Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak yang Malang
Dua hari di puskesmas.
Dua hari Lestari rawat inap buat pemulihan. Dua hari itu... berat.
Antoni nangis terus. Nangis lemah—nggak keras kayak bayi normal. Nangis nya kayak... kayak orang yang udah nggak punya tenaga. Kadang cuma bibir nya gerak tapi suara nggak keluar.
Bidan bilang Antoni kurang ASI. "Ibu harus banyak makan bergizi biar ASI lancar. Minum susu, makan sayur, daging, ikan."
Tapi... gimana?
Makanan di puskesmas cuma nasi sama sayur bening. Lauk? Tempe sedikit. Itu aja. Bu Ratih nyoba bawain makanan dari luar—bubur ayam, susu kotak—tapi tetep nggak cukup. Lestari kurus kering, badan nya nggak punya cadangan nutrisi buat produksi ASI.
Jadi Antoni kelaparan. Terus-terusan kelaparan.
Lestari nggak bisa tidur. Setiap Antoni nangis, dia bangun. Nyusuin—tapi ASI nya dikit banget. Antoni nyedot keras tapi yang keluar cuma sedikit. Antoni nangis lagi. Lestari nangis juga.
"Maafin Ibu, Nak... Ibu nggak bisa kasih kamu susu yang cukup... Ibu... Ibu payah ya jadi ibu..." Lestari bisik sambil nangis, peluk Antoni yang badannya kecil, kurus, kulitnya keriput.
Bu Ratih duduk di samping tempat tidur—dia nemenin Lestari dua hari ini, pulang cuma buat ganti baju sama ngurus Pak Dengklek sebentar, terus balik lagi.
"Neng, kamu jangan nangis terus. Nanti ASI nya makin susah keluar. Kamu harus tenang."
"Tapi Bu... gimana aku bisa tenang? Anak ku kelaparan... aku nggak bisa ngasih dia makan... aku... aku gagal jadi ibu..."
"Kamu nggak gagal. Kamu cuma butuh waktu. ASI itu butuh waktu buat lancar. Kamu harus sabar."
"Tapi Antoni nggak bisa nunggu, Bu... dia butuh makan sekarang... dia... dia kurus banget... aku takut dia... dia..." Lestari nggak sanggup ngelanjutin. Takut ngomong kata yang dia paling takuti.
Mati.
Takut Antoni mati.
Bu Ratih peluk Lestari. "Antoni kuat. Dia bakal bertahan. Kamu juga harus kuat. Demi dia."
Lestari ngangguk pelan. Ngelap air mata pake ujung selimut rumah sakit yang tipis, kasar.
Hari ketiga. Hari Lestari boleh pulang.
Bidan ngasih resep—vitamin buat Lestari, susu formula buat Antoni kalau ASI nggak cukup.
"Susu formula nya yang ini." Bidan nunjuk merek di resep. "Harga nya sekitar seratus lima puluh ribu per kaleng. Satu kaleng bisa buat seminggu."
Seratus lima puluh ribu.
Lestari cuma bisa menelan ludah.
Uang nya? Nggak ada. Lima ribu yang biasa dia simpen dari cuci baju udah habis buat beli pulsa terakhir—pulsa yang dipake nelpon ibu waktu itu.
"I—itu... itu mahal, Bu Bidan... ada yang... yang lebih murah nggak?"
Bidan ngeluarin napas. "Ada yang lebih murah, tapi kualitas nya nggak sebaik ini. Bayi kamu butuh nutrisi ekstra karena berat badan nya kurang. Ibu usahain beli yang ini ya."
Lestari ngangguk lemah. Tapi di dalem hati—gimana? Gimana dia bisa beli?
Bu Ratih ngeluarin dompet. "Ibu beliin ya, Neng."
"Bu, nggak usah... Bu udah banyak bantu... aku... aku nggak enak—"
"Udah. Ibu beliin. Nanti Ibu ke apotek dulu sebelum kita pulang."
"Makasih, Bu... makasih banyak... aku janji suatu hari nanti aku bakal bales kebaikan Ibu—"
"Nggak usah dibalas. Kamu fokus jaga Antoni aja."
Bu Ratih pergi ke apotek puskesmas. Lima belas menit kemudian balik dengan kantong plastik—dalem nya ada susu formula, vitamin, sama botol susu bayi.
"Ini. Susu nya, vitamin nya, botol nya. Caranya bikin susu udah Ibu tulis di kertas. Kamu baca pelan-pelan ya."
Lestari nerima kantong itu dengan tangan gemetar. "Makasih, Bu... makasih..."
Keluar dari puskesmas, Lestari gendong Antoni—di bedong pake kain putih tipis yang dikasih puskesmas. Antoni tidur—tidur nya nggak nyenyak, napas nya pendek-pendek, kadang kayak sesak.
