NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Sinar yang Menembus Sela Daun

​Sinar matahari pagi merayap perlahan melintasi lantai kayu ek di kamar tidur utama penthouse Hannam-dong, menggantikan semburat keunguan subuh dengan kehangatan musim semi yang cerah. Angin sepoi-sepoi membawa wangi samar pohon pinus dari arah bukit di belakang kompleks, menyelinap masuk melalui celah pintu balkon yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit agar sirkulasi udara tetap segar.

​Han Ji-an terbangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak langsung bergerak turun dari ranjang king-size yang empuk itu. Kelopak matanya bergerak membuka, menatap langit-langit kamar sejenak sebelum pandangannya turun ke arah samping. Di sana, Cha Jin-wook masih terlelap dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Setengah wajah tampannya tenggelam di balik bantal putih, menampilkan garis rahang yang biasanya kaku kini tampak rileks. Ada bayangan lingkaran hitam tipis di bawah kelopak matanya—sisa dari perjalanan rahasia ke Jeju yang melelahkan.

​Ji-an mengulurkan tangan lentiknya dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tidak menimbulkan gesekan pada selimut sutra gading mereka. Ujung jarinya bergerak lembut, mengambang setinggi satu sentimeter di atas dahi Jin-wook, menelusuri garis alisnya yang tebal, lalu turun ke hidung mancungnya, dan berhenti tepat di pipinya yang terasa sedikit kasar oleh sisa cambang tipis.

​"Kau selalu menyembunyikan semuanya sendiri, sayang," bisik Ji-an lirih, suaranya nyaris menyerupai desiran angin sore.

​Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan pahitnya dikhianati dan dihina di masa lalu, Ji-an memiliki ketajaman insting yang tidak bisa dibohongi oleh alasan "perjalanan bisnis ke Busan". Ia tahu suaminya baru saja melewati malam yang berbahaya untuk memotong akar ancaman yang mengincar kandungan mereka. Namun, alih-alih menuntut penjelasan atau marah karena dibohongi, hati Ji-an justru dipenuhi oleh jalinan rasa syukur yang mendalam. Jin-wook yang sekarang adalah benteng yang kokoh, bukan lagi pria asing yang dingin seperti saat mereka pertama kali terikat dalam pernikahan kontrak korporasi.

​Sret.

​Sebuah gerakan tiba-tiba memecah lamunan Ji-an. Tangan besar Jin-wook yang hangat mendadak bergerak, menangkap pergelangan tangan lentik Ji-an yang sedang berada di pipinya. Pria itu membuka matanya perlahan. Sepasang mata elang yang beberapa jam lalu memancarkan aura kematian di lereng Hallasan, kini sepenuhnya jernih, menatap Ji-an dengan binar kelembutan murni yang utuh.

​"Kau sudah bangun, Ji-an?" suara Jin-wook terdengar sangat berat dan serak khas orang baru bangun tidur, menggetarkan keheningan kamar.

​"Hmm. Aku mengganggu tidurmu?" tanya Ji-an manis, mencoba menarik tangannya, namun Jin-wook justru mempererat genggamannya dengan lembut, membawa telapak tangan Ji-an ke depan bibirnya untuk mengecup ujung-ujung jarinya satu per satu.

​"Tidak. Aku justru tidak ingin melewatkan satu detik pun melihatmu saat membuka mata," balas Jin-wook. Pria bertubuh tegap itu menggeser posisi tubuhnya, mendekat tanpa menyisakan jarak di antara mereka. Ia melingkarkan lengan kekonnya ke pinggang ramping Ji-an, menarik wanita itu dengan sangat hati-hati agar bagian depan tubuhnya tidak menekan perut Ji-an yang menyembunyikan detak jantung kedua anak mereka.

