NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — MALAM TANPA BAYANGAN

Kematian Raka di dalam sumur meninggalkan lubang yang menganga, bukan hanya di dalam kelompok mereka, tapi juga di dalam struktur realitas di sekitar Joglo.

​Nara dan Dion kembali ke rumah dengan langkah gontai. Pakaian mereka basah oleh embun dan keringat dingin, sepatu mereka berat oleh lumpur yang berbau anyir. Tidak ada kata-kata yang terucap. Apa yang bisa dikatakan setelah melihat teman sendiri melebur menjadi air dan ditelan bumi?

​Saat mereka melangkah masuk kembali ke ruang tengah, pemandangan yang menyambut mereka sama mengerikannya dengan apa yang baru saja mereka tinggalkan.

​Siska ada di sana.

​Gadis itu tidak lagi menangis histeris di pojok ruangan. Kini, Siska berlutut di tengah lantai tegel, tepat di tempat Raka tadi berbaring dan membusuk. Di tangannya, Siska memegang kain pel yang sudah kotor kehitaman.

​Srek... Srek... Srek...

​Siska menggosok lantai itu dengan gerakan obsesif. Iramanya cepat, kasar, dan penuh tenaga. Ubin tegel itu sudah bersih dari nanah dan darah Raka—setidaknya secara kasat mata—tapi Siska terus menggosoknya.

​"Sis..." panggil Nara lirih, suaranya parau.

​Siska tidak menoleh. Matanya terpaku pada satu titik di lantai.

​"Masih kotor," gumam Siska. "Masih ada bekasnya. Masih bau dosa."

​Siska mencelupkan kain pel itu ke dalam ember di sampingnya. Air di ember itu keruh, berwarna merah muda. Nara melihat tangan Siska. Kulit jari-jarinya sudah keriput pucat karena terlalu lama terkena air, dan kuku-kukunya patah, berdarah karena terus-menerus menggaruk lantai batu yang keras.

​"Siska, udah..." Dion mendekat, mencoba mengambil kain pel itu. "Lantainya udah bersih. Raka udah nggak ada."

​"BERSIH APANYA?!" Siska membentak, mendongak menatap Dion.

​Dion mundur selangkah. Wajah Siska... berubah.

​Wajah itu bukan lagi wajah gadis alim yang lembut. Wajah itu keras, kaku seperti topeng kayu. Matanya merah bengkak, tapi sorotnya kosong melompong. Dan di dahinya, ada bekas memar hitam—bekas ia membenturkan kepalanya sendiri ke lantai saat bersujud terlalu keras.

​"Lo nggak liat?" Siska menunjuk lantai yang kosong. "Itu masih ada bayangannya! Bayangan Raka masih nempel di situ! Dia ngeliatin gue dari bawah ubin!"

​Dion melihat ke lantai. Hanya ada tegel abu-abu tua yang basah. Tidak ada bayangan.

​"Nggak ada apa-apa, Sis," kata Nara lembut, berjongkok di samping Siska. "Itu cuma air."

​"Ada..." isak Siska, suaranya kembali mengecil menjadi rengekan anak kecil. "Dia bilang dia kedinginan. Dia bilang gue anget. Dia mau masuk lagi..."

​Siska mulai menggosok lagi. Srek. Srek. Kali ini sambil menangis tanpa suara.

​Nara berdiri, menatap Dion dengan pandangan putus asa. "Dia broken, Yon. Mentalnya udah pecah."

​"Kita semua pecah, Nar," sahut Dion dingin. Ia berjalan menjauh, menuju jendela depan yang papannya sedikit renggang. "Cuma pecahannya aja yang beda bentuk."

​Dion mengintip keluar melalui celah jendela. Ia butuh memastikan sesuatu.

​Sejak hari pertama mereka di sini, setiap malam, Dion selalu melihat satu pemandangan yang konstan. Di batas antara pekarangan Joglo dan hutan jati, selalu ada sosok yang berdiri. Sosok tinggi besar, berbaju hitam, tanpa kepala.

​Bayangan Tanpa Kepala.

