Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Teratai Di Atas Abu
Bab 25 — Langkah Pertama Sang Pendekar
Akhirnya tibalah hari puncak Turnamen Murid Luar — babak final. Seluruh Sekte Gunung Awan Putih seolah hidup dalam satu napas yang sama. Ribuan murid berdesak-desakan memenuhi tribun, menatap panggung batu di tengah dengan mata berbinar penuh harap, penasaran, dan ketegangan. Di kursi kehormatan, para tetua dan pengurus utama duduk tegak, wajah mereka serius namun terselip rasa penasaran yang mendalam. Semua mata tertuju pada satu sosok: Lian Hua.
Lawan terakhirnya adalah Gao Feng, murid luar terkuat selain Wang Chen dan Li Xuan, sosok yang tenang, dingin, dan memiliki dasar kultivasi yang sangat kokoh. Ia adalah murid langsung salah satu tetua, menguasai Teknik Telapak Gunung Es, dan kekuatannya telah mencapai puncak tingkat Dasar Penyempurnaan. Di mata banyak orang, dialah juara yang paling diantisipasi sebelum turnamen dimulai. Namun sekarang, posisi itu bergeser. Semua orang tahu, pertarungan ini bukan lagi sekadar perebutan gelar juara, melainkan pembuktian jati diri Lian Hua yang penuh teka-teki.
"Kau hebat, Lian Hua," ucap Gao Feng pelan, suaranya tenang dan jujur tanpa ada rasa iri. "Aku telah melihat setiap gerakanmu. Kau bukan orang biasa. Tapi aku pun takkan menahan diri. Aku telah menempuh jalan ini bertahun-tahun, dan aku takkan membiarkan kemenanganku direnggut begitu saja. Mari kita bertarung dengan segala kemampuan yang kita miliki."
Lian Hua mengangguk sopan, memegang erat pedang kayunya. "Aku pun sama. Aku butuh kemenangan ini, bukan untuk kemegahan, tapi untuk melangkah lebih jauh. Terima kasih telah menjadi lawan yang layak."
Tanda dimulainya pertarungan dibunyikan.
Gao Feng bergerak lebih dulu. Ia melesat maju bagai angin dingin, kedua telapak tangannya diselimuti aura biru pucat yang dingin menusuk tulang. Setiap hantamannya membawa tekanan berat seolah gunung es sedang jatuh menimpa. Serangannya rapi, kuat, dan penuh perhitungan — jauh lebih matang dan berbahaya dibandingkan lawan-lawannya sebelumnya.
Lian Hua tak berani main-main. Ia mengerahkan Langkah Bayangan Teratai, tubuhnya bergerak ringan menari di sela-sela serangan telapak tangan yang mematikan itu. Pedang kayunya berputar, menangkis, dan menepis dengan sudut yang sangat tepat, membuat kekuatan besar Gao Feng terbuang sia-sia menyambar udara kosong. Suara benturan bergema terus-menerus, membuat lantai batu panggung retak-retak dan bergetar hebat.
Semakin lama bertarung, semakin terlihat perbedaan gaya mereka. Gao Feng bertarung mengandalkan teknik yang diajarkan sekte, indah dan berstruktur, namun terbatas pada batasan ilmu yang ada. Sebaliknya, Lian Hua bertarung mengandalkan pemahaman mendalam tentang kekuatan, keseimbangan, dan naluri pertarungan yang telah ditempa di tengah penderitaan. Gerakannya sederhana, namun setiap tusukan dan ayunannya membawa makna mendalam, seolah ia bergerak mengikuti irama alam semesta itu sendiri.
Di tengah pertarungan sengit itu, Gao Feng mulai terdesak. Ia merasa lawannya seperti lautan luas — semakin ia memukul, semakin ia merasa kekuatannya hilang terserap ke dalam kedalaman yang tak berdasar. Dan yang paling mengerikan: setiap kali Lian Hua bergerak, samar-samar bayangan bunga teratai hitam-putih akan muncul sekilas di bawah kakinya, membuat energi spiritual di sekitarnya bergolak dan menekan jiwa lawannya.
"Jika hanya begini, kau takkan bisa menghentikanku," ucap Lian Hua pelan. Matanya bersinar tajam, dan kali ini ia tak lagi menahan kekuatan aslinya sepenuhnya.
Ia memutar pedang kayunya di udara, aura putih dan hitam kembali menyembur keluar namun kali ini lebih terkendali, lebih padat, dan lebih tajam. Ia menjalankan intisari Seni Teratai Langit, menggabungkan kekuatan raga dan tenaga dalam menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
"Teknik Sekte Gunung Awan Putih memang hebat," ucap Lian Hua saat ia mendesak Gao Feng mundur selangkah demi selangkah. "Tapi ada kekuatan yang lahir dari darah, dari sejarah, dan dari penderitaan. Kekuatan yang tak bisa diajarkan, hanya bisa diwarisi dan dipahami."
Dengan satu gerakan memutar yang luas, Lian Hua mendorong balik seluruh serangan lawan. Ia melompat tinggi ke udara, bayangan teratai mekar di bawah kakinya, dan pedang kayunya menghantam ke bawah dengan kekuatan yang seolah ingin membelah panggung itu menjadi dua.
Gao Feng mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menangkis, kedua tangannya bersilang di depan dada, aura gunung es memadat menjadi perisai tebal.
DUNG!
Suara benturan dahsyat bergema hingga ke seluruh penjuru gunung. Angin kencang menyapu tribun penonton, membuat banyak orang memejamkan mata karena silau.
