Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Si Luccy
Senin pagi di sekolah, Melody menutup lemari lokernya dan memutar kunci dengan napas panjang frustrasi. Sudah kedua kalinya dia menemukan sepotong keju busuk berbau menyengat di dalam sana.
Bau itu sudah meresap ke semua buku dan peralatannya. Pelakunya bahkan menempelkan gambar tikus liar dan menulis kata "FREAK" di pintu loker.
Dasar bodoh.
Melody benar-benar benci orang-orang seperti mereka.
Suara pintu loker berdentang bersamaan dengan bunyi bel masuk. Melody pun berjalan menuju kelas Aljabar dengan perasaan was-was, takut berpapasan dengan Adden dan gerombolannya.
Saat melewati koridor, tubuhnya menegang mendengar percakapan dua siswi tim tari.
"Kamu dengar gak akhir pekan lalu di pesta Issac? Adden habis main sama Clarine, terus Clarine bilang kalau titidnya Adden gede banget sampai hampir gak muat. Gak cuma sekali aku dengar hal kayak gitu," cewek satu berbisik sambil terkikik.
"Iya tahu. Katanya sih emang besar banget. Beneran segede itu ya?" sahut temannya.
Melody memutar mata malas. Sudah bisa ditebak, itu saja yang selalu jadi bahan obrolan mereka selain soal popularitas dan harta.
"Bakal ada pesta lagi nih akhir pekan ini di rumah Bastian. Semua orang bakal dateng, termasuk Adden tuh," tambah cewek yang duduk di sebelahnya.
Melody memang tidak tahu soal itu, tapi buat apa?
Dia kan bukan siapa-siapa buat mereka. Hama yang ingin mereka usir. Bau busuk dari lokernya seakan jadi bukti nyata bagaimana mereka memandangnya.
Saat Melody lewat, cewek itu kembali berbicara, "Baru aja aku lihat dia masuk ke lab kosong sama Luccy. Kayaknya dia suka deh sama Luccy, soalnya mereka sering mesra-mesraan di mana aja. Denger-denger sih mau jadian resmi."
Cewek yang lain mendengus. "Gak mungkinlah. Semua orang tahu Adden gak percaya sama pacaran. Dia cuma mau main-main aja."
Sepanjang perjalanan ke sekolah tadi, Messy biasanya diam saja. Kecuali pagi ini dia sempat menawari sarapan, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Melody.
Melody duduk di pojokan kelas seperti biasa. Pintu terbuka, dan Adden masuk diikuti Luccy dari belakang. Dari penampilan mereka, jelas sekali mereka baru saja bercumbu di lab tadi.
Perut Melody terasa mual. Luccy itu kan cewek paling jahat di sekolah ini, tapi kenapa Adden mau sama dia?
Di barisan depan, Mihoy mendongak. Raut wajahnya langsung berubah masam melihat kedatangan mereka.
"Maaf ya hampir telat. Kalian tahu kan Adden itu gimana," ujar Luccy sambil terengah-engah, merapikan roknya dengan gerakan yang sengaja memperlihatkan apa yang baru saja mereka lakukan.
Mihoy membalas dengan senyum palsu. Ternyata Luccy tidak tahu kalau Adden juga sedang main api dengan Mihoy. Seru juga dramanya.
Adden duduk di tempat biasa dan mengangkat alis melihat Luccy dan Mihoy akur-akuran. Pasti dia sedang senang-senangnya melihat keributan ini. Dasar playboy kelas kakap.
Luccy menatap Adden dan menjilat bibirnya, membuat Melody merasa ingin muntah. Seharusnya Melody tidak peduli, tapi nyatanya sakit. Adden pernah menjadi segalanya buat dia, dan melihat dia begini rasanya perih.
Melody mengambil bukunya yang masih berbau tidak sedap. Dia membukanya. Kalau disemprot parfum pasti bukunya rusak, jadi dia harus cari cara lain.
"Aduh, apa sih yang bau banget gini?" seru Luccy tiba-tiba. Dia mengerutkan hidung sambil menutup mulut, matanya menatap tajam ke arah Melody.
Melody yakin 100% ini ulah Luccy.
Dasar jalang.
"Itu tuh si Tikus Jalanan," tunjuk Luccy ke arah Melody, lalu menoleh ke Messy. "Kamu gak pernah ngajarin dia soal kebersihan apa gimana sih?"
Mata Melody dan Adden bertemu. Cowok itu justru tersenyum mengejek. Dia menganggap ini lucu. Ke mana perginya Adden yang dulu lembut dan pernah membela kucing peliharaan Melody?
Sepertinya sosok itu sudah mati. Yang ada di depan mata sekarang adalah Adden yang asli, dingin dan kejam.
"Dih, jangan ganggu dia deh, Luccy," tegur Messy pelan.
"Cuma ngomong fakta kok. Kamu harusnya kasih tahu dia kan. Maksud aku, baunya sampe ke sini tau," ujar Luccy ketus.
"Mending kamu mikirin dulu lubangmu yang baru dipakai itu ... sebelum nyolot soal orang lain. Berhenti deh jadi cewek sok laku dan nggak pede. Itu cuma bikin kamu kelihatan bego. Tapi emang cewek kayak kamu gak bakal bisa terima kalau ada hal yang ga bisa kamu kendaliin. Makanya kamu rela diperlakukan kayak sampah sama cowok-cowok itu," balas Melody cepat dan tajam.
"Apa? Kamu bilang apa hah?" geram Luccy.
Melody berdiri, menghadap tepat di hadapan cewek itu sambil mengangkat buku yang rusak karena ulahnya.
"Kamu denger banget apa yang aku omongin," desis Melody melalui gigi terkatup, menempelkan buku itu tepat di depan wajah Luccy yang terbelalak. Luccy pasti tidak pernah menyangka Melody akan berani melawan.
Selama ini Melody menahan diri, tapi kesabaran ada batasnya. "Coba sekali lagi kamu masukin keju atau apa pun ke loker aku, lihat aja apa yang bakal aku lakuin!"