NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 Karet dan Cabai

Bangun pagi di rumah terasa lebih berat, ketimbang saat masih bekerja di kota. Hati was-was karena bapak dan juga rumah yang membawa nostalgia, membuat hatiku campur aduk.

Dari jendela dapat aku lihat kalau di luar masih gelap, namun ibu dan bapak telah mulai beraktivitas.

Bapak sedang mandi, suara guyurannya kasar khas bapak-bapak. Sedangkan ibu sedang menghangatkan sayur sisa semalam, sambil menggoreng teri.

Aku hampiri ibu dengan mata sayu, melirik wajan dari balik tubuhnya. "Lah bu? Ikannya kan udah mateng, kok masih di siram pake minyak panas?"

Ibu tersenyum, memamerkan resep rahasianya. "Ini minyaknya udah Ibu campur gula pasir. Biar agak manis, sama tambah garing." Ungkap ibu yang memasak dengan satu tangan, sementara tangan kirinya ia sandarkan di pinggul.

Oh iya, ibu pernah menceritakan resep ini dulu. Terlalu lama merantau, aku jadi lupa akan kebiasaan ibuku yang mampu membuat masakan sederhana menjadi luar biasa.

Sarapan di meja makan terasa canggung, walaupun ibu terus bertanya tentang pengalamanku di kota, namun bapak tidak sekalipun terlihat tertarik dengan ceritaku.

Usai makan, bapak langsung mengambil arit dan cangkul dari balik pintu, lalu mengajak aku berangkat ke kebun. Dia masih saja cemberut, membuatku perasaanku tidak enak, dan itu menyiksa.

Aku menyusul, berjalan di belakang bapak sambil merapikan caping (topi petani) yang aku pakai. Tampak cahaya matahari perlahan muncul dari sela-sela pohon tinggi di ujung pandangan.

Lahan bapak tidak jauh dari rumah. Lahan luas, yang dia tanami pohon jati sebagai fokus utamanya. Tidak ada yang salah dengan pohon tersebut, akan tetapi menunggu panennya itu yang memakan waktu.

Mengingat tadinya pohon tersebut akan dia jadikan investasi, karena sebelumnya aku bekerja dan bisa mengirim uang bulanan.

Tapi sekarang aku sudah tidak bisa memberikan apa-apa, jadi kami harus memanfaatkan sisa lahan untuk menanam sayur, cabai, atau apa saja yang dapat dipanen secepatnya

Sampai di lahan, aku lihat tanaman cabai yang berbaris di antara bawang daun, terlihat layu dan kurang perawatan. Aku jadi ragu, apa tanaman ini masih bisa dirawat sampai panen.

Bapak berbalik badan menatapku. Nadanya berat, suaranya parau. "Mulai sekarang kamu bantu bapak berkebun."

Bapak lanjut mencabut rumput di sekitar cabai sebagai contoh. "Yang ini kamu cabut semua," lalu dia menunjuk tanaman lain, "kalau ini jangan, itu buat lalapan kalau udah besar." Ujar bapak tegas.

Aku mengangguk dan mulai bekerja sesuai perintah bapak sambil tersenyum, walaupun senyum ini terkesan dipaksakan.

Sambil bekerja, tampak di sekitarku pemandangan desa yang sejuk, indah, akan tetapi seolah sedang menyimpan kesepian yang teramat dalam.

Berbeda dengan perasaanku sekarang yang sumpek, pasca dipecat dari perusahaan. Rasanya seperti pulang tapi juga tersesat di waktu yang bersamaan.

Ibu-ibu petani lewat, menyapa bapak sambil sedikit menundukkan kepala. Secuat obrolan singkat terjalin tentang tumbuhan mereka yang kerap terjangkit penyakit.

Aku dengar bapak menyalahkan hujan sambil tersenyum, karena sepertinya hujan membuat tanaman menjadi lemah dan rentan terserang virus.

Aku kembali melihat tanaman cabai kami. Kalau begini terus, tanaman kami semua bisa gagal panen. Pasti ada cara kan untuk menyelamatkan ini semua.

Begitu para petani lain pergi, aku menatap bapak dengan tatapan khawatir. Bapak menjawab perasaanku dengan ekspresi yang seolah berkata "tidak perlu khawatir."

