Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kabur dari Sangkar Emas
Malam hari ketiga sejak kematian Zhao Feng, Kota Qingyun terasa seperti bara api yang siap meledak. Ketegangan antara Clan Zhao dan Guild Pedagang telah mencapai titik didih. Jalanan utama dijaga ketat oleh pasukan bersenjata kedua belah pihak, saling menatap dengan kebencian. Warga sipil tidak berani keluar rumah, menutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Bagi Lin Fan, kekacauan ini adalah selimut terbaik.
Ia berdiri di atas atap kuil tua, mengenakan jubah hitam lusuh yang ia temukan di tumpukan sampah. Wajahnya diolesi lumpur dan jelaga agar sulit dikenali. Di pinggangnya, terselip pisau kecil dan sisa pil racun. Di dalam dadanya, Manik Giok berdenyut tenang, siap memurnikan energi apa pun yang ia butuhkan untuk lari.
Rencananya sederhana: Memanfaatkan kerusuhan di Gerbang Selatan sebagai pengalih perhatian, lalu menerobos keluar melalui saluran pembuangan air hujan di sisi barat tembok kota—jalur yang lebih kecil, lebih curam, dan jarang dijaga karena dianggap mustahil untuk dilewati manusia dewasa.
Pukul sepuluh malam.
Dari arah Gerbang Selatan, terdengar teriakan dan suara bentrokan. Sebuah kerumunan massa, yang diduga provokator bayaran Tuan Guo, mulai melempar batu ke pos penjagaan Clan Zhao. Pasukan Zhao membalas dengan tongkat dan pedang datar. Keributan itu menarik sebagian besar perhatian penjaga kota.
"Sekarang," bisik Lin Fan.
Ia melompat dari atap kuil, mendarat dengan ringan di gang gelap. Ia berlari secepat angin, menghindari jalan utama, zig-zag melalui lorong-lorong sempit yang hanya dikenal oleh tikus dan pencuri.
Setelah lima menit lari tanpa henti, ia mencapai sisi barat tembok kota. Di sini, suasana sepi. Hanya dua penjaga yang berjaga di menara pengawas, tapi mereka sedang memandang ke arah selatan, tertarik oleh keributan di sana.
Lin Fan mendekati dinding tembok yang tinggi dan licin. Di dasarnya, terdapat celah sempit tempat air hujan mengalir keluar. Celah itu tertutup oleh jeruji besi berkarat.
Lin Fan tidak punya waktu untuk memotong jeruji itu. Ia harus memanjat.
Dengan Teknik Napas Besi, ia menempelkan telapak tangan dan kakinya pada dinding batu yang kasar. Ia mulai memanjat, otot-ototnya menegang, napasnya ditahan. Setiap inci kenaikan adalah perjuangan melawan gravitasi dan kelelahan.
Sepuluh meter. Dua puluh meter. Tiga puluh meter.
Keringat dingin bercampur dengan lumpur di wajahnya. Tangannya mulai gemetar. Qi-nya terkuras cepat untuk mempertahankan cengkeraman.
Tiba-tiba, salah satu penjaga di menara menoleh ke bawah. Mungkin ia mendengar suara gesekan kain atau batu yang longgar.
"Hey! Ada apa di bawah?" teriak penjaga itu, menunjuk senter cahaya ke arah dinding.
Cahaya itu menyapu tepat di dekat kaki Lin Fan.
Jantung Lin Fan berhenti berdetak sesaat. Jika cahaya itu naik sedikit lagi, ia akan terlihat jelas sebagai siluet hitam di dinding.
Lin Fan melakukan hal yang nekat. Ia melepaskan satu tangan dari dinding, mengambil sebuah batu kerikil kecil dari sakunya, dan melemparkannya ke arah semak-semak di seberang jalan, jauh dari posisinya.
Plak!
Penjaga itu langsung mengarahkan senter ke sumber suara. "Tikus besar mungkin. Awas saja."
Sementara perhatian penjaga teralih, Lin Fan menggunakan sisa tenaganya untuk melakukan ledakan kecepatan terakhir. Ia meloncat ke atas, meraih bibir tembok, dan berguling masuk ke sisi dalam tembok pembatas
Dia berhasil. Dia berada di atas tembok kota.
Di depannya, terbentang Hutan Terlarang yang gelap gulita. Kebebasan.
Tapi sebelum dia bisa melompat turun, sebuah suara dingin terdengar dari belakangnya.
"Aku tahu kau akan mencoba kabur malam ini."
Lin Fan membeku. Darahnya serasa membeku.
Perlahan, ia menoleh.
Berdiri di atas tembok pembatas, sekitar lima meter darinya, adalah seorang pria tua berjubah abu-abu. Wajahnya keriput, matanya tajam seperti elang, dan di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu sederhana.
Elder Mo. Pustakawan tua dari Clan Lin. Orang yang Lin Fan curigai sebagai "M" atau setidaknya terkait dengannya.
"Elder Mo," kata Lin Fan, suaranya datar meski jantungnya berdebar kencang. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
Elder Mo tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Menjemputmu, tentu saja. Kau membuat kekacauan yang luar biasa, Nak. Membunuh putra Clan Zhao. Memfitnah Tuan Guo. Dan sekarang, kau berniat meninggalkan panggung sebelum tirai ditutup?"
"Anda tahu semuanya?" tanya Lin Fan, tangannya perlahan bergerak ke arah pisau di pinggangnya.
"Aku tahu banyak hal," jawab Elder Mo santai. "Aku tahu tentang Manik Giok di Dantian-mu. Aku tahu tentang kemampuan pemurnianmu. Dan aku tahu bahwa kau bukan 'sampah' seperti yang semua orang kira."
Lin Fan mengerutkan kening. "Jika Anda tahu, mengapa Anda tidak melaporkan saya? Mengapa Anda membiarkan saya hidup?"
"Karena kau berguna," kata Elder Mo. "Clan Lin sedang lemah. Clan Zhao dan Guild Pedagang saling menghancurkan. Ini adalah kesempatan emas bagi Clan Lin untuk bangkit kembali. Tapi kami butuh seseorang yang bisa beroperasi di luar hukum. Seseorang yang tidak terikat oleh moralitas klan. Seseorang seperti kau."
Elder Mo melangkah mendekat. "Bergabunglah denganku, Lin Fan. Jadilah agen rahasia. Aku akan memberimu sumber daya, perlindungan, dan teknik kultivasi tingkat tinggi yang bahkan Sekte Es Langit tidak miliki. Sebagai gantinya, kau bekerja untukku. Membersihkan musuh-musuh klan dari bayangan."
Lin Fan tertawa pahit. "Jadi, saya menjadi budak Anda? Pembunuh bayaran pribadi Anda?"
"Sebut saja... kemitraan," kata Elder Mo. "Pilihannya ada padamu. Kembali ke kota, hadapi kemarahan Clan Zhao dan penangkapan oleh penjaga, dan mati secara menyedihkan. Atau, ikut denganku sekarang, dan dapatkan kekuatan untuk suatu hari nanti mengendalikan nasibmu sendiri."
Lin Fan menatap Elder Mo. Otaknya bekerja cepat. Elder Mo kuat. Sangat kuat. Auranya jauh di atas Level 9. Mungkin sudah mencapai Tahap Fondasi Tengah atau bahkan Akhir. Melawannya sekarang adalah bunuh diri.
Tapi menyerah berarti kehilangan kebebasannya selamanya. Lin Fan tidak lahir untuk menjadi alat orang lain.
"Apa jawabanmu?" tanya Elder Mo, suaranya mulai mengeras. Tekanan aura-nya menekan Lin Fan, membuatnya sulit bernapas.
Lin Fan tersenyum. Senyuman yang sama yang ia tunjukkan saat menjebak Yan Lie.
"Jawaban saya..."
Lin Fan tiba-tiba menjatuhkan diri ke belakang, jatuh bebas dari tembok kota setinggi sepuluh meter ke arah kegelapan hutan.
"TIDAK!" teriak Elder Mo, terkejut oleh keputusan nekat itu.
Di udara, Lin Fan tidak pasrah. Ia mengeluarkan Pil Asap Peledak terakhir yang ia buat dari bahan kimia gudang obat. Ia melemparkannya ke atas, ke arah Elder Mo, sebelum tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan.
BOOM!
Ledakan asap putih pekat dan berbau menyengat meledak di atas tembok, menghalangi pandangan Elder Mo selama beberapa detik.
Elder Mo mengibas-ngibaskan asapnya dengan tongkatnya, wajahnya gelap. Ia melihat ke bawah, ke dalam hutan yang gelap. Tidak ada jejak. Lin Fan sudah hilang.
"Bocah sialan," geram Elder Mo. Matanya menyipit. "Kau pikir kau bisa lari dariku? Dunia ini luas, tapi jaringanku lebih luas lagi. Kita akan bertemu lagi, Lin Fan. Dan lain waktu, kau tidak akan punya pilihan."
Di dasar tebing, Lin Fan terguling-guling di antara semak belukar sebelum akhirnya berhenti di tanah lunak. Tubuhnya sakit semua, tulang rusuknya yang belum sembuh sepenuhnya terasa seperti akan patah lagi. Tapi dia hidup. Dan dia bebas.
Ia bangkit dengan susah payah, memeriksa tubuhnya. Tidak ada patah tulang baru. Manik Giok masih utuh. Tas penyimpanan masih di pinggangnya.
Ia menoleh ke atas, ke arah tembok kota yang kini tampak kecil di kejauhan. Cahaya obor di atas tembok bergerak-gerak, tanda bahwa penjaga sedang mencari sesuatu, atau Elder Mo sedang memerintahkan pencarian.
Lin Fan berbalik, menghadap kegelapan Hutan Terlarang yang dalam.
"Dunia luar, tunggu aku," bisiknya.
Dengan langkah terhuyung-huyung namun penuh tekad, Lin Fan masuk ke dalam hutan, meninggalkan masa lalunya di belakang, dan melangkah menuju takdir yang belum tertulis.