NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Cinta yang Bersemi

Cahaya pucat bulan Januari menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis di ruang perawatan intensif eksklusif Eduardo Tower. Di ruangan yang lebih menyerupai kamar hotel bintang lima daripada bangsal rumah sakit itu, Alexander Eduardo terbaring diam. Untuk pertama kalinya, predator Jakarta itu tampak rapuh. Wajahnya yang biasa kaku dengan garis-garis otoritas kini tampak damai dalam ketidaksadaran, meski selang oksigen dan monitor jantung yang berkedip di sisinya menceritakan perjuangan hidup-mati yang baru saja ia lalui.

Almira duduk di kursi samping tempat tidur, kepalanya bersandar pada tepian kasur. Ia masih mengenakan jaket yang sama saat ia menemui Elara di kafe tua itu. Tangannya yang mungil menggenggam tangan Alex yang besar—tangan yang sebelumnya ia anggap sebagai alat penindasan, namun kini ia sadari sebagai tangan yang rela hancur demi melindunginya.

Dokter Bastian masuk dengan langkah pelan, membawa catatan medis yang suram. Ia menatap Almira dengan iba.

"Nyonya, Anda harus beristirahat. Ingat kondisi kandungan Anda," tegur dokter itu lembut.

"Saya akan beristirahat jika dia membuka matanya, Dok," jawab Almira tanpa mengalihkan pandangan. "Berapa lama lagi dia akan seperti ini?"

Dokter Bastian menghela napas berat. "Efek stimulan saraf itu sangat destruktif. Dia memaksa sistemnya bekerja sepuluh kali lipat dari batas manusia normal. Detak jantungnya sempat berhenti saat di ambulans. Kabar buruknya... dugaan saya benar. Kerusakan pada tulang belakang bawahnya menjadi permanen. Kemungkinan dia untuk berjalan kembali sekarang kurang dari satu persen."

Almira terisak pelan. Satu persen. Bagi pria seperti Alex, yang hidupnya dibangun di atas kekuatan fisik dan dominasi, angka satu persen itu lebih buruk daripada vonis mati.

Tepat saat fajar menyingsing, jemari Alex bergerak. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih dan wajah Almira yang basah oleh air mata.

"Almira..." suaranya sangat serak, seperti gesekan batu di atas tanah kering.

"Alex! Kau sudah bangun? Tunggu, aku panggilkan dokter," Almira hendak berdiri, namun tangan Alex menahannya.

"Ibumu... Nadin... di mana dia?" tanya Alex, pikirannya masih tertuju pada misinya yang terakhir.

"Ibu sudah aman, Alex. Dia sudah di Jakarta, di bawah perlindungan tim keamananmu yang paling ketat. Terima kasih... terima kasih telah menyelamatkannya."

Alex mencoba mengangguk, namun raut wajahnya segera berubah saat ia mencoba menggerakkan kakinya. Ia menatap selimutnya dengan pandangan nanar. Ia mencoba sekali lagi, mengerahkan seluruh sisa tenaganya hingga urat-urat di lehernya menonjol. Namun, bagian bawah tubuhnya terasa seperti batu yang tertanam di dasar laut. Dingin dan tak bernyawa.

"Bastian!" raung Alex saat dokter masuk ke ruangan. "Kenapa aku tidak bisa merasakannya?! Kenapa kakiku tidak bergerak?!"

"Tuan, tenanglah. Anda baru saja sadar—"

"Jangan katakan aku tenang! Aku Alexander Eduardo! Aku tidak bisa memimpin perusahaan dari atas ranjang bayi ini!" Alex merenggut kabel monitor jantungnya hingga mesin itu berbunyi nyaring. Ia mencoba bangun dengan tangannya, namun keseimbangannya hilang dan ia hampir terjatuh dari ranjang jika Almira tidak segera menahannya.

"Lepaskan aku, Almira! Jangan kau lihat aku seperti ini!" Alex mendorong Almira, namun dorongannya tidak lagi sekuat dulu. Arogansinya kini bercampur dengan keputusasaan yang meluap-luap. "Aku cacat! Aku tidak berguna! Kau seharusnya senang sekarang, kan? Inilah pembalasanmu! Inilah hukuman untuk iblis yang telah menghancurkan hidupmu!"

Almira tidak mundur. Ia justru memeluk kepala Alex, membenamkan wajah pria itu di perutnya—tempat di mana jantung anak mereka berdetak.

"Diam, Alex! Cukup!" teriak Almira. "Kau melakukan ini untuk ibuku! Kau melakukannya untukku! Jangan berani-berani kau katakan bahwa kau tidak berguna. Kau adalah ayah dari anak ini, dan kau adalah suamiku. Cacat atau tidak, kau tetap Alexander Eduardo yang kukenal!"

Alex membeku. Kehangatan perut Almira dan kata 'suamiku' seolah menjadi air yang memadamkan api amarah di dadanya. Ia terisak—sebuah isakan yang tertahan, yang selama tiga puluh tahun ia pendam di balik dinding-dinding kaca kantornya. Untuk pertama kalinya, sang predator menyerah pada kelemahannya.

Minggu-minggu berikutnya adalah periode yang mengubah dinamika hubungan mereka secara total. Alex dibawa pulang ke penthouse, namun kali ini suasananya tidak lagi seperti penjara. Almira mengambil alih tanggung jawab merawat Alex. Ia menolak perawat pribadi yang disiapkan perusahaan, kecuali untuk kebutuhan medis yang mendesak.