​Jin-wook membenamkan wajah tampannya di ceruk leher Ji-an, menghirup aroma lavender yang menenangkan, seolah sedang menghapus sisa bau tanah basah dan ketegangan dari Jeju yang masih samar-samar menempel di ingatannya. Ji-an mendesah lembut, membiarkan jemari tangannya menyusup ke rambut hitam legam Jin-wook yang agak berantakan, memberikan usapan-usapan penenang pada tengkuk suaminya.

​Momen intim yang tenang dan tanpa kata-kata itu berlangsung cukup lama di bawah selimut sutra mereka, menciptakan atmosfer romantis yang sangat elegan, sebuah kedekatan emosional dari dua orang yang telah matang melalui badai kehidupan.

​Pukul sepuluh pagi, suasana di ruang kerja utama lantai dua tampak dipenuhi oleh tumpukan berkas hukum baru. Sesuai dengan janjinya, Jin-wook tidak pergi ke kantor pusat di Gangnam hari ini. Ia memilih memindahkan seluruh aktivitas manajerialnya ke rumah, didampingi oleh Sekretaris Kim yang sejak pagi tadi bolak-balik menerima faks terenkripsi dari Zurich.

​"Presdir, proses interogasi Elias di fasilitas Incheon telah selesai," Sekretaris Kim melaporkan dengan nada formal yang sangat terukur. "Dia menyerahkan sebuah daftar digital berisi dua belas nama pejabat bank investasi di Swiss yang selama ini memfasilitasi aliran dana gelap milik faksi lama keluarga Cha. Seluruh data sudah dikonsolidasikan oleh tim hukum kita."

​Jin-wook duduk di balik meja kerja mahoninya, mengenakan kemeja katun tipis berwarna biru dongker dengan lengan yang digulung hingga siku. Jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat dan konstan. "Kirimkan daftar itu langsung ke kepala otoritas pengawas keuangan Swiss (FINMA) melalui jalur diplomatik firma hukum kita. Katakan pada mereka, jika dua belas nama itu tidak dicabut izin praktiknya dalam waktu empat puluh delapan jam, Cha Group akan menarik seluruh dana likuiditas cadangan kita sebesar tiga miliar Dolar dari bank sentral mereka."

​Sekretaris Kim menelan ludah, sedikit tertegun dengan skala gertakan finansial yang diluncurkan oleh atasannya. "Tiga miliar Dolar... itu bisa mengguncang nilai tukar Franc di pasar sekunder, Presdir."

​"Memang itu tujuannya," jawab Jin-wook dingin, wajahnya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Aku tidak ingin ada sisa-sisa ekor dari Eropa yang mencoba merayap kembali ke sini saat kandungan Ji-an memasuki trimester kedua. Potong kepalanya sekarang, agar kita tidak perlu membuang waktu lagi di masa depan."

​"Baik, Presdir. Segera saya laksanakan."

​Saat Sekretaris Kim membungkuk hormat dan berjalan menuju pintu keluar, daun pintu besar itu mendadak terbuka dari luar. Han Ji-an berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun terusan rajut berwarna sage green yang longgar namun tetap menampilkan siluet tubuhnya yang anggun. Di tangannya, terdapat sebuah nampan berisi dua cangkir porselen berisi teh herbal hangat.

​Sekretaris Kim langsung membungkuk lebih dalam. "Selamat pagi, Nyonya Besar."

​"Selamat pagi, Sekretaris Kim. Maaf jika aku mengganggu rapat kalian," ucap Ji-an dengan nada suara yang tenang dan berwibawa, mencerminkan kelas seorang nyonya besar yang sesungguhnya.

​"Sama sekali tidak, Nyonya. Urusan kami sudah selesai," jawab Sekretaris Kim dengan senyuman sopan sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.

​Jin-wook langsung berdiri dari kursi kerjanya begitu melihat istrinya masuk. Seluruh ekspresi dingin dan kalkulatif di wajah tampannya menguap dalam sekejap, digantikan oleh binar penuh perhatian. Ia melangkah cepat, mengambil alih nampan dari tangan Ji-an, lalu menuntun wanita itu untuk duduk di sofa panjang yang empuk di sudut ruangan.

