NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH SATU

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis berwarna krem di ruang utama rumah Rakha. Sinar itu menari di atas permukaan lantai marmer putih mengilap, menciptakan pantulan cahaya yang hangat namun sunyi. Rumah itu terasa begitu lapang dan teratur, terlalu teratur bahkan, seperti ruang yang lebih sering digunakan untuk berpikir daripada untuk hidup.

Tak ada suara langkah asisten rumah tangga.

Hanya bunyi lembut mesin espresso dari dapur dan sesekali denting spatula beradu dengan wajan.

Rumah Rakha Wiratama memang berbeda.

Setiap sentimeter ruangnya terasa terjaga dan pribadi, seolah tak mengizinkan siapa pun masuk terlalu dalam. Para pekerja rumah tangga hanya datang di pagi hari untuk membersihkan dan mengisi ulang kulkas, lalu pergi sebelum siang menjelang. Tak ada yang tinggal. Tak ada yang berlalu-lalang.

Semuanya tertata-hening, bersih, dan terlalu tenang untuk disebut "rumah."

Dari lantai dua, tangga marmer spiral menjulur anggun ke bawah, seperti arteri yang menghubungkan ruang hidup dengan kesunyian. Maharani melangkah turun perlahan, langkahnya nyaris tak bersuara di atas permukaan marmer yang dingin. Rambutnya masih lembap sisa mandi, sebagian menempel di tengkuk.

Ia mengenakan kaus kebesaran berwarna abu muda yang baru saja diambilnya dari lemari kamar tamu-lemari yang diisi dengan rapi oleh asisten Rakha. Kaus itu terlalu besar, jatuh longgar di bahunya, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha. Kainnya lembut dan hangat, beraroma sabun maskulin yang samar... aroma yang entah kenapa mengingatkannya pada pemilik rumah itu sendiri.

Begitu kakinya menyentuh lantai dapur yang dingin, pandangannya terpaku.

Rakha berdiri di sana.

Tanpa jas.

Tanpa kemeja.

Tanpa dasi.

Pria itu hanya mengenakan kaus hitam polos, celana rumah abu tua, dan celemek berwarna pink pastel yang terlalu mencolok untuk citra dingin seorang Rakha Wiratama. Ia berdiri tegak di depan kompor, spatula di tangan kanan, sementara tangan kirinya menopang pinggul dengan santai.

Aroma butter, telur, dan kopi memenuhi udara.

Pemandangan itu membuat dada Maharani menegang pelan.

Ada sesuatu yang begitu aneh dari momen itu-terlalu nyata, terlalu... normal.

Dan justru karena itu, kenangan tentang malam sebelumnya menembus pikirannya cepat:

tatapan tajam Rakha, belaian tangannya, dan bibir yang menghisap miliknya cepat.

Ia buru-buru menelan ludah dan menepis bayangan itu.

Rakha menoleh sekilas, menatapnya.

Satu helai rambut jatuh di dahinya, dan sinar matahari dari jendela besar memantul di matanya yang gelap.

Senyum kecil, nyaris tak terlihat, muncul di ujung bibirnya.

"Selamat pagi, Maharani," ucapnya datar namun tenang.

Kemudian sambil menuang omelet ke piring, ia menambahkan tanpa menatap lama,

"Or... bolehkah saya memanggilmu Hani saja? Karena 'Maharani' terlalu panjang untuk saya."

Nada suaranya ringan, tapi tetap dengan ketenangan khasnya-tepat, terkendali, seperti terbiasa begitu.

Maharani terdiam, antara bingung dan salah tingkah. Ia berusaha tersenyum walau pipinya sedikit memanas.

"Tentu, Bapak boleh panggil saya apa saja," ujarnya, mencoba terdengar santai. "Hani is cool."

Rakha berhenti sejenak, lalu menatapnya.

"Yes," katanya pendek, sudut bibirnya terangkat samar. "It suits you."

Maharani melangkah ke meja bar dan mencoba duduk di stool tinggi itu. Ujung jarinya sempat berpegangan pada tepi meja, mencari keseimbangan. Sebelum sempat ia berkata apa pun, Rakha sudah mendekat-tangannya terulur, menurunkan tinggi stool dengan satu gerakan tenang.

Suara gesekan logam terdengar pelan di antara mereka.

"Coba sekarang," ucapnya rendah, nyaris seperti bisikan.

