Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermalam bersama
Bryuurrr...
Selir Yu bangkit dari dalam bak mandi yang penuh bunga dan rempah wewangian. Gaun dalam tembus pandang berwarna merah mawar. Memperlihatkan setiap bagian tubuh indahnya.
Rambut panjang tergerainya melekat di punggung yang ramping dan halus.
Salah satu kakinya melangkah keluar dari bak mandi lebih dulu. Baru setelah itu kaki satunya lagi.
Dia melihat kearah luar. Siluet para pelayannya masih ada di sana tidak pergi meski hanya sedetik saja.
"Kita coba cara lain saja," gumam wanita itu.
Bruukkk...
"Aaaa..."
Jeritan dari dalam kamar mandi membuat para pelayan bergegas datang.
"Selir Yu."
Di saat para pelayan datang. Selir Yu telah berada di lantai dengan lutut lecet dan mulai memperlihatkan lebam.
Dengan hati-hati Selir Yu di papah menuju ke ruangan kamar utama. "Isisss..." Desis wanita itu merasakan sakit pada kakinya. Tidak butuh waktu lama, pergelangan kakinya terdapat lebam yang cukup jelas. "Aaaa... Sakit." Dia di dudukkan di kursi ruangan tengah.
Pelayan Guyi mengambil obat untuk memijat lembut kaki yang terkilir. Sedangkan Pelayan Nuan Nuan mengambilkan selimut baru yang jauh lebih hangat.
"Selir Yu, lebih baik anda memakai gaun baru lebih dulu. Agar tidak masuk angin," ujar Nuan Nuan. Memberikan gaun yang tertata rapi di tempat khusus yang ia bawa.
Gaun baru itu memiliki warna bunga teratai dengan dua gradasi merah muda dan putih. Warna merah muda lebih dominan menyatu sempurna dalam satu jahitan.
"Baik, tolong bantu aku." Selir Yu melepaskan gaun yang telah basah dari tubuhnya.
"Baik." Pelayan Nuan Nuan membantu Selir Yu berbenah. Setelah selesai dia membawa gaun basah itu keluar ruangan.
Pelayan Guyi yang masih memijat pelan berusaha sehati-hati mungkin. Dia takut akan membuat luka lebih parah lagi. "Kaki anda telah bengkak. Malam ini anda tidak mungkin lagi bisa pergi ke tempat Yang Mulia."
Selir Yu mengangguk dengan wajah sedih. Namun hatinya tentu saja menjerit penuh kebahagiaan. 'Memang itu yang aku inginkan.'
"Saya akan meminta pelayan lain memanggilkan tabib istana untuk memeriksa keadaan anda. Jangan sampai luka ini semakin parah." Meletakkan perlahan kaki Selir Yu di lantai. Pelayan Guyi berdiri.
"Luka ini akan sembuh setelah beristirahat beberapa waktu. Tidak perlu merepotkan tabib istana," ujar Selir Yu.
"Apa yang anda katakan. Keberadaan tabib istana tentu saja untuk membantu mengobati luka dan penyakit. Sekarang kaki anda sudah bengkak cukup parah. Harus segera mendapatkan perawatan dari tabib. Agar tidak meninggalkan rasa sakit di lain hari," kata Pelayan Guyi. Yang langsung memberikan bantahan.
Wanita yang masih duduk itu tidak lagi dapat membantah.
Pelayan Guyi keluar dari ruangan kamar. "Mu Huan, panggilkan tabib istana untuk memeriksa keadaan Selir Yu."
"Baik." Salah satu pelayan wanita melangkah pergi setelah mendapatkan perintah dari pelayan utama di halaman taman Lili.
Selang tiga puluh menit, tabib istana datang memenuhi panggilan Selir Yu. Pria dengan jenggot panjang berwarna putih itu memulai pemeriksaannya.
Saat itu Selir Yu juga telah beristirahat di atas tempat tidur dengan kelambu tertutup rapat. Hanya kaki yang terluka saja di perlihatkan pada tabib istana. Kaki itu hanya keluar kurang dari satu menit. Setelah itu di tarik kembali masuk ke dalam kelambu.
"Untung saja, tidak melukai tulang. Dengan meminum obat dan memberikan obat oles beberapa hari kedepan. Lebam dan rasa sakit anda pasti akan sembuh." Tabib istana menuliskan resep obat yang di butuhkan. Setelah selesai dia memberikan selembar kertas di tangannya kepada pelayan Guyi.
Tabib istana bangkit lalu memberikan hormatnya kepada Selir Yu. Dia pergi di antar pelayan wanita lain.
"Guyi, kirimkan pesan kepada Yang Mulia. Selir yang malang ini tidak lagi bisa bermalam dengannya." Selir Yu menghapus air mata yang tidak pernah ia keluarkan. Wajahnya justru terlihat lebih cerah juga penuh semangat.
"Baik."
Baru saja Pelayan Guyi membuka pintu kamar. Kasim kepala Gu sudah ada di hadapannya bersama sepuluh pelayan wanita dari istana timur.
"Baru saja Yang Mulia mendengar jika Selir Yu jatuh di kamar mandi. Sehingga meminta saya untuk datang memberikan kabar kepada anda," ujar Kasim kepala Gu.
Dari balik kelambu yang tertutup rapat. Selir Yu berkata dengan nada penuh kesedihan juga penyesalan. "Kasim Gu, saya dapat menerimanya jika Yang Mulia memutuskan untuk bermalam dengan Selir lain. Karena kelalaian ku sendiri. Kesempatan emas ini harus terlewatkan begitu saja."
