Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Menuju kamar mayat
Deru mesin monitor dan bisik langkah terdengar samar di lorong informasi, menyatu dengan ritme sibuk perawat yang berlari dari satu pasien ke pasien lain. Lampu neon berkelip lembut, memantulkan kilau dingin di lantai keramik yang tampak tak pernah tidur.
“Pasien kamar 203 membutuhkan tambahan darah, segera!” seru seorang perawat senior dari persimpangan lorong, suaranya tegas memotong kegaduhan.
Dua mahasiswa residensi langsung meloncat dari kursi, menyingkirkan ragu, lalu berlari menuju ruang penyimpanan darah dengan langkah tergesa. Sepatu mereka menggesek lantai, meninggalkan gema yang menguap di udara malam.
Di antara hiruk-pikuk itu, seorang gadis melangkah pelan, seolah setiap gerak menelan tenaga. Victoria berjalan sendiri, tangan kecilnya menggenggam kantong belanjaan yang bergoyang pelan. Mata yang biasanya cerah kini redup; pandangannya terfokus pada jejak langkah di bawah sepatu, seperti sedang menimbang kembali sesuatu yang tak sanggup diucapkan.
Angin dari ventilasi menyapu rambutnya, membawa aroma antiseptik bercampur wangi kopi dari pantry yang tertutup rapat. Di dada, ada rasa berat yang mengeras, bukan hanya lelah fisik, melainkan beban tuduhan yang belum sempat ia jawab.
Bibirnya bergetar halus, seolah menahan tangis yang hendak tumpah. “Apa salahku?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi monitor.
Tiba-tiba, dua sosok yang dikenalnya muncul dari balik tikungan, menyambut dengan langkah ceria yang berlawanan dengan suasana hatinya. Katrina dan Olivia, teman seangkatan dan seniornya di residency, menghampiri dengan senyum yang semula ramah.
Mereka merangkul Victoria dari belakang; keakraban itu semestinya menghangatkan, tapi kali ini terasa canggung.
“Baru sampai? Gimana kencanmu sama Tuan Rico?” goda Olivia, nada suaranya ringan, lagi-lagi mencoba mencairkan suasana.
Namun tatapan Victoria tidak membalas canda itu, membuat raut wajah kedua sahabatnya berubah bingung. Mereka berhenti di kursi tunggu IGD, lalu duduk berdekatan, menunggu penjelasan yang tak kunjung datang.
“Victoria, kau terlihat… ada apa? Ceritakan padaku.” Katrina menatap penuh perhatian, jemarinya meraih lengan junior itu dengan lembut, seperti ingin menariknya keluar dari kabut kekhawatiran.
Saat Katrina menyentuh lengan baju, kain itu tersingkap sedikit, memperlihatkan perban putih yang melilit di bawah siku, kontras dengan kerapian seragamnya. Mata Katrina membulat, Olivia segera mencondongkan tubuh, wajahnya menunjukkan campuran cemas dan keterkejutan.
“Tanganmu kenapa?” tanya Olivia, suaranya tiba-tiba menajam. Ia meraih kantong belanjaan Victoria dan memegangnya erat, seolah memastikan barang bawaan itu nyata dan bukan ilusi.
Victoria menelan ludah, menahan suasana yang menekan. Ia duduk pelan, menarik napas panjang, berusaha memaksa senyum yang rapuh menghiasi wajahnya.
“Aku jatuh,” jawabnya, suaranya halus namun datar, sebuah kebohongan kecil yang dibungkus malu.
Dengan gerak refleks, ia menutup perban menggunakan lipatan lengan bajunya, seolah ingin menyembunyikan bukti ketidakberdayaannya.
Kedua senior itu saling berpandangan, mencari celah untuk menanyakan lebih lanjut. Olivia, yang tak mudah percaya, mengerutkan kening. “Jatuh? Di mana? Kau benar-benar pergi sama Tuan Rico? Dia biasanya nggak pernah ngajak kau keluar pake ambulans, kan…” ucapnya, nada berubah menjadi lebih ingin tahu, sedikit mengusik.
Sementara itu Katrina masih menatap Victoria dengan prihatin, seakan berusaha membedah ketulusan di balik kata-kata itu.
