Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikembalikan
Geraman bergemuruh pada diri Dirga saat untuk ke tiga puluh sembilan kalinya Hita tak mengangkat panggilannya.
Kenyataan sebelumnya sudah membuatnya teramat membenci perempuan itu, dan sekarang dia berlagak kurang ajar dengan tidak mengangkat panggilannya walaupun jelas-jelas tertera di layar dengan kata 'Berdering'
Hita sengaja. Perempuan itu sengaja tak mengangkat panggilannya.
Dirga melempar kesal ponselnya ke samping, tak peduli jika benda itu akan mati, rusak, atau sebagai macamnya. Rasa kesalnya mendominasi, dan dia tak terima diperlakukan seperti ini.
Orang-oranglah yang biasanya ia abaikan, bukan sebaliknya.
Tapi Hita berbeda. Perempuan itu membalikkan keadaan. Menginjak harga dirinya.
"Dasar wanita tidak tau diri," desis Dirga, tangannya mencengkram tepian saat matanya terfokus pada interaksi di ruang tamu.
Loria telah kembali. Itu adalah inti dari segalanya.
Dari lantai dua Dirga memperhatikan bagaimana Loria disambut kembali oleh keluarganya, dipertanyakan kenapa ia pergi begitu tiba-tiba. Selalu. Loria selalu di terima di sini. Dan hingga saat ini Dirga tak menyangka bahwa Loria benar-benar kembali untuknya.
Perempuan cantik yang telah dicintai dengan begitu hebatnya, memiliki kecantikan luar biasa dan pesona yang tak kalah bersinar. Tapi entah kenapa Dirga tak terlalu bersemangat untuk nyambut kedatangan wanita itu kembali. Tidak seperti ambisinya saat pertama kali Loria dikabarkan menghilang.
Apakah ini karena Loria yang kabur dengan pria lain? Atau malah hatinya sendiri yang tanpa sadar telah berpaling?
Sepertinya opsi kedua mustahil.
Dirga merasa semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan sangat mengejutkan. Saat Dirga sedang benar-benar tak habis pikir dengan rekaman CCTV ruang tamu itu, tiba-tiba Lian menelpon dan mengabari bahwa wanita yang sangat dicintainya kini berada di rumah. Loria. Dia tiba-tiba datang.
Semuanya bahagia, termasuk juga dengan Dirga. Tapi entah mengapa Dirga merasa pikirannya mulai terganggu akan satu hal—Pramahita.
Entah kemana perginya perempuan itu saat ia mengusirnya dari kantor tadi.
"Hita!"
Seruan Loria terdengar, gaun tipis nan pendeknya berkibar di sekitar paha saat berhambur memeluk sosok yang baru datang. Sosok yang baru saja Dirga pikirkan—Istri penggantinya.
Sejenak pandangan Dirga hanya terfokus pada Loria sebelum pemandangan di seberang perempuan itu membuatnya semakin membara.
Buku-buku jari berubah memutih, gigi-gigi menggertak, dan rahang mengetat. Kekesalan bercampur amarah kini sudah berada di puncak saat Dirga menatap siapa yang baru saja datang.
Di sana, tepat saat pintu ruang tamu terbuka, Dirga melihat Pramahita muncul tepat di belakang Bram seakan-akan kakaknya itu adalah perisainya.
Bram. Kakak laki-lakinya itu lagi.
Ini jelas bukan kekesalan biasa. Tapi rasa posesif terlarang yang tak pernah diharapkan untuk tumbuh. Dirga telah kecolongan.
...****************...
"Hita!"
Seruan itu membuat Hita membeku. Tubuhnya yang bersembunyi di balik sosok Bram yang tinggi langsung diserang dengan sebuah pelukan mendadak. Pelukan asing. Pelukan sandiwara.
Wanita itu—Loria—adalah sosok yang sudah cukup lama telah tak ia jumpai. Terakhir kali, seingat Hita kakak tirinya itu mengutuknya dengan kata-kata kasar yang begitu menyakiti hati. Tapi tak mungkin rasanya beberapa saat menghilang kini kebusukan wanita itu ikut menghilang.
Ragu-ragu Hita menggerakkan tangannya melingkari tubuh Loria, membalas pelukan asing tak tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Bahkan sepertinya Hita tau bahwa jika tak berada di hadapan keluarga Martadinata, ia tak akan mendapatkan pelukan ini.
"Hita..." Loria melepaskan pelukan, tangannya menyentuh bahu Hita dan menatap perempuan itu dengan tatapan haru. "Aku sangat merindukanmu... Bagaimana kabarmu di sini? Maafkan aku, karena aku kau harus mengorbankan diri seperti ini..."
"Aku baik-baik saja, kak." Hita tersenyum, mengangguk pelan. "Kakak tidak perlu minta maaf, sekarang kakak sudah kembali."
Hita kembali membeku saat Loria memeluknya sekali lagi. Tangannya mengelus punggung Hita dengan gerakan menenangkan yang tampak meyakinkan, namun tidak untuk Hita yang merasakannya. Pelukan itu sesak, seperti ancaman.
"Astaga... kau ini benar-benar adikku yang sangat aku sayangi," ucap Loria dengan dagu bertumpu di bahu adik tirinya. Setiap hembusan napasnya di kulit Hita seperti pisau yang menyayat. "Tolong maafkan aku, kau harus menggantikanku menikah dengan Dirga hanya karena kebodohan penggemar Dirga yang konyol."
Secara tidak langsung, Loria telah menjelaskan singkat alasan kepergiannya.
Kebodohan penggemar Dirga?
"Memangnya apa yang penggemar kak Dirga lakukan pada kakak?" tanya Hita, perlahan-lahan melepaskan pelukan. Matanya mengamati ke sekeliling ruang tamu, menatap seluruh anggota keluarga yang berkumpul di sana.
Loria sepertinya sangat disambut kedatangannya.
Tapi kenapa Hita merasa seperti ini? Kenapa dia malah merasa... sedih?
"Salah satu penggemar fanatik Dirga menculiknya," jelas Nadia yang bangkit dari sofa. "Dirga dan Loria kan cukup terkenal di media, jadi itu bisa saja terjadi. Kita tidak tau apa yang dipikirkan oleh orang-orang diluar sana saat pernikahan Loria dan Dirga akan dilaksanakan dengan sangat mewah. Kita tidak tau bagaimana orang-orang merasa iri dan dengki, Hita."
Hita mengangguk, tersenyum lembut saat Nadia mengelus rambutnya dengan kasih sayang. Tapi jelas tak ada yang mengamati bagaimana mata Loria memincing tajam sebelum berubah kembali menjadi binar polos yang manis.
"Itu benar, Ma." Terdengar sengaja Loria menekankan panggilannya 'Ma' yang ia tunjukan pada Nadia. "Kita tidak tau bagaimana perasaan seseorang sebenarnya. Mereka bisa saja turut bahagia, dan ada juga yang justru iri dan membenci."
Nadia mengangguk setuju.
"Sepertinya ini sudah saatnya mengambil keputusan."
Suara itu adalah milik Dirga. Sosok mengesankan dari putra kedua Nathan dan Nadia itu mengalihkan seluruh pandangan. Sosoknya menuruni anak tangga dengan gerakan terukur yang seperti sudah terencana. Setelan jas kantor rapi memeluk tubuh dengan begitu pas.
"Dirga." Loria tersenyum, dengan langkah ringan dia menghampiri Dirga dan memberikan pelukan mesra.
Hita melihatnya langsung saat Dirga membalas pelukan itu. Mata Dirga menatapnya dengan tatapan membakar.
"Keputusan apa sekiranya yang kau maksud, adikku?"
Seakan-akan menyadari ketegangan itu, Bram bergeser menutupi Hita dari pandangan Dirga. tatapannya tak kalah tajam. Entah mengapa Bram merasa ada yang tak beres di sini.
Setelah melihat Nathan dan Nadia bersebelahan, atensinya beralih pada Baskara, Lian, dan Wisnu yang berjejer diam. Mereka cukup tutup mulut, apalagi Lian yang biasanya tak tau apa itu diam. Ini jelas memicu kecurigaan.
Saat di udara tatapan Bram kembali bertemu dengan Dirga, berderak permusuhan diam-diam yang entah disadari oleh apa. Tapi Bram tau bahwa tatapan adiknya itu bukanlah tatapan perdamaian.
"Keputusan yang sudah kita semua sepakati," ujar Dirga, tangannya melingkari pinggang Loria dengan erat. "Perjanjian yang aku buat dengan Ayah Arseno mengenai pernikahan ini."
Hening. Ruang tamu itu sungguh hampa tanpa suara.
"Perjanjian?" Nathan menaikan sebelah alisnya.
Dirga mengangguk. "Perjanjian," ulangnya. "Perjanjian tentang aku yang akan mengembalikan semuanya pada tempat asalnya saat aku mendapatkan apa yang menjadi milikku."
Loria menatap Dirga, begitupun dengan laki-laki itu yang balas menatapnya. "Loria telah kembali," bisiknya, menempelkan dahinya dengan dahi Loria. "Dan aku akan mengembalikan penggantinya ke tempat semula," tegasnya mengumumkan. Sekaligus menyakiti.
Hita. Jika saja perempuan itu bisa tertawa getir sekarang, pasti sudah dia lakukan. Ia sudah seperti sebuah barang. Sebuah jaminan. Sesuatu yang tak berharga. Saat berlian kembali, maka ia kan dibuang seperti rongsok tak berguna.
Dirga begitu puas saat melihat Hita yang sedikit melemas, terlihat sekali menahan pukulan non fisik yang telah dia berikan. Dengan itu, dia semakin gencar menyakiti :
"Dengan itu, maka aku akan mengembalikan Pramahita kepada keluarga Wijaya."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga