NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Berbeda

Berhubung akan bertemu Bara, Rania menghabiskan sisa waktu paginya dengan memilih pakaian yang cocok, merawat diri, dan berdandan dengan teliti.

Setengah jam sebelum pertemuan, dia sudah tiba di salah satu restoran favorit mereka—tempat yang dulu sering mereka jadikan lokasi nongkrong. Rania mengenakan gaun merah darah berleher Sabrina yang menonjolkan bahunya.

Rambut panjang bergelombangnya disanggul agak tinggi, sengaja memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kulit putih susunya membuat gaun merah itu tampak semakin mencolok di antara pengunjung lain.

Danny dan Revo yang baru saja melangkah masuk ke restoran langsung mengenali Rania.

"Kayak mau datang ke pesta," gumam Danny.

Revo berhenti sesaat, menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

"Terlalu niat," ujarnya singkat.

Danny menoleh cepat. "Tumben. Langsung ngerti maksud dan tujuan Rania."

"Berisik," balas Revo sambil melangkah tegap ke depan, tatapannya lurus dan dingin.

"Padahal tadi ikut komentar," gumam Danny menyusul.

Rania berdiri saat melihat Revo datang. Ia melambai dengan anggun, berusaha mempertahankan sikap elegan seperti dulu, saat mereka masih sering bersama.

"Hai, Bara!" sapanya ceria.

Rania hendak memeluk dan mencium pipi pria itu—kebiasaan lama yang seolah tak ingin ia lepaskan. Namun Revo menghindar.

Ia mengangkat tangan kirinya—perlahan, jelas, tanpa tergesa.

Kilau berlian emas putih di jari manisnya memantul tepat ke mata Rania.

Revo tidak tersenyum. Tidak pula menjelaskan. Seolah cincin itu sudah cukup bicara.

"Oh…" suara Rania sedikit tertahan. "Aku lupa. Sorry."

"Jangan dibiasakan," jawab Revo singkat. Nada suaranya tenang, tapi dingin. Ia langsung duduk tanpa menunggu reaksi lebih jauh.

Danny hampir tertawa. K.O. satu ronde.

"Hai, Danny," sapa Rania kemudian, kembali memasang senyum terbaiknya.

Danny membalas senyum singkat sebelum duduk di samping Revo. Dari dulu sampai sekarang, ia tak pernah memberi celah pada perempuan mana pun untuk mendekati sahabatnya—terlebih setelah Revo menikah.

Lucu, batinnya. Dulu kabur waktu dijodohkan. Sekarang muncul pas statusnya sudah milik orang.

Rania selalu begitu. Hangat pada Revo, sopan sekadarnya pada Danny.

Secara tak langsung, ia ingin menunjukkan bahwa hatinya hanya untuk Revo. Danny harus tahu diri agar tidak salah paham. Meski pria itu sudah bertunangan, siapa yang bisa menjamin perasaan manusia?

Sayangnya, dunia tidak lagi berjalan sesuai skenario Rania.

Senyum aja terus, pikir Danny santai tapi tajam. Nikmatin selagi bisa. Karena orang yang datang terlambat cuma punya dua pilihan—jadi penonton… atau jadi bahan penyesalan.

Bukan Danny namanya kalau tak mencari tahu lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Apalagi melihat tingkah Rania yang terasa janggal—kabur saat dijodohkan, lalu muncul kembali tepat setelah Revo menikah.

Danny yakin, Rania menyesal. Ia pergi tanpa pernah tahu siapa calon suaminya. Seandainya sejak awal dia tahu bahwa Revo-lah orang itu, perjodohan tersebut pasti akan ia terima dengan senang hati.Bahkan mungkin—dia bakal lompat kegirangan. Salto. Dua kali.

"Well, selamat ya, Bara, atas pernikahannya," ucap Rania sambil tersenyum.

Padahal di dalam hatinya, umpatan berjejal tanpa jeda. Tidak pernah terlintas di benaknya harus mengucapkan selamat pada pria yang seharusnya—menurut versinya—menjadi miliknya.

"Thanks," jawab Revo singkat. Bibirnya terangkat tipis, lebih sebagai formalitas daripada keramahan.

"Revo," ujarnya menyusul.

Satu kata itu membuat Rania terdiam.

Senyumnya tertahan di udara, kaku. Mata itu sedikit membesar sebelum akhirnya ia menunduk, berusaha menguasai ekspresi yang gagal disembunyikan kali ini.

Danny nyaris tertawa.

Kena.

Ini bukan K.O. lagi, batinnya puas. Ini sudah skakmat.