Maharani menatapnya sekilas, lalu duduk. Tingginya kini pas, nyaman.

Ada sesuatu pada caranya memperhatikan hal kecil itu-sesuatu yang membuat dada Maharani terasa hangat tanpa alasan yang jelas.

Rakha berbalik sebentar, lalu kembali dengan piring berisi omelet dan sepotong toast hangat. Ia meletakkannya di hadapan Maharani, diiringi secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul.

"Silakan makan, Hani," ujarnya pelan, suaranya dalam namun lembut. "Kamu cuma makan sushi semalam."

Maharani menatapnya sejenak sebelum menunduk, memotong omelet di hadapannya.

Rasanya lembut dan gurih-hangat dengan aroma butter yang menenangkan.

Rakha hanya diam di seberang, matanya sesekali menatap ke arah Maharani tanpa banyak bicara. Hanya suara sendok dan dentingan halus gelas kopi yang mengisi ruang di antara mereka.

Namun di balik keheningan itu, ada sesuatu yang samar-sebuah ketegangan halus yang belum selesai, sesuatu yang menggantung di udara, entah rasa bersalah, atau mungkin sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Maharani menatap piring di depannya.

Omelet kuning keemasan itu tersaji rapi di atas piring porselen putih, ditemani dua potong roti panggang renyah dan irisan alpukat di sisi kanan. Aroma butter dan lada hitam menguar lembut, menghangatkan udara di sekitarnya.

Ia menggenggam garpu dan pisau, sedikit canggung-mungkin sisa gugup dari malam sebelumnya. Tapi ketika potongan pertama omelet itu menyentuh lidahnya, rasa itu langsung memecah diam di antara mereka.

Lembut.

Hangat.

Ada rasa keju meleleh yang berpadu pas dengan telur dan butter.

"Terima kasih, Pak," ucapnya pelan, menatap piringnya tapi suaranya nyaris seperti bisikan.

Nada suaranya sedikit lebih ringan. "Saya nggak tahu kalau Bapak bisa masak seenak ini."

Rakha tersenyum kecil, sekilas."Banyak hal yang belum kamu tahu tentang saya, Hani."

Rakha yang duduk di seberang hanya mengangkat alis sekilas. Ia memutar sendok di dalam cangkir kopinya, tak menatap langsung, tapi ujung bibirnya terangkat samar.

"Saya nggak sering masak," katanya pelan. "Tapi dulu waktu kuliah di Oxford, di Inggris, lidah saya nggak cocok sama makanan sana."

Ia terkekeh kecil, suaranya berat tapi hangat.

"Lidah kampungan kayak saya ini kaget disuguhi makanan hambar tiap hari. Jadi, ya... akhirnya belajar masak sendiri supaya bisa makan enak."

Maharani tersenyum tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat lembut. Ia menatap Rakha di antara suapan, memperhatikan cara pria itu bicara-tenang, sederhana, tapi terasa dekat.

Entah sejak kapan, suasana di antara mereka tak lagi terasa canggung. Ada sesuatu yang berubah-lebih hangat, lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Maharani merasa nyaman berada di dekatnya.

"Rasanya enak sekali," ucap Maharani tulus. "Lembut, dan pas. Tidak terlalu asin."

Ia menatap piringnya sejenak, lalu menambahkan pelan, "Saya sudah lama tidak makan masakan yang... dibuat dengan niat."

Rakha berhenti sejenak. Sendok di tangannya tak lagi bergerak. Matanya terarah pada Maharani-tajam, namun lembut dalam waktu yang sama. Tatapan yang tidak menuntut apa pun, tapi cukup dalam untuk membuat Maharani merasa seolah dilihat sepenuhnya, tanpa topeng, tanpa jarak.

"Makan yang banyak, Hani," ucapnya perlahan, tapi tegas. "Kamu terlihat lebih kurus dari sebelumnya."

Nada suaranya terdengar datar di permukaan, namun ada sesuatu di baliknya-kekhawatiran yang ia coba sembunyikan, tapi gagal sepenuhnya.

Maharani terdiam, ujung garpunya berhenti di udara. Sekilas, ia menatapnya, lalu menunduk kembali, pura-pura sibuk dengan potongan omelet di piring.

"Akhir-akhir ini saya memang agak susah makan," gumamnya pelan, hampir seperti pengakuan.

