Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
Suasana sidang subuh di Aula Agung Orizon terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti pilar-pilar batu raksasa, sementara cahaya obor menari-nari di wajah para menteri yang tampak tegang. Di tengah aula, Menteri Keuangan—seorang pria tambun bernama Lord Varish—berdiri dengan tangan gemetar, sementara gulungan kertas bukti pengkhianatannya tergeletak di meja depan Magnus.
"Lord Varish," suara Magnus memecah keheningan, berat dan mengancam. "Surat ini menjelaskan secara rinci rencana sabotase gudang senjata. Masihkah kau ingin mengelak bahwa ini bukan tulisan tanganmu?"
Varish berkeringat dingin, namun tiba-tiba ia mendongak. Matanya yang licik melirik ke arah tirai emas di belakang singgasana, tempat Alesia bersembunyi.
"Hamba mengakui surat itu, Yang Mulia!" teriak Varish tiba-tiba, suaranya menggema. "Namun, hamba melakukannya karena takut! Hamba mencoba mencari perlindungan karena istana ini telah dikuasai oleh kekuatan gelap!"
Para menteri mulai berbisik-bisik. Magnus menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
"Permaisuri Alessia!" Varish menunjuk ke arah tirai. "Bagaimana mungkin seorang putri yang lemah tiba-tiba bisa melumpuhkan Jenderal Kael? Bagaimana dia bisa menghancurkan Cermin Kebenaran yang suci? Itu bukan kekuatan manusia! Dia telah melakukan perjanjian dengan Iblis Kuno dari Tanah Terlarang untuk menguasai pikiran Anda, Yang Mulia!"
Alesia, yang sedari tadi menguping di balik tirai, mendengus kencang. Wah, bener-bener si Om buncit ini. Udah mau tenggelam, malah narik kaki orang!
"Hamba memiliki saksi!" lanjut Varish dengan histeris. "Seorang pertapa melihat Permaisuri melakukan ritual aneh di malam hari, menggerakkan tubuhnya dengan cara yang tidak masuk akal dan mengeluarkan suara-suara seperti mantra terkutuk!"
"Mantra terkutuk?" Magnus bertanya dengan nada datar, namun tangannya mengepal di atas kursi.
"Benar! Dia berteriak 'Ciaat!' dan 'Hup!' sembari mengayunkan senjata tajam. Itu adalah bahasa pemanggilan iblis!"
Di balik tirai, Alesia sudah tidak tahan lagi. Ia menyibak kain emas itu dengan kasar dan melangkah keluar dengan langkah angkuh, membuat seluruh ruangan tersentak.
"Buset dah, Pak Tua! 'Ciaat' dibilang mantra iblis? Lu kurang piknik ya?" seru Alesia sambil berkacak pinggang di samping singgasana Magnus.
"Lihat! Lihat cara bicaranya yang kasar!" Varish mencoba memprovokasi. "Yang Mulia Raja, dia sudah merasuki tubuh Permaisuri kita!"
Alesia berjalan turun dari podium, mendekati Varish yang mulai mundur ketakutan. "Dengerin ya, Pak Menteri yang terhormat. Nama saya Alesia, dan saya kaga pake jin, kaga pake iblis, apalagi pake susuk. Lu mau tau kenapa gue bisa kuat? Sini, gue jelasin pake logika yang otak lu sanggup terima."
Alesia menoleh ke arah para menteri lainnya. "Bapak-bapak sekalian tahu kenapa Jenderal Kael bisa saya lumpuhkan? Itu bukan sihir. Itu namanya Anatomi. Di tubuh manusia itu ada titik-titik saraf. Kalau lu tekan dengan tekanan yang pas di sudut yang bener, mau lu badak sekalipun, lu bakal lemes. Itu ilmu pengetahuan, bukan ilmu gaib!"
"Lalu... lalu gerakan aneh yang kau lakukan di malam hari?!" tantang Varish.
"Itu namanya Olahraga, Pak! Senam pagi versi premium!" Alesia memutar matanya. "Lu liat badan gue sehat begini karena gue gerak. Kaga kayak lu, duduk mulu ngitungin duit rakyat sampe perut lu mirip gentong air."
Tawa kecil terdengar dari barisan prajurit di belakang, membuat wajah Varish memerah.
"Saksi saya melihat Anda menghilang di tengah malam!" teriak Varish lagi, mulai putus asa.
"Gue cari angin! Emangnya di istana ini kaga boleh jajan cilok—eh, maksudnya jajan pasar malam?" Alesia berbalik menghadap Magnus. "Bang, lu saksinya kan? Gue tiap malem latihan fisik sama lu. Apa ada bau menyan? Apa ada kepala kambing di kamar kita? Kagak ada kan?"
Magnus menatap istrinya dengan bangga, lalu menoleh pada Varish dengan tatapan maut. "Cukup, Varish. Kau mencoba menutupi pengkhianatanmu dengan fitnah murahan terhadap Permaisuriku. Kau bilang dia menggunakan sihir? Jika dia benar-benar memiliki kekuatan iblis, kau sudah menjadi abu sejak kau mulai bicara tadi."
"Tapi... tapi Yang Mulia..."
"Pengawal!" Magnus berdiri. "Cabut seluruh gelar Lord Varish. Sita seluruh hartanya untuk kas negara, dan jebloskan dia ke penjara bawah tanah terdalam. Biarkan dia berdiskusi dengan tikus tentang siapa yang sebenarnya memiliki perjanjian dengan kegelapan."
"Tidak! Yang Mulia! Permaisuri itu berbahaya! Dia bukan manusia!" teriak Varish saat diseret keluar oleh para prajurit elit.
Aula kembali hening. Alesia menarik napas lega, ia mengusap telapak tangannya. "Fiuh... cape juga ya adu mulut subuh-subuh begini. Haus nih, Bang."
Magnus turun dari singgasananya, menghampiri Alesia di depan para menteri yang kini menunduk hormat dengan rasa takut yang baru. "Kau sangat hebat tadi, Siti. Logika 'Anatomi' itu... sangat masuk akal bagi mereka yang tidak paham beladiri."
"Ya iya dong. Di dunia gue, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, tapi logika lebih tajem dari pedang," sahut Alesia sambil nyengir.
Satu jam kemudian, di taman dalam paviliun. Lily membawakan teh hangat dan camilan kue beras.
"Gusti Permaisuri, hamba benar-benar tegang tadi. Hamba pikir para menteri akan mempercayai Lord Varish," ucap Lily sambil menuangkan teh dengan tangan yang akhirnya tenang.
"Mereka itu cuma butuh penjelasan, Ly. Orang kalau liat sesuatu yang beda pasti dikira setan. Makanya kita harus kasih pencerahan dikit biar otaknya kagak kaku," jawab Alesia santai.
Magnus masuk ke taman, ia sudah melepas jubah kebesarannya dan hanya mengenakan kemeja sutra hitam. Ia duduk di samping Alesia.
"Besok kita harus waspada," ucap Magnus tiba-tiba.
"Kenapa lagi, Bang? Kan si menteri buncit udah masuk sel?"
"Varish hanyalah pion. Surat dari Ibu Suri itu ditujukan ke beberapa orang. Aku khawatir penangkapan Varish akan memicu menteri lain untuk bergerak lebih cepat," Magnus menatap kolam ikan dengan serius. "Mereka akan mencoba menyerangmu lagi, tapi mungkin dengan cara yang lebih halus."
Alesia terdiam sejenak, lalu ia memegang tangan Magnus. "Bang, selama lu percaya sama gue, gue kaga takut. Mau mereka bawa satu batalyon dukun santet sekalipun, gue bakal hadepin pake jurus rahasia Depok."
"Jurus apa itu?" tanya Magnus penasaran.
"Jurus Senggol Bacok," tawa Alesia pecah. "Kagak, deng. Jurus sabar dan waspada. Tapi serius, Bang, gue punya ide. Gimana kalau kita bikin semacam 'Pasukan Mata-Mata' yang isinya pelayan-pelayan setia kayak Lily? Mereka kan sering denger gosip di dapur atau lorong. Itu info berharga loh."
Magnus menaikkan alisnya, tampak tertarik. "Mata-mata dari kalangan pelayan? Itu ide yang sangat tidak biasa, tapi... efisien. Siapa yang akan melatih mereka?"
Alesia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. "Siapa lagi kalau bukan gue? Gue bakal ajarin mereka cara nguping tanpa ketauan dan cara bela diri dasar buat perlindungan diri. Gimana?"
Magnus tersenyum lebar, ia menarik Alesia ke dalam dekapannya. "Kau benar-benar bukan permaisuri biasa. Baiklah, aku berikan ijin padamu untuk membentuk 'Mata-Mata Mawar'. Tapi dengan satu syarat."
"Apaan, Bang?"
"Jangan sampai kau sendiri yang terjun ke lapangan gelap lagi tanpa aku. Jantungku tidak sekuat teknik 'Anatomi'-mu itu."
Alesia tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Magnus yang hangat. "Siap, Bos Raja! Janji deh, gue bakal jadi pelatih di balik layar aja."
Di kejauhan, Lily tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Namun, di sudut bayangan koridor istana, sebuah pasang mata masih mengawasi mereka dengan penuh kebencian, memegang secarik kertas yang belum sempat tersentuh oleh penggeledahan Magnus.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii