Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mitra dan Musuh
Keesokan paginya, Reno datang ke kantor Zevana dengan sebuket bunga mawar besar. Namun pria itu harus menunggu selama satu jam karena Zevana sedang rapat bersama Bani dan beberapa petinggi perusahaan di bawah naungan Garda.
"Beberapa perusahaan melepaskan hubungan kemitraan karena berbagai alasan. Ini untuk pertama kalinya terjadi selama Tuan Garda mengelola bisnis," ucap seorang pria dengan wajah berkerut.
Mendengar hal itu, Bani melirik Zevana, memastikan raut wajahnya sebelum akhirnya ia angkat suara. "Saya kira hanya perusahaan yang tidak begitu menguntungkan yang melepaskan diri," bela Bani.
"Tapi kita jadi kehilangan banyak sumber dan harus mencari klien baru untuk kerja sama modal usaha dan kiriman barang baku," timpal pria lainnya.
Di sana ada empat orang pria termasuk Bani, dan satu orang wanita yaitu Zevana. Namun meski semuanya terkesan memiliki ketidakpuasan atas kinerja Zevana, tak ada sama sekali yang berani mengatakan secara langsung bahwa mereka tidak menyukai cara kerjanya.
"Bagaimana ini, Bu Zevana?" tanya pria berkacamata sembari menatap Zevana lekat-lekat.
"Saya tidak merasa harus berkomentar. Soal sumber yang tiba-tiba hilang, itu bisa dicari lagi. Memang akan sedikit berbeda dengan langganan awal, tapi justru lebih bersih. Karena sesuai data yang sudah saya pelajari, semua klien kemitraan yang melepaskan diri itu memiliki latar belakang ilegal dan cara kerja yang cukup kotor. Jadi membiarkan mereka pergi sama dengan membersihkan lingkungan tanpa perlu repot-repot." Zevana memutar kursinya lalu menekan tombol pada remot layar.
"Ini sistem data keuangan dan kepemilikan saham yang kita miliki. Secara mandiri, peningkatannya memang cenderung lambat, karena sistem kerja kita berjangka panjang. Namun secara menyeluruh, tak sampai satu tahun lagi kita akan meraup keuntungan lebih besar sebagai imbalan kepercayaan mitra baru dan penerimaan publik."
Klik!
Layar dimatikan, lalu Zevana memandang satu per satu pria di ruangan itu.
"Kita tidak lagi bicara soal keuntungan sesaat tanpa memedulikan cara. Kita sedang membangun bisnis yang teratur, bersih, dan terpercaya. Jadi, Tuan-tuan yang saya hormati, saya harap kita berada di jalan yang sama sampai target kita tercapai. Karena jika tidak, mungkin saja saya bisa melakukan sesuatu yang akan merugikan. Contohnya seperti... bisnis perdagangan barang terlarang berkedok distribusi yang sedang Anda jalankan diam-diam itu, Pak Dani," celetuk Zevana sembari menatap pria berkacamata yang sedang duduk bersila.
Deg!
Sontak pria itu terkejut hingga ia segera membetulkan posisi duduknya.
"Y-Ya? Anda bicara apa, Bu Zevana?" gagap Dani.
Semua orang di ruangan itu langsung melirik ke arahnya.
"Bukan, saya tidak sedang membicarakan bisnis judi di lapangan padel milik Anda, Pak Ilham," imbuh Zevana sembari beralih melirik pria bertubuh gemuk di samping Bani.
Mendengar hal itu, semuanya seketika menunduk.
"Perselingkuhan, kecurangan, pengkhianatan—memang kita berada di lingkaran seperti itu. Maka tugas saya sebagai penentu arah perusahaan adalah menjaga agar permukaannya tetap bersih, bukankah begitu? Terlepas dari bagaimana cara saya melakukannya. Apakah dengan membiarkan mereka pergi dengan sukarela, menyadarkan diri, atau berbenah seperti yang sedang kita lakukan sekarang ini. Benar begitu, Pak Bani?" tanya Zevana, dijawab anggukan mantap dari Bani.
"Rapat hari ini selesai. Semoga kita masih bisa bertemu di rapat berikutnya," ucap Zevana sembari bangkit lalu melengos pergi meninggalkan ruang rapat yang hening seketika.
Tanpa diduga, Bani dengan gesit membuntutinya.
"Bos Garda ada di ruangan khusus," bisiknya sembari menyamai langkah Zevana.
"Saya ada klien yang menunggu," ucap Zevana tanpa menoleh ke arah Bani.
