NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Rahasia Guru Choi

Subuh masih kelam ketika Ji-hoon melangkah keluar menuju Taman Batu. Udara pagi menusuk tulang, membekukan napasnya menjadi kabut putih. Taman itu kecil dan sederhana, hanya berupa hamparan kerikil putih yang disapu rapi, beberapa batu besar diletakkan dengan sengaja, dan sebuah kolam kecil yang airnya hitam seperti tinta di cahaya fajar.

Guru Choi sudah ada di sana. Dia berdiri di tengah taman, membelakangi Ji-hoon, menatap ke arah timur di mana langit mulai memudar dari hitam menjadi ungu. Dia masih mengenakan kimono abu-abu yang sama, tampak seperti bagian dari lanskap itu sendiri.

“Tepat waktu,” suara Guru Choi terdengar tanpa menoleh. “Duduklah. Hadapi timur.”

Ji-hoon patuh, duduk bersila di atas kerikil dingin. Dia berusaha mengosongkan pikirannya, seperti yang diperintahkan, meski rasa penasaran dan sedikit gugup menggelitik di dadanya.

Mereka duduk dalam keheningan selama beberapa menit. Di kejauhan, suara pertama burung mulai berkicau, menandakan datangnya pagi. Langit perlahan berubah warna, lapisan demi lapisan, seperti lukisan cat air yang sedang dikerjakan.

“Ji-hoon,” Guru Choi akhirnya berbicara, suaranya selaras dengan gemericik lembut air kolam. “Berapa umurmu?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi Ji-hoon merasa seperti ditusuk jarum. “Sembilan belas tahun, Guru. Menurut catatan.”

“Menurut catatan,” Guru Choi mengulang. Dia akhirnya menoleh, matanya yang abu-abu menangkap cahaya pertama fajar, bersinar samar. “Tapi bukan menurut jiwamu. Aku bisa merasakannya, Nak. Jiwa yang mendiami tubuh muda ini… sudah lebih tua. Jauh lebih tua.”

Ji-hoon menahan napas. *Dia tahu.* Tepat seperti yang dia duga. Tapi bagaimana? Apakah Guru Choi juga seorang transmigran? Atau punya kekuatan untuk merasakan jiwa?

“Saya… tidak mengerti maksud Guru,” Ji-hoon mencoba bermain aman, meski suaranya sedikit gemetar.

Guru Choi tersenyum kecil, ekspresi yang penuh pengertian, bukan penghakiman. “Kamu tidak perlu takut. Rahasia itu aman bersamaku. Di dunia ini, dengan Gate yang menghubungkan dimensi-dimensi, keanehan seperti dua jiwa dalam satu tubuh bukanlah hal yang benar-benar tak terdengar. Langka, ya. Tapi bukan tak mungkin.”

Dia berbalik sepenuhnya, sekarang menghadap Ji-hoon. “Aku telah melatih banyak hunter dalam hidupku. Aku telah melihat mata para pembunuh, ketakutan para pemula, ambisi para jenius. Tapi matamu… matamu berbeda. Ada sebuah jarak di dalamnya. Seperti seseorang yang menyaksikan sandiwara dari barisan belakang, bukan sebagai pemain di panggung. Dan ada kebijaksanaan—bukan kebijaksanaan bawaan, tapi kebijaksanaan yang *dipelajari*. Yang didapat dari pengalaman hidup yang panjang.”

Ji-hoon tidak bisa menyangkal. Kebohongan akan terasa sia-sia di hadapan orang yang bisa melihat langsung ke dalam jiwanya. Dia menunduk, mengakui tanpa kata.

“Siapa kamu, sebenarnya?” tanya Guru Choi, lembut. “Tidak perlu detail. Tapi beri tahu aku esensinya. Agar aku tahu apa yang harus kuajarkan, dan apa yang harus kutuntun.”

