Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Maura
Sepanjang perjalanan pulang Maura hanya diam. Dirinya tak ingin menangis di hadapan siapapun. Walau dirinya tau jika Radit mengeluarkan satu kata saja air matanya pasti akan keluar dengan derasnya. Diri yang selalu merasa tak pantas dengan Radit di harapkan dengan orang yang benar-benar menilai segalanya dengan kasta membuat pertahanannya runtuh begitu saja.
Jika ada orang mengatakan itu berlebihan biarlah orang itu berfikir seperti itu saja. Karena apapun yang terjadi dengan diri kita hanya kita yang tau. Radit menepikan mobilnya di taman dekat dengan rumah Maura. Namun, Maura tak menyadarinya karena dirinya terlalu larut dengan isi fikirannya.
"Sayang..." Panggil Radit seraya membawa tangan kanan maura pada genggamannya.
Deg...
Maura tersadar dan menatap Radit dalam. Mencari kepalsuan dari panggilan Radit. Tanpa disadari seatbelt yang terpasang sudah terlepas dan Radit membawa Maura ke dalam dekapannya. Runtuh sudah semua pertahanan Maura. Entah mengapa Radit selalu berhasil membuat dirinya luluh. Radit mengusap punggung Maura lembut dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.
"Kenapa Mas Radit seperti ini sama aku?" Tanya Maura di sela isakannya.
"Karena Mas sayang sama kamu." Jawab Radit.
"Kenapa aku Mas?" Tanya Maura lagi.
"Iya karena itu kamu sayang. Jika bukan kamu Mas ngga mau." Jawab Radit lagi.
Dan tangisan Maura kembali pecah semakin pilu.
"Aku ini orang biasa Mas. Aku janda dan aku mandul kata mantan suami dan mertua ku." Ucap Maura.
"Mas ngga perduli sayang. Jika kamu berkenan Mas nikahi Mas akan nikahi kami sekarang juga. Dan perihal keturunan hanya Tuhan yang tau jangan mendahuluinya sayang." Jelas Radit.
Kata-kata sayang itu selalu meluncur dengan baik dari mulut Radit membuat Maura semakin dag dig dug.
"Beneran Mas mau nikah sama aku? Nanti kalo aku ternyata benar ngga bisa punya anak gimana? Mas bakal ninggalin aku kan?" Tanya Maura melepas pelukannya dan menatap Radit dengan mata berair.
"Jika bisa sekarang Mas akan nikahin kamu sekarang sayang. Mas ngga perduli perihal anak. Jika memang Tuhan berkehendak kita tidak bisa memiliki anak secara biologis kita bisa adopsi sayang." Radit.
"Mas Radit bohong... Pasti nanti Mas Radit buang aku, hina aku terus cari istri baru yang lebih cantik lebih seksi dan bisa kasih mas anak." Rengek Maura.
"Ngga akan sayang. Mas cuma mau kamu aja. Kalo kamu berfikir buat ninggalin Mas maka seumur hidup Mas ngga akan menikah." Radit.
"Mas.."
"Iya sayang.."
Maura menghambur kedalam pelukan Radit kembali san Radit membalas pelukannya tak kalah erat. Berkali-kali Radit mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepala Maura.
"Klo gitu Mas mau nikahin aku besok?" Tanya Maura melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak ingin pernikahan seperti Maulida atau kamu punya pernikahan impian sayang?" Tanya Radit.
Maura hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku cuma mau nikah di KUA." Jawab Maura.
"Kenapa sayang?" Radit.
"Mas ngga mau ya? Mas malu ya?" Tanya balik Maura.
"Tidak sayang. Tapi kenapa?" Radit.
"Aku ngga mau pesta mewah aku cuma mau pernikahan aku normal seperti yang lainnya." Jawab Maura lirih.
Radit membawa Maura ke dalam dekapannya.
"Kita bicara pada Ayah sekarang ya. Jika Ayah setuju besok pagi Mas urus perlengkapannya di KUA. Dan kalo bisa langsung menikah hari itu juga kita akan menikah." Ucap Radit dan Maura hanya mengangguk dalam dekapan Radit.
Radit mengerti betapa Rapuhnya Maura. Trauma nya terhadap pernikahan membuatnya merasa tak pantas. Dan Radit tidak akan memaksanya. Dengan Maura mau tetap dekat dengannya saja sebenarnya sudah cukup untuk saat ini. Tapi, jika Maura mau di nikahi tentu Radit tak akan menolak apalagi menundanya.
Semangat...