​"Kenapa membawa ini sendiri? Di mana para pelayan?" tegur Jin-wook lembut, meletakkan nampan di atas meja kaca, lalu duduk di samping Ji-an sembari memeriksa suhu telapak tangan istrinya.

​"Aku hanya ingin menyeduhkannya untukmu, sayang. Ramuan teh kamomil dan daun mint ini bagus untuk mengurangi sakit kepala akibat kurang tidur," jawab Ji-an sembari menyunggingkan senyuman hangat. Ia meraih cangkir tehnya, menyesapnya sedikit, lalu menatap suaminya dengan pandangan yang serius namun teduh.

​"Jin-wook ya," panggil Ji-an, menyingkirkan cangkirnya ke meja.

​"Ada apa, Ji-an?"

​"Setelah urusan di Swiss ini benar-benar bersih... aku ingin kembali aktif di dewan direksi yayasan kebudayaan Cha Group," ucap Ji-an dengan nada yang mantap, tidak ada keraguan di dalam suaranya.

​Jin-wook terdiam sejenak, alis tebalnya sedikit bertaut. Sifat protektifnya langsung bergejolak. "Kandunganmu baru memasuki minggu kedelapan, Ji-an. Dokter Kang menyarankanmu untuk beristirahat total setidaknya hingga akhir trimester pertama. Dunia bisnis luar terlalu bising untuk keadaanmu sekarang."

​Ji-an menggeleng perlahan. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari besar Jin-wook, menatap tepat ke dalam sepasang mata elang suaminya. "Aku tahu kau ingin melindungiku di dalam benteng ini, dan aku sangat menghargainya. Tapi aku tidak ingin menjadi nyonya besar yang hanya duduk diam menunggu suaminya pulang dengan sisa ketegangan dari medan perang. Aku ingin berdiri di sampingmu, memegang sebagian kendali, agar dunia tahu bahwa posisi kita tidak bisa digoyahkan dari sudut mana pun."

​Mendengar penuturan itu, Jin-wook menatap Ji-an dengan pandangan yang mendalam. Ia melihat kilatan kekuatan dan kecerdasan yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta pada wanita ini—seorang Han Ji-an yang bangkit dari kehinaan dan bertransformasi menjadi sosok yang setara dengannya.

​Jin-wook tidak membalas dengan bantahan kaku. Ia mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, merapatkan jarak di antara mereka, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama dan penuh rasa hormat di kening Ji-an. Jemarinya mengusap lembut pipi istrinya yang merona.

​"Jika itu keinginanmu, aku tidak akan melarangmu," bisik Jin-wook parau, suaranya dipenuhi oleh rasa bangga yang pekat. "Tapi dengan satu syarat mutlak."

​"Apa syaratnya?"

​"Aku akan memindahkan kantor operasional yayasan kebudayaan ke lantai yang sama dengan ruang kerjaku di kantor pusat Gangnam. Kau hanya boleh bekerja maksimal tiga jam sehari, dan aku sendiri yang akan mengantarmu ke ruang rapat," ujar Jin-wook dengan senyuman miring seksinya yang khas.

​Ji-an tertawa kecil, merasakan kehangatan romantis yang menyelimuti dadanya. "Baiklah, syarat diterima, Presdir Cha yang super posesif."

​Jin-wook kembali menarik tubuh Ji-an ke dalam dekapannya, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya yang kokoh. Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela tirai jendela ruang kerja itu menjadi saksi bahwa aliansi mereka kini telah melangkah ke babak baru—bukan lagi sekadar bertahan dari serangan musuh, melainkan bersama-sama mengukuhkan takhta kemegahan mereka di atas puncak kekaisaran Cha Group.

​Keputusan Nyonya Cha untuk kembali ke dunia bisnis menandai awal dari era baru yang lebih kuat! Bagaimanakah reaksi para pemegang saham lama di kantor pusat Gangnam saat melihat kembalinya Han Ji-an berdampingan dengan sang Presdir?

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!