Ji-hoon menarik napas dalam, memandangi kerikil di bawahnya. “Saya… dulunya adalah seorang editor. Saya bekerja dengan kata-kata, dengan cerita. Saya melihat pola, struktur, alur. Saya memperbaiki yang rusak, mengarahkan yang tersesat, dan… terkadang, harus menolak yang tidak bisa diperbaiki.” Dia mengangkat wajahnya, bertemu dengan mata Guru Choi. “Saya mati di dunia itu. Dan saya terbangun di sini, di tubuh ini, dengan kenangan yang bukan sepenuhnya milik saya, tapi juga bukan sepenuhnya milik orang lain. Saya adalah keduanya. Dan saya tidak.”

Guru Choi mengangguk pelan, seperti semua potongan akhirnya masuk ke tempatnya. “Editor,” gumamnya. “Itu menjelaskan banyak hal. Kemampuanmu untuk ‘membaca’ pertarungan, untuk melihat celah dan kesalahan. Itu adalah keterampilan yang sudah terasah di kehidupanmu sebelumnya, kini diwujudkan di dunia yang baru.”

Dia berdiri dan berjalan perlahan mengitari taman, tangan terkunci di belakang punggung. “Telekinesis. Kekuatan langka. Tapi jiwa yang lebih tua… itu lebih langka lagi. Kombinasi keduanya bisa menjadi sangat kuat, atau sangat berbahaya.”

“Berbahaya bagaimana, Guru?”

“Kekuatan berasal dari kejelasan identitas,” jelas Guru Choi. “Sebagian besar hunter tahu siapa mereka, apa yang mereka inginkan, apa yang mereka perjuangkan. Mereka mungkin ragu, takut, tapi intinya jelas. Kamu… kamu adalah dua orang sekaligus. Jika kedua jiwa itu selaras, kamu bisa memiliki perspektif yang unik dan ketenangan yang tidak dimiliki anak muda seusia tubuhmu. Tapi jika mereka bertentangan…” Dia berhenti, menatap Ji-hoon. “Kamu bisa terpecah. Atau lebih buruk, salah satu jiwa itu bisa mendominasi dan memadamkan yang lain, meninggalkanmu sebagai setengah diri.”

Ji-hoon merasakan kebenaran dalam kata-kata itu. Dia sudah merasakan gesekan itu—saat ingatan Min-jae berbenturan dengan logika Ji-hoon, saat emosi remaja bertemu dengan kesabaran dewasa. Sejauh ini, dia berhasil menyeimbangkannya. Tapi untuk berapa lama?

“Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya, suaranya lebih kecil dari yang dia rencanakan.

“Pertama, kamu harus menerima,” kata Guru Choi, kembali duduk di hadapannya. “Kamu bukan lagi Lee Min-jae, editor dari Seoul. Kamu juga bukan sepenuhnya Kang Ji-hoon, siswa akademi yang terlambat bangun. Kamu adalah sesuatu yang baru. Sebuah sintesis. Seperti dua warna cat yang tercampur menjadi warna ketiga yang unik. Jangan berusaha memisahkannya. Pelajari bagaimana keduanya bisa bekerja sama.”

Dia mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke atas. “Kekuatan telekinesis berasal dari pikiran, dari kejelasan niat. Jika pikiranmu terpecah, kekuatanmu juga akan terpecah. Jadi, pelajaran pertamaku untukmu bukan tentang mengangkat batu atau membaca lawan. Tapi tentang *menyatukan diri*.”

Ji-hoon mengerutkan kening. “Bagaimana caranya?”

“Meditasi,” jawab Guru Choi sederhana. “Tapi bukan meditasi biasa. Kamu akan bermeditasi sambil menggunakan telekinesismu. Kamu akan mengangkat sebuah benda—batu kerikil itu sudah cukup—dan menjaganya tetap melayang. Sementara itu, kamu akan mengamati pikiranmu sendiri. Setiap kali ada pikiran yang berasal dari ‘si editor’, kamu akan mencatatnya. Setiap kali ada emosi yang berasal dari ‘si remaja’, kamu akan mengakuinya. Jangan dihakimi. Hanya diamati. Dan melalui semuanya, batu itu harus tetap stabil.”