Sambil terus mencabut rumput, mataku jelalatan menikmati pemandangan sekitar. Ada sedikit nostalgia, kala aku melihat seorang pria yang meraut bambu, yang entah sedang membuat apa.

Kembali aku mengingat tentang masa lalu. Dulu bapak sering membuatkan aku apa saja dari anyaman bambu. Bagiku bapak tuh, orangnya serba bisa.

Tapi dari sekian banyak kerajinan tangan yang pernah bapak buat, ada satu yang paling berkesan.

Aku ingat ketika itu, aku begitu keras kepala ingin ikut bapak melandang. Aku menangis sekuat tenaga kepada ibu yang kala itu melarangku. Hingga akhirnya tidak ada pilihan lain selain mengajakku.

Di tengah pekerjaannya, tepatnya ketika masuk waktu makan. Bapak membawakanku sebuah mahkota yang terbuat dari untaian tanaman bunga. Bibirnya tersenyum lebar, meski wajah bapak dipenuhi oleh noda tanah dan keringat.

Aku merasa sangat bahagia saat itu, saking bahagianya sampai aku hampir menendang rantang berisi bekal makan siang kami, saat melompat kegirangan.

Aku tersenyum kecil mengingat mahkota itu, meski senyumku segera pudar ketika menatap wajah bapak yang kini amat keras dan dingin.

Angin desa membawa aroma kayu bakar dari tungku ibu-ibu yang sedang menyiapkan makan siang. Semua terasa damai, tapi hatiku justru berisik.

Bapak masih sibuk mencabut rumput, tangannya cekatan, seolah sudah hafal mana yang harus disingkirkan dan mana yang harus dibiarkan tumbuh. Aku menirunya, meski sering ragu, takut salah cabut.

Sesekali bapak menoleh, matanya tajam, tapi tidak berkata apa-apa. Aku kembali menunduk, jemari kotor oleh tanah, mencabut rumput dengan hati-hati.

Dalam hati aku berbisik, "Andai bapak tahu, kalau aku ingin sekali bicara. Tentang rasa bersalah, tentang kehilangan, tentang betapa aku ingin dimanja bak ratu kecil." Pikirku.

"Mira" bapak memanggil. Suaranya lebih berat namun tidak lagi mengintimidasi.

Aku sigap berjalan menghampirinya, bapak kini diam dengan segenggam rumput yang ada di tangan.

"Iya pak?"

Bapak menatapku dengan mata yang redup, seolah menimbang sesuatu yang lama terpendam. Rumput di tangannya masih basah, meneteskan tanah ke ujung jari.

"Kamu masih ingat," katanya pelan, "waktu kecil dulu hampir nendang rantang makan siang?"

Aku tertegun. Ingatan itu muncul begitu jelas, seperti bayangan yang diseret angin. Mahkota bunga, tawa yang pecah, dan wajah bapak yang dulu lebih ramah.

"Iya, Pak... aku ingat," jawabku, suara bergetar. "Aku suka mahkota buatan bapak."

Bapak mengangguk singkat, lalu kembali menunduk mencabut rumput. Tidak ada senyum, tidak ada tawa. Hanya kalimat pendek yang terasa seperti pintu kecil menuju masa lalu.

Aku menatap punggungnya yang lebar, kini tampak lebih bungkuk. Ada jarak yang sulit kuterobos, seakan bapak sengaja membangun dinding dari diam.

Dalam hati aku bergumam, andai bapak tahu, aku ingin sekali bicara. Tentang kegagalan di kota, tentang rasa bersalah yang menempel di dadaku, tentang betapa aku merindukan pelukan yang dulu sederhana tapi berarti.

Angin desa berhembus, membawa aroma tanah basah dan kayu bakar. Suasana damai itu justru membuat hatiku semakin gaduh.

Bapak akhirnya berdiri, menatap lahan yang luas. "Bapak seneng kamu pulang," katanya datar, "tapi bapak gak bisa jamin masa depan kamu di sini."

Pengakuan dari bapak sangat singkat, namun cukup untuk membuatku bertanya tentang pilihanku pulang ke desa. Apakah pulang benar-benar pilihan, atau hanya pelarian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!