Kasim kepala Gu tertawa kecil mendengar ucapan wanita di balik kelambu. "Selir Yu, Yang Mulia sangat menyayangi anda. Saya di perintahkan datang untuk menjemput anda pergi ke istana timur." Menatap ke arah halaman. "Siapkan tandunya."
"Baik."
Satu lambaian tangan Kasim kepala Gu membuat sepuluh pelayan wanita bergerak. Mereka masuk ke dalam ruangan kamar Selir Yu.
"Aku sudah seperti ini. Apa aku harus melayaninya juga." Wanita di atas tempat tidur mencoba melarikan diri. Tapi dia tidak mampu bangkit dari tempat tidurnya.
Sepuluh pelayan wanita mendekatinya. Tanpa aba-aba tubuhnya langsung di buntal dengan selimut tebal.
"Ini? Apa yang kalian lakukan?" Selir Yu mencoba memberontak.
"Selir Yu, Yang Mulia juga memberikan pesan lain. Hanya yang Mulia yang bisa melihat tubuh indah anda," teriak Kasim kepala Gu dari ambang pintu kamar.
"Pria gila itu sangat menyebalkan..." Selir Yu bertariak frustasi.
Dengan perlahan tubuhnya di angkat para pelayan wanita dari istana timur.
"Selir Yu." Pelayan Guyi menatap iba.
"Guyi, tolong selamatkan aku." Selir Yu mencoba meraih tangan Guyi. Namun dia di hadang salah satu pelayan dari istana timur. Yang bisa wanita itu lakukan hanya pasrah menerima keadaan.
"Berangkat," ujar Kasim kepala Gu memberikan perintah setelah Selir Yu duduk manis di atas tandu yang ia siapkan.
Enam pria bertubuh kekar mengangkat tandu itu.
"Waa... Aaa..." Selir Yu langsung berpegangan karena takut jatuh dari atas tandu yang mulai bergoyang. Setiap langkah para pria di bawahnya. Membuat goyangan yang cukup membuat jantungnya berdegup kencang.
Sesuai arahan dari Kasim kepala Gu. Selir Yu di arahkan menuju istana timur. Tempat Kaisar Xiao Chen beristirahat. Setelah di sibukkan dengan kekacauan di istana karena ulah Selir Yu.
"Berhenti." Kasim kepala Gu mengangkat tangan kanannya. Sebagai isyarat untuk menghentikan rombongan. "Letakkan tandu dengan perlahan. Setelah tugas ini beres, kalian bisa pergi melakukan tugas masing-masing."
"Baik," jawab serentak semua pelayan istana.
Setelah tandu di letakkan, Selir Yu di angkat kembali masuk ke dalam kamar Kaisar Xiao Chen. Wanita itu di tempatkan di atas tempat tidur yang sangat lembut.
Tirai yang hampir menutupi sebagian ruangan di samping kanan terbuka perlahan. Dari sana Kaisar Xiao Chen keluar dengan jubah emasnya.
Satu lambaian tangan membuat perintah tegas untuk semua bawahannya. Agar mereka segera pergi dari ruangan kamar itu.
Sebelum pergi para pelayan memberikan hormat mereka.
Pintu kamar di tutup rapat.
Kini, hanya tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan kamar.
Lilin-lilin menyala cukup terang dengan tatanan yang rapi pada setiap sudut ruangan.
Penahan rambut di lepas. Rambut hitam pekat dan panjang tergerai indah di punggung Kaisar Xiao Chen. Tanpa alas kaki pria itu melangkah cukup pelan. Di setiap langkah yang ia lakukan membuat wanita di atas tempat tidur terpana.
'Situasi seperti ini seperti cuplikan adegan drama kolosal yang aku idamkan.'
Jubah luar Kaisar Xiao Chen di lepaskan begitu saja.
'Apa yang dia lakukan. Tunggu, kenapa tubuh ku tidak bisa di gerakkan. Mata ku tidak bisa berpaling. Aaa... Dia sungguh sangat sempurna.'
Setiap pergerakan yang di lakukan pria itu. Membuat wanita di atas tempat tidur menjerit dalam batinnya.
Setiap lapisan jubah di lepaskan. Hingga hanya menyisakan lapisan dalam dari jubah yang tembus pandang. Tubuh kekar yang mengairahkan itu menyembul tanpa penutup.
'Satu, dua tiga, empat, lima, enam. Enam otot dada. Jantung ku.' Selir Yu memegang dadanya. Yang semakin berdenyut kuat. 'Dia terlalu menggoda.' Bibir bawahnya di gigit.
Di saat Kaisar Xiao Chen berhenti tepat di hadapan Selir Yu. Wanita itu justru seperti serigala lapar yang langsung menyerbu mangsanya. Namun belum sempat tubuh wanita itu menyentuh pria di depannya.
Tubuhnya di dorong kuat menuju tempat tidur kembali. Tatapan matanya berubah penuh perlawanan.
Sedangkan Kaisar Xiao Chen berdiri tegap menatap tanpa rasa hangat. Senyuman penuh ejekan terlihat kembali di wajah tampannya. "Apa tubuh ku seperti ikan. Sehingga kau menjadi begitu bernafsu."
"Aku kucing yang ingin mengigit mati diri mu," ujar Selir Yu duduk dengan menatap penuh dendam kearah pria di depannya.
"Kau seperti bunglon bisa berganti wajah setiap saat," ujar Kaisar Xiao Chen dengan menyeringai.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana