"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Retakan di Balik Dinding Kaca
Retakan di Balik Dinding Kaca
Setelah kejadian di perpustakaan itu, aku merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap langkah terasa perih, dan setiap napas terasa menyesakkan. Mama tidak bodoh. Meski dia tidak melihat kami sedang melakukan "itu", tapi insting seorang ibu tidak pernah bisa ditipu oleh alasan tidur siang atau jurnal bisnis.
Malam itu, saat Gavin sedang menemani Siska di lantai atas, Mama memanggilku ke ruang laundry—tempat paling jauh dari jangkauan telinga siapa pun.
"Duduk, Arum," suara Mama rendah, tapi sarat akan otoritas yang membuat nyaliku menciut.
Aku duduk di atas mesin cuci yang sedang bergetar, mencoba menghindari tatapan mata Mama. "Ada apa, Ma? Arum ngantuk, mau tidur."
"Jangan bohong sama Mama," potong Mama cepat. Beliau berdiri di depanku, melipat tangan di dada. "Tadi di perpustakaan... Mama lihat bibir kamu bengkak. Mama lihat kancing kemeja Gavin salah lubang. Dan Mama lihat mata kalian berdua... mata yang penuh dengan rahasia kotor."
Jantungku serasa berhenti berdetak. "Ma, itu... itu cuma perasaan Mama aja."
"Arum!" Mama membentak pelan. "Dia kakak iparmu! Dia suami Siska! Kakakmu itu lagi sakit, Rum. Apa kamu sudah nggak punya hati sampai tega main gila di rumah ini, di saat kakakmu sedang berjuang buat sembuh?"
Air mataku jatuh tanpa permisi. "Arum nggak bermaksud, Ma. Tapi Arum nggak bisa berhenti. Mas Gavin yang mulai, dia yang—"
"Berhenti menyalahkan dia! Kamu wanita, kamu punya kendali untuk bilang tidak!" Mama mendekat, matanya berkaca-kaca. "Kalau Siska tahu, dia bisa mati mendadak, Rum. Penyakitnya itu nggak cuma fisik, tapi juga mental. Jangan hancurkan keluarga ini hanya karena obsesi sesaatmu itu!"
Tanpa kami sadari, di balik deretan baju yang digantung di jemuran dalam, sesosok tubuh berdiri mematung. Siska. Dia berniat membawakan baju kotor Gavin yang tertinggal di kamar, tapi langkahnya terhenti tepat saat namanya disebut.
Siska mendengar semuanya. Setiap kata "main gila", "obsesi", dan pengkhianatan Gavin. Dia tidak berteriak. Dia tidak masuk dan melabrak. Tapi tangannya yang memegang keranjang baju gemetar hebat hingga keranjang itu jatuh tanpa suara ke atas tumpukan handuk.
Wajah Siska yang tadi sudah mulai merona, kini berubah menjadi seputih kertas. Dadanya sesak, bukan karena kanker, tapi karena jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata.
Dua Jam Kemudian - Kamar Utama
BRAAAKK!
Suara benda jatuh dan pekikan tertahan dari kamar atas membuatku dan Mama berlari secepat kilat. Begitu pintu terbuka, kami melihat Siska terkapar di lantai kamar mandi dengan busa tipis di mulutnya dan napas yang tersengal-sengal.
Gavin, yang baru saja selesai mandi, langsung menerjang memeluk tubuh istrinya. "Siska! Siska, bangun! Sayang, lihat aku!"
Gavin menoleh ke arahku dan Mama dengan mata yang merah karena murka. "APA YANG TERJADI?! Tadi dia baik-baik saja!"
Siska mencoba bicara, matanya yang sayu menatap Gavin dengan penuh benci dan cinta yang bercampur. Tangannya yang lemah menunjuk ke arahku dengan gemetar, sebelum akhirnya matanya terpejam rapat. Dia pingsan.
"Panggil ambulans! SEKARANG!" teriak Gavin menggelegar.
Di Rumah Sakit - Pukul 03.00 Dini Hari
Lampu ruang IGD masih menyala merah. Gavin duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk di antara kedua tangannya. Dia masih memakai kaos yang terkena tumpahan air dari kamar mandi tadi.
Aku mencoba mendekat, mencoba menyentuh bahunya. "Mas... Mbak Siska pasti—"
"JANGAN SENTUH AKU!" Gavin menepis tanganku dengan kasar. Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan paling dingin yang pernah kulihat. Lebih dingin dari tembok es mana pun.
"Puas kamu, Arum? Puas sudah bikin dia begini?" suara Gavin bergetar karena emosi yang tertahan. "Mama sudah cerita semuanya. Siska dengar pembicaraan kalian di laundry tadi. Dia tahu, Arum! Dia tahu kita bermain di belakangnya!"
Aku terpaku. Dunia seolah runtuh menimpaku. "Aku... aku nggak tahu kalau Mbak Siska ada di sana, Mas..."
"Tapi kamu tetap melakukannya! Kamu terus memancingku, dan aku... aku laki-laki brengsek yang masuk ke perangkapmu!" Gavin memukul dinding rumah sakit dengan keras. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Siska malam ini, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Dan aku... aku tidak mau melihat mukamu lagi, Arum. Pergi!"
"Mas, jangan gitu... aku cinta sama Mas—"
"CINTA?!" Gavin tertawa pahit, air mata menetes di pipinya yang tegas. "Cinta macam apa yang menghancurkan nyawa kakaknya sendiri? Pergi, Arum. Sebelum aku benar-benar membencimu seumur hidupku."
Aku mundur dengan langkah gontai. Rasa sedih, menyesal, dan kesal pada diriku sendiri bercampur menjadi satu racun yang mematikan. Aku benci Gavin yang begitu mudah berubah kembali menjadi "suami berbakti" saat keadaan mendesak. Aku benci diriku yang begitu egois.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Di sudut kafetaria, aku melihat Bella dan Raka yang rupanya menyusul setelah dikabari Mama. Bella langsung memelukku, sementara Raka hanya menatapku dengan pandangan sedih yang dalam.
"Siska kritis, Bel... dia tahu semuanya," isakku di bahu Bella.
"Udah, Rum... udah..." Bella mencoba menenangkan, meski aku tahu dia juga kecewa padaku.
Aku duduk di lantai rumah sakit, menangis sejadi-jadinya. Di dalam ruangan itu, Siska sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan di luar sini, cintaku pada Gavin baru saja dinyatakan mati oleh pria itu sendiri.
Gavin bukan lagi predator yang menggoda di bawah meja. Dia adalah hakim yang baru saja menjatuhkan hukuman mati padaku. Dan yang paling menyakitkan adalah... aku tahu aku layak mendapatkannya.
jngan y thor