​Sosok itu biasanya berdiri diam, seperti satpam gaib yang menjaga agar "tahanan" tidak keluar, atau agar sesuatu dari hutan tidak masuk sembarangan sebelum waktunya. Keberadaannya mengerikan, tapi konsistensinya memberikan sedikit rasa "aman" yang paradoksal—setidaknya mereka tahu di mana letak ancamannya.

​Dion menyipitkan mata, menembus kegelapan malam.

​Hutan itu sepi. Angin tidak berhembus. Daun-daun jati diam mematung.

​Tapi sosok itu...

​"Ilang," bisik Dion.

​"Apanya yang ilang?" tanya Nara, yang sedang mencoba membalut luka di tangan Siska.

​"Penjaganya," kata Dion, suaranya bergetar. "Si Tanpa Kepala. Dia nggak ada di posnya."

​"Mungkin dia lagi patroli? Atau lagi di sumur?"

​"Nggak, Nar. Lo nggak ngerti mitologinya," Dion berbalik, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lilin yang remang. "Makhluk kayak gitu itu Pecalang Niskala. Penjaga gerbang. Dia nggak pernah ninggalin posnya kecuali dua alasan."

​Dion menelan ludah susah payah.

​"Satu, kalau mataharinya terbit. Dua, kalau Tuannya sudah datang, jadi dia nggak perlu jaga lagi."

​Nara merasakan dingin merambat di punggungnya. "Maksud lo..."

​"Pagernya udah dibuka, Nar. Anjing penjaganya udah disuruh pergi," Dion menatap pintu depan yang terkunci. "Sekarang, apapun yang ada di hutan... bebas masuk ke ring satu."

​Dan seolah alam merespons ucapan Dion, suasana malam itu berubah drastis.

​Cahaya bulan yang tadinya samar-samar masuk lewat ventilasi, tiba-tiba terang benderang. Tapi cahayanya bukan perak kebiruan. Cahayanya putih susu. Terang sekali, seolah ada lampu stadion yang dinyalakan tepat di atas atap Joglo.

​Cahaya itu menembus masuk lewat setiap celah dinding, celah genteng, dan lubang kunci.

​Ruang tengah Joglo menjadi terang benderang.

​Siska berhenti menggosok lantai. Ia menutup matanya, silau. "Terang... kok terang? Udah pagi?"

​"Belum," Nara melihat jam tangannya. Jarumnya berputar gila, tapi hari masih terasa malam. "Ini bukan matahari."

​Nara melihat ke sekeliling ruangan. Dan ia menyadari sesuatu yang membuat otaknya korslet.

​Di ruangan yang terang benderang itu... tidak ada bayangan.

​Meja tidak punya bayangan. Kursi tidak punya bayangan. Tubuh Nara, tubuh Dion, tubuh Siska... tidak ada bayangan hitam yang jatuh di lantai. Cahaya itu datang dari segala arah. Dari atas, dari samping, bahkan seolah memancar dari lantai dan dinding itu sendiri.

​Mereka seperti berada di dalam kotak cahaya tanpa dimensi.

​"Malam Tanpa Bayangan..." gumam Dion, mengingat salah satu bab di buku mitologi Jawa yang pernah ia baca sekilas di perpustakaan kampus. "Saat dunia tengah dan dunia bawah tumpang tindih sempurna. Fisika cahaya rusak."

​"Ini gila," Nara mundur, tapi ia tidak menemukan sudut gelap untuk bersembunyi. Semuanya terekspos. Tidak ada privasi. Tidak ada tempat berlindung.

​"Enak kan?"

​Suara Lala memecah keheningan cahaya itu.

​Lala keluar dari kamarnya. Ia tidak silau. Ia justru terlihat sangat nyaman, seolah ia adalah makhluk yang terbuat dari cahaya itu sendiri.

​Lala berjalan ke tengah ruangan. Dan benar saja—dia juga tidak memiliki bayangan.

​"Kenapa mukanya pada tegang gitu?" tanya Lala sambil terkekeh. Ia mengambil sebuah apel yang entah dari mana, menggigitnya. Krak. Bunyinya renyah memekakkan telinga.

​"Apa yang terjadi, La?" tuntut Nara. "Kenapa penjaga utan ilang? Kenapa terang banget?"