Itu terdengar… sangat sulit. Ji-hoon sudah kesulitan memusatkan pikiran untuk telekinesis dasar. Sekarang dia harus melakukannya sambil mengamati aliran kesadaran internalnya yang kompleks?

“Ini adalah latihan fondasi,” kata Guru Choi, seolah membaca keraguan itu. “Jika kamu bisa menyatukan pikiranmu, kamu akan menemukan bahwa telekinesismu bukan lagi alat yang kaku, tapi perpanjangan alami dari kehendakmu. Kamu tidak perlu ‘memerintah’ sesuatu untuk bergerak. Kamu hanya perlu ‘mengizinkan’nya bergerak, dengan bimbinganmu.”

Dia berdiri lagi, menandakan pelajaran hari ini sudah selesai. “Lakukan ini setiap pagi, sebelum matahari terbit. Mulai dengan lima menit. Jika batu itu jatuh, atau pikiranmu terputus, mulai lagi. Aku akan mengawasimu dari jauh. Jangan mencoba mencari-cari dimana aku. Fokus saja pada dirimu dan batu itu.”

“Berapa lama saya harus melakukan ini sebelum… sebelum pelajaran selanjutnya?”

Guru Choi berjalan meninggalkan taman, tapi suaranya masih terdengar jelas, seperti bisikan angin pagi. “Sampai kamu bisa merasakan bahwa batu itu bukan lagi benda asing yang kamu kendalikan. Sampai kamu merasa bahwa batu itu adalah bagian dari dirimu yang lain. Sampai kamu tidak lagi memikirkan ‘bagaimana’ mengangkatnya, tapi hanya ‘menginginkan’nya melayang, dan itu terjadi.”

“Dan bagaimana saya tahu kapan itu terjadi?”

“Kamu akan tahu,” jawab Guru Choi. Dan kemudian, dia hilang. Bukan dengan kecepatan, tapi seolah-olah menyatu dengan bayangan pepohonan yang masih gelap, menghilang tanpa jejak.

Ji-hoon tetap duduk, sendirian di taman yang semakin terang. Dia melihat ke tanah, memilih sebuah kerikil putih yang halus. Dia meletakkannya di telapak tangannya, merasakan berat dan teksturnya yang dingin.

*Ini dia,* pikirnya. *Ujian sebenarnya.*

Dia menutup mata, menarik napas, dan mencoba memusatkan pikirannya pada kerikil itu. Dia merasakan energi psikisnya yang masih seperti benang tipis, meraih keluar, mencoba membungkus batu kecil itu.

Kerikil itu bergoyang, lalu terangkat setinggi beberapa sentimeter di atas telapak tangannya.

*Bagus.*

Lalu, pikiran pertamanya muncul: *Ini mirip seperti mengedit. Fokus pada satu kata, satu kalimat.*

Itu adalah pikiran si editor. Dia mencatatnya, lalu kembali ke kerikil.

Kerikil bergoyang.

*Stabil, stabil…*

*Dingin sekali pagi ini. Aku ingin kembali ke tempat tidur.*

Itu adalah pikiran si remaja, Kang Ji-hoon. Dia mengakuinya, lalu kembali ke kerikil.

Kerikil jatuh ke telapak tangannya dengan suara *tik* yang halus.

Ji-hoon menghela napas, sedikit frustrasi. Tapi dia ingat kata Guru Choi: jangan menghakimi. Dia mengambil kerikil itu lagi, mengangkatnya, dan melanjutkan.

Matahari perlahan mulai menunjukkan tepiannya di ufuk timur, mewarnai langit dengan jingga dan merah muda. Di Taman Batu yang sepi, seorang pemuda dengan jiwa tua duduk bersila, dengan sebuah kerikil putih melayang tak stabil di hadapannya, sambil berusaha menjinakkan dua jiwa yang berbeda dalam satu tubuh.

Dan di suatu tempat di balik pepohonan, sepasang mata abu-abu yang penuh kebijaksanaan mengawasi, dengan senyum kecil penuh harap.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!