Rakha tak menjawab. Ia hanya menggeser secangkir air putih ke arah Maharani, gerakannya tenang, nyaris tanpa suara.

Isyarat sederhana, tapi terasa lebih hangat dari seribu kata.

"Jangan biasakan begitu," katanya akhirnya. "Tubuh kamu juga perlu asupan yang cukup."

Ia berhenti sebentar, menatap wajah Maharani dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Atau... kamu sedang diet? Saya dengar artis seperti kamu harus menjaga berat badan ideal."

Maharani menoleh, menatapnya dengan ekspresi setengah geli. "Tidak," ujarnya pelan sambil tersenyum tipis. "Justru peran saya yang baru minta saya naik sedikit berat badan."

Rakha menaikkan alis. "Peran baru?"

"Iya," jawab Maharani, mengaduk kopinya perlahan. "Saya akan main di series baru. Karakternya anak pekerja kantoran-yang realistis, hidupnya nggak seindah feed Instagram." Nada tawanya ringan, tapi ada kejujuran di baliknya. "Jadi, ya... katanya harus kelihatan lebih 'nyata'. Nggak boleh terlalu kurus."

Rakha menyandarkan diri sedikit di kursinya, menatapnya dengan minat yang tulus.

"Berarti saya ikut membantu kamu mendalami peran ini," katanya tenang.

Maharani tertawa kecil. "Dengan omelet dan kopi hitam?" Rakha mengangkat bahu. "Setiap karakter butuh fondasi. Kalau mulai dari sarapan yang enak, mungkin hasilnya juga bagus."

Maharani menggeleng, tapi senyumnya tidak hilang. "Tapi hati-hati," ujarnya pelan, matanya menatap Rakha sejenak sebelum kembali ke piringnya. "Kalau Bapak terus masak seenak ini, nanti saya kebablasan naik berat badan sebelum syuting dimulai."

Rakha tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Kalau itu artinya kamu makan dengan tenang, saya nggak keberatan."

Hening sejenak mengisi ruang di antara mereka.bHening yang tidak canggung, justru hangat-seperti sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata.

Rakha hanya menatapnya beberapa detik sebelum meneguk kopinya perlahan.

"Apa kamu bisa tidur dengan nyenyak semalam?" tanyanya kemudian, suaranya lebih rendah.

Maharani sempat terdiam, menatap ke arah cangkir putih di hadapannya. "Tidak begitu, Pak... saya masih sering terbangun," jawabnya jujur, nada suaranya nyaris seperti bisikan. "Terlalu banyak hal yang terus berputar di kepala saya."

Rakha meletakkan cangkirnya di atas meja bar, ujung jarinya mengetuk ringan permukaannya.

"Wajar," katanya tenang. "Kamu baru kehilangan banyak hal dalam waktu singkat. Tapi kamu harus belajar berdamai dengan ketakutanmu sendiri."

Maharani mengangkat wajah, menatapnya lekat. "Bapak berbicara seolah tahu rasanya takut," ujarnya spontan, lirih tapi berani.

Rakha tidak langsung menjawab.

Senyum miringnya muncul pelan, tapi kali ini ada sesuatu yang gelap di baliknya.

"Saya tahu," katanya akhirnya. "Bedanya, saya sudah lama berhenti membiarkan rasa itu mengendalikan saya."

Keheningan kembali turun di antara mereka.

Namun entah mengapa, kali ini bukan hening yang kaku-melainkan hening yang mengikat.

Hening yang membuat Maharani sadar... bahwa pria di hadapannya bukan hanya sekadar pengacara dingin yang menyelamatkannya, tapi juga seseorang yang menyimpan terlalu banyak rahasia di balik setiap tatapannya.

Ia menatap Rakha beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan dengan napas pelan. "Apa itu artinya... Bapak tidak takut pada apa pun sekarang?"

Rakha tersenyum samar, pandangannya turun ke cangkir kopi yang mulai dingin. "Takut itu tidak hilang," katanya, suara rendahnya terasa lebih dalam. "Saya hanya belajar menaruhnya di tempat yang tidak bisa membuat saya lumpuh lagi seperti dulu. Manusia mana sih yang tidak punya rasa takut, Hani?"

Maharani diam. Ia menatap tangannya sendiri, memainkan sendok di samping piring, lalu bertanya perlahan, "Lalu... bagaimana caranya Bapak bisa sampai di titik itu?"

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!