiasan sama sekali, Mama kangen tidak pernah beli perhiasan. Buat apa juga, gak berguna juga!" Jawab Mama Wina.
"Ya, kirain Mama punya. Dengan begitu kita bisa ikutan!" Nia kecewa dengan Mama mertua nya.
Kedua wanita beda usia tampak menghela nafas kasar, niat nya ingin mendapatkan uang dengan mudah tanpa kerja keras, seperti nya harus gagal.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH