Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Pindahan, Aroma Saingan, dan Strategi Cemburu Robot
Kehidupan di SMA Garuda setelah "Tragedi Kolam Ikan" dan "Makan Malam Mantan Anak Band" sebenarnya mulai berjalan normal. Arlan sukses menyerahkan laporan akreditasi tepat waktu (yang bikin Kepala Sekolah hampir sujud syukur), dan Ghea mulai rajin ke perpustakaan tanpa perlu diseret-seret Pak Bagus lagi.
Namun, ketenangan itu hancur saat bel masuk berbunyi di Senin pagi yang cerah. Pak Broto masuk ke kelas 11-IPA-4 (kelas Ghea dan Juna) dengan wajah yang lebih ceria dari biasanya.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan keluarga baru. Dia pindahan dari Melbourne, Australia. Silakan masuk, Kenzo," ucap Pak Broto sambil melambai ke arah pintu.
Sesosok cowok masuk. Dan seketika, seluruh siswi di kelas itu (termasuk Juna yang lagi mengunyah permen karet) mendadak berhenti bernapas. Cowok itu tinggi, rambutnya sedikit berantakan tapi keren ala-ala aktor indie, kulitnya agak kecokelatan karena sering main selancar, dan senyumnya... Ya Tuhan, senyumnya bisa bikin es teh manis jadi hambar karena kalah manis.
"Halo semuanya. Nama gue Kenzo. Panggil aja Ken. Semoga kita bisa jadi temen baik," ucap Kenzo dengan suara bass yang lembut. Dia lalu berjalan menuju kursi kosong yang kebetulan banget—persis di sebelah Ghea.
Juna menyenggol lengan Ghea. "Ghe, tutup mulut lo. Air liur lo mau netes tuh. Inget Arlan, Ghe! Inget Robot kita!"
Ghea mengerjap-ngerjap. "Hah? Apaan sih, Jun? Gue cuma kagum sama struktur rahangnya. Secara estetika itu... sangat simetris."
Masalah dimulai saat jam istirahat. Kenzo ternyata bukan cuma modal tampang. Dia pinter, asyik diajak ngobrol, dan yang paling parah: dia suka banget sama hal-hal absurd. Sesuatu yang selama ini jadi "makanan sehari-hari" Ghea.
"Oh, jadi lo asisten ruang arsip? Keren banget! Di Melbourne gue juga sering bantu beresin perpustakaan kota. Gue suka bau kertas lama," kata Kenzo sambil tertawa saat mengobrol dengan Ghea di kantin.
"Wah, serius? Jarang banget ada cowok yang suka bau debu kertas selain si Robot itu," jawab Ghea antusias.
Tiba-tiba, suasana kantin mendadak dingin. Arlan muncul dengan Pak Bagus di belakangnya. Arlan biasanya hanya lewat tanpa ekspresi, tapi langkahnya terhenti saat melihat Ghea sedang tertawa lebar sambil memegang kerupuk udang bersama cowok asing yang terlihat seperti model iklan sabun muka.
Arlan berjalan mendekat. Wajahnya lebih datar dari layar monitor yang mati.
"Ghea. Laporan inventaris laboratorium kimia belum lo verifikasi," ucap Arlan ketus. Padahal, laporan itu baru mau dikerjakan minggu depan.
Ghea mendongak. "Eh, Ar! Kenalin, ini Kenzo. Murid baru di kelas gue. Ken, ini Arlan, Ketua OSIS paling kaku se-Asia Tenggara."
Kenzo berdiri dan mengulurkan tangan dengan ramah. "Kenzo. Salam kenal, Bro. Gue denger lo jenius Fisika ya?"
Arlan menatap tangan Kenzo selama tiga detik (yang terasa seperti tiga jam bagi orang-orang di sekitar). Dia tidak menjabat tangan Kenzo, melainkan hanya mengangguk sedikit. "Gue sibuk. Ghe, ikut gue ke ruang OSIS sekarang. Ada koordinasi mendadak."
"Tapi Ar, gue baru mau makan bakso—"
"Sekarang, Ghea," potong Arlan dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Ghea cuma bisa pasrah. Dia pamit pada Kenzo dan mengikuti Arlan yang berjalan cepat. Juna yang melihat itu dari jauh cuma bisa geleng-geleng kepala. "Waduh, sensor cemburu si Robot kayaknya lagi korslet nih."
Di ruang OSIS yang sepi, Arlan mondar-mandir tidak jelas. Dia memegang pulpen tapi tidak menulis apa-apa. Ghea duduk di sofa, memperhatikan tingkah aneh "bosnya" itu.
"Ar, lo kenapa sih? Sakit gigi? Atau Pak Bagus lupa beliin lo kopi?" tanya Ghea.
Arlan berhenti melangkah. Dia menatap Ghea tajam. "Siapa tadi? Ken-apa?"
"Kenzo, Ar. Ken-zo. Kenapa sih? Dia baik kok, dia juga suka bau kertas lama kayak lo."
"Bau kertas lama itu hobi yang spesifik, Ghe. Nggak semua orang yang bilang suka itu beneran suka. Bisa jadi dia cuma mau cari perhatian," ucap Arlan sinis.
Ghea mulai sadar sesuatu. Dia tersenyum licik. "Ar... lo... lo cemburu ya?"
"Cemburu? Secara logika, cemburu adalah emosi yang tidak efisien dan hanya membuang-buang energi metabolisme tubuh. Gue nggak cemburu," bantah Arlan cepat, tapi telinganya mendadak merah padam.