"Jarang sekali Bos sampai harus datang ke kantor. Saya yakin beliau ada urusan dengan Nona–" ucapan Bani terhenti saat Zevana menatapnya tajam.
"Ah, maaf maksudnya Bu Zevana," ralatnya.
"Walaupun kita dibesarkan di bawah naungan ketua mafia, tapi kamu harus ingat sekarang ini kita adalah tokoh dunia korporat bisnis bersih. Kita gak main baku hantam, seret sikut seperti kucing liar. Jadi bedakan itu di sini," tegas Zevana mengingatkan.
"Seharusnya tetua gengster seperti mereka juga kamu tangani saja sendiri. Kenapa ini dianggap mendesak sampe harus dianggap rapat darurat padahal mereka cuma protes karena hidangan haram mereka yang tiba-tiba diputus?" desak Zevana sembari menekan dada bidang Bani dengan telunjuknya.
"Anda harus ingat siapa yang merawat dan mengangkat Anda naik, Nona. Jangan lupa itu," tekan balik Bani.
"Semua ini aku lakukan juga untuk Bos. Menurutmu apa sekarang ini masih zaman main gengster-gengsteran? Dunia sudah menjalani hidup yang lebih berbudaya. Aku muak dengan embel-embel serigala di tengah kerumunan dubuk gak berotak. Kita ini manusia, Bani. Bisakah kamu gak terlalu kaku? Ini menjengkelkan," desis Zevana.
Bagaimanapun Bani adalah satu-satunya sosok yang ia selalu andalkan dan selalu membantunya. Namun perbedaan sudut pandang dan kekakuan Bani terhadap loyalitas tanpa batas terhadap Garda membuatnya merasa dikekang. Zevana ingin membalas dendam tanpa menghilangkan sisi kemanusiaannya. Meski sesekali gelanyar hasrat gila mendesak nuraninya, namun ia selalu menyadarkan diri untuk tidak melakukan hal yang sama seperti Garda yang menrutnya terlalu tidak manusiawi.
"Perasaan seperti itu hanya melemahkan ambisi, Nona," tekan Bani mengingatkan.
"Ya. Benar. Memang sia-sia mengharapkan keluarga dengan latar belakang sepertiku. Lupakan saja. Aku hanya melakukan tugas membersihkan permukaan. Lakukan apapun sesukamu, sebagai anjing setia," lirih Zevana sembari melengos.
"Anda selalu menjadi Nonanya Tuan saya. Itu tidak akan berubah," ucap Bani sebelum akhirnya Zevana benar-benar menghilang di balik bingkai pintu kantornya.
Klap!
Zevana menutup ruangan pribadinya itu lalu menatap papan nama dirinya di atas meja. Saat ia menoleh ke meja Arka, terlihat mejanya kosong dan tidak ada Arka di sana. Ia pun keluar kebagian admin.
"Pak Arka, kemana ya?" tanya Zevana sembari celingukan.
"Oh, ada di ruang tunggu khusus Tuan Garda, sedang berbincang," jawab Leli–staff administrasi di depan kantor Zevana.
Zevana menangguk lalu berjalan menuju ruangan khusus Garda, namun di perjalanan, terlihat Reno duduk kebosanan di ruang tunggu umum.
"Hah ... Satu lagi," desahnya malas sembari mengerlingkan netra.
"Ah! Zee!" seru Reno antusias.
"Menyebalkan, apaan panggilan norak itu?" batin Zevana sembari tersenyum lebar.
"Maaf, lama ya?" ujar Zevana sembari meraih buket bunga mawar jumbo yang Reno sodorkan.
"Untuk tuan putri, gapapa," rayunya penuh gombalan.
"Hari ini Mami dan Papiku ada di rumah. Aku mau ngabarin mereka soal pertunangan kita. Kalo kamu ada waktu, gimana kalo nanti malam kita ke rumahku?" tanya Reno sembari meraih lengan Zevana lalu membawanya duduk.
"Katanya mereka bakal siapin makan malam kalo kamu mau datang," imbuh Reno.
"Hm, malam ini ya? Maaf tapi kayaknya gak bisa. Kebetulan lagi banyak agenda meeting penting minggu ini," sesal Zevana dengan bibir mengerucut.
"Oh begitu, oke deh. Kalo gitu akhir pekan ini? Nanti kabari lagi ya!" seru Reno penuh harap.
"Siap. Jadi ... kita sekalian atur jadwal pertunangannya ya," usul Zevana penuh penawaran.
Mendengar hal itu, Reno mengangguk tersipu-sipu.