NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:115k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya mengimbangi : 29

“Hentikan, Intan!” Kamal berbisik menggeram, permintaannya tak diindahkan.

Intan malah menantang, panggilan tersebut di loudspeaker. Ia mundur lagi sampai punggungnya menabrak dinding tembok.

“Walaikumsalam, nak. Ada perlu apa cari ayah tua, Intan?” jawab sebuah suara lemah lembut.

“Tolong berikan ponselnya ke ayah tua, bu Nirma,” pintanya sedikit memaksa.

Bu Nirma terlihat bingung, tak biasanya calon menantu berbicara dengan nada rendah seperti seseorang menahan rasa lebih dari sekadar marah. Ia pun menghampiri sang suami yang sedang memberi makan ikan Arwana di akuarium besar.

“Yah, anak perempuan kita mau berbicara!” Bu Nirma melangkah cepat seraya berteriak kecil.

Hati Intan terasa nyeri, orang tua Kamal Nugraha memang menganggapnya anak, selalu berlaku manis, adil.

“Tolong jangan katakan apapun, Intan! Kita selesaikan bersama-sama disini, jangan libatkan keluarga besar,” Kamal benar-benar berharap Intan mau mengerti.

“Kak, janganlah kekanakan! Kalau sampai ayah dan para orang tua tahu, sama saja kita membuat mereka sedih,” Rania pun tak kalah kalut.

“Anak gadis Ayah pasti rindu, makanya menghubungi, benar tak, Intan?”

Semua orang menahan napas. Suara rendah dan serak itu terdengar ceria seperti biasanya.

Sejenak Intan ragu, tidak sampai hati menyampaikan kabar menyakitkan ini.

“Intan, nak … kau dengarkan?” tanya pria bersarung sembari menatap ponsel.

“Apa mati sambungan ponsel jelekmu ini, Sayang?”

“Masih tersambung, Mas.”

“Sudah mas ingatkan! Setiap ada handphone keluaran terbaru, ya ikutan ganti baru. Jangan macam orang susah saja!”

Intan tersenyum sambil menangis, ayah tua tak pernah berubah. Dia menarik napas panjang, menghembuskan secara kasar. Netranya menatap kecewa campur amarah ke pria masih memandang penuh permohonan sambil menggelengkan kepala.

“Ayah tua ….” suara Intan bergetar.

Mendengar nada lain itu, kedua orang tua Kamal seketika berhenti berdebat, mereka saling pandang.

“Apa sebab suara putri ayah bergetar, Nak?” tanyanya penuh perhatian.

Lanira menangkupkan tangan, air matanya telah berderai, berkata tanpa suara terdengar. “Tolong jangan katakan, Kak!”

“Intan … Intan Rasyid?!” nada ayah tua berubah berwibawa tanda dia serius memanggil calon menantunya.

“Iya, Ayah … aku butuh kalian untuk memberikan keadilan bagi diriku,” ucapnya sambil menutup mata.

Sabiya meneteskan air mata, paham betul perasaan kakaknya. Tidak mudah mengutarakan hal yang dapat dipastikan akan membuat hubungan keluarga renggang apabila sampai tidak hati-hati dalam berucap, mengambil keputusan.

“Katakanlah! Ayah siap mendengarkan, tak akan memihak kepada siapapun!”

Intan mengerjap, menghalau buliran bening mengaburkan pandangan. “Putra ayah menyembunyikan istri orang ke hunian yang sebelumnya disewakan.”

“Astaghfirullah!”

Pekikan itu menyentak mereka, terdengar suara bu Nirma beristighfar berulang kali.

“Ayah, tolong segera ke sini! Asalamualaikum.” Intan memutuskan sambungan, tidak lagi sanggup meneruskan kalimatnya.

“Kau keterlaluan, Intan!” Mata Kamal memerah, kedua tangannya mengepal, dia jelas marah, tapi masih menjaga anggota gerak agar tidak menyakiti, anti menggunakan kekerasan terhadap perempuan.

Bukannya takut, Intan malah maju satu langkah, menatap sangit pria masih berstatus sebagai tunangannya. “Aku hanya mengimbangi, kau lah yang menciptakan situasi pelik ini. Kalau saja diriku tak berperasaan, malam itu juga sudah ku adukan semuanya ke keluarga besar kita. Aku masih memberi kesempatan, bukan karena ikhlas diperlakukan semena-mena, cuma masih memandang persaudaraan erat keluarga satu desa. Dan ….”

“Ingin melihat sampai mana kau berani bertindak. Apa mengedepankan logika, atau mengikuti cinta gila. Tanpa kujelaskan, kau dan lainnya serta dunia tahu status Lanira, tapi dasarnya kau sendiri merasa diatas angin, memiliki kesempatan emas pantang dilewatkan, berhubung wanita cinta pertamamu itu bertengkar dengan suaminya, langsung saja kau bertindak membabi-buta.” Intan mendengus.

Wanita jauh lebih tegar dari kelihatannya terkekeh sumbang sembari melihat raut Lanira, Rania, yang sama sekali tidak terkejut oleh pernyataannya barusan.

“Ternyata kedua adik sekaligus sahabatku sudah tahu perihal perasaan tunanganku yang sesungguhnya. Aku salut dengan kesolidan kalian, atau jangan-jangan semua ini sudah direncanakan jauh-jauh hari?”

“Cukup, Intan Rasyid. Kau sungguh sangat kelewatan!” Kamal menaikan nadanya. “Aku dan Lanira tak ada hubungan istimewa selain apa yang sudah kukatakan berulang kali kepadamu.”

“Kau kira aku peduli? Oh … tentu tidak. Itu bukan urusanku. Sekarang kau pikirkan saja bagaimana menghadapi keluargamu yang mungkin sudah dalam perjalanan kemari,” katanya tenang.

“Kakak jahat! Demi apapun aku berani bersumpah kalau tak berselingkuh dengan bang Kamal! Kau kekanakan kak, Intan!”

Intan maju, tangannya tak kalah cepat dengan gerakan kaki, dan ….

PLAK!!!

“Tamparan ini bentuk kasih sayang seorang kakak yang kecewa terhadap adiknya. Sebagai pengingat jika apa yang kau lakukan kini, dan yang nanti kau dapatkan, buah dari sikap kekanakan sesungguhnya, Lanira!” Ia menurunkan tangan terasa panas.

Lanira memegangi pipi kiri yang baru saja terkena cap jari sambil menatap tidak percaya.

“Kak Intan!” Rania memekik, baru kali ini melihat seorang Intan Rasyid menggunakan kekerasan.

“Diam kau!” Intan menuding wajah pias Rania. “Cukup abangmu saja yang plin-plan, pembohong, jangan sampai dirimu juga mewarisi sifat menjijikan macam itu!”

Kamal Nugraha mencekal lengan Intan, mencoba menarik sang tunangan masuk ke dalam rumah. Sementara di tepi jalan ada dua orang security menonton aksi barusan.

“Lepaskan!” Intan tidak tinggal diam, kakinya menendang tepat sasaran tulang kering sang pria sampai cengkeramannya mengendur.

Kamal meringis, dia hanya mengenakan celana santai selutut, sehingga tendangan Intan benar-benar membuatnya kesakitan.

Sabiya yang sudah naik pitam, diam-diam menghubungi seseorang.

“Assalamualaikum Biya, kau lagi dimana, Nak?”

Intan menoleh cepat ke adiknya, tapi tidak bereaksi apa-apa selain menatap hampa dengan mata berkaca-kaca, lalu dia berteriak melengking. “Ayah ….”

“Intan? Ada apa? Kalian dimana?!” suara ayah kandungnya Intan terdengar panik.

“Kenapa, bang? Intan apa Sabiya yang menghubungi?!” Ibu dari dua gadis itu tidak kalah panik.

“Ayah … kak Intan, dia diperlakukan _”

“Hentikan, Sabiya!” jerit Lanira, jika sang tante mengetahui, jelas ibu kandungnya pasti langsung mendapatkan kabar ini.

“Lah, kok ada suara Lanira? Kalian dimana?!” ibu Meutia mengalihkan panggilan telepon ke video.

Intan merebut ponsel adiknya. Pertama kali dilihatnya wajah cantik sang ibu yang panik.

“Ya Tuhan, nak … kenapa kau menangis, Intan?!”

Hiks hiks hiks ….

“Mamak, tolong kemari. Aku tak lagi sanggup menghadapinya seorang diri,” Intan benar-benar terlihat rapuh.

“Siapa yang menyakiti putri kebanggaan Ayah? Katakan, nak!” netra Ikram Rasyid langsung berkaca-kaca, tidak bisa melihat para wanita kesayangannya bersedih.

“Bang Kamal Nugraha kedapatan menyembunyikan Lanira di hunian ayah tua. Sebelumnya mereka sengaja menelantarkan kak Intan pada malam hujan petir di area rumah sakit kota!”

“Lanira dan Kamal, mereka berdua kok bisa bersama?”

Suara terakhir itu milik Wahyuni, ibunya Lanira.

.

.

Bersambung.

1
Widia Ningsih
aku gereget banget tor sumpah
misna wati
ya Allah sedih ya, intan si tegar. putuskan pertunangan. sehingga anggora ada ruang ya thor
Sumìni Manju Maja
sakit banget,
Tri Lestari
bagus intan sabiya , biar semuaa keluarga tau , ku mendukung mu
Aprisya
wesssss geger peperangan bratayuda🔥🔥🔥🔥🔥
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
muthia
semoga persaudaraan dan persahabatan orang tua mereka tdk bermasalah dg adanya masalah inii🙏🙏
Aprisya
yeeeesssss akhirnya ayah tua dan ibu nirma tau kebejatan kamaludin
putri
menunggu jam 23 😄🤭🤭🤭
hasatsk
makanya Nuha, kalau bertindak itu dipikir dulu jangan di butakan oleh cinta pertama.. kalau kelakuanmu sudah di ketahui 2 keluarga besar bagaimana sikap kamu..... apalagi kamu menyembunyikan istri orang....
neni nuraeni
udah tan kamu ma si Angga aja biar happy,,, lnjut lah pnsrn ini thor😁😁
Wanita Aries
wahhhh bakal meledakk nihhhh..

aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
Wanita Aries
ihhh gemasnyaaa akuu
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
kak cublik ku kirim 30 kopi semangat nulis si gendeng Kamal /Panic//Panic//Panic//Scream//Scream/
Wanita Aries
hikksss nyesekkkk bgt 😭
Wanita Aries
eng ing eng bener2 ka si kamal gak bs dipegang janjinya
Wanita Aries
hilihh gk prcaya aku ma nuha
Lia Sakking
sabar sabar ..tunggu besok kita lanjut 🤣
Nathania Eryn
bagus sih semua keluarga tahu biar Kamal SM lanira sekalian dinikahkan🤭panas hatiku intan diperlakukan bgitu
Nuryanto Yanto
duh deg deg kan gimana ya kelanjutannya
Cublik: /Heart/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!