Saat pandangan kembali jelas, Gao Feng terlihat berlutut di tanah, kedua tangannya gemetar hebat dan penuh memar, napasnya tersengal-sengal berat. Di depannya, ujung pedang kayu Lian Hua menempel tepat di tengah dahinya, sedetik saja lagi akan menyentuh kulitnya.
"Kau hebat," ucap Gao Feng sambil tersenyum pahit namun tulus, lalu menurunkan tangannya tanda menyerah. "Aku kalah. Kekuatanmu berada di tingkat yang jauh lebih tinggi dari apa yang bisa kupahami."
Lian Hua menarik kembali pedangnya, lalu mengulurkan tangan membantu lawannya berdiri. "Terima kasih. Kau mengajarkanku banyak hal hari ini."
Keheningan sekejap melanda arena, sebelum akhirnya meledaklah sorak sorai gemuruh yang mengguncang langit. Ribuan suara berseru memanggil nama Lian Hua, penuh kekaguman, hormat, dan rasa bangga. Di kursi kehormatan, para tetua berdiri serentak, wajah mereka tak lagi ragu, melainkan penuh kegembiraan dan kepuasan. Tetua Utama mengangguk berulang kali, matanya berkilat terang.
"Lian Hua, atas kemenanganmu ini, dan atas bakat serta kekuatan yang kau miliki... kami menetapkanmu secara resmi sebagai Murid Dalam Sekte Gunung Awan Putih," seru Tetua Utama dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh penjuru. "Mulai hari ini, kau berhak masuk ke Aula Utama, mengakses Perpustakaan Rahasia, dan belajar ilmu puncak sekte. Kau adalah kebanggaan kita semua!"
Lian Hua berlutut memberi penghormatan, hatinya tenang namun penuh rasa lega dan tekad yang makin menguat. Langkah pertamanya telah berhasil. Ia kini memiliki akses ke sumber daya yang ia butuhkan untuk tumbuh lebih kuat. Ia perlahan berdiri, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap langit biru di atas.
Ayah, Ibu... aku sudah sampai sejauh ini. Aku sudah mulai melangkah di jalan yang kalian tinggalkan. Tunggu sebentar lagi... aku akan datang menuntut balas, dan mengembalikan nama besar kita.
Malam itu, perayaan kemenangan berlangsung meriah di seluruh sekte. Lampu-lampu dinyalakan terang, suara musik dan kegembiraan terdengar di mana-mana. Namun Lian Hua tidak ikut bersenang-senang. Ia pergi sendirian ke atap bangunan utama yang tertinggi, tempat yang sepi namun memiliki pemandangan luas ke seluruh wilayah sekte dan hutan di kejauhan. Angin malam bertiup sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma rumput dan bunga liar.
Di dadanya, liontin giok peninggalan leluhur berkilau samar diterangi cahaya bulan purnama yang bulat dan terang. Ia memegang benda itu erat, merasakan hawa hangat yang mengalir darinya ke sekujur tubuh.
"Aku semakin kuat," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Musuhku sedang bergerak, bahaya semakin dekat. Tapi aku takkan mundur. Selama darah ini masih mengalir, selama warisan ini ada padaku... aku akan maju terus."
Tiba-tiba, angin malam berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Suasana tenang itu terpecah oleh hawa pembunuhan yang pekat, jahat, dan mengerikan, hawa yang sangat dikenalnya — hawa dari Menara Darah Hitam.
Lian Hua menegakkan badan seketika, seluruh bulu kuduknya meremang berdiri. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah atap bangunan di seberang, puluhan langkah jaraknya.
Di sana, berdiri sosok tinggi besar yang menyatu dengan kegelapan malam. Ia mengenakan jubah hitam pekat tanpa jahitan, wajahnya tertutup kain, hanya sepasang mata yang bersinar merah redup, tajam dan berbahaya bagai binatang buas yang mengintai mangsanya. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang yang terbungkus kain hitam, memancarkan hawa kematian yang tak terhitung jumlahnya.
Sosok itu berdiri diam, angin malam menerpa ujung jubahnya namun ia tak bergerak sedikit pun, seolah ia adalah patung kematian yang telah berdiri di sana sejak ribuan tahun lalu.
Ia menatap tepat ke arah Lian Hua, matanya tertuju tajam pada liontin giok yang tergantung di dada pemuda itu. Perlahan, sudut bibirnya tersunggingkan membentuk senyum mengerikan yang dingin dan kejam.
Dan di keheningan malam yang sunyi itu, suaranya terdengar rendah, parau, namun sangat jelas, seolah berbisik tepat di telinga Lian Hua:
"Pewaris Teratai Suci akhirnya ditemukan."
Suara itu bergema pelan di antara bangunan-bangunan sekte, lalu lenyap dibawa angin. Sosok itu masih berdiri diam, menunggu reaksi Lian Hua, seolah baru saja menyampaikan kabar yang paling menyenangkan baginya.
Di bawah cahaya bulan purnama yang terang itu, di atas atap tertinggi Sekte Gunung Awan Putih, pandangan kedua sosok itu bertemu — satu membawa kebencian dan tekad membalas dendam, satu lagi membawa niat jahat dan keinginan untuk memusnahkan.
Babak baru telah dibuka. Dan kali ini, persembunyian sudah tiada. Perang antara Teratai dan Darah Hitam kini bukan lagi sekadar bayangan, melainkan kenyataan pahit yang berdiri tepat di depan mata.