"Halah! Ngaku aja! Lo takut kan saingan sama cowok Melbourne yang rahangnya simetris itu?" Ghea mendekati Arlan, mencoba menggoda.
"Rahangnya biasa saja. Secara anatomi, rahang gue juga simetris kalau diukur pakai jangka sorong," jawab Arlan defensif.
Ghea ketawa ngakak. "Ya ampun, Ar! Masa lo mau ngukur rahang pake jangka sorong?! Lo bener-bener robot paling ajaib sedunia!"
Namun, kehadiran Kenzo ternyata membawa dampak yang lebih besar. Kenzo ditunjuk Pak Broto untuk jadi partner Ghea dalam proyek "Laporan Inovasi Lingkungan Sekolah". Artinya, Ghea bakal makin sering berduaan sama Kenzo.
Arlan yang tahu hal itu langsung mengadakan "Rapat Darurat Intelijen" dengan Juna di belakang kantin.
"Jun, gue butuh data lengkap tentang Kenzo. Apa kelemahannya? Apa dia punya catatan kriminal di Australia?" tanya Arlan serius.
Juna mengunyah ciloknya dengan santai. "Ar, tenang. Kenzo itu orang baik. Kelemahannya cuma satu: dia nggak bisa makan pedas. Kemarin dia makan seblak level 1 aja langsung nangis."
Arlan mencatat itu di buku hitam kecilnya. "Nggak tahan pedas... catat. Apa lagi?"
"Dia takut kecoak. Dan dia nggak pinter Fisika. Dia lebih ke seni dan bahasa," tambah Juna.
Arlan tersenyum penuh kemenangan. "Oke. Gue tahu apa yang harus gue lakuin."
Sore itu, saat Ghea dan Kenzo sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, Arlan tiba-tiba datang membawa tumpukan buku Fisika Kuantum yang sangat tebal. Dia duduk tepat di depan mereka.
"Ghe, gue rasa laporan inovasi lingkungan lo butuh sentuhan sains yang lebih mendalam. Kenzo, lo tahu nggak gimana cara menghitung konversi energi kinetik dari limbah air sekolah jadi listrik statis?" tanya Arlan dengan nada menantang.
Kenzo melongo. "Eh... gue belum nyampe situ sih pembahasannya."
"Sayang sekali. Padahal itu dasar dari inovasi lingkungan yang efisien," Arlan mulai menjelaskan teori-teori rumit yang bikin Kenzo pusing tujuh keliling, sementara Ghea cuma bisa bengong liat Arlan yang lagi mode "Show Off" level dewa.
Tapi Kenzo ternyata tidak gampang menyerah. Dia justru makin perhatian sama Ghea. Dia sering bawain Ghea cokelat impor atau ngajakin Ghea dengerin lagu-lagu indie luar negeri yang keren.
Puncaknya adalah saat pengumuman lomba "Pasangan Pelajar Teladan" yang diadakan sekolah. Shinta (yang masih belum menyerah) mencalonkan diri bareng Kenzo sebagai perwakilan sekolah untuk kategori "Visual Terbaik". Sementara itu, entah siapa yang iseng, nama Arlan dan Ghea juga masuk ke dalam daftar calon.
"Ghe, kita harus menang," ucap Arlan saat mereka sedang merapikan gudang (yang sekarang sudah rapi banget).
"Menang apa? Lomba itu? Ar, kita ini jauh dari kata teladan! Gue sering telat, lo kaku banget kayak kanebo kering!"
"Gue nggak peduli. Gue nggak mau liat foto lo dipajang di mading sekolah bareng Kenzo atau Shinta. Kita harus buktiin kalau 'Robot' dan 'Tikus Akreditasi' adalah pasangan paling efisien," Arlan menatap mata Ghea dengan serius.
Ghea terdiam. Jantungnya mendadak bunyi dug-dug-dug lebih kencang dari suara mesin jeep Juna. "Oke... tapi lo harus janji satu hal."
"Apa?"
"Lo harus belajar senyum yang bener. Jangan senyum yang kayak lagi nahan sakit perut. Rakyat SMA Garuda butuh pemimpin yang ramah!"
Arlan mencoba menarik sudut bibirnya. Hasilnya? Mengerikan.
"Ar... mending lo nggak usah senyum deh. Malah kayak pemeran film horor yang mau mangsa korban," keluh Ghea.
Persaingan pun dimulai. Kenzo dengan pesonanya, Shinta dengan kelicikannya, dan Arlan dengan "kecemburuan robotik"-nya yang unik. Ghea berada di tengah-tengah, merasa hidupnya sekarang benar-benar mirip sinetron remaja yang episodenya nggak habis-habis.
Malam itu, Ghea menulis di buku catatannya:
Laporan Hari Ini: Robot gue mulai bisa cemburu. Ternyata benar kata Juna, sekuat-kuatnya tembok pertahanan, bakal runtuh juga kalau kena serangan senyum cowok Melbourne. Tapi tenang, gue lebih suka Robot kaku gue daripada cowok rahang simetris itu.
Tanpa Ghea sadari, Kenzo yang sedang berjalan menuju mobilnya di parkiran sekolah, melihat Ghea dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo? Gue udah masuk ke sekolah itu. Targetnya gampang banget dideketin. Arlan? Dia cuma cowok kaku yang gampang dipancing emosinya. Tenang aja, rencana kita bakal jalan lancar."
Siapa sebenarnya Kenzo? Dan apa hubungannya dengan masa lalu Papa Arlan atau Shinta?