Rania ingin bertanya, tapi dia tahu Bara tidak suka bantahan.

Setelah itu, meja mereka tenggelam dalam keheningan yang janggal.

Rania tersenyum, tapi kini senyum itu terasa terlalu lama dipertahankan—seolah jika dilepas, sesuatu akan runtuh. Ia meraih gelasnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali tanpa benar-benar meminumnya.

Revo duduk tegak, bahunya tetap lurus. Tatapannya sesekali jatuh ke ponsel, lebih sebagai penanda jarak daripada ketertarikan. Tidak ada usaha mencairkan suasana. Tidak juga kebutuhan.

Danny memperhatikan semuanya sambil menahan senyum.

Rania berdehem pelan. "Candy… baik?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit terlalu cepat.

Revo mengangguk singkat. "Baik."

Rania mengangguk pelan. "Bagus. Aku ingin sekali bertemu dengannya."

"Candy sibuk meladeni Mami," jawab Revo singkat, tanpa menatap Rania.

"Oh," gumam Rania.

Sunyi kembali menyelinap di antara mereka.

"Mungkin lain kali aku bisa menemuinya," ucap Rania, jelas tak ingin kehabisan jalan.

"Candy super sibuk," balas Revo cepat. Kali ini nadanya tegas, nyaris menutup pembahasan.

"Uhuk… uhuk!" Danny terbatuk, nyaris tersedak oleh percakapan paling hemat kata yang pernah ia dengar.

Ia meraih selembar tisu, lalu mengangkat satu tangan ke udara. "Maaf," katanya ringan. "Silakan dilanjutkan."

Danny melirik jam tangannya. "Aku pesan minum dulu, ya."

"Tidak usah," potong Revo segera. "Kita masih ada janji dengan klien."

Mata Danny membulat. "Ka—"

"Setengah jam lagi kita harus sudah sampai," lanjut Revo tanpa memberi celah.

Rania buru-buru menyela, "Sebenarnya aku sudah memesan minum untuk kalian. Sebentar lagi juga datang."

Revo hanya mengangguk tipis. Tidak menolak, tapi juga tidak tampak berniat menunggu.

Dalam hitungan menit, seorang pelayan wanita datang dengan membawa pesanan mereka.

"Kopi hitam tanpa gula dan lemon tea," ujar Rania dengan nada tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

"Wah, masih ingat aja, Ran!" seru Danny spontan.

"Tentu saja," ucapnya lembut, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

Danny langsung meraih gelas lemon tea. Tenggorokannya memang sudah kering sejak tadi, tapi ia sadar—minuman itu bukan sekadar pelepas dahaga.

Revo tidak menyentuh kopinya.

Ia justru berdiri lebih dulu. Gerakannya tenang, rapi, tanpa tergesa—seolah keputusan itu sudah final sejak awal.

"Kami harus jalan," ujarnya singkat. "Terima kasih sudah meluangkan waktu."

Formal.

Jaraknya jelas.

Rania ikut berdiri. Senyum masih terukir di wajahnya, tapi kini tampak rapuh. Ujung bibirnya sedikit bergetar sebelum akhirnya kembali terkunci.

"Iya… sama-sama," balasnya pelan.

Tangannya mencengkeram tali tas lebih erat dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, keanggunannya terlihat dipaksakan.

"Astaga, baru juga minum," gerutu Danny pelan.

Namun karena Revo sudah berdiri, mau tidak mau ia harus merelakan lemon tea itu. Danny segera bangkit dan memberi jalan.

Revo mengangguk singkat sebagai tanda pamit, tanpa senyum, lalu melangkah menjauh dari meja mereka. Danny menyusul di belakang.

"Bara!" panggil Rania.

Revo tidak menoleh.

"Revo!" suara Rania meninggi, nyaris terdengar putus asa.

Kali ini Revo berhenti. Ia menoleh sekilas—hanya sekilas.

"Aku harap kita bisa berkumpul lagi lain waktu," ujar Rania cepat, seolah takut kesempatan itu lenyap.

Wajah Revo tetap datar. Tidak ada persetujuan. Tidak pula penolakan.

Ia hanya mengangguk tipis sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Rania terduduk kembali. Dadanya terasa sesak. Ada teriakan yang ingin keluar, tapi tertahan oleh sisa harga diri yang masih ia genggam.

Ia menunggu beberapa saat, sampai mobil Revo benar-benar menghilang dari pandangan.

Lalu, dengan gerakan sigap dan wajah tertutup rapi, Rania bangkit dan meninggalkan restoran itu—tanpa menoleh sekali pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!