Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari keberangkatan menuju perkemahan di kaki Gunung Salak akhirnya tiba. Di halaman SMA Pelita Bangsa, deretan bus pariwisata mewah sudah berjajar rapi. Naura berdiri di dekat pintu bus XI-A dengan tas gunung yang tampak modis, siap memulai aksinya.
"Naura! Sini!" seru Nadira dari dalam bus.
Naura segera naik dan menghampiri Nadira. Namun, saat Naura hendak duduk di kursi kosong di sebelah sahabatnya itu, Nadira justru meletakkan tasnya di kursi tersebut dan memberikan senyum penuh arti.
"Eh, jangan di sini, Ra! Gue mau duduk bareng Riska, ada gosip penting," ujar Nadira sambil mengedipkan sebelah mata. "Mending lo duduk di kursi depan itu deh, pas banget di sebelah Kak Gibran. Dia kan ketua pelaksana, pasti lo bakal aman dan nyaman selama perjalanan."
Naura pura-pura terkejut. "Lho, Nad? Tapi kan—"
"Udah, jangan malu-malu! Kesempatan emas nggak dateng dua kali," potong Nadira sambil mendorong pelan bahu Naura ke arah barisan kursi depan yang masih kosong satu.
Gibran, yang memang sudah duduk di sana sambil memegang papan jalan, menoleh dan tersenyum sangat hangat. "Sini, Naura. Masih ada tempat di sebelahku. Aku bisa jelasin susunan acara selama perjalanan nanti."
Naura baru saja hendak melangkah, namun sebuah bayangan tinggi tiba-tiba memotong jalurnya.
Brukk!
Sebuah tas ransel hitam besar mendarat lebih dulu di kursi kosong sebelah Gibran. Arkan berdiri di sana dengan wajah sedingin es, tangannya masih memegang tali tasnya.
"Gue duduk di sini," ucap Arkan singkat, tanpa menoleh ke arah Gibran maupun Naura.
"Arkan?" Gibran mengernyit, senyumnya sedikit memudar. "Kursi ini sudah aku tawarkan untuk Naura agar dia bisa lebih paham soal teknis kegiatan. Kamu bisa duduk di barisan belakang bersama Bimo."
Arkan menoleh perlahan, menatap Gibran dengan tatapan menantang. "Gue mabuk perjalanan kalau duduk di belakang. Dan sebagai teman sebangku Naura di kelas, gue punya tanggung jawab buat mastiin dia nggak dapet informasi... yang berlebihan."
"Gue rasa gue lebih kompeten soal informasi sekolah daripada lo, Arkan," balas Gibran dengan nada yang mulai menegang.
Suasana bus yang tadinya bising mendadak senyap. Semua murid menahan napas melihat dua 'pangeran' sekolah itu berdebat memperebutkan kursi di sebelah Naura. Bimo dan Rio bahkan sudah mengeluarkan ponsel, siap mengabadikan momen langka ini.
"Arkan, minggir. Jangan kekanak-kanakan," ujar Gibran tegas.
"Gue nggak bakal pindah," balas Arkan tak kalah tajam.
Namun, di tengah ketegangan yang memuncak, sebuah tangan dengan tenang menggeser tas Arkan sedikit ke samping.
Tanpa sepatah kata pun, seorang gadis dengan wajah datar dan aura yang jauh lebih dingin dari Arkan tiba-tiba sudah duduk di kursi tersebut.
Raisa.
Ia memasang headset di telinganya, membuka sebuah buku tebal, dan bersandar dengan santai. Ia melirik Arkan dan Gibran bergantian dengan tatapan meremehkan.
"Kalian berisik. Gue butuh ketenangan buat baca," ucap Raisa pendek sebelum kembali fokus ke bukunya.
Arkan dan Gibran terdiam mematung. Naura, yang sejak tadi menonton dengan menahan tawa
"Wah, sepertinya Kak Raisa lebih butuh kursi itu! " seru Naura sambil melambaikan tangan, pada Arkan dan Gibran yang masih berdiri mematung di lorong bus dengan wajah yang sama-sama kesal.
Dalam hatinya, Naura membatin, "Bagus, Raisa. Penyelamatan yang sempurna. Sekarang gue punya waktu buat cek alat pelacak di bus ini tanpa diawasi dua orang itu."
Suasana di dalam bus seketika berubah menjadi medan perang dingin yang dibungkus komedi. Bimo dan Rio sudah menutup mulut mereka rapat-rapat, menahan tawa agar tidak meledak melihat pemandangan di depan mata mereka.
Raisa, dengan wajah tanpa dosa, tetap tenang membaca bukunya. Ia mengabaikan dua pria paling berpengaruh di sekolah itu yang kini mematung di lorong bus.
"Ehem," Pak Danu, guru pendamping, berdehem keras dari arah depan. "Arkan, Gibran, bus sudah mau jalan. Segera duduk."
Gibran, yang biasanya selalu punya kata-kata manis, kali ini kehilangan kata-kata. Ia melirik Arkan dengan tatapan tajam, sementara Arkan hanya mendengus pelan sambil membuang muka. Karena kursi lain sudah terisi penuh oleh murid-murid yang menonton dengan antusias, tidak ada pilihan lain bagi mereka berdua.
Dengan gerakan yang sangat kaku, Arkan dan Gibran terpaksa duduk di satu bangku yang berada tepat di seberang baris Raisa.
"Gila... sejarah baru di Pelita Bangsa," bisik Rio sambil merekam punggung kedua cowok itu.
"Ketua OSIS dan Si Kulkas Berjalan duduk bareng. Aura horornya kerasa sampai sini."
Naura, hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menatap ke depan, melihat dua punggung lebar yang duduk dengan jarak sejauh mungkin meskipun dalam satu bangku. Arkan mepet ke jendela, sementara Gibran mepet ke arah lorong.
Naura membuka ponselnya. Ia mengirim pesan singkat melalui jalur pribadi kepada Arkan.
[Naura]: Selamat menikmati waktu berkualitasnya, Komandan.
Arkan merasakan getaran di sakunya. Ia membaca pesan itu tanpa ekspresi, namun matanya melirik tajam ke arah Gibran yang kini sedang pura-pura sibuk mengecek daftar peserta kemah.
Gibran tiba-tiba menoleh ke arah Arkan. "Jangan berpikir gue menyerah soal Naura, Arkan."
Arkan hanya menatap lurus ke depan. "Fokus saja pada jalanan, Gibran. Jangan sampai bus ini terperosok karena sopirnya terganggu oleh ocehanmu."
Bus mulai melaju meninggalkan gerbang sekolah. Di barisan belakang, Naura menyandarkan kepalanya ke jendela, matanya yang tajam mengawasi setiap kendaraan yang membuntuti bus mereka dari kejauhan.
......................
Bus baru saja melewati gerbang tol saat Arkan sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. Berada di satu bangku dengan Gibran membuatnya merasa seperti duduk di atas bara api. Setiap kali Gibran bergerak atau memperbaiki posisi duduknya, Arkan merasa ruang pribadinya terinvasi.
Arkan berdiri, mengabaikan Pak Danu yang sedang memberikan instruksi lewat mikrofon. Ia melangkah satu langkah ke arah Raisa.
"Pindah," bisik Arkan pelan namun penuh penekanan.
Raisa tidak bergeming. Ia masih fokus pada buku tebalnya, seolah suara Arkan hanyalah dengungan lalat. Arkan menghela napas panjang, lalu membungkuk sedikit agar suaranya hanya terdengar oleh gadis itu.
"Raisa, tolong. Gue bakal kasih akses ke database yang lo minta kemarin. Sekarang, pindah ke depan," ancam sekaligus suap Arkan.
Raisa menutup bukunya dengan dentuman pelan. Ia melepas headset dan menatap Arkan dengan tatapan malas. "Gue baru duduk sepuluh menit, Arkan. Dan lo udah merengek kayak anak kecil yang kehilangan balon."
"Gue nggak merengek. Gue negoisasi. Cepat," desis Arkan.
Raisa melirik ke arah Gibran yang kini menatap mereka dengan bingung, lalu ke arah Naura yang sudah menopang dagu sambil tersenyum penuh kemenangan. Dengan helaan napas berat, Raisa berdiri.
"Fine. Tapi kalau lo ganggu gue soal laporan nanti malam, gue bocorin rahasia lo ke kakek."
Raisa bergeser ke bangku sebelah Gibran dengan wajah datar, sementara Arkan dengan cepat menyelinap masuk ke kursi di sebelah jendela, tepat di samping Naura.
"Wah, wah... Lihat siapa yang nggak tahan jauh-jauh dari 'tanggung jawabnya'," goda Naura begitu Arkan mendaratkan tubuhnya.
Arkan tidak menyahut. Ia mulai sibuk mengatur ranselnya.
"Gengsi lo setinggi Gunung Salak ya, Kan?" lanjut Naura dengan nada berbisik yang provokatif. "Padahal kan seru duduk sama Kak Gibran. Bisa tukar pikiran soal kepemimpinan, atau mungkin... tips pakai skincare?"
Arkan memejamkan mata sejenak. "Diem, Ra. Gue lagi nggak mood bercanda."
Naura justru semakin mendekat, menyandarkan bahunya ke lengan Arkan. "Jangan galak-galak dong, 'Adek' Arkan. Eh, atau mau gue panggil pakai umur asli lo? Berapa tadi? Dua puluh empat?"
Mata Arkan langsung terbuka lebar. Ia menoleh tajam, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. "Jangan berani-berani sebut angka itu di bus ini."
Naura terkikik pelan, suara tawanya tertutup oleh kebisingan mesin bus. "Kenapa? Malu ya jadi pria dewasa yang harus pakai seragam putih-abu lagi? Kasihan banget, padahal di usia segitu harusnya lo udah mikirin cicilan rumah atau rencana nikah, eh malah sibuk debat rebutan kursi bus sekolah."
"Gue di sini buat misi, bukan buat dengerin ceramah soal krisis paruh baya dari lo," balas Arkan ketus, meski telinganya sedikit memerah karena kesal.
"Tapi lo kelihatan cocok banget kok jadi anak SMA," Naura mencolek dagu Arkan dengan berani, membuat Arkan refleks mundur hingga kepalanya terantuk jendela. "Mungkin karena jiwa lo yang emang masih emosian kayak bocah. So cute."
Arkan mendengus, mencoba kembali ke mode 'Kulkas Berjalan' nya. Ia memasang earphone ke telinganya untuk memutus komunikasi, namun Naura dengan cepat menarik salah satu earphone tersebut dan memasangnya di telinganya sendiri.
"Lagu apa nih? Jangan bilang lagu galau karena cemburu sama Kak Gibran?"
Arkan hanya bisa pasrah. Perjalanan menuju Gunung Salak masih jauh, dan ia sadar bahwa menghadapi Naura jauh lebih melelahkan daripada menghadapi musuh di medan tempur mana pun.