NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24. Undangan Pesta

Ruang makan mansion Van Bodden terasa lebih luas dari biasanya di pagi itu, terlalu luas untuk dua orang.

Meja makan panjang yang biasanya diisi oleh beberapa kursi terpakai, kini hanya menyisakan dua piring sarapan yang diletakkan berjauhan. Ayah Landerik berangkat ke luar negeri sejak subuh tadi untuk urusan bisnis, meninggalkan keheningan yang tidak bisa disembunyikan.

Noa duduk dengan punggung tegak, jemarinya memegang sendok dengan hati-hati. Ia menyuap makanannya perlahan, nyaris tanpa rasa. Sesekali ia mengangkat pandangan, lalu segera menurunkannya kembali saat menyadari Landerik juga sedang menatap piringnya sendiri. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Hanya bunyi sendok yang menyentuh piring, dan denting kecil pisau saat Landerik memotong roti. Suara-suara itu terdengar terlalu jelas, seolah-olah ingin mengisi kekosongan yang mengambang di antara mereka. 

Noa menarik napas pelan, mencoba menenangkan dadanya. Keheningan ini berbeda dengan sunyi yang ia rasakan di kamarnya. Ini adalah sunyi yang terasa canggung, dua orang asing yang terikat oleh satu nama belakang. 

Landerik meletakkan cangkir kopinya, suara dentingan gelas itu terdengar sedikit lebih keras dari yang ia niatkan. Ia melirik Noa sekilas, lalu kembali menatap meja. Ia ingin berkata sesuatu. Apa saja. Tapi kata-kata itu terasa salah sejak awal.

Akhirnya, mereka menyelesaikan sarapan tanpa satu kalimat pun terucap. Saat Noa berdiri dan menarik kursinya, Landerik juga bangkit hampir bersamaan, gerakan yang serasi tapi tidak disengaja. Mereka berjalan berlawanan arah di ruang makan itu, masing-masing membawa pikiran yang tidak terucap.

Dan pagi itu berlalu dengan diam, menandai awal hari-hari sunyi yang harus mereka jalani bersama.

...♡...

Setelah sarapan yang begitu sunyi itu selesai, Landerik segera meninggalkan mansion. Pakaian jas gelapnya rapi, wajahnya kembali dingin dan profesional, topeng yang selalu ia kenakan setiap kali memasuki dunia bisnis. Di kantor pusat De Bodden Group, pagi itu dipenuhi diskusi serius. Proyeksi penjualan properti di Eropa Selatan, kerja sama resort baru, dan laporan keuangan kuartal terakhir bergantian memenuhi ruang rapat. Landerik berbicara seperlunya, tajam dan efisien, seperti duka dan kelelahan tak pernah menyentuhnya.

Setelah rapat selesai seorang pria berambut pirang mendekatinya sambil tersenyum ramah. “Landerik,” sapa pria itu. “Sudah lama kita tak bertemu.”

“James,” jawab Landerik, menjabat tangannya. “Apa kabar?”

“Baik. Dan aku punya undangan untukmu.” James menyerahkan sebuah amplop berwarna krem dengan emboss sederhana tapi elegan. “Datanglah besok malam. Kami mengadakan pesta kecil.”

Landerik menerima undangan itu. “Pesta apa?”

“Istriku ulang tahun,” jawab James. “Hanya sahabat dekat dan beberapa kolega bisnis. Santai saja.”

“Dengan senang hati,” kata Landerik tanpa ragu. “Terima kasih.” James tersenyum puas sebelum berpamitan.

Kembali di ruang kerjanya, Landerik duduk di balik meja besar dari kayu gelap. Ia membuka amplop itu perlahan, membaca undangan resmi dengan detail yang tertata rapi, alamat, waktu, dress code. Pesta ulang tahun.

Kata itu membuatnya terdiam lebih lama dari yang ia sadari. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap undangan itu tanpa fokus. Pikirannya melayang, bukan ke pesta, melainkan ke meja makan pagi tadi. Keheningan. Jarak. Noa yang duduk berseberangan tanpa berani menatapnya lama-lama. Secara teknis ia sudah menikah.

Sebagai pasangan, menghadiri acara seperti ini seharusnya dilakukan bersama. Tapi pernikahan mereka bukan pernikahan biasa. Tidak ada kesepakatan tentang hal-hal seperti ini. Tidak ada peran yang benar-benar jelas. Landerik memutar pulpen di jemarinya, lalu berhenti. 

“Haruskah aku pergi sendiri? atau mengajaknya?”

Bayangan wajah Noa muncul di benaknya, lelah, rapuh, namun berusaha berdiri kembali. Undangan itu ia letakkan di meja, tepat di samping laptopnya. Ia belum memutuskan apa pun. Namun satu hal yang ia sadari, untuk pertama kalinya sejak lama, sebuah keputusan kecil terasa jauh lebih rumit daripada negosiasi bisnis bernilai jutaan euro. Dan di titik itulah, tanpa ia sadari, batas yang selama ini ia jaga mulai goyah.

...♡...

Di Le Serein, hari itu nampak berbeda bagi Noa. Untuk pertama kalinya setelah masa duka yang panjang, langkahnya kembali ringan. Senyumnya lebih sering muncul, gerakannya kembali luwes dan terarah. Ia bekerja sekaligus belajar, menyerap setiap arahan dengan antusias yang dulu sempat hilang.

Chef Marcel memperhatikannya dari kejauhan. Saat melihat Noa kembali sigap, fokus, dan tersenyum kecil saat berhasil menyelesaikan satu tugas dengan baik, bahunya mengendur lega. “Akhirnya dia kembali,” batinnya chef marcel.

Ketika jam istirahat tiba, dapur kembali sepi hanya beberapa orang saja yang bekerja karena restoran sedang cukup sepi. Noa dan Louis duduk di belakang dapur, di dekat pintu besi yang setengah terbuka. Mereka hanya makan makanan ringan, sepotong roti dan sup hangat, cukup untuk mengganjal perut sebelum kembali bekerja. Suasana di antara mereka hangat, tanpa beban.

“Noa,” panggil Louis sambil membuka botol air mineral. 

“ Apa besok kau punya waktu luang? Besok kau libur juga, kan?” Noa berhenti mengunyah, lalu mengangguk pelan. “Ya… sepertinya begitu. Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Louis santai. “Mungkin kau akan menyukainya.”

Noa terdiam sejenak, berpikir. “Aku akan membicarakannya dulu dengan Landerik,” ujarnya akhirnya. “Lalu aku akan menghubungimu.”

Louis mengangguk. “Tentu.” Ia lalu tersenyum kecil, seolah baru teringat sesuatu. “Oh ya, ngomong-ngomong, dia pria seperti apa?” tanyanya. “Dari yang kulihat saat ia berkunjung ke sini, dia terlihat seperti lelaki galak.”

Noa terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. “Tidak. Dia pria yang baik,” katanya jujur. “Mungkin karena dia terlalu berwibawa dan berkarisma, jadi terlihat seperti itu.”

“Apa dia melarangmu berteman dengan seseorang?” tanya Louis lagi, nadanya hati-hati.

“Tidak,” jawab Noa cepat. “Dia tidak pernah melarangku tentang apa pun. Dia pria yang baik.”

Louis terdiam. Pandangannya tertuju pada Noa, lebih lama dari sebelumnya. Tatapan itu sulit diartikan,bukan tajam, bukan pula dingin. Lebih seperti seseorang yang sedang memikirkan terlalu banyak hal dalam diam.

“Kenapa?” tanya Noa, menyadari tatapan itu. Louis mengalihkan pandangannya, tersenyum tipis.  “Entahlah,” katanya jujur. “Banyak pertanyaan di kepalaku." Noa tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap makanannya.

Di antara suara dapur yang mulai kembali hidup, percakapan mereka terhenti, menyisakan sesuatu yang tidak terucap dan mengambang ringan di udara tanpa jawaban.

To Be Countinue…

1
Deii Haqil
mulai ada tumbuh nih,benih benih taneman..ciye 🤭🤭
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di Novelku Judul Nya Menikahi Tuan Muda Kejam kita saling dukung👍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): siap kak nanti aku mampir ya🤗
total 1 replies
riniandara
aku mampir kak semangat berkarya moga berkah dan sukses selalu/Heart/
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih sudah mampir kak😍
total 1 replies
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!