Di ruang tunggu yang remang, suara monitor dan bisik staf terus berdengung, menutup klaim-klaim yang tak terucap. Victoria menekukkan jari, merasakan kertas kantong belanja menggurat di telapak, sebuah pegangan kecil yang menemaninya saat ia menelan rasa bersalah tanpa daya.
“...aku tidak tahu kenapa… sudahlah… aku mau ke kamar jenazah… ada urusan yang harus aku selesaikan…” suara Victoria terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang tidak ingin ia dengar sendiri.
Ia berdiri perlahan, meraih kantung belanjaan di kursi, dan melangkah pergi dengan punggung tegak, meski sorot matanya terlihat begitu rapuh.
Olivia dan Katerina spontan berdiri, tidak rela membiarkannya berjalan sendirian. Keduanya mengikuti dari belakang, langkah mereka terseret seiring gema pelan sepatu yang membentur lantai rumah sakit. Lorong panjang itu diterangi lampu neon pucat, dingin, dan sunyi, hanya sesekali dilintasi bayangan perawat yang bergegas.
“Kita harus gimana?” bisik Olivia dengan nada resah, kepalanya sedikit menunduk saat ia berjalan mendekat ke sisi Katerina. Matanya terus mengamati Victoria yang hanya menatap lurus ke depan tanpa sepatah kata pun.
Katerina menghela napas kasar, menahan amarah yang sebenarnya bercampur rasa khawatir. “Aku tidak tahu. Jangan tanya aku, bodoh!” ucapnya ketus, disertai kepalan tangan yang nyaris melayang ke lengan Olivia.
Untungnya Olivia sempat menghindar dengan senyum kikuk yang berusaha mencairkan suasana. “Ya ampun, kamu galak banget sih.”
“Jelas aku galak! Coba kau bayangkan punya teman yang modelnya sepertimu, tidak tahu apa-apa tapi cerewet!” Katerina mendengus, namun dalam tatapannya jelas ada ketakutan yang coba ia tutupi dengan kemarahan.
Ketiganya terus melangkah menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Suasana semakin sepi, hampir tidak ada orang lain yang melintas. Lampu di beberapa titik lorong meredup, menambah kesan menyeramkan. Bau antiseptik bercampur dengan udara lembap memenuhi indera penciuman mereka. Olivia merasakan bulu kuduknya perlahan meremang, seakan udara yang mereka hirup menyimpan bisikan tak kasat mata.
Lorong menuju kamar jenazah semakin panjang, sunyi, dan asing. Bunyi langkah kaki mereka seperti gema yang berulang tanpa henti, memantul di dinding yang berwarna kusam. Olivia menelan ludah, sesekali melirik Katerina yang meski terlihat tegas, juga tampak sedikit gelisah.
Akhirnya, mereka sampai di depan sebuah pintu besi abu-abu dengan tulisan jelas *KAMAR JENAZAH*. Cat di permukaan pintu mulai terkelupas, dan gagangnya terasa dingin bahkan sebelum disentuh. Victoria, tanpa ragu, meraih kenop pintu itu. Bunyi gesekan logam terdengar berat, sebelum pintu terbuka perlahan.
Seketika udara dingin menyambut, menusuk kulit seperti embusan angin dari ruang kosong yang tak berpenghuni.
Olivia spontan memeluk dirinya sendiri, tubuhnya bergetar. “Aku… aku nggak mau ikut masuk,” gumamnya dengan suara bergetar, ketakutan jelas terdengar dalam nada bicaranya.
“Dasar pengecut,” ejek Katerina, berusaha menutupi rasa takutnya dengan nada sinis.
Namun Victoria tidak menggubris. Ia melangkah masuk dengan langkah tenang, seakan sudah terbiasa. Bagi dirinya, memasuki kamar jenazah bukanlah hal baru; beberapa kali ia pernah datang untuk meninggalkan pita sebagai bentuk penghormatan. Wajahnya tidak lagi memperlihatkan kegelisahan, melainkan ketenangan yang justru membuat Olivia dan Katerina merasa semakin cemas.
“Kalian tunggu saja di luar, aku cuma sebentar,” ucap Victoria lirih. Suaranya bergema pelan, merayap di udara dingin ruangan itu, lalu hilang ditelan kesunyian.
Olivia dan Katerina hanya bisa berdiri kaku di ambang pintu, saling bertukar pandang, tidak tahu harus menahan atau membiarkannya.
Pintu perlahan berderit, sebelum akhirnya menutup dengan sendirinya.