Pagi itu, Almira membawa nampan sarapan ke kamar. Alex duduk di kursi roda dekat jendela, menatap gedung kantornya di kejauhan dengan tatapan getir.

"Ayo makan, Alex. Aku membuatkanmu bubur abalon," ucap Almira lembut.

Alex tidak menoleh. "Biarkan saja di sana. Aku tidak nafsu makan."

Almira meletakkan nampan itu dan berjongkok di depan kursi roda Alex. Ia mengambil sendok dan menyodorkannya ke bibir Alex. "Jangan bersikap seperti anak kecil. Jika kau tidak makan, kau tidak akan punya tenaga untuk terapi fisik sore nanti."

"Terapi fisik untuk apa, Almira? Untuk satu persen kemungkinan itu? Itu sia-sia."

"Satu persen bukan nol, Alex," balas Almira tegas. "Selama aku masih di sini, aku tidak akan membiarkanmu menyerah. Kau dulu sangat bangga bisa memaksaku melakukan apa saja. Sekarang, giliranku memaksamu untuk sehat."

Alex menatap mata Almira. Ia melihat ketulusan yang murni, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Elara atau siapa pun di lingkaran sosialnya. Ia perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari Almira. Rasa hangat bubur itu seolah menjalar ke hatinya yang paling beku.

Penderitaan batin yang dulu mereka alami secara terpisah—Almira sebagai korban dan Alex sebagai pelaku—kini melebur menjadi penderitaan bersama yang mereka hadapi sebagai rekan. Alex mulai belajar untuk melepaskan kendali, sementara Almira belajar untuk memberikan pengampunan.

Namun, ketenangan itu terusik ketika asisten kepercayaan Alex, Rendy, datang dengan wajah tegang.

"Tuan, dewan direksi telah mengadakan pertemuan darurat tanpa sepengetahuan Anda. Tuan Mahendra, ayah Elara, telah mengajukan mosi untuk mencopot Anda dari jabatan CEO karena kondisi kesehatan Anda dianggap tidak layak untuk memimpin," lapor Rendy.

Alex mengepalkan tangannya. "Sudah kuduga mereka akan menyerang saat aku terjatuh."

"Ada satu hal lagi, Tuan. Elara telah menyebarkan rumor di kalangan investor bahwa Nyonya Almira sedang mencoba meracuni Anda secara perlahan agar dia bisa mengambil alih warisan Anda setelah pernikahan yang terburu-buru ini."

Almira terkesiap, wajahnya memucat. "Bagaimana bisa dia sekejam itu?"

Alex meraih tangan Almira, meremasnya dengan penuh keyakinan. "Dia menyerang karena dia takut, Almira. Dia tahu bahwa selama kita bersama, dia tidak punya celah."

Alex menoleh ke arah Rendy. "Siapkan setelan jas terbaikku untuk lusa. Aku akan menghadiri rapat dewan direksi itu."

"Tapi Tuan, Anda masih dalam kursi roda..."

"Aku mungkin tidak bisa berjalan masuk ke ruangan itu dengan kakiku," ucap Alex dengan seringai tajamnya yang lama, "tapi aku akan masuk ke sana dengan kekuasaan yang akan membuat mereka berlutut. Almira, kau akan menemaniku. Sebagai Nyonya Eduardo yang sah, kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau bukan sekadar pendamping, tapi benteng pertahananku."

Malam harinya, saat suasana rumah mulai sunyi, Alex meminta Almira untuk duduk di sampingnya di tempat tidur. Ia menyentuh perut Almira yang kini sudah semakin menonjol.

"Kenapa kau masih di sini, Almira?" tanya Alex pelan. "Sekarang kau punya uang, ibumu sudah aman, dan aku tidak bisa mengejarmu. Kau bisa saja pergi dan memulai hidup baru yang tenang tanpa monster sepertiku."

Almira menatap Alex lama. Ia memikirkan semua penderitaan yang ia alami, tentang penjara emas ini, dan tentang rahasia masa lalu ibu mereka. Namun, ia juga memikirkan bagaimana Alex mempertaruhkan segalanya di gereja, dan bagaimana pria itu mempertaruhkan kakinya di puskesmas desa.

"Karena aku menyadari satu hal, Alex," jawab Almira dengan suara yang jernih. "Monster yang kulihat dulu hanyalah seorang pria kesepian yang tidak tahu cara dicintai. Dan sekarang, monster itu telah berubah menjadi pria yang rela mengorbankan dunianya demi duniaku. Bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkan pria yang memiliki separuh nyawaku di rahimku?"

Alex menarik Almira ke dalam pelukannya. Tangis mereka pecah bersamaan, namun kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan. Di tengah kehancuran fisik Alex, mereka menemukan keutuhan emosional yang selama ini mustahil mereka capai.

Namun, di luar sana, Elara sedang mempersiapkan dokumen palsu yang lebih mematikan, yang akan memaksa Almira memilih antara cintanya pada Alex atau keselamatan nyawa janinnya.

***

Di bawah rembulan yang menyaksikan rahasia setiap manusia, Alexander dan Almira tidur dalam pelukan yang erat untuk pertama kalinya tanpa ada paksaan. Namun, takhta Eduardo yang goyah sedang menunggu mereka di pagi hari. Perang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan kali ini, musuh mereka bukan lagi arogansi masing-masing, melainkan dunia yang ingin melihat mereka jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!