Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda
Pagi itu berjalan lebih hangat dari biasanya. Arthav dan Zafira duduk berdampingan di meja makan, suasananya berbeda lebih tenang, lebih dekat. Tak ada lagi jarak kaku seperti hari-hari sebelumnya.
Sesekali Arthav melirik Zafira, memastikan istrinya nyaman, sementara Zafira berusaha bersikap setenang mungkin meski jantungnya masih sering berdebar mengingat malam tadi.
“Tehnya dingin,” ucap Arthav pelan sambil menggeser cangkir Zafira, menggantinya dengan yang baru.
“Terima kasih,” jawab Zafira singkat, suaranya lembut.
Tanpa mereka sadari, langkah Nyonya Maharani mendekat. Wanita itu berhenti tepat di samping Zafira, berniat menyapa, namun pandangannya tertahan di satu titik. Leher Zafira. Tepat di balik kerah pakaiannya, tampak samar bekas kemerahan yang tak mungkin salah arti.
Alis Nyonya Maharani terangkat sedikit. “Zafira,” panggilnya tenang.
Zafira menoleh refleks. “I-iya, Ibu?”
Nyonya Maharani tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah ke Arthav, lalu kembali ke leher Zafira. Senyum tipis terbit di wajahnya.
“Sepertinya, rumah ini akhirnya kembali hidup.”
Zafira refleks menyentuh lehernya, menyadari sesuatu yang terlewat. Pipinya langsung memanas.
“Ibu a-aku—”
Arthav berdiri, melangkah setengah langkah ke depan, sikapnya tenang tapi jelas protektif.
“Itu salah saya,” ucapnya jujur. “Saya tidak bermaksud membuat Zafira tidak nyaman.”
Nyonya Maharani tertawa kecil, bukan mengejek, justru terdengar puas.
“Saya tidak marah, Arthav. Justru sebaliknya.” Ia menatap Zafira dengan sorot mata penuh arti. “Itu tanda yang jelas. Kalian bukan hanya suami istri di atas kertas lagi.”
Zafira menunduk, jantungnya berdebar, malu bercampur perasaan asing yang hangat.
“Jangan terlalu tegang,” lanjut Nyonya Maharani lembut. “Saya hanya ingin memastikan kali ini bukan sekadar janji.”
Arthav menoleh ke Zafira, suaranya rendah namun mantap. “Saya tidak akan main-main lagi.”
Nyonya Maharani mengangguk puas. “Bagus. Itu yang ingin aku lihat sejak awal.”
Saat Nyonya Maharani melangkah pergi, Zafira menghembuskan napas pelan.
“Kita ketahuan,” gumamnya lirih.
Arthav tersenyum kecil, mendekat dan berbisik,
“Kalau itu yang membuat Ibu berhenti meragukanmu, biarlah.”
Zafira meliriknya, setengah malu, setengah kesal. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak menjauh. Karena bekas di leher itu bukan lagi sekadar tanda melainkan awal dari perubahan yang tak bisa diingkari.
" Dan k-kamu juga, mengapa harus membuat bekas dileherku. Itu akan susah aku menutupnya"
Arthav menghentikan langkahnya, lalu menoleh sambil mengangkat alisnya sedikit.
“Kau benar-benar memperhatikannya?” tanyanya pelan, ada nada geli di suaranya.
Zafira menatapnya kesal bercampur malu.
“Tentu saja. Kau pikir mudah menyembunyikan hal seperti itu di mansion ini?”
Arthav mendekat, suaranya direndahkan.
“Aku tidak bermaksud merepotkanmu. Waktu itu, aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Ya jelas,” sahut Zafira cepat. “Kau hanya bertindak sesukamu.”
Arthav tersenyum kecil.
“Kalau aku minta maaf sekarang, apa kau akan memaafkanku?”
Zafira mendengus pelan.
“Bukan itu masalahnya. Aku hanya tidak ingin mereka terus menatapku seolah-olah—”
“Seolah-olah kau benar-benar istriku?” potong Arthav lembut.
Zafira terdiam sesaat, lalu berujar lirih, “Kita memang suami istri, tapi aku belum terbiasa.”
Arthav menatapnya serius, nada bicaranya melunak.
“Kalau begitu, beri aku waktu. Aku akan belajar menahan diri setidaknya di tempat yang bisa terlihat orang lain.”
Zafira meliriknya sekilas. “Hanya itu?”
“Untuk sekarang,” jawab Arthav sambil tersenyum tipis. “Tapi aku tidak berjanji kalau hanya kita berdua.”
" Aku tidak menyangka, ternyata kau semesum itu orangnya"
Arthav terkekeh pelan, sorot matanya justru tampak santai. “Semesum itu?” ulangnya, seolah menikmati kata itu.
Zafira menyilangkan tangan di depan dada.
“Ya. Kau terlihat tenang, bicaramu juga begitu ringan, seakan semua ini hal biasa bagimu.”
“Apa itu membuatmu terganggu?” tanya Arthav, nada suaranya lebih rendah namun tidak menekan.
“Bukan terganggu” Zafira berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Aku hanya tidak menyangka sisi itu ada padamu.”
Arthav menatapnya lama, kemudian berkata jujur,
“Aku tidak selalu seperti ini. Hanya saja, bersamamu aku merasa lebih bebas.”
Zafira mengerling tipis. “Bebas atau terlalu nyaman?”
“Mungkin keduanya,” jawab Arthav sambil tersenyum kecil. “Tapi kalau itu membuatmu tidak nyaman, katakan saja.”
Zafira menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya.
“Aku masih belajar menyesuaikan diri. Jadi jangan seenaknya.”
Arthav mengangguk pelan.
“Baik. Aku akan menyesuaikan langkahku dengan langkahmu.”
Zafira menghela napas pelan, sorot matanya sedikit melembut.
“Kau mudah sekali mengatakan itu, Arthav. Menyesuaikan diri bukan hal yang gampang bagiku.”
“Aku tahu,” jawab Arthav tanpa ragu. “Karena itu aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya ingin kau jujur padaku.”
“Jujur?” Zafira mengangkat alisnya. “Bagaimana kalau kejujuranku justru menyakitkan?”
Arthav tersenyum tipis.
“Aku lebih memilih terluka karena kebenaran daripada tenang dalam kebohongan.”
Zafira terdiam sesaat, lalu berkata lirih,
“Aku masih takut berharap. Semua yang terjadi selama ini terlalu rumit.”
“Aku tidak meminta kau berharap sekarang,” sahut Arthav lembut. “Cukup izinkan aku berada di sisimu.”
Zafira menatapnya lama, seakan menimbang kata-katanya. “Dan kalau suatu hari aku mundur?”
“Aku akan tetap di tempatku,” jawab Arthav mantap. “Sampai kau siap melangkah lagi.”
Keheningan singkat menyelimuti mereka, namun kali ini tidak terasa canggung. Zafira akhirnya berkata pelan,
“Kau benar-benar keras kepala.”
Arthav terkekeh. “Mungkin. Tapi keras kepalaku ini khusus untukmu.”
Zafira menggeleng pelan, bibirnya melengkung tipis.
“Kau tahu? Cara bicaramu itu berbahaya.”
“Berbahaya?” Arthav mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan.”
“Itu dia masalahnya,” balas Zafira pelan. “Kau membuatku lupa untuk menjaga jarak.”
Arthav tersenyum kecil.
“Bukankah jarak itu memang yang perlahan ingin kita hilangkan?”
Zafira terdiam, lalu berkata lirih, “Aku hanya tidak ingin menyesal.”
“Kau tidak sendiri,” jawab Arthav serius. “Jika ada penyesalan, biarkan aku ikut menanggungnya.”
Zafira menatapnya, sorot matanya goyah.
“Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini?”
“Aku tidak berubah,” Arthav menghela napas. “Aku hanya berhenti menyangkal apa yang kurasakan.”
“Dan apa yang kau rasakan?” tanya Zafira, suaranya nyaris berbisik.
Arthav menatapnya tanpa ragu.
“Keinginan untuk menjagamu. Bukan karena kewajiban, tapi karena aku mau.”
Jantung Zafira berdegup lebih cepat.
“Kau membuatku bingung, Arthav.”
“Kalau begitu,” ucapnya lembut, “izinkan aku menemanimu dalam kebingungan itu.”