​Lala mengunyah apelnya pelan, menelan, lalu tersenyum manis.

​"Si Tanpa Kepala itu cuma satpam, Nar. Tugasnya cuma nahan kalian biar nggak kabur, sama nahan 'tamu-tamu' lain biar nggak nyerobot antrean."

​Lala berjalan mengelilingi Siska yang masih berlutut.

​"Tapi sekarang... Raka udah masuk. Bima udah masuk. Pintunya udah kebuka lebar. Jadi satpamnya boleh pulang. Shift-nya udah kelar."

​Lala berhenti di depan Dion. Ia mendekatkan wajahnya, matanya yang hitam legam kontras sekali dengan ruangan yang putih terang.

​"Dan soal cahaya ini..." Lala menunjuk ke sekeliling. "Ini bukan lampu. Ini mata."

​"Mata?"

​"Mata Ibu Ratu," bisik Lala. "Sekarang Dia lagi ngeliatin kita. Langsung. Tanpa kedip. Tanpa filter. Dia mau liat jelas... mana daging yang cacat, mana yang mulus."

​Lala menyentuh dada Dion dengan jari telunjuknya.

​"Di cahaya kayak gini, nggak ada yang bisa sembunyi, Mas Dion. Dosa sekecil apa pun... keliatan jelas. Noda tinta di tanganmu... noda sperma di celanamu... noda ketakutan di otakmu... semuanya telanjang."

​Dion menepis tangan Lala. "Jangan sentuh gue!"

​"Galak amat," cibir Lala.

​Tiba-tiba, Siska menjerit.

​"BAYANGAN GUE! BALIKIN BAYANGAN GUE!"

​Mereka menoleh ke Siska.

​Di lantai yang terang benderang tanpa bayangan itu, tiba-tiba muncul satu titik hitam di bawah kaki Siska.

​Titik itu melebar. Memanjang. Seperti tinta yang tumpah di atas kertas putih.

​Hitam pekat.

​Perlahan, tinta hitam itu membentuk siluet. Itu bayangan Siska. Tapi bentuknya salah.

​Siska sedang berlutut. Tapi bayangannya... berdiri tegak.

​Bayangan itu berdiri, berkacak pinggang, dengan rambut yang mengembang liar seperti Medusa. Dan di tangan bayangan itu, tergenggam sebuah benda tajam—seperti pisau atau gunting.

​"Itu bukan bayangan gue..." Siska mundur, menyeret pantatnya di lantai. "Gue nggak berdiri! Gue duduk!"

​Bayangan hitam itu mulai bergerak sendiri.

​Ia tidak menempel pada kaki Siska. Ia terlepas dari tubuh pemiliknya. Bayangan itu melangkah mendekati Siska yang asli.

​"Halo, Siska," suara itu keluar dari lantai, dari mulut si bayangan. Suaranya adalah suara Siska, tapi lebih rendah, penuh kebencian dan cemoohan.

​"Siapa lo?!" jerit Siska.

​"Gue bagian diri lo yang lo buang," jawab bayangan itu. "Gue Siska yang capek jadi anak alim. Gue Siska yang pengen bebas. Gue Siska yang nikmatin sentuhan Raka tadi malem."

​"BOHONG!" Siska melempar ember air pel ke arah bayangan itu.

​Air tumpah, menembus bayangan itu tanpa efek apa-apa.

​Bayangan itu tertawa. Ia berjongkok di depan Siska, lalu mengangkat tangannya (yang berbentuk bayangan pisau) ke leher Siska.

​"Di cahaya yang terlalu terang, sisi gelap manusia bakal misah, Sis," kata bayangan itu. "Kita nggak bisa nyatu lagi. Lo terlalu lemah. Biar gue aja yang ambil alih badannya."

​Bayangan itu menerjang.

​Bukan memukul. Bayangan hitam itu masuk ke dalam mulut Siska yang terbuka karena menjerit.

​"Hmph!" Siska tercekik.

​Ia memegangi lehernya. Matanya melotot. Urat-urat wajahnya menghitam. Ia seperti orang yang dipaksa menelan asap hitam yang padat.

​"SISKA!" Nara berlari, mencoba membantu.