Di depan puskesmas ada mobil. Mobil sedan putih—bukan mobil mewah kayak mobil Andriano, tapi mobil biasa. Mobil sewaan.
"Ini mobil buat kita, Neng," kata Bu Ratih. "Ibu udah pesan dari tadi. Biar kamu nggak capek naik angkot bawa bayi."
"Bu... Bu bayar lagi? Bu udah—"
"Udah nggak usah ngomongin uang terus. Ayo naik."
Mereka naik. Lestari duduk di belakang, gendong Antoni. Bu Ratih duduk di sebelahnya. Sopir nya bapak-bapak ramah, nyetir pelan-pelan biar nggak goyang.
Lestari ngeliat keluar jendela. Liat gedung-gedung, toko-toko, orang-orang yang jalan. Hidup normal. Hidup yang... yang dia nggak punya.
"Ibu..." Lestari noleh ke Bu Ratih. "Aku... aku takut pulang."
Bu Ratih natap dia. "Kenapa?"
"Karena... karena di rumah nggak ada yang seneng Antoni lahir. Nggak ada yang... yang peduli. Aku takut... aku takut mereka jahat sama Antoni kayak mereka jahat sama aku..."
Bu Ratih pegang tangan Lestari. "Ibu ngerti. Tapi kamu harus pulang. Kamu nggak punya tempat lain. Tapi Ibu janji—Ibu bakal terus bantu. Ibu rumah nya sebelah. Kalau ada apa-apa, kamu teriak. Ibu pasti datang."
Lestari ngangguk. Matanya berkaca-kaca lagi.
Dua puluh menit kemudian, mobil sampai di gang rumah Dyon. Mobil nggak bisa masuk—gang nya terlalu sempit. Jadi mereka turun di ujung gang.
Bu Ratih bayar sopir—angka nya nggak kelihatan, tapi pasti nggak murah. Lestari cuma bisa bisik "makasih" berkali-kali.
Mereka jalan masuk gang. Lestari gendong Antoni hati-hati banget—takut kejedot, takut jatuh. Langkah nya pelan. Badannya masih sakit—perut bawah nya masih nyeri, kaki nya masih bengkak.
Sampai di depan rumah. Pagar besi yang berkarat, pintu setengah terbuka.
Lestari berhenti sebentar. Napas dalam. Buang pelan.
"Aku harus kuat," bisik nya ke diri sendiri. "Demi Antoni."
Dia masuk.
Rumah nya sepi. Nggak ada suara.
Ruang tamu kosong—TV mati, sofa kosong. Dapur juga sepi.
"Mamah?" panggil Lestari pelan. "Mamah ada?"
Nggak ada jawaban.
Lestari jalan ke kamar Wulandari. Pintu nya setengah terbuka. Dia ngintip—Wulandari lagi tidur. Tidur siang. Mendengkur pelan.
Lestari ngeluarin napas lega. Syukur. Wulandari tidur. Jadi dia nggak perlu ketemu dulu.
Dia ke kamar gudang nya—kamar yang jadi kamar nya selama ini. Buka pintu. Masuk.
Kamar nya sama aja. Tikar lusuh, selimut bolong, kardus-kardus di sudut. Cuma sekarang... sekarang ada Antoni.
Antoni yang harus tidur di sini. Di kamar gudang. Di tikar. Tanpa kasur. Tanpa boks bayi. Tanpa apa-apa.
Lestari baringkan Antoni di tikar—pelan banget, hati-hati. Antoni masih tidur—tidur yang nggak nyenyak, mukanya agak meringis kayak lagi mimpi buruk.
"Maafin Ibu, Nak... kamar kita cuma kayak gini... nggak ada kasur empuk... nggak ada boks bayi... cuma tikar sama selimut... Ibu... Ibu nggak bisa kasih kamu yang lebih baik..."
Lestari duduk di samping Antoni. Mengelus kepala Antoni yang masih botak—cuma ada bulu-bulu halus.
Bu Ratih berdiri di pintu. Ngeliat pemandangan itu. Hati nya sesak.
"Neng... Ibu pulang dulu ya. Ibu mau ngecek Bapak. Nanti sore Ibu datang lagi."
"Iya, Bu. Makasih ya Bu... makasih banyak..."
Bu Ratih pergi. Lestari sendirian di kamar.
Sendirian sama Antoni.
Hening.
Cuma suara napas Antoni yang lemah.
Lestari berbaring di samping Antoni. Tubuh nya cape banget. Badan nya sakit semua. Tapi dia nggak bisa tidur. Mata nya tetep melek. Tetep natap Antoni.
"Ibu janji bakal jaga kamu... bakal lindungi kamu... meskipun Ibu nggak tau gimana caranya... tapi Ibu janji..."
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