​Tapi Lala menghalangi jalan Nara. Lala merentangkan tangan, dan kekuatan tak kasat mata melempar Nara ke belakang hingga menabrak tembok.

​BUGH!

​"Jangan ganggu," kata Lala dingin. "Dia lagi ganti baju."

​Nara dan Dion hanya bisa menonton dengan horor.

​Tubuh Siska mengejang hebat di lantai. Hitam pekat bayangan itu terus merasuk masuk lewat mulut, hidung, dan telinganya. Kulit Siska yang tadinya pucat, kini perlahan berubah warna menjadi abu-abu gelap.

​Dan kemudian, Siska berhenti bergerak.

​Ia terbaring diam di lantai.

​Satu detik. Dua detik.

​Siska membuka mata.

​Matanya tidak lagi ada bagian putihnya. Semuanya hitam. Sama seperti mata Lala saat kerasukan, tapi berbeda nuansa. Jika mata Lala penuh kelicikan dan godaan, mata Siska penuh dengan... kesedihan yang purba.

​Siska—atau apapun yang ada di dalamnya—bangkit berdiri. Gerakannya kaku, patah-patah, seperti boneka marionette yang talinya kusut.

​Ia menatap tangannya sendiri. Lalu menatap Nara.

​"Nara..." panggil Siska. Suaranya datar. "Nara, tolong..."

​"Sis? Itu lo?" Nara mencoba berdiri, meski punggungnya sakit.

​"Tolong..." ulang Siska. "Tolong bunuh gue."

​Nara ternganga. "Apa?"

​Siska melangkah maju. Tangannya meraba lehernya sendiri, mencengkeramnya kuat-kuat.

​"Di dalem sini rame, Nar," kata Siska, air mata hitam mulai menetes dari matanya. "Banyak bayi. Mereka berisik. Mereka gigit-gigit jantung gue. Sakit, Nar. Sakit banget."

​Siska mengambil pecahan kaca dari kacamata Dion yang terinjak di lantai.

​"Kalau lo nggak mau bunuh gue..." Siska mengarahkan pecahan kaca itu ke nadi lehernya sendiri. "...biar gue yang lakuin."

​"JANGAN!" Nara berteriak.

​Tapi tangan Siska ditahan oleh tangan lain.

​Lala.

​Lala menahan tangan Siska yang memegang kaca.

​"Eits, nggak boleh curang," kata Lala sambil tersenyum miring. "Bunuh diri itu dosanya gede lho, Mbak Siska. Nanti nggak diterima tanah."

​Lala mengambil pecahan kaca itu dari tangan Siska, lalu membuangnya.

​"Kamu harus ngaku dulu," bisik Lala di telinga Siska. "Dosa itu harus dimuntahin lewat kata-kata. Bukan lewat darah. Ceritain sama kita... kenapa bayi-bayi itu suka banget sama rahim kamu?"

​Tubuh Siska gemetar. Ia jatuh berlutut lagi di depan Lala, seolah Lala adalah imam besar pengakuan dosa.

​Cahaya putih terang di ruangan itu semakin menyilaukan, seolah memaksa kebenaran untuk keluar dari tempat persembunyiannya yang paling gelap.

​Malam Tanpa Bayangan telah menelanjangi mereka. Raka sudah mati karena hasratnya. Dan kini, Siska sedang dikuliti aib masa lalunya.

​Dion di sudut ruangan kembali membuka jurnalnya. Dengan tangan gemetar, ia menulis di bawah cahaya yang menyakitkan mata itu.

​TAHAP 3: PENGAKUAN.

Penjaga gerbang hilang. Cahaya menghapus privasi.

Wadah ketiga mulai retak dari dalam.

Rahasia adalah racun, dan malam ini adalah obat pencaharnya.

​Dion menatap Nara. "Siap-siap, Nar. Abis Siska... giliran kita yang ditelanjangin."

​Nara memegang erat pisau dapurnya, tapi ia sadar, pisau tidak bisa melukai cahaya. Di malam tanpa bayangan ini, musuh mereka bukan lagi yang bersembunyi di gelap, tapi yang terekspos terang-benderang di dalam hati mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!